Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Yang Sengaja Singgah
Kantin perusahaan siang itu lebih ramai daripada biasanya.
Namun...
Suasana di salah satu sudut ruangan justru terasa sangat canggung.
Ella dan Roman duduk saling berhadapan.
Di atas meja hanya ada dua nampan makan siang dan dua gelas minuman.
Tidak ada percakapan.
Ella beberapa kali menundukkan kepala, pura-pura fokus memotong makanannya.
Setiap kali tanpa sengaja mengingat kejadian tadi...
Pipinya kembali terasa hangat.
"Kenapa aku terpeleset tepat di depan Roman..."
"Memalukan sekali."
Di sisi lain, Roman juga makan dengan tenang.
Namun sesekali pandangannya tanpa sadar terangkat ke arah Ella.
Biasanya...
Makan siang mereka, jika kebetulan bertemu, selalu diwarnai sindiran.
Emma akan mengkritik pekerjaannya.
Roman membalas dengan kalimat yang sama tajamnya.
Saat ini...
Tidak ada satu pun.
Keheningan itu justru membuat Roman merasa lebih tidak terbiasa daripada pertengkaran mereka.
Beberapa meja di sekitar mereka mulai berbisik.
"Ini aneh."
"Sangat aneh."
"Mereka benar-benar duduk semeja?"
"Biasanya salah satu sudah pindah."
"Apa mereka memang telah berdamai?"
"Tidak mungkin."
Ella mendengar bisikan itu.
Ia semakin salah tingkah.
Roman akhirnya memecah keheningan.
"Makananmu akan dingin. Hiraukan ucapan mereka."
Ella spontan mengangkat kepala.
"Oh..."
"Iya."
"Terima kasih."
Roman kembali memotong steaknya.
"Kau terlalu banyak melamun."
Ella tersenyum kecil.
"Maaf."
Roman menatapnya beberapa detik.
"Kau juga sering meminta maaf akhir-akhir ini."
Ella terdiam.
Lalu tertawa pelan.
"Mungkin."
Roman tidak menjawab.
Namun untuk sekarang...
Ia merasa makan siang yang biasanya membosankan menjadi jauh lebih singkat.
--------
Sementara itu...
Langit London mulai berubah jingga.
Kediaman mewah Alexander kembali tenang.
Ralph baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan dari ruang kerjanya ketika suara mobil berhenti di halaman depan.
Mr. Howard membuka pintu utama.
"Selamat sore."
Seorang wanita muda turun dari mobil.
Gaun krem panjang.
Rambut hitam bergelombang.
Wajah anggun dengan senyum lembut.
"Maaf datang tanpa memberi kabar."
katanya sopan.
"Aku kebetulan melewati daerah ini."
Mr. Howard langsung mengenalinya.
"Nona Andrea."
"Silakan masuk."
Andrea Anderson mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Tak lama kemudian...
Ralph keluar dari ruang kerjanya.
Begitu melihat tamunya...
Ekspresinya sedikit berubah.
"Andrea."
Wanita itu tersenyum.
"Halo, Ralph."
"Kau datang sendirian?"
"Iya."
"Ayah dan Ibu sedang ada acara."
Ralph mempersilakannya duduk.
"Ada keperluan mendesak apa?"
Andrea menerima secangkir teh yang disajikan Hannah.
"Aku hanya ingin mampir."
Ia tersenyum kecil.
"Dan..."
"...ingin bertanya."
Ralph menatapnya.
"Tentang apa?"
"Keluargaku sudah dua kali mengundangmu makan malam."
"Tapi kau selalu menolak."
Andrea memiringkan kepala.
"Itu tidak seperti biasanya."
Ralph mengembuskan napas pelan.
"Akhir-akhir ini pekerjaanku cukup padat."
"Itu alasan resmi."
Andrea tersenyum tipis.
"Kalau alasan yang sebenarnya?"
Ralph terdiam sesaat.
"Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah."
Jawaban itu membuat Andrea berkedip pelan.
"Di rumah?"
"Iya."
"Bersama Lady Alexander?"
Ralph mengangguk singkat.
Andrea benar-benar terkejut.
Seingatnya...
Hubungan Ralph dan Ella selalu dingin.
Sopan.
Namun tampak menjaga jarak.
Bahkan saat masih bersama Lauren..
Ralph tidak pernah mengubah ekspresinya sebanyak sekarang.
Meski sangat tipis.
Andrea dapat melihatnya.
Pria itu mulai berubah.
Suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Emma turun sambil mengeringkan rambut pirangnya yang masih sedikit lembap.
Ia sudah berganti pakaian santai setelah berenang.
Begitu tiba di ruang tamu...
Langkahnya melambat.
Andrea Anderson masih duduk berhadapan dengan Ralph.
Emma langsung mengenalinya.
Bukan karena ingat wajahnya saja.
Melainkan karena Ella pernah menceritakan kembali siapa wanita itu setelah pertemuan pertama mereka beberapa hari lalu.
Andrea.
Adik mendiang Lauren Anderson.
Wanita yang selalu dihormati Ralph karena merupakan adik dari perempuan yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.
Emma berjalan menuju meja kecil di samping sofa.
"Ternyata tasku di sini. Aku kira tadi meninggalkannya di suatu tempat."
gumamnya pelan.
Andrea menoleh dan tersenyum ramah.
"Lady Alexander."
Emma membalas dengan anggukan singkat.
"Andrea."
"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi secepat ini."
Emma mengambil tasnya.
"Lumayan cepat. ternyata kau cukup sering berkunjung ke tempat ini."
Jawaban singkat itu membuat Andrea tersenyum kecut.
Ia merasa perubahan Lady Alexander sangat mencolok dibanding yang ia kenal beberapa tahun terakhir.
Andrea kembali membuka percakapan.
"Aku hanya mampir sebentar."
Emma mengangguk.
"Oh tentu saja."
"Aku kebetulan melewati daerah ini."
Emma tidak langsung menjawab.
Tatapannya hanya singgah sesaat pada Andrea.
Lalu beralih kepada Ralph.
Dalam hati ia bergumam,
"Kalau benar hanya kebetulan lewat... kenapa harus singgah ke rumah suami wanita lain?"
Namun Emma tidak mengucapkannya.
Ia bukan tipe yang mencampuri urusan orang lain tanpa alasan.
"Baiklah Aku naik dulu, hari ini sangat melelahkan."
ucapnya datar.
Ralph mengangguk pelan.
"Baik."
Emma berbalik menaiki tangga.
Sebelum menghilang di lantai atas, ia sempat melirik sekilas ke arah ruang tamu.
Andrea masih berbicara dengan Ralph dengan sangat akrab.
Emma tidak merasa cemburu.
Sedikit pun tidak.
Yang membuatnya penasaran justru hal lain.
"Jadi... ini wanita yang selama ini selalu dijaga Ralph karena mendiang Lauren."
"Pantas Ella sempat mengingatkanku untuk berhati-hati."
Sementara Andrea memandangi punggung Lady Alexander hingga menghilang dari pandangan.
Entah mengapa...
Perubahan wanita itu membuatnya merasa asing.
Seolah orang yang kini tinggal di Alexander Manor bukan lagi Ella yang dulu ia kenal sebagai wanita pendiam dan selalu mengalah.
Ruang tamu kembali tenang setelah Emma naik ke lantai atas.
Hannah datang membawa beberapa kudapan, lalu kembali mengundurkan diri.
Kini hanya Ralph dan Andrea yang tersisa.
Andrea perlahan meletakkan cangkirnya.
"Ralph..."
"Hm?"
"Akhir pekan ini..."
Andrea berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata yang tepat.
"Keluargaku akan mengadakan makan malam."
Ralph menatapnya.
"Makan malam?"
Andrea mengangguk.
"Seperti setiap tahun."
"Hanya keluarga."
"Kami ingin memperingati ulang tahun Kak Lauren."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Tatapan Ralph perlahan jatuh ke arah cangkir tehnya.
Nama itu...
Masih mampu membuat dadanya sesak.
Lauren Anderson.
Wanita yang pernah ia yakini akan menjadi pendamping hidupnya.
Wanita yang telah mengajarinya tersenyum di balik sikap dinginnya.
Namun takdir mengambil Lauren terlalu cepat.
Sejak kepergiannya, Ralph memilih menerima perjodohan dengan Ella sebagai bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan tradisi bangsawan, bukan karena cinta.
Andrea memperhatikan perubahan ekspresi Ralph.
"Kalau terlalu berat..."
"...kau tidak perlu datang."
Ralph menggeleng pelan.
"Bukan."
"Lauren pantas dikenang."
Ia mengangkat kepalanya.
"Aku akan datang."
Andrea tersenyum lega.
"Ayah dan ibu pasti senang."
Ralph hanya mengangguk.
Di dalam hatinya, ia menyadari sesuatu.
Ia masih menyayangi Lauren.
Kenangan itu tidak mungkin hilang begitu saja.
Namun...
Beberapa hari terakhir, setiap kali ia mengingat Lauren, bayangan itu tidak lagi memenuhi seluruh pikirannya.
Entah sejak kapan...
Wajah lain mulai sering muncul.
Gadis nakal berambut pirang pendek dengan tatapan tajam.
Mulut yang selalu berani membantahnya.
Dan seorang wanita yang membuat rumahnya terasa jauh lebih hidup.
Ralph mengembuskan napas pelan.
Mungkin...
Ini bukan berarti ia melupakan Lauren.
Melainkan perlahan mulai mengikhlaskan masa lalu.
Ia tetap akan datang pada makan malam itu.
Bukan untuk menghidupkan kembali perasaan yang telah berlalu.
Tetapi untuk menghormati seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Andrea mengamati Ralph dalam diam.
Senyumnya tetap lembut.
Namun di balik senyum itu, pikirannya bekerja.
Ia tahu Ralph adalah pewaris tunggal keluarga Alexander.
Status.
Kekayaan.
Pengaruh.
Semuanya berada di tangan pria itu.
Selama bertahun-tahun, ia memang menghormati andrea sebagai adik dari mendiang Lauren.
Tetapi setelah melihat perubahan hubungan Ralph dan Lady Alexander...
Andrea mulai merasa waktunya semakin sempit.
"Kalau aku ingin berada di sisi Ralph..."
"Aku harus menemukan celah sebelum istrinya benar-benar mengisi hatinya."
Ia menyembunyikan ambisi itu di balik senyum yang tampak tulus.
Ralph sama sekali tidak menyadari isi hati wanita di hadapannya.
Baginya...
Andrea tetaplah adik perempuan Lauren yang perlu dihormati dan dijaga.
Tidak lebih.
Sementara di lantai atas...
Emma sama sekali tidak mengetahui bahwa akhir pekan nanti akan menjadi awal pertemuannya dengan keluarga Anderson.
Sebuah makan malam untuk mengenang seseorang yang telah tiada...
Yang perlahan justru akan membuka luka lama, sekaligus memunculkan konflik baru dalam rumah tangga yang sedang mereka jalani.
mulai ngikuti sepertinya menarik