NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Menuju Pengadilan

Pagi pertama Januari terasa terlalu terang untuk urusan perceraian.

Jakarta belum sepenuhnya bangun. Jalanan yang biasanya macet hanya diisi beberapa mobil, motor pengantar makanan, dan sisa-sisa kertas kembang api yang basah di pinggir jalan. Di langit, warna abu-abu muda menggantung seperti sesuatu yang belum selesai.

Kiara Hartono duduk di kursi belakang mobil, tangan di atas pangkuan.

Arga Pratama duduk di sebelahnya.

Tidak ada sopir keluarga hari itu. Atas permintaan Kiara, mereka hanya memakai satu mobil sederhana dengan pengemudi dari kantor. Ratna awalnya menolak, Bimo diam, Bu Agung hanya berkata, "Yang penting sampai."

Sampai.

Seolah Pengadilan adalah garis akhir.

Di tas Kiara, map perjanjian perceraian terletak rapi. Dokumen yang sama yang dulu Arga tandatangani tanpa membaca. Dokumen yang terus hidup di antara mereka seperti pisau yang belum digunakan.

Mobil keluar dari Kebayoran Baru menuju pusat kota.

Selama sepuluh menit pertama, tidak ada yang bicara.

Kiara melihat pantulan Arga di kaca jendela. Wajahnya tenang. Terlalu tenang, seperti biasa. Ia ingin bertanya tentang Cakra. Tentang helikopter. Tentang laporan yang terkunci. Tentang bank. Tentang semua hal yang kini menumpuk di folder kecil bernama "?" di ponselnya.

Tetapi map di tasnya membuat semua pertanyaan terasa tidak tahu malu.

Bagaimana ia bisa meminta jawaban dari seseorang yang hari ini mungkin akan ia lepaskan?

"Arga."

"Ya."

Suara itu langsung menjawab, seolah ia sejak tadi menunggu.

Kiara menatap tangannya sendiri. "Kamu menyesal?"

Arga tidak bertanya menyesal soal apa.

Mereka berdua tahu.

Dua tahun. Rumah Anggrek. Perjanjian. Hinaan. Semua malam ketika ia pulang terlambat dan menemukan lampu dapur masih menyala. Semua pagi ketika ia membiarkan keluarganya memperlakukan Arga seperti perabot yang bisa disuruh bergerak.

Arga memandang jalan di depan.

"Kamu?"

Pertanyaan itu kembali kepadanya tanpa suara keras.

Kiara membuka bibir.

Tidak ada jawaban keluar.

Ia menyesal banyak hal. Tetapi apakah ia menyesal menikah? Apakah ia menyesal Arga datang ke hidupnya? Apakah ia menyesal belum sempat mengenalnya sebelum semua orang menyuruhnya berpisah?

Pertanyaan itu terlalu besar untuk mobil yang terlalu sunyi.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya.

Arga mengangguk kecil.

Tidak menghakimi.

Justru itu yang membuat dada Kiara semakin berat.

"Kalau hari ini selesai," Kiara berkata lagi, suaranya lebih kecil, "kamu akan pergi jauh?"

Arga melihat ke luar jendela.

"Aku sudah pergi."

Kalimat itu tidak keras, tetapi menampar lebih dalam daripada tuduhan. Kiara tahu ia benar. Arga sudah keluar dari Rumah Anggrek. Sudah berhenti menunggu di dapur. Sudah tidak menjadi orang yang bisa dipanggil kapan saja untuk mengurus hal-hal kecil.

Yang tersisa hanya status hukum yang belum diputus.

"Tapi kamu tetap datang," katanya.

"Karena kamu meminta."

Kiara menelan sesuatu yang pahit. "Kalau aku tidak meminta?"

Arga tidak menjawab cepat.

"Mungkin aku tetap datang. Tapi tidak akan masuk."

Jawaban itu membuat Kiara menoleh. "Kenapa?"

"Karena keputusan hari ini harus keputusanmu."

Mobil melewati sisa keramaian tahun baru. Di trotoar, beberapa orang tertidur di depan toko yang masih tutup. Jakarta terlihat letih, tetapi hidup.

Mobil berhenti di lampu merah dekat sebuah persimpangan besar. Di depan mereka, lalu lintas melambat karena sebuah mobil pengangkut uang berhenti miring di sisi jalan. Dua petugas keamanan berdiri di dekat pintu belakang, tampak sedang berbicara dengan pengemudi.

Arga menoleh.

Satu detik.

Kiara melihat perubahan itu.

Tidak ada panik di wajah Arga. Yang tersisa hanya perhatian tajam.

Mata Arga bergerak dari mobil pengangkut uang ke trotoar, dari trotoar ke motor yang berhenti terlalu dekat, dari motor ke dua pria berjaket gelap yang tidak melepas helm meski sudah turun.

"Pak, jangan maju," kata Arga kepada sopir.

Sopir menoleh. "Kenapa, Pak?"

Terlambat.

Salah satu pria berjaket gelap menarik senjata dari balik jaket.

Teriakan pertama meledak dari trotoar.

Pria kedua menendang salah satu petugas keamanan hingga jatuh, lalu menodongkan pistol ke arah mobil pengangkut uang.

"Turun! Buka pintu!"

Klakson berbunyi bersahutan. Motor-motor mencoba mundur. Seorang ibu di mobil sebelah menjerit. Pengendara ojek meloncat dari motornya dan berlari ke sela jalan.

Kiara membeku.

Arga bergerak sebelum ia sempat menarik napas.

Tangannya menekan bahu Kiara, membawa tubuhnya turun ke bawah garis jendela. Gerakan itu tegas, tetapi tidak kasar. Dalam satu kedipan, Kiara sudah berada setengah membungkuk di kursi, kepala terlindung oleh tubuh Arga.

"Tetap rendah."

Suaranya pendek.

Stabil.

Di luar, satu tembakan menghantam aspal.

Sopir berteriak dan merunduk di balik setir.

Kiara mencengkeram lengan Arga. Ia bisa merasakan otot laki-laki itu tegang, tetapi napasnya tetap teratur. Tidak ada getar. Tidak ada ragu.

"Jangan keluar," bisik Kiara.

Arga tidak menjawab.

Ia mengamati melalui sudut kaca.

Dua pelaku.

Satu pistol semi otomatis di tangan kanan, posisi depan mobil pengangkut uang.

Satu senjata pendek di dekat petugas yang jatuh.

Petugas kedua masih sadar, tetapi terjepit di sisi pintu.

Warga sipil terlalu dekat.

Jarak ke pelaku pertama: enam meter.

Jarak ke pelaku kedua: sembilan meter.

Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Kiara melihat wajahnya dari bawah.

Wajah itu sama dengan video bank.

Sama dengan malam Hotel Mulia.

Sama dengan pria yang menandatangani map Cakra di bawah helikopter tanpa mengangkat suara.

"Arga," katanya, kali ini hampir memohon.

Arga menatapnya.

Untuk satu detik, dunia di luar seperti menjauh.

"Aku tidak akan jauh."

Lalu ia membuka pintu mobil.

Di luar, teriakan semakin kacau. Pelaku pertama memaksa petugas membuka kunci pengaman. Pelaku kedua menoleh ke arah mobil-mobil yang berhenti, mencari siapa pun yang mungkin merekam.

Arga keluar dengan tubuh rendah, memanfaatkan sisi mobil sebagai penutup.

Sopir meraih lengan Kiara. "Bu, jangan lihat."

Kiara justru tidak bisa berhenti melihat.

Di jalan, semua orang bergerak acak. Ada pengendara yang merangkak di balik motor, ada bapak tua yang terpeleset saat mencoba lari, ada petugas keamanan yang darahnya menetes dari pelipis. Kekacauan itu membuat napas Kiara sesak.

Tetapi Arga bergerak berbeda.

Ia tidak mencari keberanian. Ia sudah memilikinya, atau mungkin ia sudah melewati masa ketika keberanian perlu dipanggil.

Ia hanya menunggu celah.

Sebuah suara tembakan lagi memecah jalan.

Kiara menutup mulut, matanya terpaku pada sosok Arga yang setengah berjongkok di antara mobil dan kepanikan.

Map perjanjian perceraian jatuh dari pangkuannya ke lantai mobil. Kertas di dalamnya bergeser keluar sedikit, tetapi Kiara tidak mengambilnya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, dokumen itu bukan hal paling penting di hadapannya.

Nyawanya lebih penting.

Saat itu, pelaku pertama menoleh.

Dan jalanan seperti berhenti di tepi ledakan berikutnya.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!