NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Violetta seketika mematung, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia tarik kembali dengan gemetar.

Darius menyilangkan kakinya sambil bersandar di atas sofa. Sorot matanya sangat datar, menatap wanita yang dulu pernah mengisi hatinya.

"Sudahlah, Violetta," ujar Darius dengan tenang. "Lebih baik kau keluar jika hanya ingin membahas masa lalu."

Dengan napas yang terengah dan bahu yang gemetar, Violetta lalu mengusap kedua matanya menggunakan punggung tangan.

"Ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan denganmu, Darius," ucap Violetta menarik napas panjang, mencoba menetralkan getaran di dadanya.

"Ini mengenai pernikahanmu dengan Adelina Atmadja," ucap Violetta pelan namun tegas.

Darius tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun. Ia hanya menatap Violetta dengan sorot mata yang tetap batu.

"Mengapa?" respon Darius singkat. Kedua matanya menatap Violetta dengan sorot mata yang tetap dingin.

"Seharusnya kau menolak pernikahan itu, Darius," ucap Violetta dengan suara yang lebih tegas. "Adelina Atmadja itu sudah mempunyai pasangan hidupnya sendiri."

"Dia sudah memiliki seorang kekasih bernama Devran Zavian," lanjut Violetta dengan mata berbinar cemas. "Pernikahan kalian pasti tidak akan berjalan dengan baik, Darius."

Darius tetap duduk di sofa. Ekspresinya tetap tenang tanpa riak terkejut, seolah ucapan yang baru saja disampaikan Violetta tak lebih dari sekadar laporan cuaca.

"Lalu?" tanya Darius dengan singkat, nadanya teramat dingin. "Kenapa kau peduli, Violetta?"

Pertanyaan itu menghantam hati Violetta. Ia menatap Darius dengan mata yang masih bersimbah air mata, bibirnya bergetar menahan gejolak emosi.

"Kenapa aku peduli?" cicit Violetta dengan suara serak. "Aku peduli karena aku masih menyukaimu, Darius!"

Darius sama sekali tidak berpaling. Ia tetap bersandar rileks di sofanya, menatap Violetta seperti sedang menyaksikan drama murahan yang membosankan.

"Kau masih menyukaiku?" Darius terkekeh pelan, tawa pendek yang teramat sinis. "Lalu bagaimana dengan William? Bukankah kau sekarang adalah istrinya?"

Violetta seketika membeku. Wajahnya semakin pucat saat nama William diucapkan oleh Darius.

"W-William..." Violetta menelan ludah dengan susah payah. "Aku bersamanya hanya karena orang tuaku yang menuntut hal itu, Darius."

Violetta lalu berlutut di depan sofa tempat Darius duduk. Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, ia mencoba meraih lutut Darius, menatap pria itu dengan pandangan memohon.

"Batalkan pernikahanmu dengan Adelina, Darius," bisik Violetta dengan nada yang meyakinkan, air matanya kembali menetes menimpa lantai.

Suasana di dalam kamar seketika menjadi teramat berat. Aura dingin perlahan memancar dari tubuh Darius, membuat Violetta mendadak kesulitan bernapas.

Darius perlahan menunduk menatap Violetta yang berlutut di bawahnya. Tidak ada sedikit pun rasa iba di matanya, hanya ada kehampaan yang mematikan.

"Kau berlutut di depanku, meminta kembali padaku, hanya karena tahu aku adalah putra sulung Keluarga Adhitama?" tanya Darius dengan nada datar yang sangat tajam.

"B-Bukan begitu, Darius... Aku..."

"Cukup, Violetta," potong Darius dingin. Sekarang kau ingin kembali padaku karena aku adalah calon pewaris utama. Kau pikir dirimu apa?"

Darius bangkit berdiri, membuat Violetta terpaksa melangkah mundur dalam posisinya yang masih berlutut. Ia lalu berjalan membelakangi wanita itu.

"Pernikahanku dengan Adelina Atmadja itu bukanlah urusanmu, Violetta," ujar Darius dengan dingin dan tanpa menoleh sedikit pun.

Violetta terhenyak di lantai yang dingin. Kata-kata Darius bagaikan sembilu yang membedah kebohongan dan kepalsuan yang selama ini disembunyikannya.

Setiap tetes air mata yang tadi ia

keluarkan kini terasa tak berarti sama sekali di hadapan ketenangan Darius yang bagaikan dinding batu tak tertembus.

"Pergilah," lanjut Darius, suaranya pelan, mengandung intonasi perintah yang tak terbantahkan. "Sebelum William menyadari keberadaanmu di sini."

Violetta mengepalkan jemarinya di atas lantai, menggigit bibirnya erat-erat. Rasa malu, penyesalan, dan harga diri yang hancur berkeping-keping bergejolak hebat di dalam dadanya.

Ia lalu perlahan bangkit berdiri dengan tubuh yang masih gemetar dan mengusap kasar sisa-sisa air mata di pipinya.

Violetta menatap punggung Darius yang berdiri membelakanginya di dekat jendela. Pria di hadapannya ini benar-benar berbeda.

Pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah sosok asing yang memancarkan aura kegelapan dan dominasi yang sangat menakutkan.

"Kau... akan menyesal karena telah memperlakukanku seperti ini, Darius," bisik Violetta dengan suara serak yang bergetar menahan dendam dan rasa sakit.

Setelah itu, Violetta memutar badannya dan melangkah keluar dari kamar tersebut, lalu menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.

Suasana hening seketika menyelimuti kamar tersebut. Darius lalu membalikkan badannya, sorot matanya tetap dingin tanpa ada sedikit pun gejolak emosi setelah berbicara dengan mantan kekasihnya.

Ia lalu berjalan menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Tak butuh waktu lama, Darius pun perlahan terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar di lantai tiga kediaman Keluarga Adhitama.

Darius terbangun tepat saat jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, sebuah kebiasaan yang tak pernah luntur sejak masa-masanya memimpin di medan tempur.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu, Darius melangkah keluar dari kamarnya.

Begitu sampai di lantai dasar, Darius melihat seluruh anggota Keluarga Adhitama sudah berkumpul di meja makan sambil berbincang hangat.

Saat derap langkah kaki Darius berbunyi memecah keheningan, percakapan hangat di meja makan itu mendadak terhenti.

Miranti Adhitama melirik Darius dengan tatapan jijik. Savina dan Kiara hanya mendengus pelan. Sementara Tuan Besar Hardiman hanya menatap Darius dengan tajam tanpa ekspresi hangat sedikit pun.

Namun, berbanding terbalik dengan yang lain, raut wajah Surya Adhitama seketika cerah dan penuh kebahagiaan.

"Darius! Kau sudah bangun, Nak?" panggil Surya Adhitama dengan suara hangat dan penuh perhatian. "Ayo duduk di sini, sarapanlah bersama kami."

William pun ikut menyunggingkan senyum ramah yang tampak sangat tulus di wajahnya. "Selamat pagi, Kak Darius. Mari duduk, pelayan baru saja menyajikan menu sarapan."

"Terima kasih, Ayah, William," sahut Darius dengan pendek, suaranya datar namun sopan.

Darius menarik salah satu kursi yang kosong di dekat Surya Adhitama. Saat ia hendak duduk, suara berat dan penuh intimidasi dari Tuan Besar Hardiman bergema.

"Darius," tegur Tuan Besar Hardiman dengan dingin. "Di Keluarga Adhitama, sebelum menyapa pemimpin keluarga, kau tidak boleh untuk langsung duduk."

Suasana di meja makan seketika berubah tegang. Miranti menyunggingkan senyum yang sarat akan kemenangan di sudut bibirnya, sementara Savina dan Kiara menutupi mulutnya menahan tawa.

Surya Adhitama tampak agak canggung dan berdeham pelan. "Ayah, Darius baru saja kembali. Dia belum terbiasa dengan aturan..."

"Tidak ada alasan, Surya!" potong Tuan Besar Hardiman dengan tegas. Matanya yang menua namun tetap tajam menatap Darius.

Darius yang masih berdiri di samping kursinya sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan itu. Ia menatap balik Tuan Besar Hardiman dengan sorot mata yang tenang namun dalam.

"Selamat pagi, Kakek," ucap Darius singkat, memberi penghormatan seadanya tanpa sedikit pun merendahkan tubuhnya.

Tuan Besar Hardiman mendengus dingin melihat sikap Darius yang tidak takut sama sekali, berbeda dengan yang lain yang selalu gemetar jika ia tegur.

"Duduklah," perintah Tuan Besar Hardiman akhirnya dengan nada acuh tak acuh.

Setelah itu, Darius pun segera duduk di tempatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!