Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL18
TETANGGA BARU
Pagi baru akhirnya tiba. Bagi Hannah, hari ini bukan pagi yang biasa. Beberapa jam lagi ia harus bertolak ke Singapura, sementara koper yang akan dibawanya bahkan belum benar-benar selesai dibereskan. Penerbangannya dijadwalkan pukul tiga sore nanti.
“Kayak sibuk banget, kamu jadi berangkat hari ini?” tanya Romi, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.
Pagi-pagi sekali istrinya itu sudah sangat berisik, mulai dari suara lemari dibuka, langkah kaki serta suara erangan istrinya saat melupakan sesuatu. Seperti saat ini, Hannah beristighfar ketika melupakan barang pentingnya.
“Jadi Mas.”
“Kamu kenapa sih, Na, dari tadi bolak balik kayak orang nyetrika.”
“Maaf, Mas, kamu sudah mau berangkat ya? Aduh, mana aku belum masak lagi.”
Hannah panik saat menyadari jika dirinya belum menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, padahal suaminya sudah selesai mandi dan sebentar lagi bersiap ke kantor.
Romi yang melihat kepanikan istrinya itu pun langsung menahan lengan sang istri ketika akan keluar kamar lagi.
“Kamu mau kemana hem?”
“Masak lah, Mas, masak mau nyanyi, gimana sih?” gerutu Hannah. Ia yang mau buru-buru masak malah dihalangi. Wajar saja kalau ia Jadi sebal.
“Nggak usah masak,” ucap Romi.
“Kenapa?” tanya Hannah bingung.
Apakah suaminya itu sedang merajuk?
“Nggak akan sempat juga, Na,” balas Romi.
“Jadi kita nggak sarapan pagi ini?”
“Tetap sarapan. Kita beli di luar saja sebelum ke kantor.”
“Kan semalam kita sudah makan makanan jadi, masa iya pagi ini beli yang jadi lagi?”
“Ya nggak apa-apa, lagipula kamu juga belum packing kan?”
“Iya sih, Mas. Ya sudah aku ke depan dulu beli sarapan buat kita. Kalau sarapan di luar lebih repot lagi.”
“Eits, di mana? Emang ada warung makanan sekitar sini?” tanya Romi penasaran, pasalnya ia tak pernah melihat warung di sekitar rumah.
“Ada di blok belakang. Sebenarnya nomornya ada tapi aku sungkan kalau mau WA, lebih baik aku langsung samperin rumahnya. Hitung-hitung kenalan.”
“Mau diantar?” tawar Romi.
“Gak usah, dekat kok. Kamu siap-siap aja sama tolong siapin alat makannya ya?”
“Yaudah deh.”
“Terima kasih, Mas.”
“Iya, iya buruan sana.”
“Love you, Mamas!”
Romi tergelak melihat tingkah random istrinya. Wanita itu benar-benar paket lengkap. Cantik, pintar memasak, baik hati, lucu, bahkan selalu berhasil membuatnya lupa pada rasa lelah setelah seharian bekerja. Ingatannya tanpa sadar melayang pada malam sebelumnya, membuat sudut bibirnya kembali terangkat.
Sementara itu di luar rumah…
“Selamat pagi, Mbak,” sapa Hannah ketika melihat seseorang menatapnya dari jauh.
Melihat orang itu berjalan menghampirinya membuat Hannah mau tidak mau ikut menghampiri orang tersebut.
“Hai, perkenalkan, saya Lita, orang baru di sini,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Oh hai juga, perkenalkan saya Hannah, saya yang tinggal di pagar coklat itu!” balas Hannah sembari menunjuk rumahnya.
“Wah... ternyata rumah kita saling berhadapan,” balas wanita yang bernama Lita itu.
“Iya, Mbak. Kalau begitu aku duluan ya!”
“Eh maaf kalau kepo, kamu eh, maksudnya Mbak Hannah mau kemana pagi-pagi begini? Nggak kerja ya? Atau ibu rumah tangga?”
“Aku kamu juga nggak apa-apa. Aku seorang istri sekaligus pekerja kantoran. Aku mau ke blok sebelah, mau beli sarapan.”
“Wah kebetulan Mbak Hannah, aku tadi masak banyak.”
“Benarkah?”
Lita mengangguk. “Iya nih Mbak. Gimana kalau Mbak bawa saja sebagian buat sarapan pagi Mbak dan suami? Gimana?”
“Duh gimana ya, aku jadi nggak enak, Mbak.”
“Gak apa-apa Mbak, hitung-hitung bantu aku biar nggak mubazir makanan.”
Hannah menatap tetangga baru dan jalanan bergantian. Wanita itu sedang menghitung jarak yang harus ditempuh untuk bisa mendapatkan sarapan. Terlebih waktu terus berjalan. Mana dia belum selesai berkemas. Apa aku terima saja ya? Pikir Hannah.
“Gimana Mbak? Mau kan?” Tawarnya wanita itu lagi.
Hannah akhirnya mengangguk. “Tapi bener nggak apa-apa kan? Makanan buat Mbak sekeluarga cukup kan?”
Lita tersenyum simpul. “Aku baru pindahan dari luar kota. Jadi sementara ini tinggal sendiri dulu.”
“Tinggal sendiri? Di rumah sebesar ini?”
“Ayo Mbak, sekalian mampir.”
Lita mengajak serta Hannah masuk ke dalam rumah namun ditolak halus oleh Hannah.
“Ya sudah aku masuk dulu.”
“Silahkan, Mbak.”
Beberapa saat kemudian, terlihat Lita membawa satu rantang makanan. Hal itu cukup membuat Hannah kaget.
“Ini, Mbak.” Wanita itu menyerahkan makanan yang sudah dimasukkan ke dalam rantang.
“Ini kebanyakan, Mbak,” ujar Hannah tak enak hati.
“Gak apa-apa, Mbak, hitung-hitung sebagai salam perkenalan kita.”
“Terima kasih banyak kalau begitu. Sekalian mau pamit Mbak.”
“Cepat banget, Mbak Hannah?”
“Iya Mbak, soalnya sebentar lagi suamiku mau berangkat kerja, aku juga bentar lagi mau dinas jadi maaf ya kalau terkesan tidak sopan.”
“Oh iya Mbak nggak apa-apa. Kalau boleh tahu, Mbak mau dinas kemana? Siapa tahu kita searah, sebentar lagi aku juga mau berangkat kerja.”
“Mau ke Singapura, Mbak.”
“Oh, dinas ke Singapura ya, Mbak?”
“Iya, Mbak, nggak lama kok, cuma beberapa hari.”
“Sayang!”
“Aduh, Mbak Lita saya pamit sekarang ya, suami saya sudah manggil tuh. Sekali lagi terima kasih banyak untuk makanannya. Dan selamat datang, semoga kita bisa menjadi tetangga yang rukun.”
“Iya, Mbak sama-sama. Mohon bantuannya ya.”
Setelah berpamitan, Hannah kembali masuk ke dalam rumah.
“Kok lama?”
“Maaf, Mas, yuk makan!” ajaknya seraya menarik tangan suaminya masuk.
“Kamu beli makanan sebanyak ini? Serantang, apa nggak kebanyakan?”
“Bukan beli.”
“Bukannya tadi kamu bilang kalau mau beli sarapan ya?”
“Oh iya tadi aku belum cerita sama kamu ya?”
“Cerita apa?”
“Cerita kalau kita ada tetangga baru,” ungkap Hannah.
“Tetangga baru?”
“Iya, tapi dia sendiri, mana perempuan lagi,” ujar Hannah.
“Kok gitu ngomongnya?”
“Ya nggak apa-apa sih cuma—”
“Jangan buru-buru menilai seseorang, Na. Kita juga belum kenal dia.”
“Mas bener, hanya saja aku ngerasa kalau dia bukan—”
“Bukan orang baik maksudmu? Hanya karena dia tinggal sendirian dan perempuan?” Potong Romi.
“Jangan buru-buru menghakimi orang, Na. Belum tentu tampak luarnya buruk, di dalamnya juga buruk. Bisa saja yang terlihat biasa saja justru menyimpan banyak kebaikan.’’
“Iya Mas, iya!”
Setelah sarapan pagi, Hannah mengantar suaminya sampai depan rumah.
“Kabari Mas kalau kamu mau ke Bandara, siapa tahu Mas ada waktu kosong dan bisa ikut antar kamu ke Bandara.”
“Iya, Mas.”
“Jangan lupa bawa obat-obatan yang biasa kamu konsumsi. Aku dengar disana obat nggak diperjual belikan bebas seperti di sini.”
“Iya, Mas.”
“Ya sudah, Mas berangkat dulu.”
“Iya, Mas hati-hati di jalan.”
Romi masuk ke dalam mobil setelah melakukan ritual kecil yang tak pernah mereka lewatkan. Ia lebih dulu mengecup kening Hannah, lalu Hannah membalasnya dengan mencium tangan sang suami. Tanpa keduanya sadari, sejak tadi seluruh momen sederhana itu dipantau oleh sepasang mata dari kejauhan.
“Pantas saja kamu memilihnya, Rom. Ternyata dia memang sebaik itu,” gumamnya.
Pip! Pip! Pip!
Suara klakson mobil membuat langkah Hannah terhenti ketika akan masuk kembali ke dalam rumahnya setelah beberapa saat lalu mobil suaminya sudah tak terlihat. Lalu kaca mobil tersebut perlahan terbuka.
“Halo, Mbak Hannah,” seru seseorang dari dalam mobil.
“Hmm, Mbak Lita kan ya?” balas Hannah basa basi.
“Iya Mbak, masa lupa sih?”
Hannah tersenyum tipis. “Gak lupa kok, Mbak. Oh iya, nanti aku kembalikan rantangnya tadi ya Mbak, aku belum sempat cuci soalnya.”
“It’s okay, Mbak, nanti juga bisa, gampang itu.”
Hannah mengangguk sebagai respon.
“Kalau begitu aku berangkat dulu ya. Hati-hati di Singapuranya ya, Mbak.”
Hannah mengangguk sambil tersenyum.
“Makasih, Mbak. Hati-hati juga.”
Hannah kemudian masuk kembali ke dalam rumah, sementara mobil Lita perlahan meninggalkan kawasan perumahan itu.
Dari balik kaca spion, pandangan Lita masih tertuju pada rumah bercat cokelat yang semakin lama semakin menjauh.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jadi... selama ini kamu tinggal di sini, Rom."
Tatapannya perlahan beralih ke arah wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Dan... itu istrimu."
Lita memejamkan mata sejenak sebelum mengembuskan napas panjang.
Ia sungguh ingin mengakhiri semuanya. Namun pertemuan kembali dengan Romi justru membuat perasaan yang selama ini ia paksa kubur perlahan hidup kembali.
Kini ia mulai mempertanyakan... apakah menjauh benar-benar masih menjadi pilihan yang sanggup ia pertahankan?
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐