Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : Teror Malam Jumat Kliwon
Keheningan malam Jumat Kliwon di kawasan pemukiman tempat tinggal Dedi mendadak terasa sangat mencekam. Jarum jam dinding di dalam kamar utama baru saja melewati angka dua belas malam. Hujan deras yang mengguyur sejak sore telah reda, meninggalkan udara malam yang sangat dingin dan kabut tipis yang menyelimuti kaca jendela. Dedi terbaring memejamkan mata dengan hati yang damai, mengunci ketenangan batinnya. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
GEBBAAAKKK!
Sebuah suara hantaman keras yang terdengar seperti segenggam pasir dan kerikil berukuran besar dilemparkan dengan kekuatan penuh, mendadak terdengar menggema dari arah atap seng rumah Dedi. Suara ledakan misterius itu begitu nyaring, memecah kesunyian malam dan membuat seisi ruangan bergetar halus.
Maya yang sedang tertidur lelap di samping Dedi seketika tersentak bangun dengan jantung yang berdebar liar ketakutan. "Mas! Mas Dedi bangun, Mas!" pekik Maya, suaranya gemetar sembari menarik kasar lengan kaos suaminya. "Suara apa itu tadi di atas atap?! Kayak ada yang melempar batu besar!"
Dedi perlahan membuka kedua kelopak matanya, tetap mempertahankan keteguhan hatinya. Belum sempat ia menenangkan istrinya, sebuah aroma yang sangat busuk dan anyir darah mendadak menguat tajam menyengat hidung, menembus celah-celah pintu kamar mereka. Bau busuk itu begitu pekat, menyerupai aroma bangkai binatang yang telah membusuk berhari-hari di dalam ruang hampa.
"Aduh, Mas! Bau apa ini?! Kok busuk banget?!" Maya langsung menutup hidung dan mulutnya dengan ujung selimut, matanya mulai bergerak liar menatap ke sekeliling sudut kamar yang remang-remang dengan raut wajah penuh ketakutan akut.
Gelombang energi hitam yang ditampilkan oleh Ki Demang menggunakan botol minyak mistis merah sore tadi bener-bener telah mendarat sempurna, mengunci rumah tinggal mereka sebagai medan pertempuran mistis yang baru. Target utamanya bukanlah fisik Dedi, melainkan mental Maya yang selama ini dikenal paling rapuh dan mudah diguncang rasa panik.
Sreeekkk... sreeekkk...
Suara gesekan halus mirip kuku binatang yang tajam sedang mencakar-cakar permukaan kaca jendela kamar luar terdengar sangat konstan. Maya yang penasaran sekaligus ketakutan, reflek mengalihkan pandangan matanya ke arah gorden jendela yang sedikit tersingkap. Tepat di balik kaca jendela yang berkabut malam, sebuah visualisasi bayangan hitam legam berukuran raksasa menyerupai kepala seekor kuda berambut panjang dengan sepasang mata yang menyala merah darah, tampak sedang menempel lekat, menatap lurus ke arah posisi duduk Maya.
"AAAARRRGGGHHH! MAS! ADA SETAN DI JENDELA, MAS!"
Maya menjerit histeris dengan suara melengking tinggi, menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan sambil menangis sejadi-jadinya. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar hebat laksana orang yang sedang dihantam demam akut, merangkak mundur hingga menyudut di sudut kasur karena ketakutan setengah mati melihat penampakan khodam tingkat tinggi milik sang dukun Jaran Goyang.
Dedi dengan sigap langsung memeluk erat tubuh istrinya, mencoba menyalurkan hawa sejuk yang ada di dalam batinnya. Batinnya yang tenang tetap terjaga kokoh. Di dalam aliran darahnya, sisa energi pembersihan dari Bagus bekerja otomatis membentengi sistem saraf kepalanya dari gempuran rasa panik. Dedi memejamkan mata, mulai membaca ayat-ayat suci pelindung diri yang ia hafal dengan nada suara yang sangat tenang dan dalam.
Ajaibnya, begitu untaian ayat suci itu meluncur dari bibir Dedi, bayangan kepala kuda bermata merah di balik kaca jendela perlahan-lahan mulai memudar dan bergerak mundur menjauh, meskipun suara hantaman pasir di atas atap rumah mereka masih terdengar berulang kali berbunyi kasar hingga fajar Subuh menjelang.
Keesokan paginya, kondisi mental Maya bener-bener telah runtuh total. Wanita yang biasanya selalu tampil ketus dan hobi mencaci maki suaminya itu kini hanya bisa duduk bersandar di sofa ruang tamu dengan wajah pucat pasi, pandangan mata kosong, dan seluruh tubuh yang lemas tak berdaya akibat teror mistis semalam. Sistem saraf batinnya bener-bener telah cacat diguncang ketakutan gaib.
Dedi yang tidak tega melihat penderitaan istrinya, langsung mengambil ponsel pintarnya dari dalam saku kemeja. Tidak ada nama lain yang terlintas di dalam benaknya selain sosok driver ojol bersahaja yang telah menyelamatkannya di warung kopi tempo hari. Dengan jari yang sedikit gemetar menahan rasa cemas yang mendalam, Dedi segera menekan nomor kontak Bagus secara darurat untuk meminta pertolongan jalur langit sebelum teror malam berikutnya kembali datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka seutuhnya.
“Ketika kegelapan mulai memindahkan medan pertempurannya untuk meneror batin orang-orang terdekatmu yang paling rapuh, jangan pernah biarkan sistem sarafmu ikut tenggelam dalam kepanikan. Kunci keteguhan imanmu, karena setiap umpan ketakutan gaib yang ditiupkan oleh dendam nafsu, hanya akan bisa diredakan oleh pancaran ketenangan jiwa yang kokoh berlindung di bawah naungan takdir Tuhan.”
— Sang Alifas Yang Merumput