Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gawat
"Dimana ini, Callie? Kenapa banyak nyamuknya? Darah Papa kesedot ini sama nyamuk. Nanti Papa jadi kekurangan darah lho," ucap Lucky yang berulangkali menepuk pipinya karena banyaknya nyamuk.
"Namanya juga kebun, Pa. Mana ini dekat tempat pembuangan sampah juga. Lagian Papa tuh lebay amat. Mana ada digigit nyamuk terus jadi kekurangan darah,"
Padahal tadi saat memasuki area perkebunan ini, Lucky sudah melihat adanya tumpukan sampah. Sehingga di sana pasti akan ada banyak lalat dan nyamuk. Mereka tidak hanya berdua untuk bergerak menyelamatkan Mika dan Axel malam ini, tetapi ada beberapa pengawal. Nanti mereka harus membawa Mika dan Axel dalam keadaan pingsan. Jika hanya berdua saja, mereka pasti akan kuwalahan. Callie sebagai penunjuk arah berjalan paling depan diikuti yang lainnya.
"Yang pingsan, tambah nggak bangun ini mah. Baunya aja kaya begini," gerutu Lucky sambil menutup hidungnya.
"Papa lama kelamaan kaya Opa. Semuanya dikomentari dan menggerutu terus. Tadi aja semangat buat ke sini, sekarang malah ngomel." sindir Callie pada Lucky yang sangat bawel. Padahal Papanya itu jarang sekali bawel akan sesuatu yang tidak penting.
"Namanya juga menantunya. Ketularan ini karena sering bergaul sama Opamu," ucap Lucky dengan asal.
"Om Iko, cek sebelah sana." suruh Callie pada salah satu pengawal tanpa peduli dengan Lucky.
"Baik, Nona." Pengawal bernama Iko itu pun segera memeriksa area samping dan belakang gudang perkakas yang hampir roboh tersebut.
Gudang perkakas itu sebenarnya dulu digunakan untuk menyimpan semua alat atau perlengkapan milik warga. Namun karena di dekatnya dibangun tempat pembuangan sampah, maka gudang tersebut tidak lagi digunakan. Bahkan bangunannya sudah sangat tidak layak digunakan. Beberapa genteng sudah copot dan tembok retak yang rawan roboh.
"Aman, Nona." Ternyata tidak ada siapapun di sana yang menjaga. Mungkin yang membawa Mika dan Axel ke sini berpikir bahwa tidak akan mungkin ada yang datang ke tempat ini saat tengah malam. Makanya mereka memilih meninggalkan Mika dan Axel tanpa penjagaan.
Ctakkk...
Klek...
"Pelan-pelan buka pintunya," peringat Callie saat pintu gudang itu terbuka dengan sekali tembakan ketapel menggunakan batu kecil.
Lucky menatap anaknya yang begitu serius dari samping. Lucky tidak menyangka kalau justru Callie yang tumbuh menjadi anak luar biasa dan mengikuti jejak sang Tuan besar keluarga Roberto. Cerdas dan licik sekali otaknya itu sehingga membuat orang di sekitarnya tercengang. Inovasi produknya membuat Lucky sebagai Papanya pun insecure sendiri.
"Patahkan saja nggak papa, asal jangan sampai jatuh." titahnya lagi dan segera dilaksanakan oleh pengawal.
"Mika... Axel..." seru Lucky saat dia dan lainnya sudah berhasil masuk. Dengan mengandalkan senter yang mereka bawa, akhirnya Mika dan Axel ditemukan.
Puk... Puk...
"Bangun," Lucky menepuk pipi Mika dan Axel bergantian.
"Gawat... Badan mereka panas sekali," teriak Lucky saat menyentuh pipi keduanya.
"Ayo bawa ke rumah sakit," seru Callie dengan kedua telapak tangan mengepal erat.
Sialan... Tega sekali mereka sama plastik Mika dan Kak Axel,
Bahkan darah mengalir sampai ada yang sudah mengering. Para pengawal langsung menggendong Axel. Sedangkan Mika sendiri digendong oleh Lucky. Semuanya pergi kecuali Callie yang masih menatap tajam pada gudang tua itu. Kedua telapak tangannya terkepal erat dengan punggung memutih. Emosinya memuncak karena orang-orang itu sepertinya sengaja membuat Mika dan Axel terluka hingga mati perlahan.
"Pasti ada sesuatu pada kepalanya itu," gumam Callie sambil menghela nafasnya kasar.
"Awas saja mereka kalau ketemu. Aku pukuli habis-habisan sampai kepalanya berubah bentuk jadi segitiga," lanjutnya yang kemudian segera mengikuti Lucky dan para pengawal.
Callie buruan. Keadaan mereka sepertinya memburuk,
Iya. Ini Callie lagi cek persediaan obat untuk plastik Mika dan Kak Axel,
Eh...
***
"Bawa plastik Mika dan Kak Axel ke ruang operasi," teriak Callie saat memasuki area rumah sakit.
Teriakan menggema di tengah malam itu membuat para petugas medis terkejut. Padahal secara prosedur, seharusnya Mika dan Axel akan masuk ruang IGD terlebih dahulu. Mereka harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan operasi. Namun ini Callie malah langsung berteriak meminta Mika dan Axel dibawa ke ruang operasi. Apalagi malam ini dokter yang berjaga adalah dokter umum. Tentu saja segala tindakan operasi akan dilakukan oleh dokter spesialis bedah.
Rumah sakit yang mereka datangi adalah milik Ronand. Saat sampai di depan ruang operasi, mata para petugas medis terbelalak melihat sosok Lucky yang beberapa kali wira-wiri bersama pemilik rumah sakit. Namun mereka mencoba mendekat dan menjelaskan tentang prosedur rumah sakit. Jangan sampai nanti malah ada omongan tentang tindakan malpraktik.
"Mohon maaf, Tuan dan Nona. Kita harus melakukan tindakan dulu sebelum operasi. Kita akan melakukan rontgen dan pemeriksaan lainnya pada pasien," ucap seorang perawat dengan sopan.
"Ndak usah. Kepalanya sudah terlanjur keluar banyak darah itu. Kalau kelamaan, nanti darahnya habis. Masa iya mau diganti sama darah kambing," seru Callie dengan raut wajah paniknya.
"Callie, jangan bercanda." tegur Lucky membuat Callie hanya bisa cengengesan.
"Om Iko, hubungi Uncle Onand. Suruh dia datang ke sini dan lakukan operasi kepalanya plastik Mika juga Kak Axel," suruh Callie pada Iko.
Iko pun segera melaksanakan tugas dari Callie. Sedangkan petugas medis segera memindahkan pasien pada brankar tempat tidur khusus. Mereka membawa pasien ke ruang IGD. Walaupun Callie sempat protes karena nanti saat Ronand datang akan langsung dilaksanakan operasi. Namun Lucky langsung merangkul bahunya dan meminta Callie menunggu di depan ruang IGD.
"Tuan Ronand sebentar lagi datang, Nona Callie." ucap Iko yang baru saja menghubungi Ronand.
"Berapa menit, Om Iko? Suruh lagi 5 menit har..."
Tak... Tak... Tak...
"Itu Uncle Onand," seru Callie saat melihat Ronand datang dengan langkah terburu-buru.
"Cepat sekali," komentarnya menatap takjub kedatangan Ronand.
Bahkan Ronand berjalan sambil memakai jas dokternya. Semua petugas medis dengan sigap memberikan jalan pada Ronand. Raut wajahnya begitu serius dan tegang hingga petugas medis tidak ada yang menyapa. Ronand pun sama sekali tak menyapa keluarganya karena ingin cepat-cepat mengetahui kondisi Mika. Mendapatkan telfon tentang keluarganya membuat jantung Ronand rasanya ingin lepas.
"Uncle, tangkap ini." seru Callie sambil melemparkan satu botol kecil berisi cairan berwarna biru kepada Ronand.
"Biar tidak ada penggumpalan darah pada kepalanya," lanjutnya membuat beberapa petugas medis melongo tak percaya. Mereka merasa dejavu dengan Ronand yang dulunya selalu menggunakan cairan-cairan buatan seperti itu.
Hap...
"Ambil juga botol cairanku di laboratorium, Lucky. Yang warnanya pink," seru Ronand pada Lucky setelah dia menangkap botol kecil yang dilemparkan oleh Callie.
Siap...
Kolaborasi yang sangat mengerikan,
Paman dan keponakan kok otaknya sama,
Racun dan obat,