"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 | Di Balik Perlindungan
Ruangan arsip kembali sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, mengiringi keheningan yang terasa begitu menyesakkan.
Arsen masih menatap lembar kertas bertuliskan tinta merah di tangannya.
"Kau terlambat tujuh tahun, Arsen."
Rahangnya mengeras.
Bukan karena takut.
Melainkan marah.
Seseorang sedang mempermainkannya.
Lebih parah lagi...
Orang itu berhasil masuk ke area yang seharusnya memiliki tingkat keamanan paling tinggi di Mahendra Group.
"Apa yang terjadi?"
Suara Ayla memecah keheningan.
Tatapannya bergantian melihat kertas di tangan Arsen dan wajah pria itu yang kini berubah jauh lebih dingin dibanding beberapa menit lalu.
Arsen melipat kertas itu tanpa menjawab.
"Ayo keluar."
"Pak, tapi—"
"Sekarang."
Nada bicaranya datar.
Namun cukup untuk membuat Ayla memahami bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
_________________________________________
Begitu keluar dari ruang arsip, Arsen langsung menghubungi Raka.
"Lantai arsip ditutup mulai hari ini."
"Pak?"
"Tak seorang pun boleh masuk tanpa izinku."
"Baik, Pak."
"Dan..."
Arsen menghentikan langkahnya.
"Cek seluruh rekaman CCTV lima belas menit sebelum listrik padam."
"Kalau ada satu detik saja yang hilang..."
"...anggap sistem kita sudah ditembus."
"Siap."
Raka belum pernah melihat Arsen setegang itu.
Selama bertahun-tahun menjadi asistennya, Arsen selalu mampu mengendalikan keadaan.
Namun kali ini berbeda.
Musuh bukan hanya menyerang perusahaan.
Mereka sedang bermain dengan masa lalu.
__________________________________________
Ayla memilih diam sepanjang perjalanan menuju ruangannya.
Beberapa kali ia melirik Arsen yang berjalan di sampingnya.
Entah sejak kapan.
Jarak di antara mereka terasa semakin dekat.
Bukan karena mereka sering bersama.
Melainkan karena setiap kali ada bahaya, Arsen selalu berada di depannya.
Saat mereka hampir tiba di ruang kerja, langkah Arsen mendadak berhenti.
"Mulai besok."
Ayla menoleh.
"Kamu pindah ruangan."
"Pindah?"
"Iya."
"Ke mana?"
"Di sebelah ruanganku."
Ayla langsung menggeleng.
"Nggak perlu, Pak. Ruanganku sekarang juga baik-baik saja."
"Itu bukan permintaan."
Jawaban Arsen singkat.
"Mulai besok kamu bekerja di sana."
Ayla mengerucutkan bibir.
"Pak Arsen..."
"Saya ini sekretaris, bukan anak kecil."
"Tahu."
"Kalau begitu kenapa saya harus dipindahkan?"
Arsen menatapnya beberapa saat.
Sorot matanya tetap tenang.
Namun kali ini ada kekhawatiran yang tak berhasil ia sembunyikan.
"Karena aku tidak bisa mengawasimu kalau kamu terlalu jauh."
Kalimat itu membuat Ayla terdiam.
Untuk sesaat...
Ia lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.
Belum sempat ia menjawab, Arsen sudah lebih dulu melangkah pergi.
Meninggalkan Ayla yang masih berdiri mematung di tempat.
"Aneh..."
gumam Ayla pelan.
"Kenapa akhir-akhir ini dia berubah?"
__________________________________________
Di sisi lain.
Sebuah ruangan gelap hanya diterangi cahaya dari belasan monitor.
Pria bertopeng duduk santai sambil memperhatikan layar yang menampilkan setiap sudut Mahendra Group.
Senyum tipis terukir di balik topeng hitamnya.
"Dia memindahkan Ayla."
Seorang pria bertubuh besar berdiri di belakangnya.
"Apakah rencana kita gagal, Tuan?"
Pria bertopeng justru terkekeh pelan.
"Gagal?"
"Tidak."
"Arsen melakukan persis seperti yang kuharapkan."
"Kalau Ayla berada lebih dekat dengannya..."
"...akan lebih mudah menghancurkan mereka berdua sekaligus."
Ruangan kembali hening.
Beberapa detik kemudian salah satu monitor menampilkan gambar seseorang yang baru keluar dari lift khusus direksi.
Pria bertopeng memperbesar gambar itu.
Lalu tersenyum.
"Jadi..."
"...pengkhianat kita masih bekerja dengan sangat baik."
___________________________________________
Malam menjelang.
Sebagian besar karyawan telah meninggalkan gedung.
Ayla masih merapikan beberapa dokumen di ruangannya sebelum benar-benar pindah keesokan hari.
Saat hendak mematikan lampu...
Ia melihat sebuah map tipis tergeletak di atas mejanya.
Padahal...
Ia yakin meja itu sudah kosong.
Perlahan ia membuka map tersebut.
Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.
Bukan surat.
Bukan foto.
Melainkan salinan daftar pasien sebuah rumah sakit.
Alis Ayla berkerut.
Nama demi nama memenuhi halaman itu.
Hingga pandangannya berhenti pada satu baris.
Nama Pasien : Ayla Prameswari
Tanggal Masuk : 17 Agustus 2019
Napas Ayla tercekat.
"Itu..."
Matanya bergerak ke kolom berikutnya.
Diagnosis : Trauma berat dan kehilangan sebagian ingatan.
Tubuh Ayla langsung melemas.
Lembar kertas itu jatuh ke lantai.
"Kenapa..."
"Kenapa aku tidak pernah mengingat ini?"
Di saat yang sama...
Dari balik pintu yang sedikit terbuka...
Seseorang sedang memperhatikannya dalam diam.
Tak terlihat wajahnya.
Hanya bayangan sepatu hitam yang perlahan mundur sebelum menghilang di ujung lorong.
Beberapa detik kemudian, ponsel pria bertopeng bergetar.
Target telah menemukan berkasnya.
Ia membaca pesan itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
Lalu mengetik balasan singkat.
Tahap berikutnya dimulai malam ini.
Senyumnya perlahan mengembang.
Sementara di lantai atas...
Arsen berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
Entah mengapa, sejak sore tadi dadanya dipenuhi firasat buruk.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi Ayla.
Namun...
Panggilan itu tidak tersambung.
Untuk pertama kalinya...
Wajah Arsen berubah pucat.
Bersambung...