Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlahan Menjadi Tempat Bersandar
Bab 18
Pagi itu, suasana kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa organisasi mahasiswa sedang membuka stan pendaftaran anggota baru di sepanjang halaman fakultas. Spanduk berwarna-warni berjajar di kanan dan kiri jalan, sementara suara musik pelan terdengar dari pengeras suara.
Karin berjalan melewati keramaian sambil memegang beberapa buku di dadanya.
Sudah hampir tiga minggu berlalu sejak masalah surat peringatan Kai selesai. Kehidupan kampus mulai kembali seperti semula.
Setidaknya, begitulah yang terlihat di permukaan.
"Selamat pagi."
Suara yang kini mulai akrab itu membuat Karin menoleh.
Kai berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kali ini bukan membawa roti atau minuman, melainkan sebuah payung lipat.
"Kamu bawa payung?" tanya Karin heran.
Kai mengangguk ke arah langit.
"Dari tadi mendung."
Karin mendongak. Benar saja. Awan kelabu mulai menutupi matahari.
"Aku nggak kepikiran."
"Kamu memang sering lupa."
Karin tertawa kecil.
"Sejak kapan kamu hafal kebiasaanku?"
Kai terdiam sesaat, seolah baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya.
"Mungkin... karena sering ketemu."
Jawaban itu membuat Karin tersenyum tanpa sadar.
Mereka kembali berjalan berdampingan menuju ruang kelas.
Beberapa mahasiswa yang berpapasan mulai terbiasa melihat mereka bersama. Bisik-bisik memang masih sesekali terdengar, tetapi tidak lagi sekeras dulu.
-
-
-
Jam pertama diisi mata kuliah Manajemen Proyek.
Dosen membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok diskusi.
"Kalian bebas memilih tempat berdiskusi. Minggu depan hasilnya dipresentasikan."
Mahasiswa langsung berpindah-pindah tempat.
Nia segera bergabung dengan Karin dan Kai.
"Untung kelompok kita tetap."
"Iya," jawab Karin.
-
-
-
Jam istirahat tiba.
Tiga orang itu berjalan menuju kantin.
Di tengah perjalanan, dua mahasiswa yang berdiri di dekat tangga memperhatikan Kai.
"Itu dia."
"Iya."
"Sok alim sekarang."
Ucapan itu terdengar cukup jelas.
Karin spontan menghentikan langkah.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, tiba Maya yang berada tidak jauh dari mereka mendekat kepada kedua mahasiswa itu.
"Kalau mau ngomongin orang..., lebih baik jangan keras-keras."
Kedua mahasiswa itu tampak salah tingkah.
"Kami cuma bercanda."
"Bercanda juga ada batasnya."
Nada bicara Maya tidak tinggi.
Tetapi cukup membuat mereka memilih pergi.
Setelah mereka menjauh, Nia mengembuskan napas lega.
"Kak Maya keren."
Maya hanya tersenyum tipis.
"Aku nggak suka orang yang menilai seseorang dari gosip."
Kai akhirnya membuka suara.
"Terima kasih."
Maya menggeleng pelan.
"Nggak usah. Aku cuma ngomong yang benar."
Karin memperhatikan keduanya.
Dalam hati, ia merasa bersyukur.
Sedikit demi sedikit, mulai ada orang yang melihat Kai dengan penilaian yang adil.
-
-
-
Sepulang kuliah, hujan benar-benar turun. Mahasiswa berlarian mencari tempat berteduh.
Karin berdiri di bawah kanopi gedung sambil memandangi halaman kampus yang basah.
"Aku lupa bawa payung."
Kai membuka payung hitam yang tadi dibawanya.
"Ayo."
"Kita tunggu reda saja."
"Hujannya kelihatannya lama."
Karin melihat ke luar.
Air hujan justru semakin deras.
"Kalau begitu..."
Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung. Jarak mereka otomatis menjadi lebih dekat.
Beberapa kali bahu Karin tidak sengaja menyentuh lengan Kai.
Karin langsung bergeser sedikit.
"Maaf."
"Nggak apa-apa."
Kai justru memiringkan payung sedikit ke arah Karin agar gadis itu tidak terkena air hujan.
"Kamu sendiri nanti basah."
"Aku nggak apa."
"Kamu yang nanti masuk angin."
Kai tersenyum tipis.
"Aku sudah biasa kehujanan."
Jawaban sederhana itu membuat hati Karin kembali terasa hangat.
Semakin lama mengenal Kai, semakin ia sadar bahwa perhatian pria itu selalu ditunjukkan lewat tindakan kecil, bukan kata-kata manis.
Tanpa mereka sadari, dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka, sepasang mata memperhatikan kebersamaan itu.
Tatapannya mengikuti langkah Karin dan Kai yang berjalan di bawah satu payung.
Ia terlihat kesal sambil meremas stang bulat mobilnya.
"Semakin dekat..." gumamnya pelan. "Kalau begitu, waktunya aku harus mendekati orang yang paling berpengaruh dalam hidup Karin."
Matanya beralih ke layar ponsel. Di sana tertera nama Pak Wirawan.
Gio menarik napas pelan sebelum menekan tombol panggil.
Panggilan telepon itu tidak berlangsung lama.
"Selamat siang, Om. Maaf mengganggu."
"Oh, Gio. Ada apa?"
"Saya kebetulan sedang berada di daerah dekat kantor Om. Kalau Om tidak sibuk, bagaimana kalau sore nanti saya mampir sebentar? Ada beberapa barang peninggalan Papa yang ingin saya serahkan."
Pak Wirawan terdiam sejenak.
"Barang peninggalan?"
"Iya, Om. Waktu membereskan rumah, saya menemukan album foto lama dan beberapa surat. Sepertinya ada yang berkaitan dengan Om."
"Baiklah. Kalau begitu mampirlah."
"Terima kasih, Om."
Telepon pun berakhir.
Gio tersenyum kecil.
Ia memang tidak berbohong. Album itu benar-benar ada. Namun, alasan utamanya datang bukanlah untuk mengembalikan barang lama.
Melainkan untuk menjaga kedekatannya dengan keluarga Wirawan.
-
-
-
Menjelang sore...
Pak Wirawan baru saja tiba di rumah ketika bel berbunyi.
Hesti membuka pintu.
"Oh, Gio."
"Selamat sore, Tante."
Gio membawa sebuah tas kulit berisi album foto dan beberapa dokumen lama.
"Silakan masuk."
Tak lama kemudian Pak Wirawan ikut bergabung di ruang tamu.
"Wah... ini album lama."
Beliau membuka halaman demi halaman dengan wajah penuh kenangan. Dalam salah satu foto terlihat dirinya masih muda, berdiri berdampingan dengan ayah Gio.
Keduanya tertawa lepas di depan sebuah ruko kecil yang dahulu menjadi kantor pertama mereka.
Pak Wirawan tersenyum haru.
"Papa kamu dulu sering bilang... kalau kami nanti sama-sama sukses."
Gio ikut tersenyum.
"Papa juga sering bercerita tentang Om."
Suasana menjadi hangat. Mereka mengenang banyak hal tentang almarhum ayah Gio.
Tak lama kemudian, terdengar suara pagar dibuka.
"Karin pulang."
Hesti menoleh ke arah pintu.
Karin masuk sambil melepas sepatu. Begitu melihat Gio, langkahnya sedikit terhenti.
"Gio." Gumamnya lirih. Ekspresi Karin langsung berubah.
"Selamat sore, Karin."
"Sore."
Nada suara Karin tetap sopan, tetapi tidak sehangat kepada Kai. Hal kecil itu tidak luput dari perhatian Hesti.
"Karin, duduk dulu sini. Lihat, ini foto-foto Papa bersama Ayah Gio."
Karin duduk di sebelah Pak Wirawan. Memandang sebentar foto-foto itu. Kemudian mengalihkan pandangan dan diam dalam lamunannya.
Beberapa menit kemudian, Hesti pergi ke dapur menyiapkan minuman.
Sementara Pak Wirawan masih asyik membuka album lama.Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Gio mendekati Karin.
"Karin."
"Iya?"
"Besok akhir pekan."
"Aku tahu."
"Ada pameran buku di pusat kota. Kamu suka membaca, kan? Aku pikir... mungkin kita bisa pergi bersama."
Karin belum sempat menjawab.
Pak Wirawan yang sedang membalik halaman album tiba-tiba mengangkat kepala.
"Kalau Karin tidak ada acara, silakan saja."
Semua mata tertuju kepada Karin.
Karin tersenyum sopan.
"Maaf, Gio."
"Besok aku sudah ada janji mengerjakan tugas kelompok."
"Oh."
Gio masih mempertahankan senyumnya.
"Tidak apa-apa. Mungkin lain kali."
Namun kali ini, Hesti yang baru datang membawa teh memperhatikan ekspresi putrinya.
Ia mengenal Karin dengan baik. Kalau Karin benar-benar ingin pergi, biasanya ia akan berkata, "Nanti aku usahakan."
Tetapi kali ini...
Jawabannya terdengar seperti penolakan yang halus.
-
-
-
Setelah mengobrol beberapa hal dengan santai, tak lama kemudian Gio pamit.
"Om, Tante... saya pulang dulu."
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih."
Setelah mobil Gio meninggalkan halaman rumah, Hesti menutup pintu. Karin membawa cangkir kosong ke dapur. Lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Pak Wirawan masih duduk memandangi album lama.
"Kasihan juga Gio."
Hesti mengangguk pelan.
"Iya."
"Sejak ayahnya meninggal, dia pasti banyak kehilangan."
Pak Wirawan menutup album itu perlahan.
"Tapi..."
Beliau berhenti sejenak.
"Aku juga tidak ingin dia merasa punya harapan yang salah."
Hesti menoleh.
"Maksudnya?"
"Karin. Aku melihat sendiri. Anak itu selalu menjaga jarak."
Hesti mengangguk pelan.
"Aku juga merasakannya."
Pak Wirawan tersenyum tipis.
"Kalau memang Karin tidak punya perasaan kepada Gio, kita tidak boleh memaksanya."
Ucapan itu membuat Hesti tersenyum lega.
"Syukurlah. Aku juga berpikir begitu."
"Hubungan orang tua kita dengan almarhum ayah Gio memang baik. Tapi itu tidak berarti Karin harus membalasnya."
Pak Wirawan mengangguk mantap.
"Yang akan menjalani hidup nanti Karin. Bukan kita. Lagi pula, akhir-akhir ini Karin terlihat lebih nyaman dengan Kai."
Tanpa mereka sadari...
Percakapan itu terdengar oleh Karin yang baru saja hendak turun mengambil air minum. Ia berdiri di balik dinding lorong. Dadanya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia mendengar sendiri ayahnya mengatakan bahwa kebahagiaannya lebih penting daripada hubungan keluarga.
Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Papa..." gumamnya pelan.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu terlambat memahami bahwa kedua orang tuanya sebenarnya selalu berpihak kepadanya.
Mereka hanya tidak pernah mengetahui siapa Gio yang sesungguhnya.
Kali ini, ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
-
-
-
Malam itu...
Di kamar masing-masing, Karin dan Kai sama-sama sedang mengerjakan tugas.
Ponsel Karin bergetar.
Bagian kesimpulannya sudah selesai.
Karin tersenyum. Lalu membalas.
Cepat sekali.
Tak lama kemudian balasan datang.
Biar besok nggak terlalu banyak kerjaan.
Karin mengetik lagi.
Jangan tidur terlalu malam.
Beberapa detik kemudian muncul balasan yang membuatnya tersenyum sendiri.
Kamu juga.
Percakapan mereka memang masih sederhana. Tidak ada kata-kata romantis. Tidak ada ungkapan perasaan.
Namun perhatian kecil seperti itulah yang perlahan mengisi hari-hari mereka.
Sementara itu...
Di apartemennya, Gio berdiri memandang lampu-lampu kota dari balik jendela. Ajakan ke pameran buku memang gagal. Tetapi ia belum menyerah. Ia sadar satu hal.
Selama Karin masih berada di dekat Kai, kesempatan untuk mendekatinya akan semakin kecil.
Gio menarik napas panjang.
"Aku harus mencari cara. Bukan untuk memaksa Karin. Tapi membuat Kai memilih menjauh dengan keinginannya sendiri."
Sebuah rencana baru mulai terbentuk di benaknya.
Tanpa disadari siapa pun, hubungan Karin dan Kai semakin tumbuh melalui perhatian-perhatian sederhana.
Sementara di sisi lain, kesabaran Gio mulai perlahan berubah menjadi ambisi.
Dan ambisi yang dipelihara terlalu lama, sering kali menjadi awal dari keputusan-keputusan yang keliru.
-
-
-
Bersambung...