Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Malam telah melarut pasrah di bawah kungkungan langit Los Angeles yang pekat.
Jarum jam di pergelangan tangan Scarlett sudah merayap hampir menunjukkan pukul sebelas malam ketika keriuhan pesta di area depan mansion berangsur-angsur mereda, meninggalkan kepulan asap knalpot dan sisa-sisa arogansi kaum jetset yang mulai jenuh.
Di ruang dapur belakang yang sunyi, Scarlett merapikan apron hitamnya, lalu menatap Cristine yang tengah sibuk mencatat daftar gelas kristal yang tersisa.
“Ibu, taksi yang kupesan lewat telepon umum tadi sudah menunggu di depan gerbang belakang,” bisik Scarlett, mendekat dengan langkah pelan agar tidak mengganggu pekerja lain.
“Aku izin pulang lebih dulu ya, Bu? Besok pagi-pagi sekali aku ada ujian sastra.”
Cristine menghentikan kegiatannya sejenak, menatap wajah anak tirinya dengan binar mata penuh kasih sayang yang tulus.
“Baik, hati-hati di jalan, Sayang. Kunci pintu depan rapat-rapat setelah kamu sampai di rumah, ya.”
Scarlett mengangguk patuh. Ia bergegas menuju ruang ganti pelayan, menanggalkan seragam hitam-putihnya, dan kembali mengenakan pakaian kasualnya sendiri—sebuah celana jins ketat tinggi dan kemeja flanel kebesaran yang ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri.
Sebelum melangkahkan kaki keluar melalui pintu belakang yang temaram, seorang juru masak senior yang iba melihatnya memberinya sebuah kotak kertas kecil berisi beberapa potong kue tar mini sisa dekorasi pesta yang terlihat sangat menggiurkan.
Menenteng kotak kue itu, Scarlett melangkah membelah jalan setapak taman belakang yang hanya diterangi lampu-lampu dinding tembaga.
Suasana malam yang dingin membuat ujung hidungnya memerah, namun suasana hatinya cukup baik. Ia sesekali bersenandung kecil, memikirkan rasa manis kue tar yang akan memanjakan lidahnya sebelum tidur.
Tepat di balik pintu gerbang besi belakang yang sunyi, siluet mobil sedan taksi kuning yang ia pesan sudah terlihat di jalanan sepi.
Namun, tepat ketika jemari Scarlett baru saja terulur untuk membuka gagang pintu taksi tersebut, sebuah cengkeraman tangan yang luar biasa kokoh mendadak mampir di pergelangan lengannya.
Sentakan itu begitu kuat dan tiba-tiba, menarik paksa tubuh semampainya hingga berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang.
“Hey, lepaskan! Kau siapa, hah?!” pekik Scarlett lantang, nyaris menjatuhkan kotak kuenya ke atas aspal.
Napasnya memburu karena terkejut. Namun, begitu manik matanya menangkap siluet tinggi besar yang berdiri tegak di bawah pendar lampu jalan yang kekuningan, pupil matanya melebar sempurna.
Sepasang mata ganjil dengan dua warna berbeda yang berkilat dingin di kegelapan langsung menyapa pandangannya.
“Wah, bajingan brengsek!!” sembur Scarlett seketika, rasa takutnya langsung menguap berganti kejengkelan yang menyalak.
“Kau ternyata sengaja menungguku di sini?”
“Masuk!” perintah Millian Vale-Knight pendek, menyentakkan dagunya ke arah pintu mobil sport hitam-abu-abu miliknya yang terparkir angkuh tak jauh di belakang tubuhnya, menghalangi laju taksi kuning tersebut.
Scarlett seketika terdiam.
Lidahnya mendadak kelu saat pandangannya jatuh pada bodi mobil sport mewah bernilai jutaan dolar yang berkilau di bawah temaram malam.
Demi Tuhan, jauh di dalam lubuk hatinya, Scarlett merasa gugup setengah mati.
Jantungnya bertalu-talu tak keruan.
Sebagai seorang gadis miskin yang terbiasa hidup dalam keprihatinan di San Marino, tentu saja ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya di mana ia berada sedekat ini, bahkan nyaris dipaksa menyentuh dan menaiki kendaraan yang biasanya hanya bisa ia lihat melintas cepat di jalan raya atau di halaman majalah otomotif mahal.
Ada rasa asing yang mengintimidasi egonya.
Namun, harga diri seorang Scarlett Langford bukanlah barang murah yang bisa dibeli dengan kilau bodi mobil mewah.
Ia menelan kegugupannya bulat-bulat, mengeraskan rahangnya untuk menyembunyikan bagaimana kondisi batinnya yang sebenarnya sedang bergolak gemetar.
“Tidak!” jawab Scarlett kemudian, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan pose menantang yang amat kentara.
“Aku tidak sudi menaiki mobilmu yang penuh dengan tumpangan wanita murahan. Aku bukan wanita seperti itu yang bisa kau perintah hanya dengan pamer kemewahan. Cari saja mangsamu yang lain!”
Mendengar tuduhan itu dilayangkan lurus ke wajahnya, Millian Vale-Knight langsung menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman sinis yang sarat akan rasa tidak percaya.
Ia mendengus geli, namun matanya memancarkan kilat berbahaya.
“Apa kau bilang? Kau pikir aku pria apaan, hah?” sahut Millian, merendahkan oktaf suaranya namun justru terdengar jauh lebih mengancam.
“Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Nona Pelayan. Aku menarik mu ke sini bukan karena aku tertarik padamu, tapi karena kau sudah berani menghina diriku di depan umum tadi. Kau benar-benar tidak tahu siapa aku yang sebenarnya.”
“Aku tahu siapa kau!” potong Scarlett dengan cepat, membalas tatapan Millian tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
“Kau hanya pria songong, sombong, berkepala batu bernama Yang! Tidak usah repot-repot memperkenalkan dirimu lagi karena aku sama sekali tidak berminat mendengarnya.”
Demi seluruh kekayaan keluarga Vale-Knight, Millian merasa hatinya bergolak oleh rasa jengkel yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Seluruh urat di pelipisnya seakan menegang.
Bagaimana mungkin gadis pelayan berstatus sosial rendah ini dengan begitu entengnya memanggil dirinya—seorang pemuda yang paling ditakuti sekaligus dipuja di seantero Los Angeles—hanya dengan sebutan 'pria songong bernama Yang'?
Panggilan kecil yang sakral dan hanya boleh diucapkan oleh lingkaran keluarga terdekatnya, kini terdengar seperti sebuah ejekan murahan di bibir gadis miskin ini.
Rasa frustrasi dan amarah berbaur menjadi satu di dada Millian, membuatnya merasa sangat gemas ingin sekali membungkam bibir lancang tersebut.
Millian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan egonya yang baru saja diinjak-injak.
Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Scarlett bisa mencium aroma parfum mahal yang maskulin dari tubuh pemuda itu.
“Dengar baik-baik, Pelayan Lancang,” ucap Millian dengan penekanan di setiap kata.
“Aku adalah Millian Vale-Knight. Dan pelayan miskin sepertimu harusnya merasa bangga dan bersujud syukur karena aku sudi menurunkan derajatku untuk mengajakmu berbicara malam ini.”
“Pfhhhhh!”
Mendengar pengakuan itu meluncur dari mulut Millian, Scarlett justru tidak mampu menahan diri.
Sebuah tawa ejekan yang keras meledak dari bibirnya, terdengar sangat lepas dan tanpa beban di kesunyian malam.
Ia memegangi perutnya seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini.
“Sombong!” cetus Scarlett dengan cepat setelah tawanya mereda, menatap Millian dengan pandangan meremehkan yang amat kentara.
“Lalu kau mau apa sekarang? Kau ingin menuntut ku ke pengadilan hanya karena aku berkata jujur? Dengar ya, kau pria kaya penyembah ego... kau ini tidak lebih dari seorang Millian Vale-Knight palsu! Kau pikir kau bisa membodohi ku dengan mengaku-ngaku sebagai pria bad boy legendaris itu? Halu sekali dirimu!”
Millian membeku di tempatnya berdiri, matanya berkedip tidak percaya.
Palsu? Dia menyebutku palsu? batin Millian dengan rasa jengkel yang kini sudah mencapai ubun-ubun.
“Menyingkir dariku!” lanjut Scarlett lagi, mendorong bahu kokoh Millian dengan tangan kirinya yang bebas.
“Saat ini aku bukan pelayan di dalam pesta itu. Aku adalah Scarlett Langford. Jam kerjaku sudah habis, jadi jangan berani-berani menindas rakyat lemah sepertiku menggunakan pengaruh uangmu!”
Scarlett kemudian membalikkan badannya dengan cepat, hendak menuju ke arah taksi kuning yang tadi menunggunya.
Namun, begitu ia mengedarkan pandangan ke jalanan sepi di depannya, ia mendadak tertegun.
Jalanan itu kosong melompong. Taksi kuning yang ia pesan telah lenyap tanpa bekas.
“What... mana taksinya?” gumam Scarlett dengan ekspresi bingung yang seketika menggantikan wajah angkuhnya.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik.
Sopir taksi itu rupanya telah kabur setelah melihat mobil sport mewah Millian sengaja melintang memblokir jalan, ditambah dengan adegan penarikan paksa yang terlihat seperti pertikaian kelas berat.
Wajah Scarlett seketika memerah padam karena amarah. Ia berbalik dan menunjuk wajah tampan Millian dengan jarinya yang bergetar.
“Wah, sialan! Ini semua gara-gara kau, Brengsek! Kau benar-benar merusak malamku! Bagaimana caranya aku pulang ke San Marino jam segini, hah?!”
Melihat kepanikan gadis itu, rasa jengkel di dada Millian mendadak bertukar menjadi sebuah kepuasan tersendiri.
Ia menyandarkan punggungnya pada pintu mobil sport-nya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan seringai sinis yang sangat menyebalkan.
Dengan nada suara yang dibuat acuh tak acuh, Millian berucap lambat, “Butuh tumpangan, Nona? Tapi sepertinya... wanita yang menumpang di mobil mewahku ini adalah wanita murahan, bukan begitu, Nona Langford?”
Mendengar sindiran tajam yang keluar dari bibir tipis Millian, seluruh darah di tubuh Scarlett seakan mendidih hingga ke ubun-ubun.
Kalimat pria itu tidak hanya merendahkan harga dirinya, tetapi juga mempermainkan situasi sulit yang sengaja diciptakannya.
Ditambah lagi, taksi kuning yang menjadi satu-satunya harapan Scarlett untuk pulang ke rumah kini telah lenyap dari pandangan akibat ulah intimidasi pemuda borjuis ini.
Namun, Ego Scarlett yang setinggi langit menolak keras untuk tunduk, apalagi memohon belas kasihan di hadapan pria yang dianggapnya sebagai perwujudan dari segala hal yang memuakkan di dunia ini.
Rasa panik, lelah setelah bekerja paruh waktu, dan amarah yang menumpuk instan melebur menjadi satu tindakan nekat yang impulsif.
Tanpa berpikir dua kali, Scarlett menurunkan tangannya dengan cepat.
Jemarinya mencengkeram kotak kertas kecil yang sedari tadi dipegangnya erat-erat. Dengan gerakan yang luar biasa gesit dan penuh tenaga, ia membuka penutup kotak itu, mengeluarkan beberapa potong kue tar mini sisa dekorasi pesta yang berlumuran krim putih tebal, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah bodi mobil sport mewah yang terparkir angkuh di hadapannya.
Brak!!
Potongan-potongan kue tar berlumur selai stroberi dan krim kental itu mendarat telak di bagian kap mesin depan mobil hitam-abu-abu bernilai jutaan dolar tersebut.
Sisa-sisa krimnya hancur berantakan, mencoreng permukaan cat mobil yang mengilat sempurna, bahkan sebagian spons kue yang basah menempel di kaca depan, meninggalkan jejak noda lengket yang sangat kontras.
“Oh, shit! Apa yang kau lakukan, gadis gila?!” pekik Millian seketika, matanya melebar sempurna menatap noda mengerikan yang kini menghias mobil kesayangannya.
Seringai sinis di wajah tampannya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi syok dan murka yang luar biasa.
Ia melangkah maju dengan cepat, memeriksa kap mesinnya seolah-olah baru saja dihantam peluru kendali.
“Kau mengotori mobil mewahku! Apa kau tahu berapa harga cat modifikasi mobil ini, hah?!”
“Rasakan itu, dasar sombong!” balas Scarlett dengan teriakan yang tidak kalah lantang, menunjuk wajah Millian dengan dagu yang terangkat menantang.
Kedua matanya menyalang puas melihat kehancuran estetika kendaraan magis yang diagung-agungkan pemuda itu.
“Gara-gara kau, aku kehilangan taksiku! Gara-gara keangkuhanmu yang merasa memiliki jalanan ini, aku terlantar di sini! Anggap saja itu setimpal karena kau sudah berani merusak malamku, Tuan Kaya sombong!”
Millian mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu menahan gejolak amarah yang luar biasa.
Selama dua puluh tahun hidupnya, belum pernah ada satu orang pun yang berani menyentuh mobilnya dengan kasar, apalagi melempari kendaraan tersebut dengan kue murahan sisa pesta.
Gadis di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki rasa takut, sebuah anomali yang membuat Millian merasa sangat gemas sekaligus murka di bawah temaram malam Los Angeles.
Millian Vale-Knight
Scarlett Langford
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣