"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Ketukan Pintu yang Mengejutkan
Suara gemercik air dari pancuran taman belakang berpadu dengan tawa renyah Kenzie yang sedang menyusun balok-balok kayu di atas karpet bulu ruang tengah. Siang itu berjalan lambat dan damai, sampai sebuah bunyi derit tajam dari gerbang besi luar merusak harmoni rumah.
Naya yang sedang menemani Kenzie seketika menegakkan punggungnya. Sifat tenangnya yang selalu waspada menangkap suara langkah kaki yang asing, melangkah tegas melewati selasar marmer menuju pintu utama. Ketukan yang terdengar berikutnya tidak seperti ketukan pelayan; itu adalah ketokan yang sarat akan dominasi dan keangkuhan.
Tok! Tok! Tok!
Sebelum kepala pelayan sempat menjangkau knop, pintu itu sudah didorong kasar dari luar.
Saskia Maheswari melangkah masuk ke dalam rumah. Jubah panjang kremnya berayun mengikuti gerak kakinya yang angkuh, sementara aroma parfum mahal yang menyengat langsung menjajah udara ruangan, mengusir keharuman lavender yang biasa menenangkan tempat itu. Di belakangnya, Clarissa berdiri dengan melipat tangan di dada, menyunggingkan senyuman kemenangan yang kentara.
"Jadi ... ini rumah tempat anakku disembunyikan?" desis Saskia, sepasang matanya yang dingin menyapu dekorasi ruang tengah dengan tatapan meremehkan.
Kenzie yang mendengar suara asing itu langsung menghentikan mainannya. Begitu matanya menangkap sosok Saskia, bocah itu refleks merangkak mundur, wajahnya memucat ketakutan. Ia tidak mengenali wanita yang melahirkannya itu; baginya, Saskia hanyalah orang asing yang memancarkan aura menyeramkan.
Naya bangkit berdiri dengan keanggunan mutlak yang sekeras baja. Ia melangkah tenang, memposisikan dirinya tepat di depan Kenzie, menyembunyikan tubuh mungil anak sambungnya di belakang punggung tegapnya. Sepasang mata bulat Naya yang jernih menatap Saskia tanpa ada sekerat pun rasa gentar atau panik.
"Selamat sore, Ibu Saskia Maheswari. Dan Mbak Clarissa," sapa Naya, suaranya mengalun sangat stabil, rendah, namun memiliki tekanan intimidasi yang kuat. "Bertamu ke rumah orang lain tanpa pemberitahuan dan mendorong pintu sendiri ... saya tidak tahu kalau itu adalah standar sopan santun yang berlaku di London."
Wajah Saskia seketika mengeras mendengar sindiran halus yang keluar dari bibir Naya. Ia melangkah maju dua tapak, menatap Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat merendahkan.
"Kamu ... kamu pasti Nayara. Wanita kampung yang dibayar Arka untuk menghangatkan ranjangnya sekaligus menjadi pengasuh anakku," cetus Saskia, suaranya melengking tajam penuh penghinaan. "Berani sekali kamu bicara soal sopan santun di depanku? Kamu hanyalah orang asing yang menyusup ke dalam rumah tanggaku menggunakan selembar kertas kontrak murahan!"
"Saskia, jangan buang waktu dengannya," sela Clarissa sinis dari belakang. "Dia hanya pekerja sewaan. Ambil Kenzie sekarang. Kita bawa dia ke apartemen."
Saskia menjulurkan tangannya yang dihiasi kuku-kuku panjang, berniat meraih bahu Kenzie dari balik punggung Naya. "Kenzie, ini Mama, Sayang. Ayo ikut Mama pulang."
"Tidak mau! Mama Naya! Kenzie takut!" Kenzie menjerit histeris, menangis sambil mencengkeram erat bagian belakang gaun hijau lumut yang dikenakan Naya.
Naya tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan satu gerakan tangan yang sangat tegas namun halus, ia menepis pergelangan tangan Saskia di udara sebelum sempat menyentuh kulit Kenzie. Sentakan fisik yang tidak terduga itu membuat Saskia terperangah tak percaya.
"Jangan pernah berani menyentuh anak saya dengan paksaan, Ibu Saskia," ucap Naya, suaranya merendah sedingin es, sepasang matanya berkilat memancarkan kekuatan jiwa yang menghanyutkan.
"Anakmu?!" Saskia berteriak murka, wajah cantiknya berkerut jelek karena emosi. "Aku yang bertaruh nyawa melahirkannya! Aku adalah ibu kandungnya yang sah secara hukum darah! Kamu tidak punya hak apa pun atas Kenzie!"
Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Saskia yang bergetar karena amarah.
"Hukum darah tidak ada artinya jika Anda menelantarkannya selama bertahun-tahun demi ambisi pribadi Anda di luar negeri, Ibu Saskia," tutur Naya, setiap kalimatnya tersusun sangat taktis dan mematikan. "Seorang ibu bukan hanya tentang siapa yang melahirkan, melainkan tentang siapa yang ada di sampingnya saat dia demam tinggi di sepertiga malam, siapa yang memeluknya saat dia ketakutan, dan siapa yang mengajarinya adab. Di mana Anda saat Kenzie menangis mencari mamanya selama ini?"
"Kamu—"
"Dan perlu saya ingatkan," potong Naya tegas, memberikan hantaman palu hakim yang mutlak. "Secara hukum negara dan agama saat ini, saya adalah istri sah dari Arkananta Dewangga dan ibu perwalian Kenzie yang terdaftar resmi. Jika Anda mencoba membawa Kenzie keluar dari gerbang rumah ini tanpa izin tertulis dari suamiku atau tanpa putusan resmi dari pengadilan anak ... tindakan Anda barusan akan langsung saya laporkan sebagai percobaan penculikan anak di bawah umur."
Naya melirik ke arah kepala pelayan yang berdiri di dekat koridor. "Pak Yusuf, tolong aktifkan rekaman CCTV ruang tengah dan panggil tim keamanan gerbang depan. Jika kedua tamu kita ini tidak mau melangkah keluar dengan sukarela dalam hitungan tiga, biarkan pihak berwajib yang mengantar mereka pulang."
"Baik, Nyonya Naya," jawab kepala pelayan dengan tegas, langsung mengambil ponselnya.
Clarissa yang melihat situasi berbalik menjadi tidak menguntungkan segera menarik lengan Saskia yang masih gemetar menahan malu dan murka. "Saskia, ayo kita pergi. Jangan melayani wanita gila ini. Kita selesaikan semuanya di ruang sidang minggu depan."
Saskia mengambil kacamata hitamnya dengan sentakan kasar, menunjuk wajah Naya dengan jemarinya yang bergetar. "Nikmati waktu lambatmu di rumah ini, Nayara. Minggu depan di pengadilan, aku sendiri yang akan memastikan kamu menundukkan kepala dan merangkak keluar dari kehidupan Dewangga tanpa membawa sepeser pun uang kontrakmu!"
"Saya akan menunggu Anda dengan teh hangat di ruang sidang, Ibu Saskia. Selamat sore," balas Naya dengan satu anggukan formal yang sangat anggun dan tenang.
Saskia dan Clarissa akhirnya berbalik, melangkah keluar dari rumah dengan kekalahan telak di fase kunjungan perdana mereka. Pintu utama ditutup kembali dengan bunyi klik yang tegas oleh pelayan.
Begitu suasana ruangan kembali steril dari kehadiran mereka, Naya menarik napas panjang untuk mengendurkan ketegangan di bahunya. Ia segera berbalik, berlutut di atas karpet dan langsung memeluk tubuh mungil Kenzie yang masih sesenggukan ketakutan.
"Ssst ... Kenzie anak kuat. Orang asing tadi sudah pergi, Sayang. Mama di sini ... Mama tidak akan membiarkan siapa pun membawa Kenzie pergi," bisik Naya lembut, menenggelamkan wajah Kenzie di ceruk lehernya yang hangat.
"Kenzie takut, Mama."
Kenzie memeluk leher Naya dengan sisa tenaganya, tangisnya perlahan mereda karena benteng kasih sayang Naya yang begitu kokoh. Di dalam keheningan ruang tengah yang megah itu, Nayara menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang menggelap sekeras baja.
Bersambung...