NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Setelah melewati batas hutan terlarang, Kazura tidak langsung berhenti. Dia berjalan lebih dalam, menyusuri jalur yang hanya bisa dikenali oleh orang yang sudah hafal ritme hutan itu sendiri.

Kabut tipis menggantung di antara pepohonan.

Sebuah rumah tua berdiri diam seperti bangkai bangunan yang masih dipaksa hidup. Kayu-kayunya gelap, atapnya miring sedikit, namun di dalamnya tidak ada kesan kosong. Melainkan sebuah markas.

Kazura berhenti di depan pintu. Dia mengetuknya sebanyak 7 kali layaknya akses. Pintu itu pun terbuka tanpa suara.

Di dalam, cahaya redup dari lampu minyak menggantung di ruang utama. Dinding penuh peta, catatan, dan tanda-tanda yang tidak boleh dilihat orang luar. Udara di sana tidak hangat tapi berat.

Di ujung ruangan, Master Genjiro sudah menunggu. Tanpa menoleh, dia berbicara lebih dulu.

“Kau membawa informasi?.”

“Ya Master, bahkan jauh lebih seru."

Langkahnya pelan, tapi tidak ragu. Dia berdiri beberapa meter dari Genjiro, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Master Genjiro akhirnya menoleh sedikit.

“Ada perubahan, Master…”

Master Genjiro tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada peta, tapi jari-jarinya berhenti bergerak.

Kazura melanjutkan, lebih hati-hati.

“Seijun dan Kaisar sudah tidak lagi menganggap ini fenomena alami. Dia yakin ada tangan yang mengatur semuanya dari dalam istana.”

Genjiro akhirnya mengangkat pandangan.

“Mereka akan sampai pada satu kesimpulan lagi. Sesuatu yang dirancang untuk mengguncang istana. Yaitu takha." ucap Kazura.

Master Genjiro tidak langsung berbicara. Tangannya perlahan meninggalkan peta. Kazura memperhatikan itu.

Master Genjiro berjalan pelan, tidak tergesa, tapi setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Hahaha jadi mereka sudah mulai menggabungkan potongan potongan puzzle itu.”

“…lebih cepat dari yang kuperkirakan.”

Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin. Kazura mengerutkan alis.

“Lalu, apakah kita perlu mengubah pola, Master?”

“Biarkan mereka berpikir mereka sedang mendekati kebenaran.”

Jeda.

“Karena orang yang merasa sudah dekat dengan jawaban... akan berhenti melihat arah lain.”

Kazura terdiam.

“Tapi kalau kita biarkan dia berjalan…”

suara Genjiro turun lebih rendah,

“…dia akan membawa kita ke semua orang yang selama ini bersembunyi di balik kebenaran palsu itu.”

“Kebenaran tidak perlu diciptakan, Kazura.”

Dia menoleh sedikit.

“Kebenaran hanya perlu diarahkan.”

Kazura terdiam. Lalu menunduk sedikit.

“Apa langkah selanjutnya?”

Genjiro kembali duduk.

"Tetap awasi mereka.”

Jeda.

“Dan pastikan mereka tetap percaya bahwa mereka masih memegang kendali.”

Kazura mengangguk pelan.

“Dimengerti.”

Dia berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, Genjiro menambahkan satu kalimat terakhir, pelan, tapi berat.

“Dan Kazura…”

Kazura berhenti.

“Jangan sampai kau mulai meragukan arah yang kita ambil.”

Kazura tersenyum tipis lalu beberapa detik kemudian, dia berkata singkat.

“Keraguan hanya milik mereka yang lemah.”

---

Malam itu, Putri Hikari memasuki ruang kerja Kaisar. Seperti biasa, ayahnya duduk di balik meja besar yang dipenuhi dokumen kerajaan. Namun kali ini, ketika melihatnya masuk, Kaisar segera meletakkan semua pekerjaannya.

"Putriku.."

"Ya, Ayah?"

"Kemarilah. Duduk di sampingku."

Putri Hikari menurut, lalu duduk disamping ayahnya. Entah mengapa, nada suara ayahnya terdengar lebih hangat dari biasanya. Kaisar memperhatikannya beberapa saat. Lalu tersenyum tipis.

"Kau terlihat lelah."

Putri Hikari terkejut. Biasanya tidak ada yang menyadarinya.

"Aku baik-baik saja."

"Kau selalu mengatakan itu."

....

"Kau mirip ibumu dalam hal itu."

Hikari terdiam.

"Sudah lama sekali tidak ada yang menanyakan keadaanku. Akhir-akhir ini semuanya terasa berat. Masalah demi masalah terus datang. Terkadang aku bahkan merasa sendirian di tengah keramaian istana." batin Putri Hikari.

Kaisar membuka sebuah map di atas meja.

"Aku memanggilmu karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

"Apa itu Ayah?"

"Ulang tahunmu."

Putri Hikari membeku sesaat. Lalu menatap ayahnya.

"Dua hari lagi putriku genap 20 tahun."

Untuk pertama kalinya malam itu, Putri Hikari terlihat benar-benar terkejut.

"Ayah masih mengingatnya?"

Kaisar mengernyit.

"Tentu saja aku mengingatnya. Hari kelahiranmu adalah salah satu hari paling berharga dalam hidupku."

Mata Hikari membesar.

"Bagaimana mungkin aku melupakannya? aku masih ingat saat pertama kali menggendongmu. Aku masih ingat tangisan kecilmu. Aku juga masih ingat bagaimana aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu apa pun yang terjadi. Lalu tanpa kusadari... anak kecil ini sudah tumbuh menjadi wanita cantik yang berdiri di depanku sekarang." ucap Kaisar sambil tersenyum lembut.

"Aku sudah memerintahkan persiapan besar-besaran. Aula utama akan dihias. Para bangsawan dari seluruh wilayah telah menerima undangan."

Putri Hikari sangat bahagia mendengarnya. Dia menatap ayahnya tanpa berkata-kata.

Kaisar mengulurkan tangan dan mengusap kepala putrinya. Gerakan yang sudah lama sekali tidak dia lakukan.

"Aku bangga padamu."

Hikari terdiam.

"Kau telah tumbuh menjadi wanita yang baik."

"Ayah..."

"Kau mungkin tidak menyadarinya, tetapi ayah selalu memperhatikanmu."

Air mata mulai memenuhi sudut mata Hikari.

"Selama ini aku mengira tidak ada yang peduli. Aku mengira semua orang hanya melihatku sebagai putri kekaisaran. Sebagai alat politik. Sebagai simbol. Bukan sebagai diriku sendiri." batin Putri Hikari.

Setetes air mata jatuh ke pangkuannya. Lalu disusul tetes berikutnya. Putri Hikari buru-buru mengusapnya. Namun semakin diusap, semakin banyak yang keluar. Untuk sesaat, dirinya merasa kembali menjadi anak kecil. Bukan putri kekaisaran. Bukan wanita yang harus menjaga martabat keluarga. Hanya seorang anak yang sedang lelah.

Kaisar memeluk putrinya perlahan.

"Ayah?"

"Aku mungkin tidak selalu berada di sisimu. Aku mungkin terlalu sering dalam urusan kerajaan."

Air mata Hikari semakin deras.

"Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian."

Kaisar tersenyum.

"Pada malam ulang tahunmu nanti. Aku ingin seluruh kekaisaran tahu satu hal."

Hikari mengangkat wajahnya.

"Apa itu?"

Kaisar menatapnya penuh kasih.

"Bahwa putri yang paling kubanggakan telah tumbuh dengan begitu indah."

Hikari akhirnya tidak mampu menahan tangisnya lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata yang jatuh bukan karena kesedihan. Melainkan karena dia kembali merasakan sesuatu yang hampir dia lupakan.

Dicintai.

Putri Hikari mengusap air matanya. Dia tersenyum lalu berkata,

"Terimakasih ayah. Aku menyayangimu.."

---

Keesokan harinya, Aula Sihir Kerajaan siang itu cukup tenang.

Beberapa pemburu sedang beristirahat setelah latihan, sementara yang lain sibuk memeriksa perlengkapan mereka. Di dekat jendela, Ryujin sedang membaca kartu undangan yang baru saja diterima.

"Pesta ulang tahun Tuan Putri... kelihatannya akan sangat meriah."

Haru yang duduk di sampingnya mengangguk.

"Aku dengar seluruh bangsawan penting akan hadir."

Ryujin mendengus pelan.

"Tentu saja. Kapan lagi mereka bisa berkumpul dalam satu tempat untuk membandingkan siapa yang paling kaya?"

Haru tersenyum tipis.

Ryujin mengangkat bahu.

"Sebagian datang untuk merayakan ulang tahun Putri Hikari. Sebagian lagi datang untuk memamerkan kereta baru, pakaian baru, perhiasan baru, atau anak mereka yang katanya paling berbakat di seluruh kerajaan."

Haru tertawa kecil.

"Kedengarannya kau cukup mengenal dunia bangsawan."

Ryujin menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Percayalah, kalau ada sepuluh bangsawan berkumpul, setidaknya sembilan di antaranya sedang berusaha membuat bangsawan lain iri."

Di seberang mereka, Yua sedang membaca undangannya tanpa terlalu memperhatikan percakapan itu.

Sampai Ryujin tiba-tiba tersenyum jahil.

"Yua."

"Apa?"

"Kau sadar tidak? nanti bakal banyak bangsawan muda di sana."

Yua mengangkat sebelah alis.

"Lalu?"

"Katanya banyak di antara mereka yang belum punya pasangan."

"Lantas?"

Ryujin menyeringai.

"Mungkin saja salah satu mereka ada yang menarik perhatianmu."

Yua menatapnya datar.

"Omong kosong."

Yua kembali melihat undangannya.

Ryujin lalu menghampirinya dan duduk disampingnya. Dia lalu melirik ke arah Yua yang sedang membaca undangannya. Senyum jahil langsung muncul di wajahnya.

"Ngomong-ngomong..."

Yua sudah merasa firasat buruk.

"Apa?"

"Menurutmu berapa banyak bangsawan muda yang bakal mendekatimu nanti?"

"Apa maksudmu?"

Ryujin tertawa.

"Ayolah. Siapa yang tidak tertarik pada wanita sepertimu?"

Yua mengernyit.

"Berhentilah berbual Ryujin..."

Ryujin menghitung dengan jarinya.

"Cantik, berbakat, pengguna sihir tingkat tinggi dan pemburu elit. Namamu dikenal di seluruh negeri."

Ryujin menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau aku seorang bangsawan muda, aku juga akan mencoba mengajakmu berdansa."

"Syukurlah kau bukan bangsawan."

Haru spontan menahan tawa. Ryujin lalu menunjuk Haru.

"Lihat? bahkan Haru tidak membantah."

Haru mengangkat kedua tangan.

"Aku hanya tidak ingin terlibat."

Yua menghela napas panjang.

"Kalian berdua benar-benar tidak punya pekerjaan lain."

Yua mengambil buku yang ada di meja.

"Pergi sebelum buku ini mendarat di wajahmu."

Ryujin langsung tertawa keras sementara Haru hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.

Haru hanya memperhatikan mereka berdua. Lalu dia berkata pelan.

"Kalau dipikir-pikir, Ryujin ada benarnya."

Yua menoleh.

"Astaga Haru..??"

"Kau cukup terkenal. Khususnya setelah beberapa misi terakhir," lanjut Haru.

"Banyak orang mengenal namamu."

Yua menghela napas.

"Bukankah kalian juga terkenal sama halnya denganku. Tunggu saja nanti para putri bangsawan pasti akan banyak mencari perhatian kalian. Hahaha."

"Lagi pula aku datang ke pesta itu bukan untuk mencari perhatian."

"Tapi perhatian bisa datang sendiri." jawab Haru.

Yua tidak menjawab. Karena sebenarnya dia lebih memikirkan seseorang yang lain.

Jinsei.

Ryujin yang menyadari perubahan ekspresinya langsung menyadari sesuatu hal. Senyum Ryujin perlahan memudar.

Ryujin tidak mengatakan apa-apa. Namun untuk pertama kalinya, dia merasa pesta ulang tahun Tuan Putri nanti mungkin akan jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!