NovelToon NovelToon
Balas Dendam Putri Terbuang

Balas Dendam Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marwiyah Ningsih

seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pernyataan cinta dari Dominic

Dominic terdiam.

Napasnya berat. Kasar. Seperti banteng yang baru saja mengamuk tapi kini sadar sudah menghancurkan kandangnya sendiri. Tinjunya masih mengepal erat, buku-buku jarinya memutih. Di tanah, rumput terinjak dan tanah becek karena darah.

Matanya bergerak. Dari Hana... ke Alexander yang tergeletak di atas paving batu taman, darah segar mengalir dari sudut bibir Pangeran Mahkota.

Udara malam mendadak terasa menekan. Kelopak sakura yang jatuh kini terasa seperti pisau kecil yang menggores kulit.

"Saya... saya minta maaf," kata Dominic. Suaranya pecah. Serak. Tidak seperti suara komandan dingin yang biasa menggonggong di medan perang. "Saya tidak bermaksud... saya hanya..."

Kata-katanya menggantung. Ia tidak sanggup menyelesaikan. Karena alasan sebenarnya terlalu memalukan untuk diucapkan di hadapan dua orang yang ia hormati.

Alexander menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Gerakannya lambat. Sakit. Ia tertawa. Tapi tawanya getir, kosong, dan memantul di antara pohon sakura.

Dengan susah payah ia bangkit, dibantu oleh tangan Hana yang sigap. Meski rahangnya nyut-nyutan, punggungnya tetap tegak. Itu harga diri seorang penerus tahta.

"Kau mencintainya?" tanya Alexander. Matanya menatap lurus ke Dominic. Tidak ada amarah di sana. Hanya lelah. Dan sedikit... kekalahan.

Dominic tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia hanya menunduk.

Alexander lalu mengalihkan pandangannya ke Hana. Tatapan itu dalam. Mencari jawaban yang mungkin sudah ia tahu sejak lama, tapi menolak untuk percaya.

"Dan kau?"

Hana tidak menoleh ke Dominic. Dagunya terangkat. Wajahnya dingin seperti patung. "Yang Mulia, saya minta maaf atas kelakuan Wakil Jenderalku. Dia kehilangan kendali karena melindungi saya. Hukum saya jika Yang Mulia mau."

"Tidak," potong Alexander cepat. Ia berdiri tegak meski setiap kata terasa seperti ditusuk jarum di rahangnya. "Ini salahku. Aku yang memaksamu datang ke taman ini. Aku yang bicara terlalu jauh, terlalu berharap."

Ia berhenti. Menelan ludah. Lalu menoleh ke Dominic.

"Dan kau..." Alexander menarik napas. "Kau bodoh, Dominic. Memukul penerus tahta di depan umum itu hukuman mati. Tapi kau jujur. Kau tidak berbohong, tidak mencari alasan. Aku... menghormatimu karena itu."

Dominic menunduk lebih dalam. "Hamba lancang, Yang Mulia. Hukum hamba. Hamba siap menerima hukuman mati."

Alexander menggeleng pelan. "Tidak ada hukuman hari ini. Hari ini hari kemenangan. Hari dimana Sanata merayakan. Aku tidak akan menodainya dengan darah sesama prajurit. Apalagi darah orang yang baru saja menyelamatkan kerajaan ini."

Ia terdiam. Lalu matanya kembali ke Hana.

"Hana..." panggilnya pelan. "Jaga dirimu. Dan jaga dia." Ia menunjuk Dominic dengan dagunya. "Karena dia... dia akan mati untukmu. Dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa seperti komandan Dominic."

Kalimat terakhir itu menghantam seperti palu.

Tanpa menunggu jawaban, Alexander berjalan pergi. Langkahnya pelan. Punggungnya tetap tegak, seperti yang diajarkan sebagai seorang pangeran. Tapi bahunya turun. Dan setiap langkahnya terdengar berat.

Bukan karena sakit di rahang. Tapi karena sakit di dada.

Ia baru sadar. Di balik setiap penolakan Hana selama ini... ada tembok bernama Dominic. Seorang pria yang tidak punya nama bangsawan, tidak punya mahkota, tapi punya keberanian untuk mati demi wanita itu.

Taman kembali sunyi. Hanya tersisa suara angin yang menggerakkan dahan sakura. Kelopak putih jatuh satu persatu, mendarat di rambut, di bahu, di tanah yang ternoda darah.

Hana berbalik menghadap Dominic.

Matanya tajam. Bukan tajam karena marah di medan perang. Tapi tajam karena kecewa. Karena khawatir. Karena... sesuatu yang lain yang bahkan ia sendiri takut untuk mengakuinya.

"Kenapa?" tanyanya. Pelan. Tapi setiap suku katanya menusuk ke tulang Dominic.

Dominic mengangkat wajahnya. Mata abu-abunya yang biasanya sedingin es, kini merah. Basah. "Karena saya takut kehilanganmu, Hana!"

Nama itu. Nama "Hana". Keluar dari mulutnya tanpa gelar. Tanpa "Jenderal". Tanpa "Yang Mulia". Hanya "Hana".

Hana tertegun. Jantungnya berdebar kencang, menghantam rusuknya. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas.

"Takut kehilangan aku? Apa maksudmu?" tanya Hana. Suaranya ikut bergetar. Ia benci itu. Ia seorang jenderal. Ia tidak boleh gugup. Tapi di hadapan Dominic yang wajahnya penuh luka dan penyesalan, semua pertahanannya runtuh.

"Ya," jawab Dominic jujur. Air matanya tidak jatuh. Pria sepertinya tidak diajarkan untuk menangis. Tapi suaranya bergetar hebat. "Karena musuh bisa kupenggal dengan satu tebasan. Lima ribu pasukan bisa kuhadapi. Tapi Pangeran... dia punya nama. Dia punya darah kerajaan. Dia punya masa depan yang bisa memberimu istana. Sedangkan aku... aku hanya seorang komandan. Anak yatim piatu yang besar di barak."

Ia mendekat selangkah. "Hana, jujur saja... aku... aku jatuh cinta padamu. Sejak hari pertama kau berdiri di ruang latihan dan mengalahkan 10 prajurit sekaligus. Setiap kali kau tersenyum pada prajurit lain, hatiku seperti ditusuk. Setiap kali namamu disebut bersama nama Pangeran, dadaku sesak."

_Degggggggg_

Dunia Hana berhenti berputar.

Mata cokelatnya terbelalak. Ia menatap Dominic. Dalam. Dan di sana, di mata pria yang selama ini ia kenal dingin, kejam, dan tak terkalahkan di medan perang... ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat.

Cinta. Murni. Mentah. Dan ketakutan. Ketakutan kehilangan.

Jantung Hana berdebar semakin kencang. Sampai ia bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.

"Katakan sekali lagi," bisik Hana. Suaranya bergetar. "Aku... aku tidak mendengarnya."

Dominic menatapnya. Napasnya tercekat. Lalu dengan gerakan hati-hati, seolah Hana adalah kaca yang bisa pecah, ia mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Hana. Hangat. Kasar karena latihan pedang. Tapi lembut.

"Hana," ucapnya. Kali ini lebih jelas. Lebih mantap. "Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di barak, aku merasa ada yang salah dengan dadaku. Aku pikir itu karena latihan. Tapi semakin hari, semakin aku sadar... itu karena kamu."

"Setiap perintahmu kupatuhi bukan karena pangkat. Tapi karena aku percaya padamu. Setiap luka yang kau dapat, aku yang tidak bisa tidur. Hana... aku mencintaimu. Mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri."

Ia menelan ludah. "Bisakah kamu... bisakah kamu memberiku satu kesempatan? Satu kesempatan untuk membuktikan bahwa seorang komandan rendahan ini bisa membuatmu bahagia?"

Seorang komandan yang terkenal dingin dan kejam di medan perang. Kini berdiri di bawah pohon sakura, memohon cinta dengan suara bergetar.

Hana terdiam.

Ia menatap wajah tampan Dominic. Ada luka kecil di pelipisnya. Ada debu perang yang belum bersih. Tapi matanya... matanya jujur.

Jujur saja. Hana juga merasakannya. Setiap kali Dominic berdiri di belakangnya di medan perang, ia merasa aman. Setiap kali Dominic meliriknya diam-diam, dadanya aneh.

Dengan gerakan lambat, Hana mengangkat tangan kirinya. Jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi Dominic. Kulitnya kasar karena latihan, tapi sentuhan Hana membuatnya terasa seperti sutra.

"Kau bodoh," kata Hana pelan. Sudut bibirnya naik. "Karena memukul Pangeran. Kau bisa dipenggal."

Dominic menutup matanya, siap menerima.

"Tapi kau jujur," lanjut Hana. "Dan kau bertanggung jawab. Baiklah. Karena kau pria yang bertanggung jawab... aku akan memberimu satu kesempatan."

_Deggggggggggg_

Dominic membuka matanya. Tidak percaya. "Apa?"

Hana tersenyum. Senyuman kecil. Senyuman yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun selain ayahnya, Bima. Senyuman yang membuat seluruh wajah dinginnya luluh.

"Ya," kata Hana. "Satu kesempatan."

Dunia Dominic runtuh dan dibangun kembali dalam satu detik.

Tanpa pikir panjang, ia menarik Hana ke dalam pelukannya. Erat. Seolah takut jika ia melonggarkan sedikit saja, Hana akan menghilang. Tubuhnya bergetar. Dan dari bibirnya keluar isakan kecil yang ia tahan selama bertahun-tahun.

"Hana... kamu menerima aku... terima kasih. Terima kasih karena memberiku kesempatan. Aku bersumpah. Aku akan melindungimu. Aku akan membuatmu bahagia. Dengan hidupku."

Ia mengurai pelukannya. Wajahnya basah. Laki-laki setegar baja ini menangis.

Hana melihatnya. Lalu tanpa sadar, ia mengangkat jempolnya dan menghapus air mata di pipi Dominic. Ia terkekeh kecil. "Berhenti. Kau memalukan. Seorang wakil jenderal menangis."

Dominic tertawa kecil, malu. "Hanya di depanmu."

Dan di saat itulah...

Dominic menunduk.

Hana tidak menghindar.

Bibir mereka bertemu.

Awalnya hanya sentuhan lembut. Hati-hati. Seolah keduanya takut ini hanya mimpi. Tapi kemudian, ada lumatan kecil. Hangat. Dan di sanalah, di bawah hujan kelopak sakura, untuk pertama kalinya Hana merasakan... indahnya dicintai. Indahnya dicintai tanpa syarat, tanpa mahkota, tanpa politik.

Dari kejauhan, di balik semak, dua bayangan mengintip.

Paman Juro langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca.

"Akhirnya," bisiknya. "Dua batu keras itu... memilih saling bersandar."

Raka di sebelahnya mengangguk, senyumnya lebar sampai ke telinga. "Aku sudah bilang, Paman. Mereka pasti jodoh. Dan aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan mereka. Bahkan jika itu Pangeran Mahkota."

Malam itu, pesta kemenangan tetap berjalan di aula besar. Musik, tarian, anggur.

Hana datang. Mengenakan gaun perang yang sudah diganti dengan jubah biru tua. Elegan. Berwibawa. Dan di sampingnya, berjalan Dominic.

Bukan lagi sebagai pengawal yang berdiri dua langkah di belakang. Tapi sebagai seseorang yang berjalan sejajar. Bahunya menyentuh bahu Hana.

Dan di langit ibukota Sanata, bintang-bintang bersinar paling terang malam itu. Seolah langit sendiri menjadi saksi... bahwa cinta antara seorang Jenderal dan Wakil Jenderalnya, baru saja dimulai.

 

1
Adelina Lin
kapan up lagi thor, seru ceritanya
Rubiyata Gimba
kenapa pindik sangat belum puas rasanya
Rubiyata Gimba
knapa tidak bom saja kan cpat slasai di sistemnya kan ada berbagai senjata tingal minta saja
Faitun Puji Astuti
enak dibaca, Dan menghanyutkan, seolah menjadi warga kerajaan Sanata
Osie
naah cocok nih hana n dominic.. jauhkan para pebinor n pelakor dr hidup mereka berdua💪💪💪
Osie
hana gitu lho💪💪💪💪💪
Caty Chanel
waaaah makin seru aja cerita nya Thor. semangat teruss ya kk. makasih sudah crazy up 💪🙏
Atalia
kasian hana 😭
Caty Chanel
terimakasih sudah crazy upp Thor 💪 semangat trus 💪
Maudy: terimakasih kembali kak 😍🙏
total 1 replies
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Dinda
mantap kak
Dinda
puas bangat😍
Dinda
kejam,,dunia kejam bagi orang miskin.
Dinda
kasihan Hana semoga saja semua orang yang menyakiti nya, mendapatkan balasan yang setimpal !
Dinda
Hana balas Mereke semua
Dinda
jahat bangat keluarga nya
Osie
prajurit songong..jenderalnya pun songong..dikasih bantuan makanan bukannya terimakasih tapi malah bikin rusuh..sombong amir..aku doain deh moga author bikin tuh jenderal bucin akut sama hana dan ditolak sama hana..biar tau rasa dia
Osie
kesalahan 18thn lalu kenapa tdk dikuak biar ketahuan siapa penjahat sebenarnya
Osie
hana miris bgt hidupmu
Osie
baru baca udah es mosi aja aku ma tuh keluarga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!