NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

‎Luna menuntun Haris yang melangkah sempoyongan masuk ke dalam kamar hotel yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia sengaja memilih tempat ini karena ia ingin momen ini menjadi miliknya sepenuhnya, tanpa gangguan dan tanpa ada yang bisa memisahkan mereka lagi.

‎‎Haris hampir tak sadarkan diri, berat tubuhnya bersandar penuh pada bahu Luna. Matanya terpejam rapat, napasnya tercium aroma alkohol yang kuat. Saat Luna mendekat dan menyentuh wajahnya pelan, bibir Haris bergerak lirih memanggil satu nama yang paling ia rindukan.

‎‎"Kania..." gumamnya samar, tangan kasarnya mencengkeram lengan Luna erat seolah takut kehilangan. "Kamu akhirnya datang... Aku rindu sekali padamu..."

‎‎Hati Luna terasa perih mendengar nama saudaranya itu keluar dari bibir pria yang ia cintai, namun ia tak berhenti. Ia menyadari kesempatan ini tak akan datang dua kali. Ia menempelkan tubuhnya lebih dekat, membalas genggaman tangan Haris dengan lembut.

‎‎"Iya... aku di sini. Aku tak akan pergi ke mana-mana..."

‎‎Di bawah cahaya lampu kamar yang remang dan hangat, mereka berbagi kehangatan malam itu. Haris yang hilang kewaspadaan karena mabuk, sepenuhnya tenggelam dalam khayalan bahwa ia sedang bersama wanita yang dicintainya. Ia memeluk erat sosok di hadapannya, meluapkan segala rindu dan rasa sakit yang selama ini dipendam, tanpa menyadari bahwa wajah yang ia bayangkan tak sama dengan yang ada di sampingnya.

‎‎Luna membiarkan semuanya berjalan, membiarkan Haris menganggapnya sebagai Kania. Ia menerima setiap sentuhan dan setiap pelukan itu dengan hati berdebar. Baginya, tak peduli apa yang Haris pikirkan malam ini, yang penting besok semuanya akan berubah dan Haris sudah menjadi miliknya sepenuhnya.

‎---

‎‎Sinar matahari pagi yang menyelinap pelan lewat celah tirai tebal perlahan menyadarkan kesadaran Haris. Kepalanya terasa berdenyut hebat, tubuhnya terasa lemas namun hangat. Saat ia mencoba bergerak, ia menyadari lengan seseorang melingkar erat di pinggangnya.

‎‎Seketika matanya terbuka lebar. Ia menoleh perlahan, dan darahnya seketika terasa berhenti mengalir di nadinya.

‎‎Di sampingnya, Luna sedang berbaring dengan wajah tenang, sebagian rambutnya menutupi bahu yang terbuka. Seprai melilit tubuh mereka berdua, dan jejak malam itu terlihat jelas di setiap sudut ruangan. Haris tersentak mundur secepat kilat, menarik seprai menutupi tubuhnya, napasnya memburu tak percaya.

‎‎"Kau... Apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di sini?" suaranya bergetar hebat, tatapannya penuh penolakan.

‎‎Luna pun terbangun karena gerakannya. Ia menguap pelan, lalu tersenyum manis seolah hal yang mereka lakukan adalah hal yang paling wajar. Ia duduk perlahan, tak berusaha menutupi dirinya secepat yang dilakukan Haris.

‎‎"Kak Haris... Kamu lupa semalam?" tanyanya lembut, namun matanya menatap tajam ke arah wajah yang pucat pasi itu. "Kamu yang memelukku dan memintaku tetap di sini... Kamu bahkan memanggil namaku sepanjang malam."

‎‎"Itu bohong!" bentak Haris, suaranya pecah. "Aku pikir kau Kania! Aku mengira kau dia! Aku tidak bermaksud... Tidak mungkin aku mau..."

‎‎Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Rasa bersalah, jijik, dan kecewa pada dirinya sendiri menyerang bersamaan. Ia yang selama ini menjaga hati hanya untuk Kania, kini telah melanggar batas itu tanpa sadar.

‎‎Luna meraih tangan Haris yang gemetar, namun pria itu segera menariknya dengan kasar.

‎‎"Kamu bisa menyangkal, Kak," ucap Luna dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kenyataannya kita sudah bersama. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Dan kamu tahu betul... setelah ini, tidak ada satu pun pria yang akan menerimaku selain kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kita semalam."

‎‎Air matanya menetes begitu saja, tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya tubuhnya.

‎‎"Apa kamu tega membiarkan aku menanggung ini sendirian, Kak? Bagaimana jika aku sampai hamil anakmu setelah apa yang terjadi ini? Apa kamu benar-benar tidak menginginkan kami?"

‎‎Haris terduduk diam di tepi tempat tidur, ia menutup telinganya kuat dengan kedua telapak tangannya, namun kata-kata Luna terus berputar di kepalanya seperti kutukan.

‎‎"Pakai bajumu, aku antar kau pulang." ucapnya dingin, lalu ia mengambil pakaiannya sendiri yang berserakan di lantai dan memakaikannya kembali dengan wajah penuh beban.

‎‎Luna tak banyak bertanya dan hanya mengikuti kemauan Haris, ia menggeser tubuhnya dan memungut pakaiannya juga. Kemudian pergi ke kamar mandi dengan selimut melilit tubuhnya. Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Haris terduduk pasrah di tepi ranjang, menjambak rambutnya kuat-kuat kebelakang.

‎‎"Bodoh kamu, Haris. Kenapa kamu bisa menyentuh dan tidur dengan Luna." makinya pada diri sendiri.

‎‎-

‎‎-

‎-

‎‎Matahari mulai meninggi saat mobil Haris terparkir di halaman rumahnya. Ia turun dari mobil dan membuka pintu depan lalu menutupnya kembali dengan keras. Haris melangkah masuk dengan langkah lebar dan kasar, tak peduli pada suara pintu yang memantul menimbulkan gema di ruangan rumah yang luas.

‎‎Nyonya Astrid yang kebetulan sedang lewat di ruang tengah segera berhenti dan menoleh, wajahnya tampak lega sejenak sebelum berubah cemas melihat sikap putranya.

‎‎"Haris? Kamu baru pulang..." panggilnya lembut, berusaha menyusul langkahnya. "Tunggu sebentar, Sayang. Ibu ingin bicara sebentar—"

‎‎Namun Haris seolah tak mendengar apa-apa. Ia terus berjalan menuju tangga, menaiki anak tangga satu per satu dengan cepat, menghilang di lantai atas tanpa menoleh sedikit pun.

‎‎Sesampainya di dalam kamar, ia membanting pintu hingga dinding di sekitarnya bergetar. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap-luap dan rasa jijik yang membakar tenggorokannya. Ia mencengkeram rambutnya kuat-kuat, matanya menatap kosong ke lantai seolah melihat kembali kejadian semalam secara berulang-ulang.

‎‎"Bagaimana bisa?" batinnya berteriak kacau. "Bagaimana bisa aku sampai melakukan hal itu dengan Luna?"

‎‎Rasa bersalah menghantamnya bertubi-tubi. Ia yang bersumpah akan menjaga hati dan kehormatannya hanya untuk Kania, kini telah melanggar semuanya. Semalam, di kamar hotel itu... ia telah menyentuh wanita lain.

‎‎Tanpa sadar, tinjunya terangkat dan menghantam tembok di sebelahnya dengan kekuatan penuh.

‎‎Bugh!

‎‎Suara benturan keras terdengar nyaring, disusul rasa perih yang menjalar dari buku jari hingga ke bahu. Namun Haris tak peduli, ia malah mengeratkan genggamannya dan meninju tembok itu lagi, dan lagi.

‎‎"Bodoh! Aku bodoh sekali!" bentaknya parau, suaranya pecah menahan tangis yang tertahan. "Kenapa kau begitu lemah, Haris? Kenapa kau membiarkan hal itu terjadi? Kau sudah mengkhianatinya... kau sudah menghancurkan segalanya!"

‎‎Ia menunduk, menatap tinjunya yang kini berdarah sedikit karena gesekan dengan tembok kasar. Namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka di hatinya yang terasa seperti robekan besar yang takkan pernah bisa sembuh.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Hari sudah gelap saat Victor sampai di rumah setelah menyelesaikan urusan bisnis di luar kota. Begitu tiba, ia langsung menatap ke sekeliling dan masih tidak mendapati Kania.

‎‎"Dimana dia?" tanya Victor.

‎‎"Nona Kania masih jarang keluar kamar, Tuan." jawab pelayan wanita.

‎‎"Panggil dia ke ruang kerjaku. Sudah cukup lama dia mengurung diri." perintahnya singkat kepada pelayan dengan nada dingin dan tegas.

‎‎"Baik, Tuan."

‎‎Pelayan wanita itu segera berjalan menuju lantai dua, lalu mengetuk pintu kamar Kania dengan sopan. Setelah tidak ada jawaban, ia mencoba memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Begitu pintu terbuka lebar, napas pelayan itu terhenti, matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar sebelum berteriak histeris.

‎‎"Ya Tuhan… Nona Kania!"

-

-

-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!