Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Hujan Peluru di Perbukitan Medellin
...Suara deru peluru yang menghantam bodi SUV lapis baja itu terdengar seperti irama mesin jahit yang rusak namun mematikan. ...
...Logam beradu dengan timah panas, menghasilkan percikan api dan dentuman yang membuat udara di dalam kabin terasa bergetar hebat. ...
...Kaca antipeluru di sisi pengemudi retak seribu, membentuk pola sarang laba-laba yang menutupi pandangan, namun struktur bajanya masih menahan laju peluru kaliber tinggi yang ditembakkan oleh musuh dari ketinggian perbukitan....
...Di dalam, suasananya jauh lebih mencekam. ...
...Larissa Moretti, yang tadinya terlelap dengan tenang di bahu Gavin, kini tersungkur di lantai mobil yang dingin. ...
...Gavin Kingsley telah menyeretnya dengan paksa ke ruang sempit di bawah dashboard yang dilapisi plat baja tebal, titik paling aman di seluruh kendaraan itu....
..."Tetap di bawah! Jangan angkat kepalamu sedikit pun!" bentak Gavin. ...
...Suara baritonnya kini tidak lagi mengandung keraguan....
...Di luar, kekacauan terjadi. ...
...Dua mobil pengawal lainnya telah kehilangan formasi. ...
...Salah satu mobil sudah terbalik setelah terkena lemparan granat rakitan, sementara pengawal yang tersisa terjebak dalam rasa panik luar biasa. ...
...Mereka berteriak-teriak lewat radio yang berisik, kehilangan arah, dan menjadi sasaran empuk bagi penembak jitu Tarantula yang bersembunyi di balik rerimbunan pohon cemara di lereng bukit....
...Namun, di tengah hiruk-pikuk kematian itu, Gavin tetap tenang. ...
...Matanya yang biru cerah berkilat dingin, menatap ke sekeliling dengan perhitungan yang presisi. ...
...Dia sedang menghitung jumlah tembakan musuh, menentukan posisi penembak jitu, dan menganalisis jalur pelarian yang paling aman....
...Larissa, yang didorong oleh rasa penasaran yang tak tertahankan mencoba sedikit mengangkat kepala untuk mengintip situasi di luar. ...
...Dia ingin tahu siapa yang berani menyerang mereka dengan begitu brutal....
...Seketika, tangan kekar Gavin menyambar tengkuk Larissa, menekannya kembali ke lantai baja dengan gerakan yang cepat namun tak kasar....
..."Sudah kubilang diam di bawah!" bentak Gavin....
... Suaranya melengking tajam, penuh frustrasi dan kecemasan yang mendalam....
... "Kalau kepalamu berlubang, aku tidak sudi membersihkan otakmu dari karpet mobil ini! Mengerti?!"...
...Jari-jari pria itu, jari-jari yang biasanya sekeras baja kini tampak gemetar halus. ...
...Bukan karena takut akan kematian, melainkan karena rasa horor jika membayangkan sesuatu yang buruk menimpa gadis di bawahnya. ...
...Dia menyembunyikan ketakutan terbesarnya di balik kemarahan dan bentakan kasar....
...Larissa terdiam, napasnya memburu....
... Dia bisa merasakan getaran dari tubuh Gavin yang menempel di atasnya. ...
...Pria ini sedang bertaruh nyawa, bukan untuk melindungi "aset" atau "tugas", tetapi karena perasaan posesif yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata....
..."Gavin..." bisik Larissa, suaranya kini melunak....
... "Kenapa kau melakukan semua ini untukku? Kau bisa saja pergi. Kau punya kemampuan untuk melarikan diri sendirian. Kau tidak perlu mati untukku."...
...Gavin tidak menoleh. ...
...Dia selesai memasukkan magasin dan menarik slide pistolnya dengan suara klik yang memuaskan. ...
..."Siapa yang bilang aku akan mati?" desisnya dingin....
...Gavin melirik ke arah kaca spion yang pecah. ...
...Dia melihat bayangan tiga pria bersenjata yang mulai turun dari perbukitan, berniat untuk menyudahi perlawanan mereka dengan tembakan jarak dekat....
... Waktu mereka tidak banyak....
... Jika dia tetap bertahan di dalam mobil, mereka akan segera dipanggang hidup-hidup oleh bom molotov yang pasti akan segera dilemparkan oleh musuh....
..."Dengar," kata Gavin, nadanya kini tenang namun mengancam....
... "Saat aku keluar, mereka akan teralihkan padaku. Aku akan menarik perhatian mereka ke sisi kanan. Saat aku memberi aba-aba, kau pindah ke kursi pengemudi. Mobil ini masih bisa dijalankan. Injak pedal gas sampai ke lantai dan jangan berhenti sampai kau melihat gerbang vila di puncak bukit.Paham?"...
..."Gavin, jangan!" Larissa berusaha meraih lengan Gavin, namun pria itu sudah lebih dulu bergerak....
...Dengan satu tarikan napas, Gavin Kingsley membuka pintu mobil yang bergerak perlahan karena sisa dorongan momentum tadi....
... Tanpa ragu, dia melemparkan tubuhnya keluar ke arah semak-semak belukar yang kasar. ...
...Dia berguling di atas tanah berbatu, memanfaatkan momentum itu untuk langsung berada dalam posisi menembak yang sempurna....
...DOR! ...
...DOR! ...
...DOR!...
...Tiga tembakan presisi dari pistol Gavin meletus....
... Dalam hitungan detik, tiga pria bersenjata yang sedang mendekat ke arah mobil tersungkur ke tanah dengan lubang peluru tepat di antara mata mereka. ...
...Tembakan itu mengerikan, tidak ada peluru yang terbuang, tidak ada keraguan dalam gerakannya....
...Gavin berdiri di tengah hujan peluru, sama sekali tidak mencari perlindungan di balik pohon. ...
...Dia menjadi pusat perhatian, menari di antara desingan timah panas seolah-olah dia sedang berada di dalam dansa kematian yang sudah dia latih ribuan kali....
..."Cepat, Larissa! Sekarang!" teriak Gavin di sela-sela dentuman pistolnya yang terus memuntahkan peluru ke arah musuh yang bersembunyi di perbukitan....
...Larissa tidak membuang waktu....
... Dia merangkak ke kursi pengemudi, tangannya yang gemetar meraih setir. ...
...Namun, sebelum dia sempat menginjak pedal gas, matanya tertuju ke arah luar kaca. ...
...Dia melihat seorang penembak jitu Tarantula baru saja mengarahkan laras senapan runduknya tepat ke arah punggung Gavin yang terbuka lebar....
..."Gavin, awas di belakangmu!" jerit Larissa, suaranya melengking memecah suara pertempuran....
...Gavin merespons dengan insting yang luar biasa tajam....
... Tanpa menoleh, dia menjatuhkan diri ke tanah tepat saat peluru sniper menyerempet bahu kirinya, meninggalkan sobekan besar di jas hitam mahalnya dan sedikit goresan darah di kulitnya....
...Bukannya meringis kesakitan, Gavin justru menyeringai. ...
...Dia telah memancing penembak itu. ...
...Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, dia berbalik dan melepaskan tembakan ke arah kilatan cahaya dari senapan runduk musuh. ...
...Sebuah jeritan pendek terdengar dari balik semak-semak di atas bukit, disusul suara tubuh yang jatuh menimpa dedaunan....
...Pertempuran itu jauh dari selesai....
... Masih ada belasan musuh yang mengintai di balik kabut, dan Gavin Kingsley kini berdiri sendirian di tengah jalanan terbuka, menghadapi seluruh pasukan Tarantula dengan satu pistol di tangannya....
...Dia tidak lagi menahan diri....
... Segala kebohongan tentang "pengawal kaku" telah gugur bersama dengan setiap butir peluru yang dia lepaskan. ...
...Kini, yang berdiri di sana bukan lagi Gavin si pelayan keluarga Moretti, melainkan Viper sang monster yang siap membantai siapa pun yang berani melukai apa yang menjadi miliknya....
...Saat dia mengisi ulang pelurunya lagi, Gavin menoleh sekilas ke arah Larissa yang masih terdiam di kursi pengemudi, menatapnya dengan mata yang dipenuhi rasa takut sekaligus kagum yang tak bisa dijelaskan....
... Gavin memberikan anggukan singkat, sebuah pesan bisu untuk tetap kuat, sebelum dia kembali menghilang ke dalam kabut perbukitan untuk menuntaskan misi pembersihan yang berdarah itu sendirian....
...Langit Medellin yang mendung seolah bersiap untuk menumpahkan hujan, namun di perbukitan itu, hujan yang turun adalah hujan peluru yang akan mengubah takdir mereka selamanya....