Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 15
Pagi hari di kawasan kos-kosan Depok selalu menyuguhkan pemandangan yang sama.
Satria baru saja menyelesaikan draf tulisan terbarunya ketika ponsel di saku celananya bergetar dengan ritme yang tidak biasa.
Bukan suara alarm darurat berwarna merah darah, melainkan sebuah melodi dentingan kecapi yang terdengar sangat lembut, hampir seperti suara helai penyesalan.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - PEMBERITAHUAN KHUSUS]
Analisis Perilaku Target: Sistem mendeteksi anomali psikologis.
Anda memiliki saldo miliaran rupiah, menguasai lantai tertinggi SCBD untuk jemuran, dan menyewa kelab malam mewah hanya untuk bermain Game.
Namun, Anda masih tidur di atas kasur busa tipis di kamar kosan berukuran 3x4 meter ini.
Kesimpulan Sistem: Sistem mulai merasa iba dan kasihan melihat ketidakselarasan aset properti pribadi Anda. Seorang Sultan tidak boleh terus-menerus tidur di kosan.
Hadiah Hiburan: Sebuah Rumah Mewah (Mansion) di kawasan elit Pondok Indah senilai Rp 45.000.000.000,00 (Empat Puluh Lima Miliar Rupiah) telah dibeli atas nama Anda secara legal dan gratis.
Satria terbelalak menatap layar ponselnya.
"Hah? Sistem bisa kasihan juga sama gua? Dikasih rumah gratis empat puluh lima miliar?!"
Namun, kegembiraan Satria langsung menguap ketika layar ponselnya berkedip cepat, memunculkan teks tambahan dengan font gotik hitam yang tegas.
Aturan Transisi Kepemilikan: Rumah mewah tidak diberikan secara cuma-cuma tanpa beban operasional yang merugikan. Untuk mengaktifkan sertifikat rumah tersebut, Anda wajib menyelesaikan Misi Aktivasi Aset.
[MISI AKTIVASI: MANAJEMEN PRESTISE DAN HUTANG BUDI]
Tugas 1: Rekrut 20 pengawal pribadi (bodyguard) profesional dalam waktu 60 menit. Biaya perekrutan dan gaji buta mereka akan ditanggung anggaran sistem.
Tugas 2: Temukan 1 orang teman lama dari masa lalu Anda yang pernah menolong Anda dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan materi.
Aturan Khusus Pengawal: 20 pengawal ini dilarang keras melakukan tugas pengamanan nyata. Mereka hanya boleh ditugaskan untuk melakukan pekerjaan domestik yang tidak masuk akal di rumah baru Anda agar reputasi sangar mereka hancur.
Sisa Waktu: 00:59:50
Penalti Gagal: Rumah mewah disita kembali, dan saldo Anda didevaluasi secara kejam menjadi Rp 27 perak.
Satria langsung meloncat dari kasurnya, membuat Nisa yang sedang asyik menghitung sisa jepitan baju di sudut kamar tersentak kaget.
"Nisa! Taruh sikatnya! Kita dapat rumah mewah di Pondok Indah,"
"tapi kita cuma punya waktu satu jam buat cari dua puluh bouncer kekar dan satu teman lama gua!" teriak Satria panik.
Nisa berkedip polos.
"Rumah mewah? Bos beneran mau pindah dari kosan ini? Terus nasib jemuran kita di lantai 48 gimana?"
"Jemuran tetap jalan, tapi sekarang kita butuh pasukan buat ngisi rumah baru! Ayo cepat!"
Satria segera menghubungi sebuah agensi penyedia jasa keamanan elit yang biasa menyuplai pengawal untuk para menteri dan konglomerat asing.
Berbekal otorisasi dana tak terbatas dari sistem, Satria meminta dua puluh pengawal berbadan paling kekar, bertato, dan bermuka paling sangar untuk langsung dikirim ke titik koordinat rumah barunya di Pondok Indah dalam waktu tiga puluh menit.
Pihak agensi yang menerima pembayaran di muka sebesar lima ratus juta rupiah untuk kontrak darurat bulanan langsung menyanggupi tanpa banyak tanya.
Sembari mobil sport kuning mereka melesat membelah jalanan menuju Jakarta Selatan, Satria memutar otaknya untuk menyelesaikan Tugas 2: mencari teman lama yang tulus.
Memori masa lalunya berputar.
Di masa-masa sulit sebelum dia mengenal Sistem Total Kekayaan, saat dia masih menjadi penulis amatir yang kelaparan dan kehabisan uang kosan, hampir semua orang menjauhinya.
Namun, ada satu nama yang membekas di hatinya: Gege.
Gege adalah teman kuliahnya dulu yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko kelontong.
Saat Satria menderita tipus dan tidak punya uang sepeser pun untuk membeli obat atau makanan, Gege-lah yang datang ke kosannya membawa sebungkus bubur ayam hangat dan beberapa butir obat generik, yang dibeli menggunakan uang gaji terakhirnya yang tidak seberapa.
Lucunya, saking akrab dan setianya dalam berteman, Gege ini sesekali sering memakai pakaian milik Satria tanpa izin mulai dari kaus oblong, jaket, sampai kemeja flanel dengan alasan
"baju lu lebih wangi daripada baju gua, Sat."
Setelah Gege putus kuliah karena kendala biaya, kabar tentangnya sempat menghilang.
"Nisa, lacak nomor atau alamat terakhir Gege, anak ekonomi angkatan dua ribu dua pukul dua yang dulu kerja di daerah Kukusan!"
perintah Satria dengan mata fokus pada jalanan.
Nisa dengan cekatan mengetik di tabletnya, mengakses basis data alumni dan jaringan pertemanan digital.
"Ketemu, Bos! Berdasarkan data pembaruan digital terakhir, Gege sekarang bekerja sebagai buruh cuci piring di sebuah kedai mie ayam kecil di pinggiran daerah Jakarta Selatan, tidak jauh dari kompleks Pondok Indah!"
"Bagus! Kita jemput dia sekarang!"
Tepat menit keempat puluh lima, mobil sport kuning Satria berhenti di depan sebuah kedai mie ayam yang tampak sederhana di tepi jalan besar.
Di bagian belakang kedai, seorang pria muda sedang sibuk menggosok tumpukan mangkuk kotor dengan wajah lelah.
Dan benar saja, Satria hampir tertawa melihat pria itu memakai sebuah kaus oblong hitam pudar yang sangat familier itu adalah kaus milik Satria yang hilang dua tahun lalu saat mereka masih sering memakai baju bersama.
"Geg," panggil Satria pelan.
Pria itu menoleh, matanya membelalak melihat sosok Satria yang kini berdiri di depannya dengan kemeja flanel yang rapi.
"Satria? Astaga, lu apa kabar, Sat?!
"Gua lihat di berita internet kemarin ada nama Satria yang bikin heboh di SCBD, gua pikir itu cuma mirip nama lu doang!"
Gege langsung menyeka tangannya yang basah ke celana jinsnya, lalu menjabat tangan Satria dengan erat penuh kerinduan yang tulus.
Dia sempat melirik kaus yang dipakainya lalu nyengir tanpa dosa,
"Btw, kaus lu yang ini masih awet gua pakai, Sat."
Satria menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Gua baik, Geg."
"Gua ke sini mau jemput lu. Lu ikut gua sekarang, gua butuh bantuan lu di rumah baru gua."
Gege melihat ke arah mobil sport mewah di pinggir jalan, lalu menatap bos kedai mie ayamnya dengan ragu.
"Tapi, Sat... gua masih kerja. Gua gak enak kalau main pergi gitu aja."
Satria langsung mengeluarkan dompetnya, menatap bos kedai yang sedang memperhatikan mereka.
"Pak, ini uang lima juta rupiah untuk mengganti kerugian operasional dan biaya merekrut pekerja baru hari ini juga."
"Saya bawa Gege sekarang,"
ujar Satria sambil meletakkan segepok uang tunai darurat dari sistem di atas meja kasir, membuat sang pemilik kedai mie ayam langsung mengangguk-angguk histeris dengan mata berbinar.
Gege ditarik masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang masih campur aduk antara bingung dan tidak percaya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang besi hitam raksasa di kawasan Pondok Indah.
Begitu gerbang terbuka otomatis, sebuah rumah mewah bergaya mediterania dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi, kolam renang luas, dan halaman rumput sehalus karpet menyambut mereka.
Di halaman depan, dua puluh pria bertubuh raksasa dengan tinggi rata-rata seratus sembilan puluh sentimeter, mengenakan setelan jas hitam ketat dan kacamata hitam, sudah berdiri berbaris dengan sikap sempurna.
Aura mereka sangat intimidatif, siap menghadapi ancaman bahaya tingkat tinggi.
Gege menelan ludah, badannya gemetar.
"Sat... lu sekarang jadi bos mafia atau gimana? Kok pengawal lu serem-serem banget?"
Satria tidak menjawab.
Dia melirik sisa waktu di ponselnya: tinggal tiga menit.
Dia harus segera memberikan tugas domestik yang merusak fungsi pengamanan mereka agar misinya sah.
Satria berjalan di depan barisan dua puluh pengawal kekar itu, berdeham keras.
"Dengar semuanya! Mulai hari ini, kalian resmi bekerja untuk saya di rumah ini."
"Tugas kalian sangat krusial dan rahasia!"
"Siap, Bos!"
jawab dua puluh pengawal itu serempak, suaranya menggelegar hingga membuat burung-burung di pohon beterbangan.
"Tugas pertama kalian..."
Satria menunjuk ke arah halaman rumput dan deretan pohon mangga di sudut halaman.
"Sepuluh orang dari kalian, lepas jas kalian sekarang, ambil gunting kuku kecil di dalam bagasi mobil saya, dan potong rumput halaman ini sehelai demi helai menggunakan gunting kuku sampai tingginya rata dua sentimeter!"
"Dan sepuluh orang sisanya, ambil kipas sate tradisional di dapur, berdiri di bawah pohon mangga itu, dan kipasi buah-buah mangganya agar tidak kepanasan terkena matahari siang!"
Dua puluh pengawal profesional yang dilatih untuk menghadapi teroris itu langsung saling pandang dengan tatapan kosong.
Namun, karena kontrak miliaran mereka sudah dibayar lunas, mereka tidak punya pilihan.
"Siap, Bos! Laksanakan!"
seru pemimpin pengawal dengan wajah pasrah, langsung membuka jas mewahnya, berlutut di atas tanah, dan mulai memotong rumput dengan gunting kuku terkecil yang pernah ada.
Gege yang menyaksikan hal itu langsung mengucek matanya berulang kali.
"Sat... lu beneran udah gak waras ya?"
"Punya pengawal sangar tapi disuruh gunting rumput pakai gunting kuku?"
Tepat pada detik itu, ponsel di saku Satria mengeluarkan suara melodi emas yang sangat megah, disusul teks hijau yang memancarkan kehangatan di dadanya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Aktivasi Rumah Mewah: BERHASIL MUTLAK.
Evaluasi: Berhasil merekrut 20 pengawal elit hanya untuk menyiksa mereka dengan tugas memotong rumput pakai gunting kuku dan mengipasi buah mangga, serta berhasil menemukan teman lama yang tulus untuk diselamatkan dari garis kemiskinan (Sangat Sempurna).
Aktivasi Kepemilikan Mansion Pondok Indah: Selesai 100% (Legal dan Permanen).
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.514.550.270,00.
Catatan: Selamat menikmati rumah baru Anda. Jangan biarkan teman lama Anda hidup susah, buat dia ikut menghabiskan anggaran operasional rumah tangga Anda yang tidak masuk akal ini.
Satria mengembuskan napas panjang dengan kebahagiaan murni, lalu merangkul pundak Gege yang masih mematung menatap para bouncer yang sedang asyik memotong rumput.
"Geg," ucap Satria dengan suara tulus.
"Dulu lu pernah selamatkan gua pakai sebungkus bubur ayam di saat semua orang anggap gua sampah."
"Sekarang, rumah ini adalah rumah lu juga."
"Dan mulai hari ini, lu bebas pakai baju gua yang mana aja di lemari rumah ini, asal lu bantu gua mikir gimana cara ngabisin duit gua yang gak habis-habis ini."
Nisa mendekat sambil memegang sebuah tiang jemuran aluminium baru.
"Bos, kolam renang di belakang kayaknya bagus banget kalau kita pasang tali tambang buat jemuran sprei baru."
'Anginnya pas."
Satria tertawa lepas, suaranya menggema di halaman rumah mewah barunya.
Petualangan gila sang Sultan kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih megah, lebih absurd, dan tentu saja, jauh lebih merusak hukum tatanan ekonomi dunia bersama sahabat lamanya.