NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG YANG TAK TERGAPAI

​Sepanjang pengajian berlangsung, pikiran Maira benar-benar tidak bisa fokus. Suara bariton Fatih yang mengalun merdu menyampaikan untaian nasihat agama hanya terdengar bagai dengung samar di telinganya. Fokusnya telah habis tersedot oleh punggung anggun Halwa yang duduk beberapa saf di depannya. Di dalam hati Maira, ada rasa cemburu yang bercampur dengan rasa rendah diri yang teramat pekat.

​Hingga akhirnya, rangkaian acara pengajian mingguan itu pun selesai. Satu per satu jamaah mulai membubarkan diri dari aula pesantren. Maira berjalan bersisian dengan Aisyah menuju gerbang luar, tempat taksi online pesanan Maira nantinya akan menjemput.

​Suasana malam yang dingin dan angin sepoi-sepoi menemani langkah kaki mereka. Maira meremas tali tasnya dengan erat, mencoba mengumpulkan segenap keberanian untuk menanyakan satu hal yang sejak tadi mengganjal di ulu hatinya. Rasa penasaran ini begitu menyiksa jika tidak segera ia tuntaskan.

​Maira berdehem pelan, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar se-kasual dan sesantai mungkin, seolah itu hanyalah pertanyaan basa-basi biasa.

​“Syah...” panggil Maira pelan, memecah keheningan di antara mereka.

​Aisyah menoleh dengan senyuman riangnya yang khas. “Iya, Mbak Maira? Kenapa?”

​Maira menelan ludahnya yang terasa getir sebelum melanjutkan kalimatnya. “Cewek yang cantik... yang tadi ngobrol akrab sama Lo di aula, yang namanya Halwa... itu calon kakak ipar Lo, ya?”

​Mendengar pertanyaan itu, senyuman di wajah Aisyah semakin melebar, memancarkan binar kebahagiaan yang tulus. “Insyaallah, Mbak. Doain ya,” jawab Aisyah penuh harap.

​Aisyah kemudian membetulkan letak tas selempangnya sambil terus melangkah di samping Maira. “Memang Mas Fatih sama Kak Halwa itu dijodohin sama Pak Kiai pemimpin pesantren ini. Kak Halwa itu anak bungsu beliau. Dari pihak keluarga Kak Halwa dan Umi aku sebenarnya udah setuju banget, Mbak.”

​Deg. Dada Maira kembali berdenyut perih, namun ia menahan ekspresi wajahnya sekuat tenaga agar tidak terlihat goyah di depan Aisyah.

​Aisyah melanjutkan ceritanya tanpa menyadari perubahan raut wajah Maira. “Tapi... untuk sekarang memang belum ada jawaban resmi dari Mas Fatih-nya sendiri, Mbak. Mas Fatih kemarin bilangnya mau fokus kerja dulu di kafe sama ngurus proyekan bukunya, jadi belum mau buru-buru ngasih keputusan. Tapi ya... kalau menurut aku, tinggal nunggu waktu aja sih, hehe.”

​Maira memaksa sudut-sudut bibirnya untuk tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang terasa sangat hambar dan dipaksakan. Matanya menatap lurus ke aspal jalanan pesantren yang mulai sepi.

​“Oohh... cocok ya mereka berdua, Syah. Setara dalam hal apa pun,” ucap Maira dengan nada suara yang bergetar samar, namun beruntung Aisyah tidak terlalu menyadarinya.

​Di dalam benak Maira, kata 'setara' itu bergema berulang kali seperti sebuah tamparan keras yang menyadarkannya dari mimpi siang bolong. Ya, Fatih dan Halwa sangat setara. Halwa adalah anak seorang kiai terpandang, dibesarkan di lingkungan suci pesantren, menjaga kehormatannya sejak kecil, dan memiliki pemahaman agama yang luar biasa. Sementara Fatih adalah lelaki alim yang lurus, berbakat, dan dihormati banyak orang.

​Lalu, siapa dirinya? Maira hanyalah seorang pelayan kafe biasa dengan masa lalu yang kelam, yang setiap malamnya dulu dihabiskan di bawah gemerlap lampu kelab malam penuh maksiat. Jangankan mengerti hukum-hukum agama yang rumit seperti Halwa, mengeja huruf Alif, Lam, Mim saja ia masih harus dipandu layaknya seorang anak kecil yang baru belajar.

​Mereka akhirnya tiba di depan gerbang utama pesantren. Di seberang jalan, mobil taksi online yang dipesan Maira tampak sudah menyalakan lampu hazard, menunggu penumpangnya.

​“Mbak Maira gak apa-apa nunggu taksinya sendiri? Aku gak enak kalau ninggalin Mbak, tapi Mas Fatih tadi bilang mau ada urusan sebentar sama pengurus pesantren di dalam,” ucap Aisyah merasa tidak enak.

​Maira buru-buru menggeleng dengan senyum yang dipaksakan tampak ceria. “Eh, gak apa-apa banget, Syah! Tuh, mobilnya juga udah di depan mata. Lo mending balik ke dalam aja, kasihan Fatih kalau nyariin Lo nanti.”

​“Ya udah kalau gitu. Mbak Maira hati-hati di jalan ya, kalau udah sampai rumah kabari aku,” tutur Aisyah manis.

​“Sip. Assalamu’alaikum, Syah.”

​“Wa’alaikumussalam, Mbak.”

​Maira membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menyeberangi jalan raya yang sepi. Begitu ia membuka pintu mobil taksi dan duduk di jok belakang, kehangatan AC mobil langsung menyambutnya. Namun, dingin di hatinya tidak kunjung reda.

​Maira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin, menatap keluar jendela ke arah gerbang pesantren yang perlahan mulai menjauh seiring dengan laju mobil yang semakin cepat. Di dalam kegelapan malam dan keheningan kabin mobil, pertahanan yang sejak tadi Maira bangun dengan susah payah akhirnya runtuh total.

​Sebutir air mata yang hangat lolos begitu saja dari sudut matanya, mengalir lambat melewati pipinya yang mendadak terasa kebas. Maira meremas ujung pashmina-nya dengan sangat erat, menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh sopir taksi di depan.

​Hatinya terasa begitu hancur dan perih. Rasa sakitnya melebihi saat ia dikhianati oleh Rayn dulu. Saat dikhianati Rayn, Maira merasa marah dan kecewa. Namun saat ini, di hadapan kenyataan tentang Fatih dan Halwa, Maira bahkan tidak memiliki hak untuk marah ataupun kecewa. Ia hanya dipaksa untuk sadar diri sedalam-dalamnya.

​“Gue emang gak pernah pantas buat lo, Fatih,” batin Maira dalam tangisnya yang membisu. “Bahkan untuk sekadar mengagumi lo diam-diam pun, rasanya gue udah terlalu lancang.”

​Malam itu, di dalam mobil yang membawanya pulang ke rumah kontrakannya yang sepi, Maira berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubur dalam-dalam getaran asing yang sempat tumbuh di dadanya. Ia harus tahu batasan. Fokusnya sekarang harus kembali pada tujuan awalnya: bertobat dan memperbaiki diri di hadapan Allah, bukan untuk mengharapkan manusia yang kastanya terlalu jauh di atas kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!