NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepotong Kue dan Secarik Pesan

Suasana pagi di Kantor Kecamatan kembali sibuk seperti sedia kala. Seasai loket pelayanan resmi dibuka, masyarakat mulai berdatangan silih berganti untuk mengurus berbagai keperluan administrasi kependudukan hingga perizinan usaha mikro. Satria Baskara melayani setiap warga di mejanya dengan penuh kesabaran dan sikap sigap.

"Terima kasih banyak ya, Pak Satria. Penjelasannya sangat mudah dipahami," puji seorang warga yang berkasnya baru saja selesai dicap.

"Sama-sama, Pak. Semoga usahanya semakin lancar," doa Satria tulus mengiringi kepergian warga tersebut.

Baru saja kursi di depan meja pelayanannya kosong sejenak...

"Satria!" seru Doni dengan suara lantang, sengaja memecah ketenangan ruangan.

"Apa lagi, Don?" sahut Satria datar tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas yang sedang ia rapikan.

"Kemarin sehabis pulang cuti urusan keluarga, kok wajah lo kelihatan agak beda ya hari ini?" seloroh Deka dari meja sebelahnya, ikut memancing obrolan.

"Iya, betul!" timpal Kinan dari kubikel seberang sambil tertawa kecil. "Mas Satria hari ini kayaknya jadi lebih murah senyum dibanding biasanya."

Dani yang baru kembali dari ruang arsip ikut-ikutan mendekat. "Jangan-jangan dalam waktu dekat kita bakal dapat giliran menerima seragam panitia nikahan, nih?"

Seketika itu juga, ruangan pelayanan langsung dipenuhi oleh gelak tawa riuh. Satria hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ajaib rekan-rekan sejawatnya.

"Kalian semua ini sepertinya terlalu banyak berimajinasi di jam kerja. Lebih baik kembali ke meja masing-masing dan selesaikan laporan," perintah Satria dengan intonasi formal, memicu tawa penutup sebelum mereka akhirnya bubar jalan.

Siang harinya, jam istirahat yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Doni langsung bangkit dari kursi kerjanya sambil meraih dompet kulit dari saku celana.

"Ayo, jajan ke toko kue seberang gang! Kulineran!" ajak Doni bersemangat.

"Saya sudah bawa bekal rumahan," tolak Satria halus.

"Ayo ikut saja, Mas Satria. Sekali-sekali gabung bersama kita jalan kaki ke luar," bujuk Kinan di ambang pintu ruangan.

"Iya, Satria. Lagipula kemarin lo bilang sendiri kalau suka banget sama kue yang gue bawa," desak Doni mengingatkan soal cheese cake stroberi dua hari lalu.

Satria terdiam sejenak. Begitu nama toko kue itu disinggung, bayangan wajah teduh milik perempuan bergamis krem yang ia temui kemarin mendadak melintas begitu saja di benaknya.

"Ya sudah, saya ikut," putus Satria akhirnya, menyimpan kembali kotak bekalnya ke dalam laci.

Beberapa menit kemudian, rombongan pegawai kecamatan itu berjalan kaki melewati gang hingga tiba di depan pintu masuk Naira Cake House.

Ting...

Bel mekanis di atas pintu kaca berbunyi pelan saat mereka mendorongnya masuk.

"Selamat datang di Naira Cake—" ucapan salam sambutan yang lembut itu mendadak terputus di udara.

Langkah kaki Satria otomatis terhenti tepat di belakang punggung Doni. Di balik etalase kaca, Naira yang sedang bersiap melayani pelanggan baru saja mengangkat wajahnya.

Pada detik itulah, tatapan mata kedua insan tersebut kembali bertemu secara tidak terduga. Sepasang mata Naira sedikit membulat karena terkejut, begitupun dengan Satria yang sempat terpaku. Tak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa pertemuan kedua mereka akan terjadi dalam waktu secepat ini.

Namun, momen itu segera dialihkan oleh suara Doni.

"Nah, Kak Naira! Brownies kukus favorit saya kemarin masih ada stoknya tidak?" seru Doni ceria.

Naira dengan cekatan langsung mengalihkan pandangannya dari Satria, mencoba menguasai degup jantungnya. "Masih ada kok, Mas Doni. Mau dipesan dua boks seperti biasa?"

Sembari Naira sibuk mengemas pesanan Doni, Dani, dan Kinan, Satria memilih berdiri agak di belakang sembari berpura-pura mengamati jajaran kue di dalam etalase. Namun, fokus matanya berulang kali mencuri lihat ke arah Naira, begitupun sebaliknya. Setiap kali mata mereka beradu secara tidak sengaja, keduanya buru-buru membuang muka ke arah lain.

"Satria, lo tidak ikut memesan sesuatu?" menyenggol lengan sahabatnya.

Satria melangkah maju mendekati meja kasir, tepat di hadapan Naira. "Saya pesan cheese cake dengan selai stroberi. Satu porsi."

Naira menatap langsung ke sepasang mata Satria. "Baik. Mau yang ukuran reguler atau mini, Mas?"

"Yang reguler saja," jawab Satria pendek.

Selagi Naira menyiapkan kuenya, Satria merogoh saku. Dengan volume suara yang direndahkan agar tidak didengar teman-temannya, ia berbisik, "Apakah saya boleh meminta selembar kertas kosong?"

Naira sempat bingung, namun segera mengambil selembar kertas nota kosong beserta sebuah pulpen, lalu mengulurkannya secara sembunyi-sembunyi. Satria menerima kertas itu, berbalik, lalu menuliskan beberapa baris kalimat dengan gerakan tangan yang sangat cepat.

Tidak sampai satu menit, ia sudah melipat kertas kecil itu menjadi bentuk persegi yang rapi, lalu menyelipkannya ke dalam kantong pembungkus kuenya.

Setelah pembayaran selesai, Doni langsung berseru, "Ayo, cepat balik ke kantor! Sebentar lagi jam istirahat kita habis."

Rombongan kecamatan itu langsung melangkah keluar. Satria sengaja berjalan paling belakang di antara rombongan. Namun, tepat sebelum kakinya melewati pintu, Satria mendadak berbalik arah dan menghampiri meja kasir kembali.

"Nona Naira," panggil Satria lembut namun tegas.

Naira mengangkat wajahnya terkejut. "Iya, Mas Satria? Ada yang tertinggal?"

Satria meletakkan kembali kotak boks transparan berisi cheese cake stroberi yang baru saja ia bayar ke atas meja, tepat di depan Naira. "Ini untukmu. Anggap saja sebagai bentuk ucapan terima kasih saya karena kamu sudah membuat kue seenak ini."

Sebelum Naira sempat mencerna kalimat tersebut atau memberikan jawaban, Satria sudah lebih dulu membalikkan badannya secara kilat memenuhi teriakan Doni dari luar pintu kaca. Ia berjalan cepat menyusul teman-temannya tanpa menoleh lagi.

Naira hanya bisa berdiri mematung di balik meja kasir, memandangi punggung tegap pria itu hingga menghilang di balik tikungan gang. Didorong oleh rasa penasaran, Naira mengambil kotak boks kue tersebut. Saat membuka selotip pengikatnya, ia menemukan secarik kertas nota lipat di sudut dalam boks.

Naira membuka lipatan kertas itu, meresapi tulisan tangan Satria yang tegas:

...'Terima kasih karena sudah membuat kue seenak ini. Semoga suatu hari nanti... aku juga bisa mendapatkan kesempatan untuk mengenal sosok pembuat kuenya sebaik aku menikmati setiap gigitan rasa manis dari kue ini. Jangan merasa terburu-buru untuk memberikan jawaban. Aku akan selalu menghormati dan menghargai apa pun keputusan akhir yang kamu pilih nanti.'...

...~Satria Baskara~...

Naira membaca untaian kalimat singkat itu berulang kali. Tanpa bisa ia kendalikan, sebuah senyuman manis dan tulus perlahan-lahan mengembang menghiasi wajah cantiknya.

Untuk pertama kalinya, Naira merasa bahwa wacana perjodohan ini mungkin tidak akan berjalan seburuk apa yang sempat ia bayangkan. Dan tanpa ia sadari pula, sebersit rasa hangat yang asing kini perlahan mulai tumbuh di dalam hatinya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!