NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Malam dan Laci yang Kosong

Ponsel dengan layar retak itu meluncur begitu saja dari telapak tangan Lyana, menghantam lantai berkarpet tipis dengan bunyi buk yang diredam.

Gravitasi seolah baru saja menarik seluruh pasokan darah dari wajahnya. Kaki Lyana melemas, tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya. Ia merosot turun, lututnya membentur lantai, sementara napasnya mulai keluar dalam tarikan-tarikan pendek yang putus asa. Di dalam kepalanya, isak tangis ibunya bergema, berbenturan dengan kata-kata mengerikan: puluhan juta, polisi, dijemput paksa.

"Lyan!"

Rumi, yang sejak tadi mematung di dekat meja, langsung melempar kardus di tangannya. Ia melompat maju, berlutut tepat di depan gadis itu. Matanya memindai wajah Lyana yang sepucat kertas HVS. Tanpa membuang waktu bertanya, Rumi menyambar ponsel Lyana yang masih tersambung.

"Halo? Ibu? Assalamualaikum," suara Rumi mengalun, suaranya yang tadinya meninggi saat berdebat kini berubah menjadi bariton yang dalam, tenang, dan sangat terkendali. Ia beralih menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil dengan sangat luwes. "Nggih, Bu. Kula Rumi, kancanipun Lyana teng kampus."

Lyana memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana. Bahunya bergetar hebat. Segala pertahanan yang ia bangun susah payah sejak siang tadi akhirnya hancur berkeping-keping. Satria boleh menghinanya, Senat boleh mencecarnya di ruang sidang, dekanat boleh meragukan integritasnya. Tapi membawa ibunya—seorang perempuan paruh baya yang hanya tahu cara menggoreng tempe dan berdoa—ke dalam pusaran politik kampus yang kotor ini adalah sebuah kekejaman yang melampaui batas nalar Lyana.

"Mboten, Bu. Ampun nangis, nggih," Rumi terus berbicara, telapak tangan kirinya terulur, mengusap punggung Lyana yang bergetar dengan ritme yang pelan dan konstan. "Niku mboten leres. Lyana mboten wonten masalah napa-napa teng kampus. Surat niku palsu, Bu. Namung gertakan saking tiyang ingkang mboten seneng kalih BEM."

Rumi diam sejenak, mendengarkan suara panik dari seberang sana. Rahangnya perlahan mengeras, matanya menatap tajam ke arah dinding kosong di depannya.

"Ibu ampun tanda tangan napa-napa. Kula nyuwun tolong, telponipun dipun paringaken teng Pak Kades sekedhap," pinta Rumi tegas. Ada jeda beberapa detik sebelum suara seorang pria dewasa yang terdengar ragu menyapa dari seberang.

"Pak," Rumi memotong basa-basi, kali ini menggunakan bahasa Indonesia yang sangat formal, murni menggunakan wibawanya sebagai anak seorang pengacara hukum. "Saya Arshaka Rumi, Ketua BEM Universitas Pembangunan. Saya jamin seratus persen surat yang Bapak pegang itu cacat hukum dan palsu. Pihak dekanat tidak pernah mengeluarkan surat penagihan denda melalui aparat desa di luar jam kerja. Kalau dua orang berseragam itu memaksa menagih uang atau meminta tanda tangan, silakan Bapak rekam wajah mereka dan telepon Polsek terdekat atas pasal pemerasan."

Langkah itu berhasil. Ketegasan dalam suara Rumi membuat Kepala Desa di seberang sana melunak dan setuju untuk meminta kedua oknum itu pergi. Setelah memastikan ibunya sedikit lebih tenang dan ditemani oleh tetangga, Rumi menutup panggilan tersebut.

Ruangan sekretariat kembali dikuasai oleh keheningan, hanya diselingi suara hujan yang makin mereda di luar dan isakan napas Lyana.

Rumi meletakkan ponsel itu di atas meja. Ia tidak langsung berbicara. Laki-laki itu ikut duduk bersila di atas karpet, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak, memberi ruang bagi Lyana untuk memproses badai yang baru saja menghantamnya.

"Lyan," panggil Rumi pelan, suaranya sangat lembut, nyaris berbisik.

Lyana menggeleng pelan di atas lututnya. "Ibuku... dia pasti takut banget, Mas. Dia cuma tahu kalau aku di sini belajar. Dia nggak ngerti apa-apa soal Senat, soal anggaran..."

"Hei, lihat aku." Rumi menyentuh kedua sisi lengan Lyana, menarik gadis itu dengan lembut agar mendongak.

Mata Lyana basah, hidungnya memerah, dan seluruh arogansi seorang bendahara yang kaku telah luntur tak bersisa. Rumi merasakan dadanya seperti ditusuk jarum melihat kerentanan itu. Ia mengusap sisa air mata di pipi Lyana dengan ibu jarinya, gerakannya sangat hati-hati, seolah gadis itu terbuat dari porselen yang rentan retak.

"Ibumu aman. Pak Kades udah nyuruh dua orang itu pergi," kata Rumi, memastikan intonasinya penuh dengan kepastian. "Ini taktik kotor, Lyan. Satria sengaja pakai preman atau kenalannya yang disuruh pakai seragam buat neror ibumu. Tujuannya cuma satu: bikin mentalmu hancur. Bikin kamu panik dan mundur secara sukarela."

"Tapi suratnya..." suara Lyana bergetar, "mereka bawa surat kop kampus..."

"Di kampus ini, ada puluhan tempat fotokopi yang bisa memalsukan kop surat fakultas dengan harga lima ribu rupiah," potong Rumi rasional. Ia menatap mata Lyana dalam-dalam, berusaha mentransfer keberaniannya. "Ingat apa yang dibilang Pak Haris tadi pagi? Laporan kas kita bersih. Kampus nggak punya dasar hukum apa pun buat narik beasiswamu, apalagi sampai ngirim orang ke kampungmu malam-malam. Ini murni intimidasi."

Penjelasan Rumi perlahan meresap ke dalam otak Lyana yang tadi sempat membeku. Logikanya, yang selama ini selalu menjadi senjata utamanya, mulai merangkak kembali. Ketakutan yang mencekik tenggorokannya perlahan mengendur, digantikan oleh emosi lain yang jauh lebih panas.

Amarah.

Satria tidak hanya menyerangnya. Laki-laki itu telah menginjak-injak harga diri keluarganya. Memanfaatkan kemiskinan dan ketidaktahuan ibunya di desa untuk memenangkan perdebatan politik kampus yang kekanak-kanakan.

Lyana menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya. Ia menegakkan punggung. "Aku butuh lihat surat itu."

Rumi tersenyum kecil, lega melihat api perlawanan kembali menyala di mata gadis itu. "Aku udah minta Pak Kades buat fotoin suratnya dan kirim ke WhatsApp kamu barusan."

Lyana buru-buru menyambar ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat ia membuka aplikasi pesan. Ada sebuah foto baru masuk dari nomor tak dikenal—nomor Kepala Desa. Ikon loading melingkar berwarna hijau berputar lambat di tengah layar. Koneksi internet di sekre yang buruk karena hujan membuat detik-detik menunggu itu terasa seperti siksaan batin.

"Ayo, buka..." gumam Lyana tak sabar.

Lingkaran itu berhenti berputar. Foto tersebut akhirnya terbuka. Kualitas gambarnya agak buram karena difoto di bawah lampu kuning rumah ibunya yang redup, tapi teksnya masih bisa terbaca.

Lyana memperbesar gambar itu. Matanya menyapu deretan kalimat formal di sana.

Itu memang surat pemberitahuan pemutusan beasiswa. Namun, kop surat di bagian atasnya bukan logo Universitas Pembangunan.

"Mas..." Lyana bergumam, keningnya berkerut dalam. Ia menyodorkan layar ponsel itu ke arah Rumi. "Ini bukan surat dari dekanat."

Rumi mencondongkan tubuhnya, menyipitkan mata membaca tulisan di bagian atas kertas. Yayasan Lentera Bangsa. Itu adalah nama yayasan swasta yang memberikan beasiswa penuh kepada Lyana sejak semester pertama.

"Mereka nggak pakai jalur kampus," desis Rumi, rahangnya kembali mengeras. "Satria tahu dia nggak bisa nembus Pak Haris karena laporanmu bersih, jadi dia bypass rektorat. Dia ngirim laporan palsu langsung ke pihak yayasan."

Lyana terus menggulir layar, memperbesar bagian bawah surat tersebut. Jantungnya berdetak makin cepat saat membaca dasar alasan pemutusan beasiswa yang tertulis di sana.

...berdasarkan laporan resmi dari lembaga internal mahasiswa mengenai adanya penyalahgunaan dana organisasi yang melibatkan penerima beasiswa, maka pihak Yayasan berhak menarik kembali...

"Laporan resmi?" Lyana menatap Rumi dengan bingung. "Yayasan nggak mungkin ngeluarin surat pemutusan secepat ini cuma dari omongan orang. Mereka yayasan besar, SOP-nya ketat. Mereka butuh bukti fisik, butuh dokumen yang dilegalisasi oleh BEM untuk membuktikan aku beneran korupsi."

Rumi terdiam. Matanya memindai bagian paling bawah dari foto surat tersebut. Tepat di samping stempel yayasan, terdapat kalimat rujukan yang menyebutkan lampiran pelapor.

Rumi membaca kalimat itu dalam hati, dan seketika udara di paru-parunya seolah disedot habis.

"Lyan," panggil Rumi. Nada suaranya berubah menjadi sangat dingin, diwarnai oleh ketidakpercayaan yang absolut. Ia menatap mata Lyana. "Coba cek laci meja kerjaku. Sekarang."

Meski bingung dengan instruksi yang tiba-tiba itu, Lyana segera bangkit. Ia melangkah menuju meja kayu besar di sudut ruangan. Tangannya menarik laci paling atas—laci yang selalu terkunci dan kuncinya hanya dipegang oleh Rumi.

Namun, kali ini laci itu tidak terkunci.

Lyana menariknya hingga terbuka penuh. Ia menggeser tumpukan map, mencari barang spesifik yang biasa Rumi simpan di sudut kanan laci tersebut. Barang yang menjadi simbol legalitas tertinggi dari segala keputusan BEM.

Tangan Lyana berhenti bergerak. Laci itu kosong.

Ia menoleh perlahan ke arah Rumi, yang kini berdiri mematung dengan wajah yang memucat pasi di bawah cahaya lampu sekre.

"Stempel resmi BEM..." suara Lyana nyaris tak terdengar, tenggelam oleh derau hujan yang kembali turun. "Stempelnya hilang, Mas."

Rumi menatap kosong ke arah laci itu, merangkai teka-teki yang kini terjawab dengan sangat kejam. Surat yang dikirim ke yayasan itu bukan sekadar fitnah dari Senat. Seseorang dari dalam kepengurusan BEM telah mencuri stempel presiden, memalsukan tanda tangan Rumi, dan mengirimkan laporan korupsi fiktif atas nama organisasi mereka sendiri.

Dan yang paling mengerikan, orang yang memiliki akses untuk mengambil kunci laci itu dari tas Rumi hari ini hanyalah orang-orang yang duduk di meja rapat inti mereka siang tadi. Pengkhianat itu ada di lingkaran terdalam mereka.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!