Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Benar Menghilang
Suara ketukan tergesa-gesa memecah keheningan di depan kamar utama.
"Ayah.. Mama..."
Napas Amora terdengar memburu. Jemarinya kembali mengetuk daun pintu, kali ini lebih keras dibanding sebelumnya. Perasaan gelisah yang sejak tadi mengusiknya kini berubah menjadi kepanikan yang sulit disembunyikan.
Di dalam kamar, Danendra Atmojo dan Fina Atmojo ternyata masih terjaga.
Keduanya belum berniat beristirahat meski waktu telah mendekati tengah malam. Sejak selesai makan malam, mereka terus membicarakan kondisi D'Endra Group dan pernikahan Jelita yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.
Tidak ada satu pun pembicaraan yang menghasilkan jalan keluar.
Semua persiapan telah selesai. Gedung telah dihias, tamu undangan sudah berdatangan, bahkan keluarga Bagaskara telah menginap di hotel sejak sore. Membatalkan akad bukan lagi pilihan yang mudah.
Saat mendengar panggilan Amora, Fina segera membuka pintu.
"Amora?"
Raut wajahnya langsung berubah melihat putri angkatnya berdiri dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan panik begitu?"
Amora menelan ludah sebelum menjawab.
"Aku habis ke kamar Kak Jelita, Ma. Aku ketuk-ketuk tapi sampai sekarang Kakak belum juga membuka pintu."
Fina masih berusaha berpikir tenang.
"Mungkin dia sedang tidur."
Amora langsung menggeleng.
"Nggak mungkin."
"Sore tadi aku masih sempat ngobrol sama Kakak. Dia bilang sama sekali nggak bisa tidur karena terus memikirkan besok."
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Biasanya kalau aku ketuk pintu, Kakak pasti menjawab meski cuma satu atau dua kata. Tapi sekarang benar-benar nggak ada respons."
Mendengar penjelasan itu, Danendra yang sejak tadi berdiri di belakang istrinya mulai memasang wajah serius.
"Sudah kamu coba buka pintunya?"
"Sudah, Yah."
"Tapi terkunci dari dalam."
Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah.
Fina saling berpandangan dengan suaminya. Entah mengapa, firasat buruk mulai menghampiri keduanya.
"Ayah punya kunci cadangan kamar Kak Jelita, kan?"
Amora menatap Danendra penuh harap.
"Tolong kita cek sekarang. Aku takut terjadi sesuatu."
Nada suaranya mulai bergetar.
Ia tidak berani mengucapkan kemungkinan terburuk yang terus menghantui pikirannya, tetapi kegelisahan di wajahnya sudah cukup menggambarkan semuanya.
Danendra berusaha tetap tenang meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemas.
"Mungkin Jelita hanya ingin sendiri."
Namun ucapan itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain.
Fina mengusap pelan punggung tangan suaminya.
"Nggak ada salahnya kita memastikan."
"Aku juga mulai khawatir."
Danendra akhirnya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar, lalu membuka salah satu laci tempat seluruh kunci cadangan rumah disimpan.
Beberapa gantungan kunci ia keluarkan satu per satu hingga akhirnya menemukan anak kunci dengan label nama kamar Jelita.
Ia menggenggamnya erat.
"Ayo."
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga segera menuju lantai atas.
Sepanjang koridor rumah hanya terdengar langkah kaki mereka yang terburu-buru. Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Amora berjalan paling depan sambil terus berharap kekhawatirannya tidak terbukti.
Sementara Danendra dan Fina mulai menyiapkan diri menghadapi apa pun yang mungkin mereka temukan di balik pintu kamar putri sulung mereka.
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa malam itu akan menjadi awal dari kekacauan yang mengubah seluruh rencana pernikahan keesokan harinya.
.
Daun pintu perlahan terdorong setelah Danendra Atmojo memutar kunci cadangan.
Semua mata langsung menyapu isi kamar.
Sunyi.
Ruangan itu tampak bersih dan rapi, tetapi sosok yang mereka cari sama sekali tidak terlihat.
"Jelita...?"
Fina memanggil pelan sambil melangkah masuk lebih dulu. Pandangannya menyisir setiap sudut kamar, mulai dari kamar mandi hingga balkon kecil yang terhubung dengan jendela.
Tidak ada jawaban.
Amora ikut memasuki kamar dengan langkah tergesa. Perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggunya berubah menjadi ketakutan.
"Kak?"
Ia membuka pintu kamar mandi.
Kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
Danendra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sekilas semuanya tampak normal, hingga matanya berhenti pada lemari pakaian yang pintunya terbuka.
Beberapa gantungan tampak kosong. Pakaiannya tidak lagi lengkap seperti biasanya.
Sementara di atas meja rias juga terlihat beberapa perlengkapan pribadi milik Jelita sudah tidak berada di tempatnya.
Tatapan Amora kemudian beralih ke koper berukuran sedang yang biasanya disimpan di sudut kamar. Koper itu juga telah menghilang.
Dadanya langsung terasa sesak.
"Ayah..."
Suara Amora terdengar lirih.
"Sepertinya Kak Jelita memang pergi."
Fina spontan menutup mulutnya sendiri. Ia berjalan cepat menuju lemari kecil tempat putrinya biasa menyimpan barang-barang berharga.
Begitu laci itu dibuka, wajahnya semakin pucat. Kotak penyimpanan yang biasanya berisi tabungan pribadi Jelita sudah kosong.
"Uangnya juga dibawa..."
ucapnya hampir berbisik.
Danendra memejamkan mata beberapa saat. Tidak perlu berpikir lama, ia sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jelita benar-benar meninggalkan rumah.
Bukan sekadar keluar untuk menenangkan diri, melainkan pergi dengan persiapan yang sudah dipikirkan sebelumnya.
Fina segera mengambil telepon genggamnya. Tangannya gemetar saat menekan nama putri sulungnya.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Namun hasilnya tetap sama.
"Jeli... tolong angkat telepon Mama...."
Suara Fina mulai bergetar.
Amora pun ikut menghubungi nomor sang kakak menggunakan ponselnya sendiri.
Beberapa detik kemudian terdengar suara operator yang membuat suasana semakin mencekam.
Nomor yang dihubungi sudah tidak dapat dihubungi.
Amora menurunkan ponselnya perlahan.
"Nomornya dimatikan..."
Kalimat itu membuat keheningan memenuhi kamar.
Danendra berjalan menuju sisi tempat tidur lalu duduk perlahan di ujung kasur. Kedua tangannya menopang wajah yang kini dipenuhi keputusasaan.
Sejak awal ia sudah mengetahui bahwa Jelita menolak pernikahan dengan Atharazka Bagaskara.
Namun ia tidak pernah menyangka putrinya akan memilih meninggalkan rumah tepat beberapa jam sebelum akad dilaksanakan.
Sebagai seorang ayah, ia tidak mampu menyalahkan Jelita sepenuhnya. Ia tahu putrinya hanya ingin mempertahankan cintanya kepada Dani Ardianto.
Tetapi sebagai pemimpin D'Endra Group, keadaan ini bisa menghancurkan semua yang selama ini ia perjuangkan.
Keluarga Bagaskara telah memenuhi komitmen mereka dengan membantu menyelamatkan kondisi perusahaan melalui kerja sama yang nilainya tidak sedikit.
Sebagai balasannya, Danendra telah berjanji akan menikahkan Jelita dengan putra sulung mereka.
Kini, janji itu berada di ambang kegagalan. Danendra mengusap wajahnya kasar sebelum mengembuskan napas panjang.
"Apa yang harus aku katakan kepada keluarga Bagaskara besok pagi?"
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan itu.
Fina hanya berdiri mematung dengan mata yang mulai dipenuhi air mata, sementara Amora memandangi kamar kakaknya yang kini terasa begitu asing.
Tidak ada yang menyangka, kepergian satu orang telah mengubah malam itu menjadi awal dari persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar batalnya sebuah pernikahan. Dan pada akhirnya akan ada yang menjadi korban yang menanggung semua ini.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰