NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Pelukan hangat yang mengubah takdir

Suasana di dalam ruangan Bayu mendadak menjadi begitu berat. Di balik punggung Elang yang masih mendekap erat kaki Lana, pintu yang masih terbuka lebar kembali dilewati oleh seorang pengasuh yang berlari masuk dengan wajah pucat pasi.

"M-Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Bayu!" pengasuh itu berseru dengan suara bergetar ketakutan, nyaris menangis melihat posisinya yang kecolongan.

"Den Elang tiba-tiba terbangun dari tidur siangnya di ruang istirahat dan langsung berlari ke sini. Saya... saya tidak bisa menahannya..."

Tapi Elang sama sekali tidak memedulikan kepanikan orang-orang di sekitarnya. Jerit tangisnya justru pecah menjadi sebuah ledakan tantrum yang sangat hebat.

Bahunya yang kecil naik-turun dengan cepat, dan isak tangis yang memilukan bergema di seluruh penjuru ruangan. Jemari mungilnya mencengkeram kain rok hitam Lana semakin erat, seolah-olah dia sedang menyalurkan seluruh rasa takut dan mimpi buruk yang baru saja menyerang tidurnya.

Harris dan dua pengawal yang berjaga di luar ruangan tampak tegang. Mereka tahu betul, jika putra tunggal sang CEO sudah mengamuk dalam kondisi seperti ini, tidak akan ada satu pun orang di gedung ini yang bisa menenangkannya dengan cepat.

Biasanya, tantrum Elang baru akan mereda setelah berjam-jam hingga anak itu kelelahan dan jatuh pingsan karena kehabisan tenaga.

Bayu menghembuskan napas panjang, mencoba meredam keterkejutannya. Pria itu segera memutari meja dan melangkah mendekat, lalu berlutut dengan satu kaki di samping putranya.

"Elang, dengarkan Papa," ujar Bayu, mencoba menstabilkan suaranya yang tegas namun tetap diatur selembut mungkin.

Kedua tangan kokohnya mencoba untuk menarik tubuh mungil itu. "Lepaskan Ibu Larissa. Ayo ikut Papa kembali ke ruang istirahat, di sana ada mainan baru yang kamu inginkan."

Namun, begitu tangan ayahnya menyentuh pundaknya, Elang justru menjerit histeris. Anak itu menyentak tubuhnya, semakin menenggelamkan wajah sembapnya ke balik paha Larissa, menolak keras untuk dilepaskan.

"Nggak mau! Nggak mau Papa! Mau di sini!" jerit Elang di sela-sela tangisnya.

Bayu tertegun, tangannya kaku di udara. Rasa frustrasi dan ketidakberdayaan tampak melintas di sepasang manik mata elangnya.

Di depan dunia bisnis, Bayu adalah singa yang ditakuti; namun di depan tangis histeris putra tunggalnya, dia hanyalah seorang ayah yang kehilangan arah.

Larissa yang awalnya terpaku menundukkan kepalanya perlahan. Isak tangis anak itu dan cengkeraman jarinya yang gemetar pada pakaiannya, seketika memicu sebuah getaran hebat yang merayap di lubuk hatinya.

Di matanya, anak kecil di hadapannya ini bukanlah putra dari seorang CEO triliunan; Elang hanyalah seorang anak kecil yang sedang ketakutan, kesepian, dan membutuhkan kehangatan yang tulus.

Dia tahu persis bagaimana rasanya merasa sendirian di dunia yang kejam ini.

Dengan gerakan lambat dan lembut, Larissa perlahan-lahan ikut berlutut di atas lantai, menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan tubuh kecil Elang.

Dia mengulurkan kedua telapak tangan yang hangat, melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuh mungil Elang, lalu menarik anak itu ke dalam dekapan dadanya yang hangat.

Tangan kanannya bergerak perlahan naik ke punggung Elang, memberikan usapan-usapan ritmis yang konstan dan menenangkan.

"Sstt... anak pintar, anak baik... tidak apa-apa," Larissa berbisik, suaranya mengalun dengan sangat lembut.

Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan pipinya dengan lembut pada pelipis Elang yang basah oleh keringat. "Di sini aman. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Sstt... tarik napasnya perlahan, Anak Pintar. Tante ada di sini menemanimu."

Kata-kata Larissa bukanlah mantra sihir, namun getaran ketulusan dan kehangatan yang memancar dari pelukan Larissa seolah memiliki kekuatan magis yang luar biasa besar bagi jiwa Elang yang sedang terguncang.

Sentuhan tangan Larissa di punggungnya terasa begitu pas, begitu familiar, memicu ingatan bawah sadar Elang akan dekapan hangat mendiang ibunya yang telah lama meninggal.

Ajaibnya, hanya dalam hitungan menit... jerit tangis histeris Elang yang semula memekakkan ruangan, perlahan-lapan mulai mereda.

Volume suaranya mengecil, berubah menjadi isakan-isakan pendek yang teratur. Tubuh kecil Elang yang tadinya tegang dan gemetar hebat, perlahan mulai mengendur, menjadi sangat rileks di dalam dekapan Larissa

Elang menghentikan cengkeramannya pada rok Larissa. Tangan kecilnya kini beralih naik, melingkar pas di sekeliling leher wanita itu.

Anak itu menyembunyikan wajah sembapnya di ceruk leher Larissa, menghirup aroma wangi sabun mandi murah yang menguar dari tubuh wanita itu.

Elang memejamkan matanya, menolak untuk dilepaskan sedikit pun, seolah dia telah menemukan pelabuhan terakhir tempatnya berlindung dari segala badai mimpi buruknya.

Di samping mereka, Bayu masih berada dalam posisi berlutut dengan satu kaki. Sepasang mata elang sang miliarder membelalak lebar, menatap pemandangan ajaib di hadapannya dengan keterpanaan dan rasa syok yang luar biasa.

Rahangnya mengeras menahan gelombang emosi yang mendadak mengalir di dalam dadanya.

Harris yang berdiri di sudut ruangan bahkan sampai menahan napasnya, menatap Larissa seolah wanita itu baru saja menurunkan mukjizat di dalam ruangan atasannya.

I

ni adalah pertama kalinya, murni pertama kalinya dalam dua tahun terakhir Elang bisa luluh, tenang, dan mau dipeluk dengan begitu erat oleh seorang wanita asing sejak kepergian ibunya.

Selama ini, jangankan dipeluk, didekati dalam jarak satu meter saja oleh wanita lain akan membuat Elang melempar barang-barang di sekitarnya dan berteriak ketakutan.

Namun hari ini, di hadapan Larissa seluruh tembok pertahanan psikologis Elang runtuh tanpa sisa hanya dalam waktu kurang dari lima menit.

Bayu menatap lekat-lekat pada wajah Larissa yang sedang mendekap putranya dengan penuh kasih sayang. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui dinding kaca raksasa jatuh tepat di atas kepala mereka, membingkai sosok Larissa dalam pendar cahaya yang begitu anggun dan berwibawa.

Detik itu juga, pandangan Bayu terhadap Larissa berubah total. Wanita ini bukan lagi sekedar rekan bisnis yang cerdas, Larissa kini bertransformasi menjadi sosok misterius yang memegang kunci kedamaian bagi putra tunggalnya.

Larissa terus mengusap punggung Elang dengan sabar hingga napas anak itu terdengar teratur, menandakan bahwa Elang telah kembali tenang di dalam pelukannya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Larissa melirik jam tangannya.

Urusan pekerjaannya di gedung ini telah selesai, kontrak sudah ditandatangani dan drafnya sudah berada di tangan Harris. Larissa tahu dia harus segera kembali ke kantornya untuk melaporkan hasil kesuksesan ini kepada Pak Joko.

Larissa perlahan melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah tampan Elang yang kini sudah bersih dari air mata. Dia tersenyum manis, sebuah senyuman tulus yang sangat cantik, membuat wajah polosnya tampak bersinar menawan.

"Anak pintar, Tante harus pamit pulang dulu ya? Pekerjaan Tante sudah selesai di sini," ujar Larissa dengan suara yang lembut, mencoba memberikan pengertian.

Mendengar kata "pulang", wajah kecil Elang seketika berubah cemberut. Sepasang mata bulatnya kembali berkaca-kaca memancarkan ketakutan akan kehilangan.

Tanpa memedulikan ucapan Larissa, tangan kecil Elang bergerak dengan sangat cepat, mencengkeram erat-erat ujung kerah blus Larissa dengan sentakan kuat, menolak keras untuk membiarkan wanita itu melangkah pergi darinya.

Elang menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kembali menenggelamkan wajahnya di pundak Larissa.

Larissa menghela napas pendek, merasa sedikit tidak enak posisi karena dia harus segera kembali bekerja. Dia mendongak, melayangkan pandangan matanya ke arah Bayu seolah meminta bantuan sang ayah untuk membujuk anaknya.

Bayu berdiri dari posisi berlututnya, menegakkan postur tubuhnya yang tinggi besar. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata gelap Larissa.

Sebagai seorang pebisnis ulung yang selalu tahu cara memanfaatkan peluang terbaik, dia tidak akan pernah membiarkan "permata" yang bisa menyembuhkan putranya ini pergi begitu saja dari jangkauannya.

Bayu melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Larissa dengan aura karismatiknya.

"Tunggu sebentar, Nona Larissa" suara Bayu mengalun rendah.

Larissa mengernyitkan dahi samar, menatap sang CEO dengan pandangan bertanya. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak Bayu? Kontrak kerja sama kita sudah sah secara hukum."

Bayu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya, menatap lekat-lekat pada jemari mungil putranya yang masih mencengkeram erat ujung baju Larissa dengan protektif.

Sudut bibir Bayu terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman misterius yang tipis.

"Kontrak bisnis logistik kita memang sudah selesai, Bu Larissa," ujar Bayu, matanya menatap tajam langsung ke dalam bola mata Larissa, memancarkan pendar pesona yang sanggup mengunci fokus siapa saja.

"Tapi bisakah kita membuat satu kesepakatan tambahan di luar kontrak bisnis kita yang tadi?"

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!