Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
"Kalau beliau percaya, yang datang mengunci pintu kemarin bukan Mama Zhang, melainkan seorang pendeta Tao." Lin Xiao berkata tenang, "Orang yang menyebarkan rumor ini entah ingin menakut-nakutiku atau mengujiku. Nyonya Tua sudah hidup lebih dari enam puluh tahun. Beliau sudah melihat banyak hal. Beliau tidak akan mempercayai gosip semacam ini begitu saja."
Qingxing memikirkannya dan merasa itu masuk akal, tetapi ia tetap gelisah.
"Tapi... saat aku mengambil kotak makanan tadi, tatapan para pelayan di luar sudah berubah. Dulu, meskipun mereka tidak terlalu peduli pada orang-orang dari Halaman Timur, setidaknya mereka masih memanggilku 'Nona Qingxing'. Hari ini mereka langsung menyebutku 'pelayan itu'."
Lin Xiao memandangi wajahnya yang dipenuhi rasa sedih dan terdiam sejenak.
"Qingxing, apa kau takut?"
Qingxing tercengang.
"Takut... apa?"
"Takut kalau aku benar-benar monster."
Mata Qingxing membelalak.
"Nyonya bicara apa? Kalau Nyonya monster, berarti tidak ada orang baik lagi di dunia ini! Dulu... dulu memang Nyonya jarang bicara, tapi Nyonya tidak pernah mencelakai siapa pun. Hari Selir Zhou jatuh, aku ada di sana. Jelas-jelas dia terpeleset sendiri. Nyonya bahkan sempat mengulurkan tangan untuk menariknya, tetapi dia malah menepis tangan Nyonya!"
Di tengah kalimat, suaranya tiba-tiba tercekat.
Karena kenangan itu tidak pernah dipercaya siapa pun. Tidak ada yang bertanya apakah Shen Qingyue benar-benar menyentuh Selir Zhou atau tidak. Tidak ada yang melihat tangan Shen Qingyue yang terulur.
Semua orang hanya melihat hasil akhirnya.
Selir Zhou jatuh, dan Shen Qingyue berdiri di sampingnya.
Qingxing mengikuti dari belakang dan melihat semuanya. Namun, siapa yang akan percaya perkataan seorang pelayan?
Melihat matanya yang memerah, Lin Xiao mengulurkan tangan dan menepuk pundaknya pelan.
"Sudahlah. Jangan menangis."
"Aku tidak menangis..."
"Kalau menangis, pergi cuci muka." Lin Xiao menarik kembali tangannya. "Besok pagi masih ada urusan."
Qingxing mengusap hidungnya.
"Urusan apa?"
"Karena mereka ingin melihat monster, aku akan memerankannya untuk mereka." Lin Xiao berkata sambil berdiri. "Biar mereka melihat sendiri seperti apa monster bermata hijau itu."
Qingxing tertegun.
"Nyonya mau melakukan apa?"
"Tidur." Lin Xiao berjalan menuju kamar dalam. "Besok saja lihat."
Keesokan paginya, Lin Xiao bangun sedikit lebih siang dari biasanya.
Ia sengaja meminta Qingxing meriasnya lebih tipis daripada biasanya. Bedak tipis, sedikit pemerah pipi, tanpa pewarna bibir. Penampilannya jadi tampak jauh lebih sederhana.
Jepit rambut perak juga diganti dengan jepit batu giok putih, sementara anting mutiara di telinganya ditukar menjadi lingkaran kecil dari perak.
Qingxing memandang bayangannya di cermin dan tanpa alasan merasa sedikit merinding.
"Nyonya... dandanan ini..."
"Kenapa?"
"Entahlah... terlalu sederhana. Mirip... mirip hantu perempuan di cerita sandiwara."
Lin Xiao tertawa.
"Bagus. Itu memang tujuannya."
Ia bangkit dan keluar dari kamar.
Qingxing mengikuti di belakang sambil membawa hadiah untuk kunjungan pagi kepada Nyonya Tua, yaitu sepiring kue osmanthus yang dibuatnya sendiri semalam.
Lin Xiao yang memerintahkannya. Katanya, Nyonya Tua menyukai makanan manis. Membawa sedikit kue memang tidak mahal, tetapi setidaknya menunjukkan perhatian.
Pintu Halaman Timur masih terkunci, tetapi begitu Qingxing memanggil, kedua pelayan wanita penjaga saling berpandangan sebelum akhirnya membuka gembok.
Nyonya Tua memang tidak pernah mengeluarkan perintah mutlak yang melarang Lin Xiao keluar. Beliau hanya mengatakan agar ia tetap tinggal di Halaman Timur dan tidak berkeliaran. Jika Lin Xiao hendak pergi memberi salam pagi, para pelayan tidak berani menghalanginya.
Di tengah perjalanan menuju halaman utama, Lin Xiao melihat dua pelayan sedang berbincang di bawah koridor.
Begitu melihatnya mendekat, keduanya langsung terdiam dan menundukkan kepala memberi salam. Namun, cara mereka menundukkan kepala terlalu cepat, seolah sedang menghindari sesuatu yang kotor.
Saat Lin Xiao melewati mereka, ia mendengar salah satu dari mereka berbisik pelan,
"...Apa kau lihat? Wajahnya pucat sekali, tidak seperti manusia."
Yang satu lagi tidak menjawab, tetapi diam-diam mundur setengah langkah.
Lin Xiao terus berjalan tanpa berhenti.
Ketika memasuki halaman utama, beberapa orang sudah duduk di ruang utama. Ada Nyonya Kedua, menantu keluarga cabang ketiga, dan dua istri dari keluarga samping.
Begitu melihat Lin Xiao masuk, ekspresi mereka semua berubah secara halus.
Ada yang pura-pura minum teh, ada yang menoleh ke luar jendela, dan ada yang berusaha menahan senyum aneh di sudut bibirnya.
Nyonya Tua duduk di kursi utama sambil memutar tasbih Buddha di tangannya. Saat melihat Lin Xiao masuk, pandangannya berhenti sejenak di wajahnya.
"Kau datang."
"Salam untuk Nyonya Tua."
Lin Xiao memberi hormat dan menyuruh Qingxing menyerahkan kue osmanthus.
"Semalam aku membuat sedikit kue osmanthus. Aku ingat Nyonya Tua menyukai makanan manis, jadi aku membawanya."
Nyonya Tua melirik piring kue itu. Beliau tidak langsung mengambilnya, tetapi juga tidak mengatakan suka atau tidak.
Di samping, Nyonya Kedua berdeham dan berkata sambil tersenyum tipis,
"Qingyue benar-benar perhatian. Sudah dikurung di Halaman Timur, tapi masih sempat membuat kue. Kalau kami yang dikurung sehari saja, mungkin sudah gelisah setengah mati. Tapi kau... wajahmu malah terlihat semakin segar."
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi sindirannya begitu jelas.
Kau sudah dikurung, kenapa masih berpura-pura murah hati?
Lin Xiao tersenyum tipis tanpa menanggapi. Ia berjalan ke kursi di samping dan duduk.
"Bibi Kedua benar. Aku memang berhati besar. Dikurung atau tidak, sehari tetap berlalu. Daripada terus murung, lebih baik membuat diriku sendiri merasa nyaman."
Senyum Nyonya Kedua langsung membeku. Jemarinya yang memegang cangkir teh ikut menegang.
Nyonya Tua mengambil sepotong kue osmanthus, memeriksanya sebentar, lalu menggigit sedikit.
"Terlalu manis."
"Aku akan mengurangi gulanya lain kali."
Nyonya Tua meletakkan sisa kue kembali ke piring dan menyeka tangannya. Beliau tidak melanjutkan makan, tetapi juga tidak menyuruh orang membawanya pergi.
Tindakan itu sendiri sudah menjelaskan sesuatu.
Beliau menerima niat baik itu.
Entah suka atau tidak, beliau menerimanya.
Beberapa nyonya yang duduk di samping saling bertukar pandang. Ekspresi mereka tampak kurang senang.
Hari itu Selir Zhou tidak datang.
Katanya tubuhnya masih lemah dan sedang beristirahat di halaman barat untuk menjaga kandungannya. Namun Lin Xiao tahu bahwa Selir Zhou sedang menjalani hukuman larangan keluar dari halaman, sehingga ia memang tidak bisa datang.
Dan justru karena suara tangisnya yang lembut tidak terdengar hari ini, suasana ruang utama terasa lebih menyesakkan dibanding beberapa hari sebelumnya.
Karena semua orang menyimpan pertanyaan yang tak terucapkan.
Tentang "monster".
Tentang "Shen Qingyue yang tiba-tiba berubah".
Tentang "mata hijau" itu.
Tak seorang pun berani membahasnya di depan Nyonya Tua, tetapi semua orang diam-diam mengamati Lin Xiao, seolah menunggu ia melakukan sesuatu yang tidak manusiawi untuk membuktikan rumor itu.
Namun, Lin Xiao hanya duduk di sana dengan tenang.
Minum teh dengan tenang.
Tersenyum dengan tenang.
Bahkan mengobrol santai beberapa kalimat dengan Nyonya Kedua.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada cahaya hijau.
Tidak ada aura iblis.
Tidak ada kejadian luar biasa.
Ia begitu normal hingga membuat orang-orang kecewa.