NovelToon NovelToon
Satu Imam Dua Makmum

Satu Imam Dua Makmum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adiba Aza hra

Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Drama Aira dan Anabulnya

"Om, beberapa teman saya ada yang melihat Kinan saat di bandara. Teman saya bilang, perempuan berhijab itu terlihat muram seperti ada yang dipikirkan. Sedangkan Kinan, gadis itu tidak merasa curiga sedikit pun terhadap Om Vito," kata Seno yang sedang membaca pesan dari ponselnya.

"Bagaimana jika kita tanyakan kepada pihak bandara? Siapa tahu dengan cara ini kita bisa menemukan mereka," kata Ayah Niko.

"Aku setuju sama saran Om Niko," sahut Ardi sok serius.

"Apa pihak bandara akan memberi tahu saya?" tanya Om Fikri.

"Saya tahu jalan keluarnya," sahut Ayah Niko tegas.

"Apaan tuh, Om?" tanya Ardi yang langsung mendapatkan totokan dari Seno.

"Beri saya waktu satu minggu. Saya akan membawa Fina dan Kinan kembali ke dalam pelukanmu," kata Ayah Niko tegas.

Ayah Fikri mengusap wajah dengan kedua tangannya.

"Entah apa salah saya sampai-sampai sahabat saya sendiri tega melakukan hal seperti ini," kata Ayah Fikri emosi. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.

"Aira video call," kata Ayah Fikri.

Seketika suasana berubah menjadi hening.

"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa nih? Tumben putri Ayah telepon," kata Ayah Fikri lembut.

"Ayah kenapa? Ayah sakit? Aira ada salah ya sama Ayah?" Suara cempreng Aira membuat Ayah Fikri dan yang lain menggelengkan kepalanya.

"Enggak ada dong, Sayang. Mana ada putri Ayah ngelakuin kesalahan," kata Ayah Fikri tenang.

"Ayah kok pucat? Mata Ayah juga kayak mata panda," celetuk Aira polos.

Ayah Fikri terkekeh geli.

"Tuh, mata kamu juga kayak matanya Momo sama Coco, hahaha," ledek Ayah Fikri balik.

Aira cemberut.

"Ayah sayang kan sama Aira? Kalau iya, Ayah jangan pernah sembunyiin apa pun dari Aira ya, Yah. Nanti Aira marah, terus gak mau ngomong sama Ayah," kata Aira tiba-tiba.

Ayah Fikri terdiam.

"Yah? Ayah kok diam? Ayah ada nyembunyiin sesuatu dari Aira, kan?" kata Aira cepat.

Ayah Fikri menggeleng cepat.

"Mana ada Ayah nyembunyiin sesuatu dari putri Ayah, hm? Ya sudah..."

"Bentar, Ayah," cengir Aira tiba-tiba.

"Kenapa, Sayang?" tanya Ayah Fikri lembut.

"Ayah, Aira mau nitipin Momo sama Coco ya? Nanti sore aku sama Mas Azam antar ke rumah Ayah, hehe," kata Aira menyengir.

"Hmm, emang kalian mau ke mana, hm?" tanya Ayah Fikri.

"Aku sama Mas Azam mau ke Surabaya malam ini, Yah," kata Aira.

Ayah Fikri mengangguk.

"Ya sudah, nanti Ayah tunggu ya."

"Iya Ayah, ditunggu ya, hehehe."

Setelah panggilan video call dimatikan, Ayah Fikri menghela napas dalam dan mengembuskannya pelan.

"Saya gak akan memberi tahu Aira sebelum saya menemukan mereka," tegas Ayah Fikri.

"Itu pilihan yang bagus, Fikri! Kalau sampai Aira tahu, dia pasti akan memikirkannya terus," sahut Ayah Niko.

Hari ini mereka sudah memutuskan rencana untuk memancing Vito agar laki-laki itu mau kembali ke Indonesia tanpa paksaan ataupun tekanan.

"Kamu malam ini tidur di rumah Kakek ya, hahaha. Aku mau jalan-jalan dulu," kata Aira kegirangan.

Perempuan itu duduk manis di sebelah kursi kemudi, sedangkan di depannya ada Momo yang lagi asyik menjilati tubuhnya, sementara Coco duduk manis di pangkuan Azam yang sedang menyetir.

"Duh, senang kali deh istriku," kata Azam saat melihat wajah cantik Aira yang berseri-seri.

"Iya dong, kan mau bulan madu sama suami," kata Aira polos.

Tuk!

Azam menyentil dahi Aira pelan.

"Apanya yang bulan madu, nikah udah..."

Azam menghentikan ucapannya saat teringat bahwa besok adalah hari anniversary pernikahan mereka yang ke-1 tahun.

"Kenapa, Mas?" bingung Aira polos.

Azam menggeleng cepat.

"Ah, itu... emm, apa ya? Aku lupa," kata Azam sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Ihh, kok lupa sih! Gini kan jadinya malah bikin aku makin kepo aja," gerutu Aira.

Azam berkali-kali meminta maaf hingga akhirnya mereka tiba di rumah mewah Ayah Fikri.

"Assalamualaikum, Ayah," salam Aira sembari menggendong Coco, sedangkan Momo digendong Azam.

"Waalaikumsalam. Non Aira?!" kata asisten rumah tangga Ayah Fikri.

"Mbak Mia! Mbak, apa kabar? Oh ya, Ayah di mana, Mbak?" tanya Aira ramah.

Perempuan yang dipanggil Mbak Mia itu mempersilakan Aira dan Azam masuk.

"Sebentar ya, Non. Mbak panggil Tuan Besar dulu."

"Siap, Mbak!"

Tak lama setelah kepergian Mbak Mia, Ayah Fikri datang.

"Mia, kamu tutup pintu depan," perintah Ayah Fikri dan langsung diiyakan oleh Mia.

"Baik, Tuan."

Aira langsung memeluk erat tubuh tegap sang ayah. "Ayah! Ayah gak kangen sama Aira? Kok Ayah makin kurus? Ayah kenapa?" kata Aira sedih.

Ayah Fikri menghela napas dalam, lalu mengusap lembut rambut indah sang putri.

"Ayah gak apa-apa, Sayang. Mungkin karena kecapekan," jawab Ayah Fikri lembut.

Aira mendongak menatap wajah teduh sang ayah.

"Ayah gak usah kerja, kan Ayah udah punya menantu kaya. Iya kan, Mas? Kamu gak keberatan kan, Mas, ngerawat ayah aku?" kata Aira polos.

Ayah Fikri memukul lembut kening sang putri.

"Ayah masih mampu, Sayang. Emang Ayah sudah setua itu kah, hm?" gemas Ayah Fikri.

Aira menyengir, lalu memeluk lebih erat tubuh tegap sang ayah.

"Ya udah, Yah. Aira nitipin cucu-cucu Ayah di sini dulu ya, hee."

"Sayang, biarin Ayah duduk du..."

"Gak apa-apa, Zam," kata Ayah Fikri tenang.

"Oh ya, Mas, jam penerbangannya kapan ya?" tanya Aira saat mereka berdua sudah duduk di sofa.

Azam melirik sekilas jam tangannya.

"Jam sembilan, Sayang," jawab Azam santai.

Aira melotot.

"Ap... apa? Jam sembilan? Yah, kita telat dong!" kata Aira kecewa karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

"Masih ada waktu, Sayang," kata Azam.

"Ya udah, Yah. Kalau gitu Aira berangkat dulu ya. Makanan dan vitamin Momo ada di tas ini."

Setelah berpamitan dan melewati drama sedih karena tak tega meninggalkan Momo dan Coco, akhirnya mereka tiba di bandara tepat pukul sembilan malam.

1
Redmi
Lanjutkan 😎
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍🙏
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut 👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Lanjut👍
Saddam Husein
lanjut👍
Saddam Husein
Semangat terus kak 😎👍
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
hubungan sama orang tua atau saudara terasa asik biasanya kebanyakan kn nya fokus ke pemeran utama yg ini nih asikkkk gokil /Drool//Joyful//CoolGuy/
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
Tempat resep ide jajanan Sekolahan
Mantap gw yg cowo aja ngakak bca nya 🤣😄
Adiba Azahra
Wah, terima kasih banyak, Kak! 😍 Semoga makin baper ke depannya, ya. Ikuti terus kelanjutan ceritanya! 🔥🚀
Ridwan Hasan: Dari judul nya udah nyesek 🙏 Bagus kak semangat siap menyemak 👍
total 3 replies
Redmi
Lanjuttttttttttt 😍
Redmi
Aaaa ikut baper 😍🙏
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍
Redmi
Lanjut kak Bagus
Adiba Azahra: Terima kasih banyak, Kak! 🥰 Ditunggu kelanjutannya, ya, secepatnya! 🚀🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!