Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA PENASARAN ZENAYA
Forget Group International.
Di ruang kerja utama Forger Group, Eros duduk bersandar di kursi kebesarannya. Tatapannya mengarah ke hamparan gedung-gedung tinggi di balik dinding kaca, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Sejak pagi, bayangan Zenaya terus memenuhi benaknya.
Entah mengapa, setiap kali berada di dekat wanita itu, ada perasaan asing yang sulit ia jelaskan.
Dadanya terasa sesak, sikapnya menjadi canggung, bahkan kata-kata yang biasanya mengalir begitu saja seolah tertahan di tenggorokan.
Hal itu membuatnya heran.
Selama ini, Eros tidak pernah merasa gugup berada di dekat perempuan mana pun. Ia selalu tenang, dingin, dan mampu mengendalikan dirinya. Namun, Zenaya berhasil menggoyahkan ketenangan itu hanya dengan kehadirannya.
DERRTT!!!
Lamunannya buyar ketika nada dering ponselnya menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Eros meraih ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan sebuah nama yang begitu ia kenal.
Lura.
Seketika sorot matanya melembut. Tanpa
membuang waktu, ia segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, Lura."
Namun, sapaan hangat yang telah ia siapkan tidak mendapat balasan yang ia harapkan. Di seberang sana, Lura sama sekali tidak mengungkapkan rasa rindu ataupun menanyakan kabarnya.
Gadis itu justru langsung menyampaikan maksudnya.
"Eros, aku butuh uang. Biaya kuliahku harus segera dibayar, belum lagi kebutuhan hidupku di Sydney. Tolong transfer sekarang, ya."
Eros terdiam.
Tatapannya perlahan jatuh pada meja kerjanya. Baru dua hari yang lalu ia meninggalkan Sydney, dan sebelum pulang ia sebenarnya telah memberikan Lura uang sebesar 300 juta rupiah untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.
Namun, kini uang itu sudah habis.
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, tetapi tidak satu pun keluar dari bibirnya. Ia tidak ingin memperdebatkan hal sekecil itu dengan perempuan yang begitu ia cintai.
Baginya, kebahagiaan Lura selalu menjadi prioritas.
Tanpa banyak bicara, Eros membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Jemarinya bergerak cepat memasukkan nominal yang diminta Lura, lalu menekan tombol transfer.
Beberapa detik kemudian, transaksi itu berhasil.
"Sudah aku kirim," ucap Eros pelan.
"Makasih aku mencintaimu."
Panggilan itu berakhir begitu saja.
Eros menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Tidak ada ucapan rindu. Tidak ada perhatian. Bahkan percakapan mereka berlangsung hanya beberapa menit.
Meski begitu, ia berusaha mengabaikan rasa hampa yang perlahan menyusup ke dalam hatinya.
Bagaimanapun juga, Lura adalah cinta pertamanya. Perempuan yang telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun.
Selama Lura masih menginginkan sesuatu darinya, Eros akan selalu berusaha memenuhi setiap kebutuhannya tanpa ragu. Sebab, bagi Eros, mencintai Lura berarti memberikan apa pun yang ia miliki, bahkan tanpa meminta balasan sedikit pun.
................
Apartemen Joana
Sinar matahari siang menembus jendela kaca apartemen mewah milik Joana. Suasana di dalam ruangan terasa hangat dan nyaman, ditemani aroma teh hangat yang baru saja diseduh.
Zenaya duduk di sofa berwarna krem sambil memperhatikan sahabatnya yang kini terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu.
"Syukurlah, wajahmu sudah tidak sepucat kemarin," ucap Zenaya sambil tersenyum lega.
Joana terkekeh pelan. "Aku memang sudah jauh lebih baik. Untung kamu sempat datang menjenguk."
Sebelum berangkat ke apartemen itu, Zenaya telah meminta izin kepada Eros.
Pria itu hanya mengangguk singkat dan berpesan agar ia berhati-hati di jalan. Meski jawaban Eros terdengar datar seperti biasanya, Zenaya tahu suaminya tetap memperhatikannya.
Obrolan mereka mengalir ringan, mulai dari pekerjaan di perusahaan hingga kehidupan sehari-hari. Sesekali tawa kecil memenuhi ruangan.
"Oh iya," Joana menatap Zenaya dengan senyum menggoda. "Syukurlah suamimu sudah pulang. Lalu... bagaimana?"
Zenaya mengernyit bingung.
"Bagaimana apanya?"
Joana mendekat sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Malam kemarin, kalian sudah... menjalani malam pertama belum?"
"Puk!"
Zenaya langsung memukul pelan lengan Joana dengan wajah memerah.
"Joanaaa!"
Wanita itu justru tertawa semakin keras.
"Ayolah, jawab saja."
Zenaya menghela napas panjang sebelum menundukkan kepalanya.
"Malam itu kami tidak melakukan apa pun. Kami hanya tidur bersama."
Joana membelalakkan matanya.
"Serius? Jadi... kalian belum?"
Zenaya mengangguk pelan dengan wajah yang semakin merah. Ia benar-benar malu membicarakan hal seperti itu.
Bagaimana mungkin dirinya yang memulai lebih dulu? Membayangkannya saja sudah membuat jantungnya berdebar.
Joana akhirnya tersenyum lembut.
"Mungkin Tuan Eros masih sangat lelah setelah
pulang dari Sydney."
"Iya, mungkin begitu."
Beberapa saat suasana menjadi hening.
"Tapi..." Joana kembali membuka suara. "Kalian tetap harus menjalani hak dan kewajiban sebagai suami istri suatu saat nanti."
Zenaya hanya diam sambil memainkan cangkir teh di tangannya.
Ia tahu perkataan Joana ada benarnya.
"Soal itu..." ucap Zenaya pelan. "Kami pasti akan menjalani semuanya pada waktunya. Jadi jangan khawatir."
Joana mengangguk.
"Maaf ya kalau aku terlalu ikut campur. Hanya saja menurutku Tuan Eros itu orangnya dingin dan sedikit gengsi. Bisa saja sebenarnya dia ingin lebih dekat denganmu, hanya belum tahu bagaimana memulainya."
Zenaya menatap sahabatnya.
"Kalau begitu... bagaimana?"
"Coba sesekali kamu yang mengajaknya lebih dulu."
Ucapan itu membuat Zenaya kembali terdiam.
Benarkah ia harus melakukannya?
Mereka memang sudah resmi menjadi suami istri. Namun tetap saja, rasa malu selalu menguasai dirinya. Ia takut Eros akan salah paham dan menganggap dirinya terlalu terburu-buru.
Pikiran itu membuat pipinya kembali memanas.
Merasa pembicaraan mulai membuatnya semakin salah tingkah, Zenaya buru-buru mengalihkan topik.
"Eh, Ann... bagaimana dengan misimu? Sudah ada kabar?"
Joana mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menepuk dahinya.
"Astaga! Aku malah lupa memberitahumu."
Zenaya langsung memasang wajah kesal.
"Kenapa baru ingat sekarang?"
"Hehe... maaf."
Joana mengambil napas sebelum wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Aku memang belum mendapatkan informasi yang lengkap. Tapi ada satu hal yang berhasil kutemukan."
Zenaya langsung duduk lebih tegak.
"Apa itu?"
"Tuan Eros ternyata pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita."
Kalimat itu membuat jantung Zenaya berdetak sedikit lebih cepat.
"Siapa wanita itu?"
Joana menggeleng.
"Namanya belum berhasil kutemukan. Yang kutahu, dia bukan berasal dari kalangan atas. Kehidupannya sangat sederhana."
Zenaya terdiam.
Entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak mendengar kenyataan itu. Ia sadar setiap orang pasti memiliki masa lalu, termasuk Eros. Namun tetap saja, rasa penasaran itu muncul begitu saja.
"Lalu... apakah mereka masih berhubungan sampai sekarang?" tanya Zenaya hati-hati.
Joana kembali menggeleng.
"Dari informasi yang kudapat, wanita itu sudah lama meninggalkan negara ini. Kemungkinan besar hubungan mereka memang sudah berakhir sejak lama."
Mendengar jawaban itu, napas Zenaya perlahan menjadi lebih lega.
Setidaknya, masa lalu itu telah benar-benar berlalu.
Meski begitu, di sudut hatinya masih tersimpan sebuah pertanyaan.
Siapakah wanita yang pernah begitu berarti bagi Eros hingga jejaknya masih bisa ditemukan, meski hanya sedikit?
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya, tanpa ia sadari mulai menumbuhkan rasa penasaran yang semakin sulit diabaikan.