NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Setelah percakapan singkat di teras luar selesai, Mayor Adnan pun berpamitan untuk bergegas kembali ke markas karena masih ada tugas medis yang menanti. Rahma mengantar sang Mayor sampai ke depan pagar sebelum akhirnya segera kembali masuk ke dalam rumah.

Ia melangkah masuk ke kamar utama dan mendapati Sakti masih setia menatapnya dengan pandangan menyelidik yang tampak dongkol.

"Kak, Kakak tunggu di sini sejenak, ya. Rahma mau ke dapur dulu untuk membuatkan sarapan bubur ayam biar lambung Kakak tidak kaget," ujar Rahma lembut, mencoba mencairkan ketegangan suaminya.

Sakti tidak banyak bicara. Ia hanya mendengus pelan sebagai jawaban, meskipun di dalam hatinya masih diselimuti rasa penasaran dan cemburu yang mengganjal akibat keakraban Rahma dengan Mayor Adnan tadi.

Sambil menunggu bubur matang, Sakti sebenarnya sudah tidak betah berlama-lama berbaring di atas tempat tidur. Sebagai seorang prajurit yang terbiasa aktif, diam tak berdaya seperti ini adalah sebuah siksaan. Namun apa daya, begitu ia mencoba mengangkat badannya, seluruh persendian tubuhnya terasa sangat sakit dan tak bertenaga. Sakti mendengus kesal, merutuki kondisi fisiknya yang mendadak ringkih.

Tak lama kemudian, aroma gurih kaldu ayam mulai menguar. Bubur buatan Rahma telah matang sempurna. Dengan telaten, Rahma menuangkan bubur tersebut ke dalam mangkuk dan membawanya ke kamar beserta segelas air putih dan obat-obatan dari Mayor Adnan.

Melihat raut wajah Sakti yang masih saja ditekuk kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, Rahma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya maklum.

"Kak, sehari saja Kakak diam di situ dan gak kemana-mana. Kalau ingin cepat sembuh, Kakak harus nurut sama apa kata Dokter Adnan," omel Rahma pelan sambil mendudukkan diri di tepi ranjang, tepat di samping suaminya.

Sakti akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Kali ini egonya harus mengalah pada tubuhnya sendiri yang memang terasa seperti kehilangan seluruh tenaganya, seolah-olah energinya telah terkuras habis tanpa sisa.

Rahma meraih mangkuk, lalu menyendok sedikit bubur yang masih mengepulkan uap panas itu. Ia mendekatkannya ke bibirnya sendiri, lalu meniupnya perlahan dengan penuh perasaan agar tidak terlalu panas saat disuapkan nanti.

Fyuhh... Fyuhh...

Gerakan bibir Rahma yang sedang meniup bubur itu entah bagaimana langsung memicu memorinya Sakti. Otaknya mendadak memutar kembali momen manis di dapur semalam, di mana aksi tiup-meniup mata yang perih itu justru berakhir pada sebuah insiden ciuman panas yang mendebarkan.

Deg!

Sakti langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha keras mengusir bayangan sensual itu dari kepalanya agar tidak makin salah tingkah.

"Buka mulutnya, Kak... Biar setelah ini Kakak bisa langsung meminum obat," ucap Rahma membuyarkan lamunan suaminya, menyodorkan sendok ke depan bibirnya Sakti.

Melihat sendok di depan matanya, gengsi Sakti kembali berontak. "Aku bisa makan sendiri, Rahma... Tidak usah kau suapi seperti anak kecil," balas Sakti dengan nada yang sedikit ketus.

Sakti kemudian mengulurkan tangan kanannya yang gemetar, berniat meraih sendok dari genggaman Rahma. Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang sendok, tangannya mendadak lemas dan bergetar hebat hingga nyaris menumpahkan isi bubur. Menyadari tenaganya benar-benar nol besar pagi ini, Sakti akhirnya memilih menyerah kalah. Ia menarik kembali tangannya, mendengus pasrah, lalu membuka mulutnya membiarkan Rahma menyuapinya.

Melihat tingkah laku suaminya yang keras kepala namun berakhir pasrah tersebut, Rahma sempat tersenyum geli. Ia harus sekuat tenaga menahan tawa agar tidak menyembur di depan wajah sang suami.

'Kak Sakti kalau lagi sakit dan marah-marah begini ternyata lucu juga, ya. Bukannya kelihatan seram seperti singa, malah mirip anak kucing yang lagi mogok makan,' batin Rahma riang dalam hati, merasa gemas sendiri dengan sisi lain suaminya.

Berkat ketelatenan Rahma, tidak butuh waktu lama, bubur ayam itu telah ludes tak bersisa. Di dalam hatinya, Sakti diam-diam memberikan pujian dan merasa salut, di luar dugaan, rasa bubur buatan istrinya yang masih berstatus mahasiswi ini sangat enak dan pas di lidahnya.

"Nah, sudah habis. Sekarang Kakak minum obatnya ya," ujar Rahma setelah menyuapkan sendok terakhir dan membantu Sakti meminum obatnya.

Setelah memastikan suaminya kembali berbaring dengan nyaman, Rahma segera merapikan mangkuk kosong tersebut dan bergegas pergi kembali ke dapur untuk mencuci piring, meninggalkan Sakti yang mulai memejamkan matanya karena pengaruh kantuk dari obat yang baru saja bereaksi.

Efek obat penurun demam dari Mayor Adnan bereaksi dengan sangat cepat. Tak lama setelah menghabiskan buburnya, kelopak matanya Sakti mulai terasa berat hingga akhirnya sang Kapten tertidur pulas.

Rahma tidak mau berdiam diri begitu saja. Sembari membiarkan suaminya beristirahat, ia mulai bergerak merapikan seisi rumah dinas dan melanjutkan memasak menu sup ayam untuk makan siang. Sekitar pukul sebelas siang, Rahma sudah mandi dan berganti pakaian dengan penampilan yang sederhana namun tetap rapi. Ia kemudian duduk di kursi ruang tamu, membuka laptop, dan mulai mencicil tugas kuliahnya yang menumpuk dari Profesor Asha.

Di tengah-tengah mengetik, gerakan jemari Rahma mendadak terhenti. Ia teringat akan obrolan singkatnya dengan Mayor Adnan di teras rumah tadi pagi.

'Tak kusangka, ternyata Dokter Adnan sudah tiga bulan ini diam-diam mengincar Profesor Asha. Cukup sulit dan menantang sih mendekati Profesor yang super dingin dan perfeksionis seperti beliau. Semoga saja Dokter Adnan bisa mencairkan hatinya yang membeku itu,' batin Rahma senyum-senyum sendiri, sebelum akhirnya kembali fokus pada layar laptopnya.

Sebenarnya, di dalam kamar, Sakti sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Merasa kondisinya jauh lebih mendingan dan tidak mau terus-menerus merepotkan istrinya, Sakti mencoba memposisikan tubuhnya untuk duduk di sisi ranjang. Harus ia akui, obat racikan Mayor Adnan memang sangat ampuh.

Selepas azan zuhur berkumandang, Rahma menyudahi tugasnya dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Di dalam kamar, Sakti sedang asyik mengusir bosan dengan memainkan game Mobile Legends di ponselnya. Namun, keseruannya terhenti seketika saat pintu kamar terbuka dan Rahma muncul membawa nampan berisi semangkuk sup ayam yang aromanya begitu menggugah selera.

"Makan siang dulu ya, Kak. Habis ini Kakak harus minum obat lagi. Sepertinya obat dari Dokter Adnan langsung mujarab, wajah Kakak sudah tidak sepucat tadi pagi," ujar Rahma perhatian.

Mendengar kata 'obat', raut wajah Sakti langsung berubah masam. "Itu sebabnya aku tidak mau meminum obatnya lagi. Malah bikin kepalaku pusing dan mual saja!"

Rahma langsung terdiam sejenak, menghembuskan napas berat. Sikap keras kepala dan ogah minum obat suaminya ini mulai kumat lagi. Sungguh merepotkan.

"Pokoknya harus tetap diminum obatnya, Kak! Aku tidak mau tahu, pokoknya harus sembuh!" balas Rahma jengkel.

Sakti yang sedang malas berdebat akhirnya memilih diam. Ia menerima mangkuk tersebut lalu memakan sup ayam dan nasi putih itu seorang diri hingga tandas tanpa perlu disuapi lagi. Setelah selesai, Rahma meletakkan mangkuk kosong di atas lemari nakas, lalu duduk di samping Sakti sembari menyodorkan sebutir kapsul obat.

"Nah, sekarang Kakak minum obatnya."

Sakti dengan cepat menepis pelan tangan Rahma. "Aku bilang tidak mau, Rahma. Kau jangan memaksaku!"

"Pokoknya Kakak harus minum! Aku tidak mau tahu!" balas Rahma tak mau kalah, menyodorkan kembali obat itu ke depan wajahnya Sakti.

Sakti mendengus kesal. Kehilangan selera untuk berbaring, ia mulai bergerak beranjak dari tempat duduknya hendak berdiri. Sikap acuh tersebut membuat Rahma benar-benar geram. Rahma yang masih memegang kapsul obat terus memposisikan tubuhnya menghalangi dan memaksa Sakti.

Hingga pada satu titik, Sakti yang dasarnya sedang didera rasa kesal, pusing, ditambah letupan cemburu terpendam akibat kedekatan Rahma dengan Mayor Adnan tadi pagi, mendadak kehilangan kesabarannya. Dengan sekali sentakan, Sakti justru mendorong tubuh Rahma ke belakang hingga terjatuh di atas kasur.

"Kyaaa!"

Gedebugh!

Rahma jatuh terlentang di atas kasur empuk itu. Belum sempat ia menguasai rasa terkejutnya, Sakti dengan berani ikut menjatuhkan diri dan langsung menindih tubuh mungil istrinya. Rasa cemburu yang membuncah sejak pagi tadi seolah mendapatkan pelampiasannya sekarang.

"Kalau kau masih saja terus memaksaku, aku akan memberikan hukuman yang sama seperti semalam!" ancam Sakti tak main-main. Sorot matanya menatap tajam, dipenuhi amarah dan emosi yang sudah melambung tinggi.

Rahma seketika melotot, jantungnya mencelos tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan dan dilakukan oleh suaminya. "Kakak... jangan gi...!"

Belum sempat Rahma menyelesaikan kalimatnya, Sakti sudah menundukkan kepalanya dan melum4t habis bibir sang istri dengan kasar. Rahma terbelalak sempurna, syok setengah mati. Kedua tangannya yang terhimpit terus saja memukul-mukul dada bidangnya Sakti untuk memberontak, namun kekuatan sang Kapten jauh di atasnya. Sakti dengan rakus terus mem4gut bibirnya Rahma, menyalurkan seluruh rasa dongkol dan ego perwiranya.

Kesal, takut, dan merasa tidak dihargai, Rahma akhirnya nekat mengambil tindakan ekstrim. Saat tautan mereka semakin dalam, Rahma menyentakkan rahangnya dan menggigit kuat-kuat bibir bagian bawahnya Sakti.

"Aaaarrrkkkhhhh...!"

Sakti berteriak histeris, langsung menarik tubuhnya menjauh sambil memegangi bibirnya yang terasa perih luar biasa.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Rahma. Ia buru-buru bangkit dari atas tempat tidur, membetulkan letak jilbabnya yang sudah merosot, lalu menatap Sakti dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.

"Kak Sakti menyebalkan...!" pekik Rahma emosi, lalu berlari keluar dari kamar sambil menyeka air matanya.

Sakti yang terduduk di kasur seketika tersadar dari amarahnya. Rasa bersalah langsung menghantam dadanya begitu melihat air mata istrinya tumpah. Apalagi saat ia menyentuh bibirnya, jarinya ternoda oleh darah segar akibat gigitan Rahma tadi.

Tanpa memikirkan penampilannya, Sakti bergegas bangkit dan berlari keluar kamar untuk menyusul istrinya. "Rahma, tunggu! Aku... aku khilaf!" seru Sakti panik begitu melangkah ke ruang tamu.

Namun, langkah kaki Sakti seketika terkunci rapat di ambang pintu ruang tamu. Jantungnya serasa berhenti berdetak.

Di sana, di dekat pintu depan yang terbuka, Rahma ternyata tidak sendiri. Salma, sahabat sekaligus adik bungsunya Sakti, baru saja tiba dan sedang berdiri mematung di sana. Salma terbelalak syok, menatap bergantian ke arah Rahma yang wajahnya basah oleh air mata dengan rambut yang tampak sedikit berantakan mencuat dari jilbabnya yang acak-acakan, lalu beralih menatap Sakti yang berdiri linglung dengan sudut bibirnya yang masih mengalirkan darah segar.

Suasana ruang tamu seketika hening mencekam, menyisakan rahasia memalukan yang baru saja tertangkap basah di siang bolong.

Bersambung...

1
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Anonim
😍😍😍😍
Ilfa Yarni
akhirnya cemburu jg km sakti mknya jgn sok jual mahal pdhl suka mantan terburuk malah difikiran yg sempurna didpn mata dianggurin
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju Bunda 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!