"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Skenario Pencucian Dosa
Ratusan mikrofon media terpasang di depan podium tempat Nadia berdiri dengan mata sembap yang memelas.
Kilatan cahaya kamera menyambar tiada henti, membidik wajah pucat gadis yang biasanya tampil congkak tersebut. Hari ini, Nadia Dharma menanggalkan seluruh gaun sutra mahalnya. Gadis itu mengenakan kemeja katun putih sederhana yang membuatnya terlihat sangat rapuh dan tak berdaya.
Nadia menolak menyerah begitu saja pada kehancuran reputasinya.
Gadis tiruan itu berdiri mematung di hadapan wartawan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya berguncang pelan, menampilkan gestur korban yang sangat sempurna.
Di belakangnya, Wijaya Dharma berdiri tegak bagai pilar pelindung. Sosiopat itu memasang wajah penuh duka yang menipu. Wijaya memposisikan dirinya seolah ia adalah seorang ayah yang sedang menopang putrinya di masa-masa paling kelam.
Gadis itu terdorong oleh keyakinan delusionalnya bahwa dialah putri yang paling dicintai di keluarga Dharma.
Berbekal delusi kasih sayang tersebut, ia menggelar sebuah konferensi pers emosional di aula hotel berbintang. Nadia sungguh percaya bahwa ayahnya sedang menguji mentalnya, bukan menjadikannya tameng hukum untuk mencuci dosa perusahaan.
"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh konsumen," ucap Nadia, meminta maaf sambil menangis tersedu-sedu di depan jutaan pasang mata.
Suaranya sengaja dibuat serak dan bergetar. Tangannya mencengkeram tepi podium kuat-kuat, memperlihatkan keputusasaan yang dirancang sangat presisi.
Savira duduk bersila di depan layar laptopnya, menatap panggung sandiwara itu dengan rahang mengeras. Tangannya mengupas bungkus permen stroberi secara kasar.
Ia melempar permen itu ke dalam mulutnya. Rasa manis buatan seketika pecah, namun gula itu tidak mampu menutupi sensasi asam lambung yang naik ke kerongkongannya.
Savira tahu persis apa yang berkecamuk di dalam kepala saudara tirinya itu. Nadia tidak sedang berakting murni. Gadis itu benar-benar meyakini kebohongannya sendiri.
Nadia yakin pengorbanannya hari ini akan memperkuat posisinya di singgasana keluarga Dharma sebagai martir suci.
"Saya sama sekali tidak mengetahui kecurangan pihak pabrik pemasok bahan baku," lanjut Nadia dengan air mata yang membasahi pipinya. "Saya ditipu oleh orang-orang yang saya percayai, tapi saya menyadari kelalaian saya dalam pengawasan."
Kamera televisi memperbesar sorotan pada wajah Nadia. Gadis itu menatap langsung ke arah lensa dengan sorot mata yang sarat akan penderitaan.
"Sebagai bentuk tanggung jawab moral, saya berjanji mendonasikan seluruh tabungan pribadi saya untuk para korban kosmetik," deklarasi Nadia dengan nada penuh penyesalan.
Kalimat pamungkas itu meluncur mulus membelah keheningan ruang konferensi pers.
Savira mendecih sinis mendengarnya. Tabungan pribadi Nadia hanyalah uang saku bernilai miliaran rupiah yang diberikan Wijaya secara cuma-cuma setiap bulan. Mengembalikan uang kotor itu untuk menutupi kesalahan fatal perusahaan adalah skenario pencucian dosa paling menjijikkan.
Namun, audiens di luar sana tidak memiliki logika sedingin Savira.
Layar ponsel Savira berkedip liar tanpa henti. Ia membuka kolom komentar di platform media sosial yang menayangkan siaran langsung tersebut.
Arus opini publik berubah arah dalam hitungan menit. Taktik manipulasi air mata itu berhasil membuat publik mulai berbalik bersimpati padanya.
"Dia hanya korban kelicikan pabrik, kasihan sekali melihatnya menangis seperti itu," tulis seorang pengguna dengan ribuan tanda suka.
"Nadia gadis yang sangat bertanggung jawab. Tidak banyak anak konglomerat yang mau merelakan uang pribadinya untuk konsumen," timpal komentar lainnya yang terus mengalir membanjiri layar.
Jantung Savira berdetak kencang menghantam tulang rusuknya. Darahnya mendidih, memompa kemarahan yang mengalir panas menembus urat lehernya.
Monster sosiopat itu menang lagi. Wijaya berhasil memanipulasi emosi masyarakat dan merestorasi wajah busuk Dharma Group menggunakan wajah memelas Nadia.
Savira mencengkeram ujung kardigannya kuat-kuat. Bau melati dari kulitnya menguar kencang, bereaksi terhadap feromon stres yang memuncak di dalam tubuhnya.
Nadia adalah delusi yang hidup dan bernapas. Gadis itu mampu menipu jutaan orang murni karena ia sendiri tidak sadar sedang diperalat. Ia bertindak layaknya dewi penyelamat yang sedang memikul salib demi ayah tercintanya.
Savira mematikan layar laptopnya secara paksa. Ia tidak sanggup lagi melihat senyum tipis kemenangan yang tersembunyi di balik raut duka Wijaya Dharma.
Hawa apartemennya mendadak terasa luar biasa mencekik. Oksigen di ruangan sempit ini seakan tidak cukup untuk mengisi paru-parunya yang menuntut pembalasan tuntas.
Ia bangkit berdiri, melangkah cepat menuju cermin kaca di sudut ruangan. Matanya yang kelam menyala oleh api kebencian yang menolak untuk dipadamkan oleh sandiwara murahan.
Ia sangat membutuhkan distraksi sensorik fisik. Ia butuh rasa sakit atau rasa terbakar yang bisa mengalihkan kekacauan taktis di kepalanya saat ini.
Savira mengepalkan tangannya melihat reaksi publik, berbisik dingin, "Aku tidak akan membiarkanmu merangkak naik lagi, Nadia. Ia mengambil jaket hitamnya yang tergantung di balik pintu. Langkah kakinya bergerak cepat keluar dari apartemen, mencari pelarian dari rasa muak yang mencekik pembuluh nadinya.
Pikirannya langsung tertuju pada satu tempat yang bisa membakar lidahnya hingga mati rasa.
Aroma cabai rawit yang menyengat dari mangkuk mi mengepul di bawah lampu kedai pinggir jalan yang temaram.