Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Jalan Yang Harus Di Tempuh
Mentari pagi menyinari perkemahan para penyintas.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara udara dipenuhi aroma obat-obatan yang direbus sejak dini hari.
Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, suasana perkemahan kini jauh lebih teratur.
Para murid Sekte Awan Langit membagi wilayah pengungsian menjadi beberapa bagian.
Di sisi timur, para alkemis merawat korban luka.
Di sisi barat, para kultivator sekte membangun tenda-tenda baru menggunakan teknik tanah dan kayu sehingga para penyintas tidak lagi tidur di ruang terbuka.
Di bagian tengah, dapur umum terus mengepulkan asap.
Beberapa murid membawa karung berisi beras, daging kering, dan sayuran spiritual berkualitas rendah yang diambil dari persediaan sekte.
Meski makanan itu sederhana, setidaknya tidak ada lagi yang kelaparan.
Namun...
Suasana duka belum juga hilang.
Di setiap sudut masih terlihat keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
Bai Hu membantu Liang Chen membagikan pil penyembuh kepada para korban.
Gerakannya jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu.
Ia tidak lagi banyak berbicara.
Sesekali ia membantu mengganti perban atau menyuapkan pil kepada korban yang tidak mampu mengangkat tangan.
Liang Chen memperhatikannya diam-diam.
Ia masih melihat kesedihan di wajah anak itu.
Namun sekarang...
Kesedihan itu tidak lagi membuat Bai Hu hanya duduk diam.
Ia mulai bergerak.
Mulai melakukan sesuatu.
Tetua Guo Rong menghampiri mereka.
"Berapa persediaan Pil Penghenti Darah yang tersisa?"
Liang Chen membuka catatan kayu di tangannya.
"Hanya tiga puluh dua botol, Guru."
Tetua Guo mengerutkan kening.
"Terlalu sedikit, Bahan bakunya juga hampir habis."
Liang Chen mengangguk.
"Kebun tanaman spiritual Aula Alkimia sudah hancur, Gudang obat juga ikut terbakar."
Tetua Guo menghela napas panjang.
Selama puluhan tahun. Ia membangun Aula Alkimia sedikit demi sedikit.
Kini semuanya lenyap.
ia memandang Bai Hu.
"Bai Hu."
"Ya, Tetua "
"Menurutmu, apa yang paling berharga bagi seorang alkemis?"
Bai Hu berpikir beberapa saat.
"Tanaman spiritual?"
Tetua Guo menggeleng.
"Tungku?"
Tetua Guo kembali menggeleng.
"Kalau begitu..."
Bai Hu mulai ragu.
Tetua Guo tersenyum tipis.
"Pengetahuan."
"Tanaman bisa ditanam kembali ,Tungku bisa ditempa lagi ,selama Pengetahuan dan Ketrampilan masih ada..Aula Alkimia dapat dibangun kembali."
Tetua Guo menatap para korban yang sedang dirawat.
"Karena itu....jangan pernah berhenti belajar."
Bai Hu mengangguk perlahan.
Kalimat itu tertanam dalam pikirannya.
Pada saat yang sama...
Di tenda utama Sekte Awan Langit.
Xu Canghai duduk bersama beberapa tetua lainnya.
Di atas meja terbentang peta wilayah timur Kerajaan Ombak Surgawi.
Beberapa tanda merah memenuhi daerah sekitar Pegunungan Seribu Bintang.
Seorang tetua menunjuk salah satu titik.
"Dua desa di sebelah timur juga musnah."
Tetua lain menambahkan,
"Empat desa di selatan berhasil dievakuasi, tetapi kerugiannya sangat besar."
Xu Canghai memejamkan mata.
"Lalu bagaimana keadaan Pegunungan Seribu Bintang?"
"Masih dipenuhi Binatang Iblis."
"Beberapa murid yang melakukan pengintaian melihat kemunculan Binatang Iblis Tingkat Lima dalam jumlah lebih dari sepuluh ekor."
Suasana tenda langsung sunyi.
Tetua berjanggut panjang berkata pelan,
"Kalau keadaan ini terus berlanjut...seluruh wilayah timur kerajaan akan berada dalam bahaya."
Xu Canghai mengangguk.
"Kirim surat darurat."
"Laporkan kepada Sekte Pedang Langit, Sekte Seribu Pil, Lembah Formasi Giok, dan Istana Ombak Surgawi."
"Masalah ini bukan lagi urusan satu sekte."
"Kalau Penguasa Pegunungan benar-benar mulai bergerak...seluruh Kerajaan Ombak Surgawi bisa jatuh."
Semua tetua langsung berdiri.
"Kami mengerti Tetua Agung Xu"
Sementara itu...
Di luar tenda.
Bai Hu sedang mengantar kotak pil terakhir.
Tanpa sengaja...
Ia mendengar sebagian pembicaraan para tetua.
Langkahnya perlahan berhenti.
"Seluruh kerajaan...dalam bahaya?"
Ia menoleh ke arah Pegunungan Seribu Bintang yang tampak samar di kejauhan.
Sekarang Bai Hu menyadari satu hal.
Musuh yang merenggut rumah dan keluarganya...
Bukan hanya musuh Kota Qinghe.
Melainkan ancaman bagi seluruh negeri.
Ia menggenggam erat kotak pil di tangannya.
Di dalam hati, tekadnya semakin kuat.
Kalau ingin mencari ayahnya...
Kalau ingin melindungi ibunya...
Kalau ingin membangun kembali Keluarga Feng...
Ia harus menjadi jauh lebih kuat daripada sekarang.
------
Menjelang sore, lonceng besar berbunyi tiga kali dari tengah perkemahan.
Dooong...
Dooong...
Dooong...
Seluruh penyintas menghentikan aktivitas mereka.
Para murid Sekte Awan Langit segera mengarahkan semua orang menuju lapangan utama.
Bai Hu yang sedang membantu Liang Chen mengangkat peti pil ikut menghentikan pekerjaannya.
"Apa yang terjadi, Kak Liang?"
Liang Chen menggeleng pelan.
"Aku juga belum tahu. Tetapi kalau Tetua membunyikan lonceng pemanggilan, pasti ada keputusan penting."
Mereka segera menuju lapangan.
Tidak lama kemudian, ribuan penyintas telah berkumpul.
Xu Canghai kembali berdiri di atas panggung batu sederhana.
Namun kali ini, di belakangnya terdapat beberapa tetua lain dan seorang pria berjubah hitam yang membawa gulungan besar.
Tatapan Xu Canghai menyapu kerumunan.
"Kami telah menerima balasan dari ibu kota Kerajaan Ombak Surgawi."
Suasana langsung hening.
"Mulai hari ini...seluruh wilayah timur kerajaan dinyatakan dalam keadaan darurat."
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
Xu Canghai melanjutkan.
"Gelombang Binatang Iblis tidak hanya terjadi di Kota Qinghe."
"Dalam tiga hari terakhir, enam kota kecil dan belasan desa di sekitar Pegunungan Seribu Bintang telah diserang."
Kerumunan langsung gempar.
"Apa?"
"Enam kota?"
"Berarti bukan hanya kita..."
Xu Canghai mengangkat tangan, meminta semua kembali tenang.
"Kabar baiknya...Pasukan kerajaan dan beberapa sekte besar telah mulai bergerak."
"Mereka akan membentuk garis pertahanan baru di sebelah selatan Pegunungan Seribu Bintang."
"Namun sebelum itu.....seluruh penyintas harus segera dipindahkan."
Pria berjubah hitam di belakang Xu Canghai membuka gulungan peta besar.
Di atasnya tergambar wilayah Kerajaan Ombak Surgawi.
Xu Canghai menunjuk sebuah kota.
"Besok pagi kita akan berangkat menuju Kota Qingyun ,Itu adalah kota kultivator terbesar di wilayah selatan, di sana kalian akan mendapat tempat tinggal sementara."
Bai Hu menatap peta itu tanpa berkedip.
Kota Qinghe ternyata hanyalah sebuah titik kecil di dalam kerajaan yang sangat luas.
Dunia yang selama ini ia kenal ternyata baru sebagian kecil saja.
Setelah pertemuan selesai, kerumunan mulai bubar.
Namun sebelum semua orang pergi, Xu Canghai kembali berbicara.
"Tunggu ,Kami masih memiliki satu pengumuman."
Semua kembali berhenti.
Xu Canghai berkata dengan suara mantap.
"Setibanya di Kota Qingyun...Sekte Awan Langit akan membuka penerimaan murid baru."
Kalimat itu membuat seluruh lapangan kembali riuh.
Bahkan Tian Yu yang sejak tadi diam ikut mengangkat kepala,
"Bagi anak-anak dan remaja yang memiliki bakat kultivasi..ini adalah kesempatan untuk memasuki dunia sekte."
"Tidak hanya Sekte Awan Langit."
"Beberapa sekte lain juga akan datang memilih murid."
Bai Hu menoleh kepada Tian Yu.
"Kak...Apakah aku boleh ikut?"
Tian Yu tidak langsung menjawab.
Ia memandang adiknya cukup lama.
"Lalu bagaimana dengan Ibu?"
Bai Hu ikut menoleh ke arah Mei Lin yang sedang membantu beberapa wanita tua membagikan makanan.
Wajahnya tampak jauh lebih kurus dibanding beberapa hari lalu.
Bai Hu terdiam.
Ia tidak mungkin meninggalkan ibunya begitu saja.
Seolah mengetahui isi pikirannya, Tian Yu berkata pelan,
"Kalau kau benar-benar ingin menjadi kuat...kau harus masuk sekte."
"Kakak Telah meminta izin kepada tetua Agung Xu untuk keluar sakte, kakak harus mengurus Keluarga...perkembanganmu akan jauh lebih lambat jika kau bersamaku."
Bai Hu menundukkan kepala.
"Tapi...Aku tidak ingin meninggalkan keluarga."
Tian Yu tersenyum tipis.
"Masuk sekte bukan berarti meninggalkan keluarga."
"Itu berarti....kau sedang mempersiapkan diri untuk melindungi keluarga."
Kalimat itu kembali mengingatkan Bai Hu pada perkataan ayahnya.
"Kalau ingin melindungi keluargamu, kau harus menjadi lebih kuat."
Bai Hu mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu....aku akan masuk sekte."
"Tetapi sebelum itu...Aku akan menemukan Ayah."
Tian Yu menggeleng sambil tersenyum.
"Kita akan mencarinya bersama."
Malam kembali turun.
Perkemahan mulai sunyi.
Namun di dalam salah satu tenda para tetua sekte, suasananya justru tegang.
Xu Canghai duduk menghadap seorang tetua yang baru tiba dari ibu kota.
Tetua itu membawa sebuah laporan rahasia.
"Wabah Gelombang Binatang Iblis telah dipastikan berasal dari Penguasa Pegunungan Seribu Bintang."
Xu Canghai mengangguk pelan.
"Itu sudah kami duga."
Tetua itu membuka gulungan laporan berikutnya.
"Namun ada satu hal yang lebih mengkhawatirkan."
Xu Canghai mengangkat alis.
"Apa itu?"
Tetua tersebut menarik napas panjang.
"Menurut penyelidikan kerajaan..Penguasa Pegunungan Seribu Bintang belum meninggalkan wilayah intinya."
Xu Canghai membeku.
"Kalau begitu...makhluk yang menyerang Kota Qinghe..."
Tetua itu mengangguk perlahan.
"Hanya salah satu bawahannya."
Ruangan langsung sunyi.
Tidak seorang pun berbicara.
Mereka semua memahami arti laporan itu.
Kalau bawahan saja mampu menghancurkan Kota Qinghe...
Lalu..Seberapa mengerikan Penguasa Pegunungan Seribu Bintang yang sebenarnya?
Di luar tenda, Bai Hu sama sekali tidak mengetahui pembicaraan tersebut.
Ia sedang memandang langit malam.
Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,
"Kak...Tunggu aku ,Suatu hari nanti...aku akan cukup kuat untuk kembali ke tempat itu."
Angin malam berembus pelan.
Membawa abu dari arah utara.
--------
Fajar kembali menyingsing.
Kabut tipis menyelimuti perkemahan para penyintas. Cahaya matahari perlahan menerangi wajah-wajah lelah yang semalaman hampir tidak tidur.
Hari itu menjadi hari keberangkatan.
Puluhan kereta besar telah berjajar di depan perkemahan. Kereta-kereta itu milik Sekte Awan Langit dan kerajaan, khusus digunakan untuk mengangkut para korban luka, anak-anak, serta orang tua.
Di sisi lain, ratusan murid sekte sibuk memeriksa roda kereta, membagikan bekal, dan menyusun barisan pengawal.
Suasana jauh lebih teratur dibanding beberapa hari sebelumnya.
Namun tidak ada satu pun senyum di wajah para penyintas.
Di dalam tenda Keluarga Feng.
Mei Lin melipat pakaian yang masih tersisa.
Hanya beberapa potong.
Seluruh harta keluarga yang berhasil diselamatkan hanya memenuhi satu tas kecil.
Ia memandang tas itu cukup lama.
"Dari rumah sebesar itu...akhirnya hanya tersisa barang sebanyak ini."
Suaranya pelan, tetapi semua orang di dalam tenda mendengarnya.
Tidak ada yang mampu menjawab.
Feng Tian Yu memasukkan pedangnya yang telah diperbaiki sementara ke dalam sarung.
Pedang itu masih dipenuhi retakan.
Pedang itu tidak akan mampu digunakan dalam pertarungan besar lagi.
Namun ia tetap membawanya.
Karena itu adalah hadiah dari ayahnya.
Yun He menyimpan perlengkapan formasi yang berhasil diselamatkan.
Jumlahnya sangat sedikit.
Hampir seluruh bendera formasinya hancur saat mempertahankan pelarian keluarga.
Bai Hu hanya membawa sebuah tas kain kecil.
Di dalamnya hanya terdapat beberapa pakaian, beberapa batu roh pemberian Tetua Guo, serta beberapa peninggalan kakaknya Ling Yue
Ia membuka tas itu sekali lagi.
Memastikan jepit rambut peninggalan Ling Yue masih berada di tempatnya.
Kemudian menutupnya kembali.
Di luar tenda.
Tetua Guo Rong memanggil Bai Hu.
"Bai Hu."
"Ya, Tetua."
"Kemarilah sebentar."
Bai Hu segera menghampiri.
Tetua Guo mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Hanya sebesar dua telapak tangan.
ia menyerahkannya kepada Bai Hu.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Bai Hu perlahan membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah tungku alkimia kecil berwarna hitam.
Tungku itu tampak tua.
Permukaannya dipenuhi bekas pemakaian.
Tidak ada ukiran indah.
Tidak pula memancarkan aura yang istimewa.
Tetua Guo tersenyum tipis.
"Itu tungku pertamaku."
Bai Hu langsung mengangkat kepala.
"Tungku pertama Tetua?"
Tetua Guo mengangguk.
"Dulu saat seusiamu, aku belajar menggunakan tungku itu.Selama puluhan tahun aku menyimpannya."
Beliau mendorong kotak itu ke arah Bai Hu.
"Sekarang Aku ingin kau yang memilikinya."
Bai Hu langsung menggeleng.
"Aku tidak bisa menerimanya."
Tetua Guo tertawa pelan.
"Kalau hanya disimpan, benda ini tidak ada gunanya."
"Tungku dibuat untuk digunakan, bukan untuk menjadi pajangan."
Bai Hu masih ragu.
Tetua Guo kemudian berkata dengan nada yang lebih serius.
"Bai Hu ,Ilmu alkimia bukan hanya tentang membuat pil melainkan menyelamatkan kehidupan meningkatkan kultivasi dan masih banyak lagi, Suatu hari nanti ,aku berharap kau dapat melampauiku."
Mendengar kalimat itu membuat Bai Hu membungkukkan badan dengan hormat.
"Baiklah ,, terima kasih Tetua, aku akan menjaganya."
Tetua Guo mengangguk puas.
"Itulah jawaban yang ingin kudengar."
Tidak jauh dari sana.
Xu Canghai berdiri bersama beberapa tetua lainnya.
Tatapannya sesekali tertuju kepada Bai Hu.
"Anak itu...Masih sangat muda."
Tetua di sampingnya mengangguk.
"Namun mentalnya jauh lebih kuat dibanding banyak anak seusianya."
Xu Canghai menghela napas.
"Perang memang mampu menghancurkan seseorang, Tetapi perang juga mampu menempa seseorang."
Beliau memandang langit.
"Mudah-mudahan...anak itu memilih jalan yang benar."
Suara tanda keberangkatan akhirnya terdengar.
"Wuuuuuuuu..."
Para murid Sekte Awan Langit mulai bergerak.
"Semua bersiap!"
"Kereta pertama bergerak!"
"Jangan meninggalkan barisan!"
Ratusan kereta mulai berjalan perlahan.
Ribuan penyintas mengikuti di belakang.
Perjalanan menuju Kota Qingyun resmi dimulai.
Bai Hu berjalan di samping Mei Lin.
Sesekali ia menoleh ke belakang.
Pegunungan Seribu Bintang masih tampak berdiri megah di kejauhan.
Kabut hitam masih menyelimuti puncaknya.
Di balik pegunungan itulah...
Ayahnya menghilang.
Di tempat yang sama...
Ling Yue mengorbankan nyawanya.
Bai Hu berhenti melangkah sejenak.
Ia membungkuk pelan ke arah Pegunungan Seribu Bintang.
Dalam hati ia berkata,
"Ayah..."
"Kakak..."
"Tunggulah aku."
"Suatu hari nanti..."
"Aku pasti akan kembali."
"Aku akan membawa pulang Ayah."
"Dan aku akan membalas semua darah yang tertumpah di Kota Qinghe."
Setelah itu ia berbalik.
Tidak lagi menoleh ke belakang.
Langkahnya menjadi jauh lebih mantap.
Feng Tian Yu yang melihat perubahan adiknya tersenyum tipis.
Ia tahu...
Bai Hu yang sekarang bukan lagi anak kecil yang hanya mengejar keuntungan.
Luka yang ditinggalkan Kota Qinghe telah mengubahnya.
Namun jauh di dalam hati Tian Yu, ia berharap satu hal.
Semoga adiknya tidak kehilangan sifat aslinya.
Karena senyum, kecerdikan, dan sifat mata duitannya...
Adalah bagian dari Bai Hu yang selalu membuat keluarga mereka selalu tertawa.
Menjelang siang.
Rombongan akhirnya meninggalkan wilayah Kota Qinghe.
Di hadapan mereka terbentang jalan utama menuju Kota Qingyun.
Jalan itu dipenuhi rombongan pengungsi dari desa-desa lain yang juga menjadi korban gelombang Binatang Iblis.
Bai Hu memperhatikan mereka satu per satu.
Baru saat itulah ia benar-benar memahami...
Bencana ini tidak hanya menghancurkan Kota Qinghe.
Seluruh wilayah timur Kerajaan Ombak Surgawi sedang berubah.
Bersambung
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut