Dara anak seorang pembantu di jodohkan dengan seorang pewaris tunggal sebuah perusahaan karena sebuah rahasia yang tertulis dalam surat dari surga.
Dara telah memilih, menerima pernikahannya dengan Windu, menangkup sejumput cinta tanpa berharap balasannya.
Mampukah Dara bertahan dalam pernikahannya yang seperti neraka?
Rahasia apa yang ada di balik pernikahan ini?
Mampukah Dara bertahan dalam kesabaran?
Bisakah Windu belajar mencintai istrinya dengan benar? Benarkah ada pelangi setelah hujan?
Ikuti kisah ini, dalam novel " Di Antara Dua Hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 PERNIKAHAN TANPA CINTA
Windu tak lepas melihat pada Dara yang sekarang duduk di depannya.
Seolah melihat Dara, adalah suatu pengalaman pertama baginya.
Dara duduk menyilangkan kakinya dengan sikap feminim dan percaya diri.
Tanpa memperhatikan kepada Windu, dia langsung mengalihkan pandangan pada Pak Dirga.
"Silahkan dimulai pak Dirga." Dara mempersilahkan pak Dirga berbicara, seakan dirinya benar-benar tak sabar menyelesaikan semua urusan di situ.
"Bapak Windu dan ibu Dara..." Pak Dirga memulai, laki-laki setengah baya yang punya kharisma tersendiri saat berbicara itu tersenyum pada dua pasangan muda yang tampak menyembunyikan ketegangan masing-masing di balik sikap tenang mereka.
"Bolehkah sebelum kita memeriksa draft permohonan cerai yang dibuat oleh ibu Dara, kita berbicara sebentar sebagai keluarga dan orang yang saling mengenal baik? Mumpung kita bisa duduk bersama."
Permintaan pak Dirga membuat Dara dan Windu saling pandang sesaat.
"Silahkan, pak Dirga." Akhirnya Windu angkat bicara, suaranya sedikit serak.
"Saya duduk di sini sekarang bukan sebagai lawyer dan berharap pak Dirga dan bu Dara juga tidak merasa sebagai klien." Pak Dirga menghela nafasnya sesaat, memberi jeda pada kalimatnya beberapa saat.
"Seperti yang pak Dirga ketahui, saya mengenal orangtua pak Dirga sejak bapak masih remaja, kami adalah teman dan rekan yang baik. Hubungan ini membuat saya merasa cukup dekat dengan keluarga pak Danuar. Jika keluarga ini mengalami masalah, tentu saja saya tidak hanya merasa prihatin tetapi ikut bertanggungjawab di dalamnya."
Windu dan Dara hanya diam, mereka begitu seksama menyimak pada pengacara keluarga yang juga sahabat keluarga Danuar itu.
"Perceraian bukan hal yang kecil, ini adalah sesuatu yang serius dalam pernikahan. Keluarga besar kedua belah pihak seharusnya mengetahui keputusan sebesar ini, bukan menyembunyikannya...karena apapun masalahnya, semua semestinya diselesaikan secara kekeluargaan, bukan keputusan sepihak."
"Saya sudah tidak mempunyai keluarga..." Dara menyahut, dengan nada pelan tapi pasti.
Windu terkesiap, matanya tertuju kembali kepada Dara yang masih dalam raut tenang, kalimat yang dikeluarkan oleh bibir gadis itu terasa menampar wajahnya.
Sebagai seorang suami, dialah satu-satunya yang disebut keluarga untuk Dara sekarang, tapi malah satu-satunya yang tersisa ini segera membuangnya.
Di sisi lain, kenapa matanya hampir tak bisa berpindah dari Dara, jauh di lubuk hatinya terdalam dia baru menyadari meskipun tanpa polesan make up ini, begitu cantik dalam kesederhanaannya.
"Tapi, kalian masih mempunyai Pak Danuar sebagai orang tua, setidaknya orang tua wajib mengetahui apa yang menjadi masalah dan latar belakang keputusan ini."Pak Dirga menatap Dara dalam-dalam.
"Jangan kuatir, pak Dirga...suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami saya ini pasti sudah menyiapkan penjelasan yang terbaik untuk tuan Danuar." Dara berucap dengan ringan.
"Bukankah saya benar, suamiku?"
Windu sekarang benar-benar terpesona dengan sikap sarkas Dara. Bulu kuduknya serasa meremang, melihat betapa banyak gadis penurut ini menjadi berubah.
"Kami tidak bertemu jalan keluar... karena itu, kami fikir, perpisahan adalah jalan terakhir." Windu menelan ludah dengan sikap yang ragu.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, pak Windu..." Pak Dirga menyahut, rasanya begitu aneh melihat anak SMP yang dikenalnya pertama kali waktu pak Danuar mengundangnya ke rumah mereka itu, bertahun-tahun silam, sekarang sudah begitu dewasa bahkan sekarang sedang mendiskusikan sebuah rencana perceraian dengan dirinya.
"Dan jalan keluarnya, adalah perceraian." Dara menyahut sedikit getir.
"Apakah masalahnya separah itu?"Pak Dirga mengalihkan tatapannya pada Windu yang terpekur menatap lurus kepada Dara, kepala perempuan itu tertunduk sedikit.
"Kami, tidak akan mengambil keputusan bersama untuk bercerai, jika bukan karena masalahnya telah begitu buntu untuk di diskusikan." Lanjut Dara.
"Kalau boleh saya tahu, apa masalah yang mendasari perceraian ini tak terelakkan?" Pertanyaan pak Dirga yang sangat hati-hati tapi tetap berwibawa itu membuat dua orang itu saling mencuri pandang.
"Masalahnya adalah...." Dara tak mengerjapkan matanya, saat Windu tampak tegang menatapnya, menunggu kalimat yang keluar dari mulut Dara.
Dia merasa tak berhak memberi alasan yang mendasari keputusan cerai itu, karena di dalam dokumen itu Dara selaku orang yang menggugat.
Tetapi, sungguh tetap terasa memalukan jika Dara mengatakan, alasannya adalah karena Dara tidak mau di poligami.
Keegoisannya akan mencoreng wajahnya di depan pengacara mereka itu.
"Karena saya tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya..." Jawaban Dara yang tak terduga ini membuat Windu tercengang.
Tak pernah terbersit di kepalanya, Dara dengan sikap yang begitu kontra dan sinis belakangan ini, menimpakan kesalahan kepada dirinya sendiri sebagai alasan perceraian mereka.
"Saya sudah berusaha membuat perubahan selama tiga bulan ini, tapi ternyata saya bukan orang yang cepat beradaptasi dengan status saya yang mendadak menjadi nyonya dari seorang rendahan. Saya kerap mempermalukan suami saya dan bertindak gegabah, hal ini tentu saja tidak bisa ditoleransi, mengingat suami saya dari keluarga terpandang." Dara mengucapkan kalimat itu dengan lancar dan wajah yang menunjukkan penyesalan diri.
"Berarti ini bukan karena adanya orang ketiga?" Pak Dirga mengernyit dahinya, mendengar apa yang dipaparkan oleh Dara sebagai alasan gugatan cerai yang akan segera dilayangkannya itu.
Windu serasa berhenti bernafas, mendengar pertanyaan itu. Dia merasa sedikit banyak dirinya cukup memalukan, bersembunyi di belakang gadis yang dimintanya untuk menceraikannya tapi rela berdiri sebagai pihak penggugat yang bersalah.
"Tidak ada orang ketiga." Dara menjawab dengan tegas. Dan jawaban itu membuat wajah Windu merah padam, Dara bahkan tak menyalahkan dirinya untuk semua yang telah dilakukannya pada sang istri yang telah didzoliminya dengan sengaja ini.
"Perceraian bukan semata hanya karena orang ketiga, tapi karena cinta...bukankah pernikahan harus di landasi cinta? Jika tidak ada cinta, maka hubungan pernikahan hanyalah neraka." Ucapan Dara itu menggantung di udara, seperti sedang berkata kepada dirinya sendiri.
"Pak Dirga, bapak sudah memeriksa form gugatan cerai saya, minta tolong serahkan kepada suami saya. Mungkin ada draft yang tidak sesuai, bisa kita sepakati kembali." Kata Dara kemudian, duduk dengan tegak kembali menghadap Windu.
Akhirnya, tanpa lagi mendebat perempuan yang tampaknya begitu bersikeras itu, sekonyong-konyong pak Dirga menyorongkan sebuah map berisi form gugatan cerai dari Dara kepada Windu.
"Silahkan di cek pak Windu, ini form gugatan dari istri anda, jika sudah disetujui bersama ibu dan bapak bisa melengkapi dokumen tambahan yang diperlukan supaya bisa kita ajukan ke pengadilan." Kata Pak Dirga.
Windu membukanya dengan tangan yang tiba-tiba sedikit gemetar.
Di kertas surat gugatan itu tertulis sangat jelas,
Dara Ranissa sebagai pihak penggugat dan Windu putra Danuar sebagai tergugat.
Gugatan cerai itu tanpa draft persyaratan sama sekali, hanya permohonan untuk dikabulkan tanpa syarat!
Windu mengangkat wajahnya pada Dara, sepeserpun dia tidak meminta apapun dari Windu selaku suami, bahkan tidak tertuang yang menyinggung tentang aset dan warisan yang diterimanya dari mama Windu.
"Jika tidak ada kesalahan yang perlu diperbaiki dalam form itu, saya segera menanda tanganinya, supaya kita berdua melengkapi dokumen lainnya." Dara mengeluarkan sebuah bolpoint dari dalam tasnya.
Dia benar-benar siap untuk bercerai!
(Author double UP ya hari ini, di tunggu UP episode selanjutnya, bagaimanakah proses perceraian Windu dan Dara, apakah para readers setuju suami istri ini memilih jalan masing-masing?😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
Terimakasih
Rangkaian katanya indah tapi mudah dimengerti.
Karakternya tokoh2nya kuat,
Alurnya jelas, jadi tidak melewatkan 1 kalimatpun,
Sekali lagi Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
author pandai merangkai kata.
tapi tak pandai memilih visual windu, ga cocok tor sama dara haha maap ya tor 🙏