Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tantangan di Arena Batu
Larangan Keluarga Meng membuat kehidupan Lin Mo di akademi semakin sulit. Ia tidak diizinkan menggunakan fasilitas latihan, tidak mendapat jatah makanan, dan setiap kali berjalan di lorong akademi, orang-orang akan menyingkir menjauh seolah ia membawa penyakit. Namun Lin Mo tidak membiarkan hal itu mematahkan semangatnya. Setiap fajar, ia pergi ke tebing batu di pinggir kota untuk berlatih, membiarkan tubuhnya ditempa angin dan bebatuan kasar.
Tubuhnya kini semakin berubah. Kulitnya mengeluarkan kilau halus seperti batu diasah halus, dan setiap gerakannya terasa berat namun luwes, seolah seluruh gerakannya ditopang oleh tanah di bawahnya. Ia sudah berada di puncak tingkat Menguatkan Tulang Bumi, hanya selangkah lagi menuju tingkat berikutnya: Menyatu dengan Aliran.
Namun pihak Keluarga Meng tidak membiarkannya tumbuh tenang terlalu lama. Pada hari ketiga setelah pertemuan di aula, sebuah pengumuman dipasang di papan utama akademi: Meng Chao, putra Kepala Keluarga, mengajak Lin Mo bertanding di Arena Batu tiga hari kemudian.
"Jika kau berani hadir," tulis pengumuman itu, "buktikan kekuatanmu di hadapan semua orang. Jika kau takut, berlututlah di depan gerbang kediaman Keluarga Meng dan serahkan barang curianmu."
Seluruh akademi heboh. Meng Chao sudah berada di tingkat Pembentukan Benih tingkat awal, jauh di atas murid baru mana pun. Bagi mereka, tantangan ini sama saja dengan memanggil orang untuk mati.
"Lin Mo pasti menolak kan? Itu bunuh diri!"
"Kata orang Meng Chao sudah bisa menghancurkan batu setebal satu meter dengan satu pukulan!"
"Ini jebakan. Jika dia kalah, pasti akan dituduh curang lalu dibawa pergi."
Bahkan Guru Yu pun datang memperingatkannya. "Jangan pergi. Mereka pasti sudah menyiapkan segalanya. Kemenangan sudah ditentukan di tangan mereka."
Lin Mo tersenyum tipis. "Jika aku lari sekarang, mereka akan mengejarku selamanya. Batu yang tak pernah teruji di api tidak akan pernah menjadi baja. Aku harus menghadapinya."
Hari pertandingan tiba. Arena Batu terletak di tengah akademi, dikelilingi tembok batu tinggi dan lantai yang terbuat dari lempengan batu padat. Ribuan orang memenuhi tribun, mulai dari murid, warga kota, hingga pengawal Keluarga Meng yang berjaga di setiap sudut.
Meng Chao sudah menunggu di tengah arena. Ia mengenakan zirah tipis berwarna abu-abu, senjata berupa palu pendek di pinggang, dan aura kekuatan benih yang menyebar kuat ke sekeliling. Wajahnya penuh senyum meremehkan.
"Kau benar-benar berani datang," katanya saat Lin Mo melangkah masuk ke arena. "Kupikir kau akan bersembunyi seperti tikus."
"Aku hanya datang untuk membuktikan satu hal," jawab Lin Mo tenang. "Bahwa jalan yang kalian injak-injak, ternyata jauh lebih kokoh daripada apa yang kalian banggakan."
Pertandingan dimulai.
Meng Chao tidak menyia-nyiakan waktu. Ia melompat maju dengan kecepatan tinggi, palu pendeknya diayunkan dengan kekuatan besar. Teknik Keluarga Meng—Palu Pemecah Gunung—membuat udara berdesir kencang, dan jejak retakan terbentuk di lantai batu di mana ia melangkah.
"Hancur!" bentaknya.
Lin Mo tidak berlari menghindar. Ia justru berdiri diam, menyalurkan seluruh kekuatan Tulang Bumi ke kakinya, menanamkan kesadarannya sedalam mungkin ke dalam tanah di bawah arena. Saat palu itu hampir menyentuh bahunya, ia mengangkat satu lengan secara perlahan.
Duar!!!
Bunyi dentuman yang memekakkan telinga bergema ke seluruh penjuru. Debu beterbangan, dan banyak penonton yang terlempar mundur karena gelombang kejut.
Saat debu mereda, semua orang ternganga. Lin Mo berdiri tegak di tempatnya, lengan kanannya menahan kepala palu seberat seribu jin itu tanpa goyah sedikit pun. Lengan bajunya robek, namun kulitnya tidak terluka sedikit pun—terlihat seperti lapisan batu halus yang memantulkan cahaya.
"Impossibel!" Meng Chao membelalakkan mata. "Tubuhmu terbuat dari apa?!"
"Dari hal yang sama dengan arena ini," jawab Lin Mo pelan. "Hanya saja kau memukulnya, sementara aku menyatu dengannya."
Ia menekan lengan ke depan, membalikkan tenaga Meng Chao sendiri. Tanpa tenaga tambahan yang berlebihan, tenaga yang ditahan itu mengalir balik ke arah pemiliknya. Meng Chao terhuyung mundur tiga langkah, kakinya menekan lantai hingga membuat tiga lubang dangkal.
Rasa malu dan marah menguasai dirinya. Ia melepaskan seluruh kekuatan Benih yang dimilikinya. Cahaya kuning pekat menyelimuti tubuhnya, palu itu membesar seolah memakan energi di sekitarnya. Ia melancarkan serangan bertubi-tubi—kiri, kanan, atas, bawah—setiap pukulan cukup untuk merobohkan tembok kota.
Namun Lin Mo tetap tenang. Ia tidak menangkis dengan benturan kasar. Ia bergerak seperti air yang mengisi celah batu: menyinggung sedikit, membelokkan arah pukulan, menyerap tenaga berlebih, lalu membiarkannya menghantam tanah sia-sia. Semakin Meng Chao memukul, semakin ia merasa lelah dan bingung—seolah lawannya tidak ada di sana, melainkan menyatu dengan seluruh arena.
"Kenapa?! Kenapa kau tidak terluka?!" teriak Meng Chao putus asa.
"Karena kau menyerang tempat, bukan orang," jawab Lin Mo. "Akar tidak melawan angin. Ia hanya berpegang pada tanah."
Melihat lawan sudah kehabisan napas dan tenaganya mulai kacau, Lin Mo akhirnya bergerak maju. Ia tidak memukul balik dengan keras. Ia hanya meletakkan telapak tangan kirinya perlahan ke dada Meng Chao.
Gelombang kekuatan bumi yang padat namun lembut mengalir masuk. Bukan untuk melukai, tapi untuk menggoncang fondasi energi yang dipaksakan di dalam tubuh Meng Chao.
Krak...
Cahaya kuning di tubuh Meng Chao padam seketika. Ia terlempar mundur, jatuh duduk di tanah, napasnya terengah, palu tergeletak jauh di sampingnya.
Keheningan menyelimuti arena. Tidak ada yang berani bersuara. Seorang murid tingkat awal, yang dianggap sampah, baru saja mengalahkan putra Keluarga Meng yang berada di tingkat Pembentukan Benih.
Lin Mo tidak bersorak. Ia hanya menatap Meng Chao. "Aku tidak mengalahkanmu. Kau mengalahkan dirimu sendiri—terlalu terburu-buru ingin menjadi tinggi, lupa bahwa fondasimu belum kokoh."
Ia berbalik hendak pergi. Namun tiba-tiba suara dingin bergema dari tribun utama.
"Siapa yang mengizinkanmu berhenti?"
Meng Tianxiong melompat turun ke arena. Aura tingkat Kelahiran Roh menyebar seketika, membuat suhu udara turun drastis. Matanya menyala marah. "Anak brengsek! Kau mempermalukan anakku di depan umum! Hari ini, kau tidak akan keluar dari arena ini dengan utuh!"