Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Babak Baru di Apartemen Kenan
Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan rasa sakit, ia mendudukkan Kinasih di jok belakang dan memastikan posisinya nyaman serta sabuk pengaman terpasang dengan aman.
“Tahan sebentar lagi, ya Nash. Kita akan segera sampai ke rumah sakit.”
Kinasih hanya mengangguk lemah, wajahnya masih terlihat pucat.
“Iya…”
Reyna segera masuk ke kursi depan untuk mendampingi dan memantau keadaan. Begitu semua siap, Kenan menutup pintu rapat, melesat masuk ke balik kemudi, dan menyalakan mesin.
Mobil itu melaju cepat meninggalkan lokasi menuju rumah sakit terdekat. Sementara itu, Firdaus hanya bisa berdiri terpaku di tengah kerumunan warga, menatap lampu belakang mobil yang semakin menjauh dan menghilang di kegelapan malam.
Baru malam itu juga ia mengetahui fakta yang sama sekali tak pernah diduganya—wanita yang diam-diam mulai mengisi ruang hatinya ternyata pernah menjadi istri Kenan, dan bayi yang dikandungnya adalah anak dari pria yang baru saja bertengkar dengannya itu.
Pintu ruang Instalasi Gawat Darurat terbuka lebar.
“Dokter! Tolong! Pasien hamil enam bulan, baru saja mengalami syok hebat dan menghirup banyak asap akibat kebakaran!” teriak Kenan sambil mendorong brankar yang membawa Kinasih dengan tergesa namun tetap hati-hati.
Beberapa perawat langsung bergerak sigap mendekat.
“Pak, silakan mundur sedikit agar kami bisa bekerja.”
“Dok, tolong… tolong periksa dia dengan baik,” pinta Kenan terbata, hampir salah menyebutkan kata istrinya. “Maksud saya, tolong bantu Kinasih.”
“Tenang saja, Pak. Kami akan segera memeriksa kondisi ibu dan janinnya,” jawab salah satu dokter jaga dengan nada menenangkan.
Dokter itu segera memeriksa tekanan darah, detak jantung, serta mendengarkan detak jantung bayi di dalam kandungan.
“Kami butuh waktu sebentar untuk memastikan semuanya aman.”
Kenan hanya mengangguk berkali-kali, meski diminta menjaga jarak, tangannya tetap menggenggam jemari Kinasih erat seolah memberi kekuatan.
“Nash… aku ada di sini.”
Kinasih menoleh perlahan, wajahnya masih terlihat pucat dan lemas.
“Aku… nggak apa-apa, Mas.”
“Jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah saja,” bisik Kenan lembut.
Di sisi lain ruangan, Reyna berdiri waspada. Matanya terus mengamati setiap sudut dan orang yang lewat, sambil sesekali melirik ke arah brankar tempat Kinasih terbaring.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Suara langkah sepatu hak tinggi yang tegas terdengar mendekat. Begitu masuk dan melihat pemandangan di depannya, langkah wanita itu terhenti seketika.
Kamila.
Matanya melotot melihat Kenan yang sedang berdiri di samping brankar, dan tangannya yang tergenggam erat dengan tangan wanita lain.
Bibir Kamila perlahan membentuk senyum sinis yang penuh amarah tertahan.
*Plak… plak… plak…*
Ia bertepuk tangan pelan namun cukup keras hingga menarik perhatian semua orang yang ada di ruang IGD.
“Wah… pemandangan yang sangat romantis sekali, ya.”
Kenan langsung menoleh, dahinya mengernyit tajam saat melihat siapa yang datang.
“Kamila.”
Kamila melangkah mendekat sambil tetap tersenyum mengejek.
“Jadi ini alasanmu sering menghilang tanpa kabar? Selama ini kamu sibuk mengurusi dia?”
“Kamila, cukup. Pergilah dari sini,” perintah Kenan dengan nada dingin.
“Cukup?” Kamila tertawa pendek, suaranya mulai meninggi. “Kenapa? Takut rahasia terbesarmu terbongkar di depan orang banyak?”
Beberapa keluarga pasien yang menunggu mulai melirik penasaran ke arah mereka.
Kenan berdiri tegak, mencoba meredakan situasi.
“Jangan buat keributan di tempat ini. Ini rumah sakit.”
“Sudah berani menyuruhku diam sekarang?” balas Kamila tak mau kalah. “Aku tidak akan diam saja melihat suamiku lebih mementingkan wanita lain!”
Suaranya semakin keras hingga membuat suasana ruangan mendadak hening.
“Dengarkan semuanya!” serunya sambil menunjuk tepat ke arah Kinasih yang terbaring lemah.
“Perempuan inilah yang selama ini disembunyikan oleh suamiku sendiri!”
“Kamila!” bentak Kenan dengan suara menggelegar.
“Ternyata benar dugaanku! Kamu masih saja berhubungan erat dengannya!”
“Diam!”
“Tidak akan!”
Kamila melangkah semakin mendekat, pandangannya penuh kebencian.
“Lihat saja! Dia sekarang sudah hamil besar!”
Semua mata langsung tertuju pada perut Kinasih yang membulat jelas di balik selimut.
Kamila tertawa sinis, membuat suasana semakin terasa tidak nyaman.
“Hebat sekali caramu menarik perhatian, ya.”
“Kamu…”
“Berani-beraninya menjadi perusak rumah tangga orang, sampai berani hamil anak suami orang lain!”
Ucapan tajam itu membuat wajah Kinasih yang sudah pucat seketika terasa semakin dingin. Air matanya perlahan menetes membasahi pipi.
“Bu… tolong jangan bicara seperti itu…” ucapnya lirih, suaranya hampir tak terdengar.
“Sudah mulai pura-pura lemah dan tak bersalah?” cibir Kamila. “Kamu yang merebut Kenan dariku, bukan?”
“Saya tidak pernah…”
“Kamu sudah merebutnya! Jangan berpura-pura tidak tahu!”
Kenan mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih, berusaha menahan amarah yang meledak-ledak.
“Kamila! Aku bilang berhenti sekarang juga!”
Namun wanita itu sudah seolah kehilangan kendali atas emosinya.
“Kamu pikir dengan mengandung anaknya, kamu bisa merebut posisiku sebagai istrinya? Mimpi!”
Air mata Kinasih semakin deras mengalir tanpa bisa ditahan.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari arah penonton.
“Pantas saja suaminya sering pergi…”
“Ternyata dia selingkuhan, ya?”
“Kasihan istrinya, harus menghadapi situasi begini.”
“Astaga… masih hamil besar malah dihina seperti itu.”
Setiap kata yang terdengar terasa seperti tusukan pisau di telinga Kinasih. Ia hanya bisa menunduk dalam, bibirnya bergetar hebat menahan tangis yang ingin meledak.
“Saya bukan… bukan seperti yang kamu katakan…”
Kalimatnya terputus, tenaganya sudah habis hanya untuk menjaga napas agar tetap stabil.
Lima hari berlalu sejak Kinasih dirawat di ruang VIP. Pagi itu, Dokter Ayu datang bersama hasil pemeriksaan terakhir. Setelah memeriksa tekanan darah, denyut jantung, dan memastikan kondisi janin stabil, ia tersenyum lega.
“Selamat ya, Kinasih.”
Kinasih langsung menatap penuh harap. “Gimana, Dok?”
“Kondisimu sudah jauh lebih baik.”
“Jadi…”
Dokter Ayu mengangguk. “Hari ini kamu sudah boleh pulang.”
Mata Kinasih langsung berbinar. “Alhamdulillah. Akhirnya bisa pulang juga.”
“Tapi ingat, tetap bed rest di rumah. Jangan banyak aktivitas, jangan stres, dan kontrol sesuai jadwal.”
“Iya, Dok. Saya janji.”
Setelah memberikan beberapa resep dan jadwal kontrol, Dokter Ayu pamit keluar. Begitu pintu tertutup, Kinasih tersenyum lebar.
“Rey…”
“Iya, Dok?”
“Aku akhirnya boleh pulang.”
Reyna ikut tersenyum. “Alhamdulillah. Saya juga senang.”
Kenan yang sejak tadi duduk membaca dokumen langsung menutup map di tangannya. “Kalau begitu, kita siap-siap.”
Kinasih menoleh. “Kita?”
“Iya.” Kenan langsung berdiri. “Doni.”
Asistennya yang sedang menunggu di luar segera masuk. “Iya, Pak.”
“Bereskan semua berkas kerja.”
“Siap.”
“Reyna.”
“Iya, Pak?”
“Tolong rapikan barang-barang Kinasih.”
“Baik.”
Tak butuh waktu lama, Reyna mulai memasukkan pakaian, perlengkapan mandi, vitamin, dan barang-barang pribadi Kinasih ke dalam koper. Sementara Doni membereskan laptop, map dokumen, dan perlengkapan kerja Kenan.
Kinasih hanya memperhatikan mereka sambil menggeleng kecil. “Mas…”
“Hm?”
“Mas ini kalau nyuruh orang cepet banget.”
Kenan tersenyum. “Biar kita nggak kelamaan di rumah sakit.”
“Padahal aku masih bisa beberes sendiri.”
“Nggak.”
“Loh?”
“Tugas kamu sekarang cuma satu.”
“Apa?”
“Istirahat.”
Kinasih hanya mengembuskan napas pelan. “Mas memang susah dibantah.”
“Nah, berarti kamu udah hafal.”
Beberapa menit kemudian semuanya selesai. Seorang perawat datang membawa kursi roda. “Bu Kinasih, kita ke lobi ya.”
Kinasih mengangguk. “Terima kasih.”
Baru saja perawat hendak mendorong kursi roda itu, Kenan sudah lebih dulu memegang pegangannya. “Biar saya.”
Perawat tersenyum. “Silakan, Pak.”
Kenan mulai mendorong kursi roda dengan pelan. “Nggak usah ngebut ya, Mas.”
Kenan tertawa kecil. “Tenang. Kamu bawa bayi juga.”
“Iya, Bos.”
Kinasih memutar bola matanya geli. Reyna dan Doni mengikuti dari belakang sambil membawa koper dan beberapa tas. Sepanjang lorong rumah sakit, beberapa perawat yang mengenal Kinasih melambaikan tangan.
“Semoga cepat pulih, Dok!”
“Makasih.”
“Jangan lupa kontrol.”
“Iya.”
Sesampainya di lobi, sebuah mobil hitam sudah menunggu di depan pintu. Doni segera membuka bagasi dan memasukkan semua koper. “Sudah beres, Pak.”
Kenan mengangguk. “Oke.”
Ia lalu berjongkok di depan Kinasih. “Mas…”
“Apa?”
“Aku bisa naik sendiri.”
Kenan menggeleng pelan. “Biar aku.”
Tanpa memberi kesempatan Kinasih berdebat, Kenan mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. “Pegang bahuku.”
Kinasih akhirnya menurut agar posisinya tetap nyaman. Kenan membawa Kinasih menuju pintu belakang mobil, lalu mendudukkannya perlahan di jok belakang.
“Pelan-pelan.”
“Iya.”
Kenan memastikan posisi duduk Kinasih nyaman sebelum memasangkan sabuk pengaman. “Nggak sesak?”
“Nggak.”
“Kalau ada yang nggak nyaman, bilang.”
“Iya.”
Reyna masuk ke kursi depan, duduk di samping Doni yang bersiap mengemudi. “Pak, semua barang sudah masuk.”
“Bagus.”
Kenan kemudian masuk ke jok belakang, duduk di samping Kinasih. “Pusing nggak?”
“Nggak.”
“Capek?”
“Sedikit.”
“Kalau capek, tidur aja.”
Kinasih hanya mengangguk pelan. Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah sakit.
Kinasih memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota Surabaya yang kembali ia lihat setelah lima hari dirawat. Di sampingnya, Kenan sesekali melirik memastikan Kinasih tetap nyaman selama perjalanan. Sementara di kursi depan, Reyna tersenyum tipis. Ia sadar, perjalanan mereka kali ini bukan menuju rumah lama Kinasih, melainkan menuju apartemen Kenan—tempat yang akan menjadi awal babak baru dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi mereka akhirnya memasuki area parkir basement sebuah apartemen mewah.
Doni segera turun lebih dulu. “Pak, biar saya ambil barang-barangnya.”
“Iya.”
Reyna juga langsung membuka pintu depan. “Saya bantu, Pak.”
Bagasi mobil dibuka. Koper, tas, kardus buah, hingga beberapa perlengkapan Kinasih segera dipindahkan ke troli. Sementara itu, Kenan membuka pintu belakang mobil.
“Nash.”
“Hm?”
“Kita udah sampai.”
Kinasih mengangguk pelan. “Aku bisa jalan kok.”
Kenan mengulurkan tangannya. “Pelan-pelan.”
Kinasih menerima uluran tangan itu, lalu berdiri perlahan. “Mas, aku masih kuat.”
“Aku tahu.”
Kenan berjalan di samping Kinasih, sengaja memperlambat langkah agar wanita itu tetap nyaman. Reyna dan Doni mengikuti dari belakang sambil mendorong troli berisi barang-barang.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu apartemen. *Ting…* Pintu terbuka setelah Kenan menempelkan kartu akses.
“Masuk.”
Kinasih melangkah pelan. Begitu masuk, matanya langsung membulat. Apartemen itu begitu luas, bersih, dan didominasi warna-warna hangat yang membuat suasananya terasa nyaman.
“Ya Allah…”
Kenan tersenyum tipis. “Ayo.”