Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.07. Pertemuan Pertama Pasca Cerai.
Lobby Hotel M.W, pukul. 07 malam. Hujan turun dari pagi, udara sangat dingin. Morgan berharap CEO M.W Group ada di tempat dan mau menggelontorkan dana sedikit, untuk kelanjutan hidup Morgan's Kitchen.
Morgan sudah menunggu dari pukul 03.00 Jasnya basah. Tapi gengsinya menahan buat duduk, dia tetap berdiri mondar mandir dengan beberapa orang yang punya tujuan sama.
Para investor lain konon menjauh, menolak kerja sama dengan Morgan alasannya karena nasib perusahaannya sudah di ujung tanduk. Investor yang membantu terakhir cabut minggu lalu. Itu sebabnya Morgan nekat mau datang, karena ini satu-satunya jalan untuk menolong perusahaannya menemui CEO M.W Group.
Morgan merenung, menatap hujan yang mulai reda. Dari kabar yang dia dengar, CEO M.W adalah seorang wanita cantik, tegas dan dingin. Banyak yang takut dengan sepak terjangnya. Ada yang menyatakan bahwa di belakang M.W adalah Wijaya Group, perusahaan raksasa, orang terkaya nomer tiga se-Asia.
TING!
Lift terbuka. Miracle melangkah pelan terukur. Suara sepatu high heels terasa berat saat menginjakkan kaki di lantai marmer hotel lantai 27.
Aroma kopi dari coffee shop di sudut ruangan, dan hiruk-pikuk karyawan yang berlarian mengejar jam masuk sama sekali tidak mampu mengalihkan kekacauan yang berkecamuk di dalam dadaku.
Ia sengaja berangkat sepagi ini. Menembus kabut tipis yang belum sepenuhnya menguap di jalanan ibu kota, hanya demi satu tujuan, bertemu dengan beberapa pimpinan usaha yang ingin di bantu termasuk CEO Morgan's Kitchen.
Nama itu sempat menjadi melodi indah yang dulu menenangkan hatinya, tapi sekarang nama itu membuatnya muak. Pernah percaya bahwa dialah takdir yang selama ini diharapkan. Namun, semua keindahan itu hancur berantakan ketika laki-laki itu berkhianat dan membagi ranjang kepada wanita lain.
Lembaran hitam masa lalunya, sekecil atau sesingkat apa pun itu seperti yang ia klaim, tetap saja terasa sebagai sebuah tamparan keras baginya. Merasa dibohongi. Harga diri dan kesetiaannya dibalas dengan sebuah kepalsuan.
Rasa kecewa itu kini telah mengkristal menjadi sebongkah kebencian dan rasa muak yang teramat sangat.
"Miracle."
Sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Belum sempat menoleh sepasang tangan tiba-tiba menarik secara ekspresif di depan life yang mulai ramai. Aroma parfum Vanila menyengat langsung menusuk indra penciumannya.
"Arini...." ucap Miracle kaget.
Tidak dinyana akan bertemu Arini. Miracle mengembuskan napas kasar, lalu dengan tegas menepis tangan Arini. Ia mundur satu langkah, menatap tajam wanita berambut sebahu dengan pakaian kerja modis yang kini tengah menatapnya penuh ejekan.
"Maaf...aku lupa diri dan spontan saat melihatmu."
"Jaga sikap mu, ini di kantor dan kita tidak se-akrab itu." tegur Miracle dengan suara rendah dan dingin.
Arini hanya mengerucutkan bibirnya, sama sekali tak merasa terintimidasi oleh tatapan mematikan yang diberikan oleh Miracle. Ia bersedekap, menatap sebelah mata dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan dahi berkerut heran kepada Miracle.
"Hemm..rupanya kau tidak bosan-bosannya menguntit kami. Dandanan mu sekarang sedikit modern, apa kau di pelihara sugar daddy?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Arini seperti peluru kendali.
Tubuh Miracle sempat menegang sesaat, suara Arini yang keras membuat karyawan yang berada di lobby menoleh padanya. Pertanyaan Arini langsung menusuk ke hulu hati, merobek kembali luka lama. Miracle berusaha bersikap seformal dan setenang mungkin, agar tidak tertangkap kegelisahan di matanya.
"Jangan sok tahu, kalau tidak ada urusan penting, silakan pergi." usir Miracle mulai merasa tidak nyaman dengan munculnya Arini.
Dimana Morgan, apa dia sengaja menyuruh Arini mewakili? pikir Miracle.
"Eh, sebentar! Kau jangan merasa kuasa. Aku mau ketemu CEO M.W. Kau pasti kaget, karena aku di undang langsung oleh wanita hebat ini."
Arini menahan Miracle saat mau melangkah menuju lift khusus eksekutif.
"Kau mau kemana?! teriak Arini menarik tangan Miracle sampai hampir jatuh, untung tubuhnya cepat di pegang oleh Morgan yang baru keluar dari life.
Miracle buru-buru melepaskan diri dari pegangan Morgan. Jantungnya berdesir saat melihat mantan suaminya. Morgan terlihat kuyu dan tidak terawat, rambutnya sedikit panjang dengan berewok tipis menghiasi wajahnya.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Morgan menatap Miracle kaget.
"Tentu ingin rujuk, dia cinta mati denganmu, manusia sok suci." ucap Arini ngambek.
"Aku bekerja disini, kau jangan bikin masalah."
"Hahaha...bukannya kau penjual nasi bungkus di emperan kampus. Kau kira aku tidak tahu kamar kost yang 3x3 dengan cermin pecah?"
"Arini jaga mulutmu.." ucap Morgan membela Miracle.
"Kenapa? gara-gara dia Morgan's Kitchen hampir bangkrut." protes Arini sembari menghentakkan kakinya.
Mungkin omongan Arini sebagian benar, setelah cerai para pejabat malas datang ke Restoran Morgan's Kitchen. Kalau dulu Miracle melobi dan banyak juga yang datang dari kolega orang tuanya.
Disamping itu harga saham Morgan's Kitchen seketika anjlok, saat perceraian itu diliput oleh beberapa media. Orang mengenal Morgan's Kitchen karena Miracle dan Wijaya Group.
"Miracle banyak urusan, tolong kalian berdua pergi dari sini!" bentak Komariah yang baru datang dan melihat Arini memojokannya.
"Urusan apa, hanya menjual nasi bungkus sok belagu. Aku tahu, mungkin masih lelah setelah menjajakan nasi keliling. Jangan mengganggunya dulu, hahaha..." sindir Arini.
"Yaaa... daripada kau pel*kor murahan, yang tidak tahu malu." gerutu Komariah dengan wajah kesal.
"Ya sudah deh, jangan membuat kekacauan disini." ucap Morgan.
Komariah menarik tangan Miracle dan tidak menanggapi ucapan Arini. Miracle langsung membalikkan badan dan melangkah cepat memasuki lift yang kebetulan terbuka dan meninggalkan Arini dan Morgan yang masih mengomel. Di dalam lift yang bergerak naik, kata-kata Arini kembali berdengung di telinganya.
Miracle tertawa sinis di dalam hati. Kedua pasangan jalang itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mengira dirinya masih seperti dulu.
"Miracle, jangan luluh. Kamu investor utama di Indonesia. Jika ada perusahan yang kurang sehat jangan dibantu. Ingat pesanku."
"Tenang Kom jangan menganggap remeh, aku paling menentang kalau ada yang main dengan orang dalam."
"Aku pegang omonganmu. Oke..aku akan panggil mereka semua."
"Atur saja..."
Ruang Rapat. Meja berbentuk oval yang sudah penuh terisi para pimpinan perusahan, kecuali kursi paling ujung. Itu singgasana CEO M.W Group, seorang investor dengan kekayaan ratusan Triliun.
Semua duduk dengan harap-harap cemas, karena orang yang akan menemuinya, menurut rumor dikalangan mereka, orangnya dingin dan tegas. Tidak gampang ditipu dan sedikit sadis.
Morgan duduk dibangku ujung berbatas meja dia akan mengadu argument dengan CEO M.W Group. Mungkin akan seru, sayang Arini tidak bisa ikut duduk semeja, karena pel*kor itu tidak level duduk bersama Miracle dari dulu apalagi sekarang.
*****
MORGAN
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....