"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Tangan yang Hangat
Tiga hari setelah pertengkaran itu, rak buku anak-anak berdiri lebih kokoh daripada sebelumnya.
Protokol pengawal juga berubah. Di dalam kompleks, petugas menjaga jarak dan tidak mengikuti Nadhira ke teras tetangga. Tas pribadi tidak lagi dibuka tanpa izin. Rayhan tidak meminta maaf dengan kata-kata, tetapi dokumen revisi yang dikirimnya memiliki semua batas yang Nadhira minta.
Mereka belum membahas malam di minimarket atau kopi dingin di lantai kamar anak.
Sore itu Rayhan pulang lebih cepat. Ia membawa dua sepeda keseimbangan kecil, helm, serta pelindung lutut. Alif berlari ke halaman begitu melihatnya.
"Papa, sepeda!"
"Pakai helm dulu."
Alif memasang helm terbalik. Rayhan berjongkok, membetulkan arah dan talinya. Arkan berdiri di dekat pintu bersama Kopi, memandang sepeda biru dengan keinginan yang tidak berani ia ucapkan.
Rayhan tidak memanggilnya. Ia menaruh helm kedua di atas sadel, lalu membantu Alif mengangkangi sepeda merah.
"Kaki tetap menyentuh tanah. Dorong pelan."
Alif mendorong terlalu kuat dan hampir jatuh. Rayhan memegang bagian belakang jaketnya tepat waktu.
"Lagi!" seru Alif.
Nadhira duduk di teras, tertawa kecil melihat Rayhan yang biasanya memimpin rapat perusahaan kini berlari membungkuk di belakang sepeda anak.
Arkan bergerak mendekati sepeda biru. Ia menyentuh helm, lalu menatap ayahnya.
"Mau coba?" tanya Rayhan.
Arkan mengangguk.
Rayhan memasang pelindung lutut tanpa terburu-buru. Tubuh Arkan masih lebih lemah, sehingga ia memulai di atas rumput dan hanya mendorong beberapa langkah. Ketika keseimbangannya goyah, tangan Rayhan selalu berada satu jengkal dari punggung, cukup dekat untuk menangkap tetapi tidak terus-menerus menahan.
Rayhan membuat dua garis pendek dengan kapur di lantai teras. Anak-anak hanya diminta bergerak dari garis pertama ke garis kedua, tidak berputar mengelilingi halaman. Setiap lima menit Arkan harus duduk dan minum agar tubuhnya tidak dipaksa mengikuti tenaga Alif.
"Alif cepat," kata Nadhira ketika bocah itu mulai terlalu bersemangat. "Tapi ini bukan lomba. Tunggu Arkan."
Alif mengerem dengan kedua telapak kaki. Ia kembali ke garis awal dan berdiri di samping Arkan.
"Sama-sama," katanya.
Arkan memandangnya, lalu mendorong sepeda. Kali ini Alif menyesuaikan langkah. Dua sepeda kecil bergerak sejajar sejauh tiga meter sebelum keduanya jatuh ke rumput. Mereka saling menatap, kemudian tertawa.
"Papa," panggil Arkan pelan saat roda depannya tersangkut rumput.
"Saya di sini. Angkat sedikit."
Alif memutari mereka sambil berteriak, "Arkan, lihat!"
Sepedanya miring dan jatuh ke semak. Alif tidak menangis. Ia bangun, memeriksa lutut yang terlindung bantalan, lalu tertawa sendiri. Kopi mengira itu permainan dan mengejar roda.
Nadhira hendak mengambil air ketika Rayhan naik ke teras. Ia membawa nampan berisi dua cangkir.
"Untuk Anda."
Aroma bunga melati naik bersama uap. Tidak terlalu manis, persis seperti teh yang selalu Nadhira pilih saat sarapan.
"Bagaimana kamu tahu saya suka teh melati?"
Rayhan meletakkan cangkir di depannya. "Anda membiarkan tiga jenis teh lain tetap utuh selama seminggu. Teh melati selalu habis."
"Kamu menghitung kantong teh?"
"Saya memperhatikan persediaan rumah."
Jawaban itu terlalu formal untuk perhatian yang sangat pribadi. Nadhira menahan senyum dan meniup permukaan teh.
"Terima kasih sudah mengubah protokol."
Rayhan memandang anak-anak. "Saya melewati batas yang kita sepakati."
Itu bukan kata maaf, tetapi cukup dekat untuk pria seperti dirinya.
"Saya juga tidak seharusnya pergi hanya untuk membuktikan sesuatu," kata Nadhira. "Minimarket tetap aman, tapi tindakan saya membuat petugas serba salah."
Rayhan menoleh. Ketegangan yang tersisa di antara mereka melunak, tidak hilang sepenuhnya.
"Besok kita jadwalkan ulang evaluasi risiko bersama," katanya.
"Bersama."
Di halaman, Arkan akhirnya mampu meluncur tiga langkah tanpa tangan Rayhan. Nadhira berdiri untuk bertepuk tangan, tetapi Kopi berlari membawa tali helm di mulut. Ujung tali melilit kaki meja kecil.
Nadhira mundur agar tidak menginjaknya. Tumitnya turun dari tepi teras.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Rayhan menangkapnya sebelum jatuh.
Satu tangan melingkar di pinggang Nadhira. Tangan yang lain memegang lengan bawahnya. Dada mereka hanya terpisah beberapa sentimeter.
"Hati-hati," kata Rayhan.
Nadhira mengangkat wajah. Ia baru sadar telapak tangannya menempel pada bahu pria itu. Di balik kain kemeja, ototnya kaku karena gerakan mendadak.
"Saya tidak apa-apa."
Namun, tak satu pun segera bergerak.
Tangan Rayhan hangat di pinggangnya. Tatapannya turun sekilas ke bibir Nadhira, lalu kembali ke mata. Napas Nadhira tertahan tanpa perintah.
"Mama!" Alif memanggil dari halaman. "Kopi nakal!"
Mereka melepaskan satu sama lain hampir bersamaan.
Saat Nadhira melangkah, pergelangan kakinya terasa nyeri. Ia meringis tanpa sengaja. Rayhan langsung berjongkok, tetapi tangannya berhenti sebelum menyentuh.
"Boleh saya periksa?"
Pertanyaan itu sederhana. Bagi Nadhira, izin sebelum sentuhan tetap memiliki berat yang tidak sederhana.
Ia mengangguk.
Rayhan hanya memegang bagian belakang sandal dan meminta Nadhira memutar kaki perlahan. Tidak ada bengkak, hanya tarikan ringan. Telapak tangannya menyangga tumit melalui sandal, hangat dan stabil.
"Jangan banyak berjalan malam ini. Kompres dingin lima belas menit."
"Kamu bicara seperti dokter."
"Saya bicara seperti orang yang tidak mau menangkap Anda dua kali karena tali yang sama."
Sudut bibir Nadhira bergerak. "Berarti Kopi juga perlu diberi pelatihan keselamatan."
Rayhan berdiri. Jari mereka sempat bersentuhan ketika ia melepaskan tumit Nadhira. Kontak singkat itu justru membuat keduanya kembali terlalu sadar pada jarak.
Nadhira membetulkan blus, sedangkan Rayhan mengambil tali helm dari mulut Kopi dengan keseriusan berlebihan.
"Bukan mainan," katanya kepada anak anjing itu.
Suara pagar samping terbuka. Bu Wulan masuk membawa wadah makanan yang dipinjam saat acara tetangga.
"Aduh, maaf mengganggu," katanya, meski matanya berkilat seolah baru melihat sesuatu yang akan disimpan untuk bahan godaan nanti.
Nadhira mengambil wadah. "Tidak mengganggu, Bu."
Bu Wulan memandang Rayhan yang kembali ke halaman, lalu merendahkan suara. "Saya sebenarnya mau bilang sesuatu."
"Tentang apa?"
"Sebelum Mbak Nadhira tinggal di sini, ada perempuan yang sering datang. Bukan sekadar bertamu. Dia mengatur staf, membawa Arkan jalan, kadang menunggu Pak Rayhan pulang. Tetangga sampai mengira dia akan jadi istri berikutnya."
Bu Wulan menceritakan bahwa Dinda pernah membawa kunci sendiri. Ia memilih dekorasi bunga saat acara perusahaan di rumah, mengganti susunan kamar tamu, bahkan menerima kurir atas nama keluarga Pradipta.
"Kalau ada yang bertanya, dia bilang sedang membantu sampai Pak Rayhan siap membuka hati lagi," lanjut Bu Wulan. "Dia tidak pernah bilang akan menikah, tapi caranya berdiri di pintu membuat orang menyimpulkan sendiri."
"Apakah Rayhan pernah memperkenalkannya sebagai pasangan?"
"Tidak. Pak Rayhan hampir tidak pernah bicara. Itu masalahnya. Kalau yang punya rumah diam, orang yang paling rajin tampil bisa terlihat seperti pemilik."
Nadhira sudah tahu sebagian, tetapi kalimat kadang menunggu Rayhan pulang menambah arti baru.
Bu Wulan melirik ke arah gerbang, memastikan tidak ada orang lain mendengar.
"Hati-hati," bisiknya. "Namanya Dinda."