Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.Ibukota
Tiga hari berlalu dalam sekejap. Di bawah langit pagi Bandara Internasional Jiangnan yang gerimis, sebuah jet pribadi Gulfstream G650 milik Konsorsium Su telah bersiap di landasan pacu khusus VIP.
Tang Xiu berdiri di dekat tangga pesawat, wajahnya yang kini anggun dan segar tampak memancarkan gurat kecemasan yang mendalam. Sebagai wanita yang pernah merasakan langsung kekejaman tak tersentuh dari Keluarga Tang di Ibukota, dia tahu betul seberapa mengerikannya kekuatan raksasa tersebut.
"Yuan'er... apakah kita benar-benar harus pergi?" tanya Tang Xiu perlahan, menatap anak lak-lakinya yang berdiri di sampingnya. "Keluarga Tang memiliki ribuan pasukan elite dan para Master yang tidak mempan oleh hukum. Ibu tidak ingin kehilanganmu."
Fang Yuan, yang pagi ini mengenakan jubah panjang kasual berwarna hitam pekat di atas kaos oblong putihnya, tersenyum tipis. Rambut biru keputih-putihannya yang sedikit berantakan bergerak lembut ditiup angin bandara. Mata kirinya berkilat keemasan, memancarkan ketenangan yang sanggup meruntuhkan badai apa pun.
"Ibu, naga tidak selamanya tinggal di kolam kecil," ucap Fang Yuan, suaranya merdu namun dipenuhi keyakinan mutlak. "Saatnya mengakhiri semua utang darah ini. Ikutlah denganku, dan lihat bagaimana jalang-jalang di Ibukota itu berlutut memohon ampun di depan kakimu."
Di belakang mereka, Su Ruyi melangkah maju dengan setelan blazer merah marun yang modis dan kacamata hitam. Dia membungkuk takzim, lalu membukakan pintu kabin pesawat. "Nyonya Besar, Tuan Muda Fang, seluruh jalur penerbangan udara telah dikosongkan. Kita bisa berangkat sekarang."
Dengan anggukan pelan, ketiganya melangkah masuk ke dalam burung besi tersebut. Jet mewah itu segera menderu, membelah awan mendung Jiangnan menuju pusat pusaran kekuasaan tertinggi negeri ini: Ibukota kuno.
### Ibukota, Kediaman Utama Keluarga Tang
Sementara itu, atmosfer di kompleks kediaman kuno Keluarga Tang yang seluas puluhan hektar tampak sangat meriah. Ratusan lampion merah besar tergantung di sepanjang gerbang batu naga. Mobil-mobil berplat nomor khusus militer dan pemerintahan berjejer rapi, menurunkan para pejabat tinggi, jenderal bintang tiga, hingga para pemimpin sekte bela diri tersembunyi yang ingin memberikan selamat atas ulang tahun ke-80 Tuan Besar Tang, **Tang Zhenhai**.
Di dalam aula pertemuan utama yang dilapisi kayu gaharu mahal, seorang pemuda tampan dengan pakaian adat modern bermotif harimau sedang duduk sambil menikmati teh premium. Dia adalah **Tang Tianlin**, cucu kesayangan Tuan Besar Tang sekaligus jenius bela diri nomor satu di Ibukota yang baru saja menembus ranah *Grandmaster* di usia 24 tahun.
"Apakah pelacur Tang Xiu dan anak haramnya itu sudah memberi kabar?" tanya Tang Tianlin dingin kepada kepala pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Melapor Tuan Muda Tianlin, jet pribadi mereka baru saja mendarat di bandara militer pinggiran kota. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari menggunakan limusin," jawab sang pelayan dengan kepala tertunduk.
Tang Tianlin mendengus remeh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum merendahkan. "Baguslah kalau mereka tahu diri. Kudengar bocah bernama Fang Yuan itu menggunakan beberapa trik sihir murahan untuk merebut aset Jiangnan dari tangan Keluarga Wei. Hari ini, di hadapan hukum besi Keluarga Tang dan kekuatanku sebagai Grandmaster, aku akan memaksanya menyerahkan seluruh triliunan aset itu, lalu mematahkan kakinya agar dia ingat posisinya sebagai sampah buangan."
Di samping Tang Tianlin, seorang pria tua berjubah putih dengan janggut seputih salju perlahan membuka matanya yang keruh namun memancarkan kilatan tajam. Dia adalah **Penatua Kuang**, seorang Master Ranah Dewa (*Divine Realm*) yang menjadi pelindung tertinggi Keluarga Tang.
"Tianlin, jangan remehkan lawanmu. Bocah bernama Fang Yuan itu bisa menghancurkan Hanba dengan satu tamparan. Kekuatannya mungkin tidak sesederhana itu," ucap Penatua Kuang dengan suara bergetar namun berbobot.
Tang Tianlin tertawa bebas, menyandarkan tubuhnya dengan angkuh. "Penatua Kuang, Anda terlalu khawatir. Hanba hanyalah seorang *Half-Step Grandmaster* yang menua. Di hadapan teknik murni Keluarga Tang-ku, dia tidak lebih dari seekor anjing peliharaan. Jika bocah berambut biru itu berani membuat keributan di pesta ulang tahun kakek hari ini... aku sendiri yang akan mencabik-cabik tubuhnya di depan seluruh elite negeri ini!"
Tepat pada saat itu, suara terompet penyambutan tamu di gerbang depan terdengar bergaung keras, menandakan bahwa para tamu agung terakhir telah tiba. Badai terbesar dalam sejarah Ibukota secara resmi telah mengetuk pintu depan Keluarga Tang.