Ketika putrinya menyinggung seorang ahli kuat di alam Yang Murni, sistem misterius berbunyi: “Ding! Berdasarkan cinta seorang ayah yang setinggi gunung dan kewajiban untuk melindungi darah dagingnya, kultivasimu meningkat ke alam Yang Lebih Tinggi,”Sejak saat itu, Bai Chen menyadari satu hal — setiap kali anaknya menimbulkan masalah, kekuatannya akan bertambah.Maka, perjalanan Bai Chen pun berubah menjadi jalan yang tak pernah berakhir... jalan untuk “menjebak” putrinya demi menjadi semakin kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ternyata Ayahku Sangat Kuat
Ayah dan anak itu berbincang hingga larut malam, ditemani cahaya lilin. Setelah cukup lama, Bai Qingxue akhirnya keluar dari ruangan dengan langkah limbung seperti orang mabuk, pikirannya melayang saat kembali ke kamarnya sendiri.
Bai Chen memandangi punggung putrinya yang linglung itu dengan senyum puas. Rencananya berhasil.
Dia sendiri tidak menyangka putrinya akan langsung berubah jadi pemberani seperti tadi—anak ini pada dasarnya baik hati dan sama sekali tidak punya bakat untuk cari masalah. Tapi bagaimanapun, orang yang punya rasa percaya diri dan yang tidak akan mengambil keputusan sangat berbeda saat menghadapi situasi sama.
Contohnya begini: kalau atasanmu menyuruh lembur tanpa bayaran, dan kau cuma karyawan biasa dengan orang tua yang sudah renta dan anak kecil di rumah, kau tidak punya pilihan selain menelan kekesalan itu bulat-bulat. Tapi kalau ayahmu adalah pemilik perusahaan itu sendiri? Lembur gratis? Persetan! Kau tinggal lempar map ke meja bosmu dan bilang, "Tempat ini terlalu kecil untukku, aku mau liburan!" Lalu melenggang pergi.
Itulah bedanya.
Bai Chen ingin menanamkan perubahan semacam itu ke dalam hati Bai Qingxue lewat tipuan ini. Dia tahu, di dunia mana pun, kebanyakan orang—bahkan tokoh-tokoh besar sekalipun—harus menelan banyak hal yang tidak mengenakkan, karena selalu ada pihak yang lebih kuat yang memaksa mereka tunduk tanpa berani melawan.
Yang dia inginkan sederhana: membuat putrinya berani marah, berani bersuara, berani melawan setiap kali diperlakukan tidak adil. Siapa pun yang meremehkan, lawan. Siapa pun yang bertindak semena-mena, lawan. Siapa pun yang menindas yang lemah, lawan. Pokoknya, hadapi ketidakadilan dengan berani—toh ayahnya ini ahli tak terkalahkan yang bisa menghajar siapa saja sampai babak belur, bahkan sampai mati.
Tentu saja putrinya yang lembut ini tidak akan langsung berubah jadi sesombong itu dalam semalam. Tapi setelah beberapa kali merasakan "keberhasilan" dan menyaksikan sendiri kekuatan ayahnya, sedikit demi sedikit dia pasti akan lebih berani.
---
Larut malam, seisi rumah sunyi. Di kamar Bai Qingxue.
*Ngiiing!*
Cincin hitam di jarinya bercahaya. Cahaya keemasan melesat keluar dan membentuk sosok bayangan anggun—seorang wanita dewasa yang cantik, tinggi semampai, berambut pirang panjang dengan bibir merah menyala.
"Tuan," sapa Bai Qingxue hormat.
"Xue'er, tak perlu formal begitu," jawab wanita berambut pirang itu sambil tersenyum lembut—jauh berbeda dari sikapnya yang biasanya dingin dan acuh.
"Guru, apakah ayahku... menemukanmu?" tanya Bai Qingxue ragu.
Wanita itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecut. "Ya. Dia langsung tahu keberadaanku hanya dengan sekali pandang. Aku tidak menyangka ada monster semenakutkan itu bersembunyi di Dinasti Taixu yang kecil ini."
"Monster?!" Bai Qingxue tersentak. "Guru, ayahku benar-benar sekuat itu?"
Meski dia percaya penuh pada ayahnya, kesan yang tertanam belasan tahun tidak mudah diubah begitu saja. Di matanya, ayahnya selalu hanya seorang praktisi di Alam Inti Asal. Tiba-tiba dikatakan sebagai ahli tak tertandingi—rasanya seperti mimpi.
"Lebih dari sekadar kuat, dia agak menakutkan," ucap wanita pirang itu, matanya menyiratkan kekaguman. "Aku sudah menyembunyikan diri sebaik mungkin, tapi dia bisa menembus penyamaranku hanya dengan sekali lirik. Benar-benar dahsyat."
"Kalau begitu, dibandingkan denganmu di masa jaya, siapa yang lebih kuat—ayahku atau kamu?" tanya Bai Qingxue penasaran.
"Tidak bisa dibandingkan," wanita itu menggeleng sambil menghela napas. "Meski aku sekarang cuma sisa jiwa, kemampuan menilaiku masih tajam. Aku bisa membaca hakikat orang biasa dengan sekali pandang, tapi ayahmu... dia seperti samudra tanpa dasar, aku sama sekali tidak bisa menembusnya. Kekuatannya sudah di luar pemahamanku. Mungkin dia benar-benar pernah melampaui Sembilan Alam."
Mata Bai Qingxue berbinar. "Guru, benarkah ada Alam lain di atas Sembilan Alam?"
"Konon ada, tapi keberadaan seperti itu sepertinya tidak eksis di alam kita ini," jawab wanita pirang itu sambil berpikir.
"Maksudmu, di luar dunia kita ada dunia lain yang lebih tinggi?!" Bai Qingxue membelalak. Malam itu, pandangannya tentang dunia terus-menerus diperbarui, jauh melampaui apa yang pernah dia bayangkan.
"Dengan kekuatanmu sekarang, kau bahkan belum bisa keluar dari Dinasti Taixu—kenapa malah sibuk memikirkan hal sejauh itu?" tegur wanita itu sambil menepuk kepala Bai Qingxue. "Cepat kembangkan dirimu dulu. Jangan bermimpi terlalu tinggi."
"Baik," Bai Qingxue mengusap kepalanya sendiri, mengangguk patuh, lalu mulai duduk bersila untuk berlatih.
*Wuung... wuung...*
Cahaya keemasan memancar dari tubuhnya, membentuk lingkaran-lingkaran cahaya suci berlapis. Wanita pirang itu menatapnya dengan kagum, bergumam sendiri, "Pantas saja tempat kecil ini bisa mempertemukanku dengan Fisik Ilahi langka begini. Tidak kusangka, ini garis keturunan seorang ahli super..."
---
Di Paviliun Patriark, dalam ruang latihan.
Bai Yunfei duduk bersila, sementara Bai Zhentao duduk tegak di hadapannya, sedikit gentar pada ayahnya sendiri.
"Ayah, apa Ayah benar-benar akan membunuh Bai Chen di Panggung Hidup dan Mati? Bukankah itu bisa menimbulkan kehebohan?" tanya Bai Zhentao pelan.
"Tentu saja akan heboh. Dia mantan Patriark, masih banyak anggota klan yang menghormatinya," Bai Yunfei terkekeh, nada suaranya berubah kejam. "Tapi kalau tidak kubunuh, hatiku tidak akan tenang. Apalagi setelah melihat anak sampah itu tiba-tiba mendapat kembali bakatnya—kalau Bai Chen sendiri juga bangkit lagi, aku harus mencabut akarnya sekarang juga sebelum terlambat!"
Bai Zhentao mengangguk setuju, lalu bertanya, "Bagaimana kalau ada yang mencoba menghentikan Ayah?"
"Hehe, aku sudah menghubungi beberapa tetua dari garis keturunan kita untuk menjaga ketertiban. Tidak akan ada yang berani ikut campur," jawab Bai Yunfei dengan mata menyipit licik.
"Ayah memang selalu selangkah lebih maju," puji Bai Zhentao, merasa bangga.
"Fokus saja mengembangkan dirimu. Biar aku yang urus si anak sampah itu. Untuk Bai Qingxue, kau masih punya banyak saingan di kalangan generasi muda Perfektur Wanjin," ujar Bai Yunfei berat.
"Dimengerti," Bai Zhentao mengangguk dan mulai berlatih.
---
Keesokan paginya, Perfektur Wanjin ramai luar biasa. Keluarga Bai mendirikan Panggung Hidup dan Mati di jalan luar kediaman untuk menggelar pertarungan maut antara Patriark lama dan Patriark baru!
Sejak pagi buta, jalan di luar kediaman Keluarga Bai sudah dipadati orang-orang yang penasaran.
"Sudah lama tidak ada drama perebutan kekuasaan sebesar ini di Perfektur Wanjin."
"Menurutmu keduanya bakal sama-sama mati?"
"Mana mungkin. Bukankah kau dengar? Bai Chen sudah hancur total kultivasinya."
"Kalau begitu ini cuma pembantaian sepihak dong—Bai Yunfei jelas akan membunuhnya."
"Tepat. Tapi kenapa para tetua tidak menghentikannya?"
"Namanya juga pertarungan maut yang disepakati kedua pihak. Kalau sudah setuju, siapa yang berani ikut campur?"
"Aneh juga sih, Bai Chen dulu bukan orang bodoh. Kenapa mau setuju bertarung sampai mati?"
"Mungkin diancam. Dia kan masih punya putri."
Tak lama kemudian, gerbang utama Keluarga Bai terbuka. Bai Yunfei berjalan keluar memimpin rombongan anggota keluarga. Kerumunan langsung membelah, membuka jalan menuju Panggung Hidup dan Mati.
"Maaf membuat kalian menunggu," Bai Yunfei tersenyum sambil menangkupkan tangan ke arah kerumunan, berjalan penuh percaya diri menuju panggung, memandang sekeliling dengan sorot puas.
Hari ini, dia akan menginjak-injak Bai Chen di depan seluruh Perfektur Wanjin, mempermalukannya sampai ke titik terendah.
Tapi setelah menunggu cukup lama, Bai Chen tidak juga muncul.
"Bai Chen! Kau takut mati dan tidak berani datang?!" teriak Bai Yunfei mencibir keras ke arah kediaman Keluarga Bai. "Jangan bilang kau cuma mabuk dan omong kosong kemarin!"
Suaranya menggema hingga terdengar separuh kota.
"Kenapa berisik sekali pagi-pagi? Tidak perlu terburu-buru mencari mati," sebuah suara tenang menyahut.
*Sriiing!*
Semua kepala menoleh serempak. Bai Chen berjalan keluar dari gerbang utama Keluarga Bai, ditemani Bai Qingxue di sampingnya. Tubuhnya tinggi dan tegap, jubah putihnya berkibar tertiup angin, memancarkan aura tenang namun memikat yang membuat setiap mata tertuju padanya.