Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 19
Satu hal yang Rissa sadari, bahwa dia tak bisa selamanya menghindar dari Raka. Mau tidak mau Rissa harus bertemu dengan Raka karena mereka masih tinggal di bawah atap yang sama.
Rissa tak lagi menolak saat Raka menarik tangannya pelan dan mengajaknya duduk di sofa.
Seulas senyuman terukir di bibir Raka. Rissa tak lagi menolak sentuhannya. Rissa tak lagi menolak saat Raka mengajaknya untuk berbicara.
"Rissa, maaf," ucap Raka pelan.
Rasanya memang tak ada kata lain yang bisa Raka ucapkan selain kata maaf. Bahkan mungkin seribu maaf yang dia ucapkan tak mampu menyembuhkan luka dalam hati Rissa yang telah dibuatnya.
"Malam itu aku di jebak. Aku benar-benar nggak tahu kalau Windy senekat itu." Raka berhenti sejenak. "Awalnya kami bertemu di lobi. Kebetulan dia ada pekerjaan disana. Dia mengajakku mengobrol sebentar. Aku sudah menolak tapi dia memaksa. Akhirnya aku turuti dia karena aku berpikir tidak ada salahnya kami berteman baik. Aku tak ingat apapun lagi sampai akhirnya aku bangun dalam keadaan yang sudah berantakan. Feeling-ku, Windy melakukan sesuatu sampai membuatku tidak sadar." Jelas Raka panjang lebar.
Rissa masih betah dengan sikap diamnya. Ingin rasanya Rissa percaya pada ucapan Raka. Tapi sisi lain hatinya memberontak.
Bisa saja itu hanya rekayasa Raka untuk menutupi kesalahannya. Bagaimana mungkin bisa kebetulan seperti itu. Rasanya tidak mungkin kalau Windy dan Raka bertemu hanya karena kebetulan.
"Kamu percaya kan, sama aku?" Raka mencoba menggenggam tangan Rissa namun Rissa menepisnya pelan.
"Keputusanku tetap sama. Kita tetap akan bercerai."
Raka menggeleng keras. "Nggak akan ada perceraian diantara kita, Rissa. Aku sudah bilang kalau itu semua hanya jebakan Windi. Tolong jangan seperti ini, Ris. Aku rela melakukan apapun asalkan kamu mau maafin aku."
Rissa menarik napasnya dan menghembuskannya pelan. Sejenak dia berpikir untuk membatalkan gugatannya pada Raka.
Dia juga tak ingin egois. Ada nyawa baru yang nantinya akan membutuhkan peran keduanya.
"Aku kasih kamu kesempatan dua minggu untuk membuktikan semuanya."
Raka tak dapat menyembunyikan senyumnya. Dia merasa terharu mendengar ucapan Rissa.
"Ada syaratnya," ucap Rissa menghentikan tangan Raka yang hendak memeluknya.
"Apa syaratnya? Katakan, aku akan memenuhinya," balas Raka antusias.
"Selama kamu belum bisa membuktikan semuanya, kita tetap pisah kamar."
Raka mendesah kecewa. Tapi, mau tak mau Raka harus menurutinya. Dia berjanji, sebelum dua minggu Raka akan mendapatkan bukti bahwa semua hanya jebakan Windi yang ingin menghancurkan rumah tangganya.
"Aku janji akan buktikan semuanya. Aku sayang sama kamu, Rissa. Aku cinta sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku."
Raka memeluk erat tubuh Rissa. Dan Rissa tak menolaknya. "Aku juga cinta sama kamu, Raka. Namun rasa kecewaku lebih besar," ucap Rissa dalam hati.
💕💕💕
Raka masih saja berusaha menghubungi Windi dan meminta Windi untuk mengakui semuanya. Namun Windi selalu mengelak dan mengatakan bahwa malam itu Raka yang memulai semuanya.
Saat Raka meminta Windi untuk menemuinya, Windi selalu beralasan bahwa dia sedang sibuk bekerja. Windi selalu saja menghindar dari Raka.
"Sudah aku katakan bahwa kamu yang memulai, Ka," ucap Windi di seberang sana. Saat ini, Raka sedang menelpon Windi.
"Bagaimana mungkin aku melakukannya kalau aku saja tidak sadar. Aku nggak bodoh ya, Wind."
"Namanya juga orang nggak sadar ya gimana bisa tahu apa yang dia lakukan. Sudahlah, Raka. Jangan memaksaku untuk mengakui sesuatu yang bukan salahku. Harusnya kamu yang harus bertanggungjawab kalau sampai aku hamil karena malam itu kamu melakukannya nggak hanya satu kali."
"Jangan ngarang kamu, Wind!"
"Sudahlah. Aku masih banyak pekerjaan."
Klik. Telepon dimatikan.
Raka melempar ponselnya ke atas meja lalu mengusap rambutnya dengan kasar.
Tidak ada cara lain. Raka memutuskan untuk datang ke hotel tempatnya menginap dulu untuk mencari bukti-bukti yang ada. Rekaman cctv harus bisa dia dapatkan segera.
Setibanya di hotel, Raka mengatakan pada bagian resepsionis bahwa dia ingin bertemu dengan manager hotel.
Tidak sulit bagi Raka untuk mendapatkan ijin untuk bertemu dengan manager hotel karena kebetulan manager di hotel tersebut adalah temannya semasa kuliah dulu. Putra.
"Jadi gimana, bro?" Tanya Putra setelah keduanya berbasa-basi sebentar.
Raka segera menceritakan permasalahannya dan apa yang membuatnya kembali datang ke hotel. Dia bermaksud untuk melihat rekaman cctv tiga minggu yang lalu disaat kejadian itu terjadi.
"Serius Windi berbuat seperti itu, Ka?" Tanya Putra tak percaya setelah Raka bercerita bahwa Windi-lah dalang dari semuanya.
"Tapi dia nggak mau ngaku. Dia malah memintaku bertanggungjawab kalau sampai dia hamil. Gila kali! Aku aja nggak pernah nglakuin itu, bro," jawab Raka penuh emosi.
"Yang tenang, bro. Kita cek rekaman cctv-nya dulu."
Putra segera membuka email dari bagian operator. Keduanya mengamati kejadian demi kejadian di hari itu.
Ada rekaman dimana Raka berbincang dengan resepsionis dan Windi yang menghampirinya tiba-tiba. Rekaman disaat Windi dan Raka berjalan menuju cafe, rekaman cctv tersebut mati. Tak lama kemudian, rekaman tersebut kembali menyala. Namun hanya menampakkan seorang pelayan yang sedang membersihkan meja bekas tempat Windi dan Raka.
Raka dan Putra saling berpandangan. "Aku yakin ada yang sabotase rekaman ini, bro. Atau mungkin pegawai kamu ada yang kerja sama dengan Windi."
Apa yang di ucapkan Raka sama dengan apa yang dipikirkan oleh Putra.
Putra segera memanggil pegawai yang bersangkutan.
"Kenapa cctv bisa mati setelah kejadian ini?" Tanya Putra pada Deni, petugas yang mengirimkan rekaman cctv ke email Putra.
"Saya tidak tahu, Pak. Hari itu saya libur," jawab Deni.
"Lalu siapa yang jaga waktu itu?"
"Waktu itu jadwalnya Tomi, Pak."
"Panggil Tomi sekarang!" Perintah Putra.
"Maaf, Pak. Tomi sudah resign seminggu yang lalu."
"Apa!?" Kini bukan Putra yang berbicara. Namun Raka yang memekik tak percaya. "Gimana, Put?" Tanya Raka putus asa. Waktunya tinggal seminggu lagi namun dia belum mendapatkan bukti apapun untuk membuktikan pada Rissa.
"Tenang dulu, Ka. Aku akan menghubungi bagian HRD. Dan kamu Deni, kamu bisa keluar sekarang."
Setelah Deni keluar, Putra segera menghubungi pihak HRD dan meminta data lengkap Tomi. Raka berharap kali ini dia bisa menemukan titik terang.
***
Mobil Raka memasuki sebuah gang kecil. Ditangannya ada sebuah kertas kecil yang bertuliskan sebuah alamat dan juga sebuah foto berukuran tiga kali empat.
Setelah bertanya pada beberapa orang, Raka akhirnya menemukan tempat yang di cari.
Raka segera turun dari mobilnya dan memasuki sebuah halaman yang tak begitu luas. Di hadapannya sekarang ada sebuah bangunan rumah yang pintunya tertutup rapat.
"Permisi," ucap Raka setelah mengetuk pintu rumah kecil tersebut.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakkan seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi yang Raka perkirakan baru usia beberapa minggu. "Cari siapa, Mas?" Perempuan itu terlihat bingung saat ada laki-laki yang berpakaian rapi berdiri didepan rumahnya.
"Benar ini rumah Tomi Haryanto?"
"Betul, Mas. Ada perlu apa mencari suami saya?"
"Tomi-nya ada?" Raka tak ingin membuang-buang waktu dengan berbasa-basi meskipun hanya mengatakan keperluannya mencari Tomi pada istri Tomi tersebut.
"Mas Tomi sedang bekerja di luar kota, Mas. Katanya pulangnya sebulan sekali."
"Apa?" Raka mendesah tak percaya. "Sudah berapa lama Tomi ke luar kota?"
"Baru seminggu, Mas."
"Ada nomor teleponnya?"
Perempuan itu mengernyit bingung. Menerka-nerka apa tujuan Raka mencari Tomi.
"HP-nya Mas Tomi rusak, Mas."
Raka menghela napas berat. Satu-satunya orang yang bisa memberikan bukti kini tak bisa dia temui. Pulang sebulan sekali dan baru seminggu Tomi berangkat bekerja.
Padahal waktu Raka tinggal seminggu untuk membuktikan semuanya pada Rissa.
💕💕💕
Sudah pukul sebelas malam. Namun Raka belum juga pulang.
Pikiran Rissa tak tenang dan tak bisa tidur. Rissa takut terjadi sesuatu pada Raka. Ingin menghubungi Raka, namun Rissa merasa gengsi.
Rissa menghembuskan napas pelan. Waktu yang dia berikan untuk Raka tersisa seminggu lagi. Namun sampai sekarang Raka belum juga memberikan satupun bukti untuk meyakinkan Rissa.
Kalau Raka benar-benar tak bisa membuktikan semuanya, akankah dirinya benar-benar sanggup menghadapi perpisahannya dengan Raka?
Bahkan ada anak mereka yang sudah pasti akan membutuhkan keduanya.
Sampai saat ini Rissa belum mengatakan apapun tentang kehamilannya pada Raka.
Suara mobil yang memasuki halaman rumahnya menghentikan langkah Rissa yang ingin keluar dari kamar.
Rissa segera berbalik dan mengintip dari jendela kamarnya yang tertutup oleh gorden.
Rissa menghembuskan napas lega saat melihat Raka yang baru saja keluar dari mobil.
Melihat Raka pulang dalam keadaan yang baik-baik saja, Rissa segera berbaring diatas ranjang untuk tidur.
Sebenarnya Rissa ingin keluar kamar dan bertanya psa Raka dari mana saja dia sampai pulang selarut ini. Namun sekali lagi, rasa gengsinya yang terlalu besar membuat Rissa mengurungkan niatnya dan memilih untuk tidur.
***
Meskipun tubuhnya terasa lelah, namun matanya tak bisa terpejam sama sekali.
Raka memikirkan nasib rumah tangganya kalau seandainya waktu seminggu tak cukup untuk mengumpulkan bukti-bukti bahwa dia tak bersalah.
Pukul empat pagi, Raka merasakan haus. Dia berniat untuk mengambil minum ke dapur.
Langkah Raka terhenti saat mendengar Rissa berkali-kali mencoba untuk mengeluarkan isi perutnya.
Raka segera berjalan ke kamar yang di tempati oleh Rissa. Beruntung pintu kamar tak terkunci. Jadi Raka bisa langsung masuk ke dalamnya.
Belum sempat Raka mengetuk pintu kamar mandi Rissa, Raka mendengar Rissa yang tengah mengatakan sesuatu.
"Jangan aneh-aneh, sayang. Mama nggak mungkin minta Papa kamu buat masakin ayam goreng subuh-subuh begini."
Deg!
Jantung Raka berdegup kencang. Mama? Papa? Rissa sedang berbicara dengan siapa?
Suara Rissa dari dalam kamar mandi lagi-lagi membuat Raka tak bisa berkata-kata lagi.
"Bersahabat sama Mama, sayang. Sehat-sehat di perut Mama. Jangan rewel."
Tak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka. Raka segera memeluk tubuh Rissa.
Rissa sendiri tak kalah terkejutnya.
Sejak kapan Raka ada dikamarnya? Bukan. Tepatnya, sejak kapan Raka berdiri didepan kamar mandinya?
Apa itu artinya Raka mendengar semua yang dia ucapkan ketika mengajak anak didalam rahimnya berbicara?
"Kamu hamil?" Tanya Raka dengan suara bergetar. Raka tak bisa menyembunyikan rasa harunya dan tak bisa menahan air mata bahagianya.
Rissa mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Dia tak bisa lagi menutupi semuanya.
Pada akhirnya, cepat atau lambat Raka akan tahu tentang kehamilannya.
💕💕💕
Lama dianggurin. masih ada yang nunggu nggak? 😂😂
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.