"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012 - Nikah Siri
Satu minggu kemudian, Arya berdiri di halaman Masjid Al-Ikhlas.
Waktu masih pagi. Udara Surabaya belum panas. Halaman masjid bersih, sandal jamaah tersusun di rak, dan suara sapu penjaga masjid terdengar dari sisi kanan.
Arya memakai batik biru tua. Rambutnya dirapikan Ibu Sri sejak di apartemen. Ia sudah duduk di mobil selama dua puluh menit, lalu tetap merasa napasnya pendek saat turun.
Dimas menepuk bahunya.
"Bro, jangan pingsan. Sidang skripsi saja kalah tegang dari ini."
Rizky langsung meliriknya. "Mulutmu dijaga."
Bayu memberi Arya botol air. "Minum dulu."
Arya minum sedikit. Tangannya masih dingin.
Ia pernah menghadapi Om Agus. Ia pernah menerima tamparan. Ia sudah menghadapi ayahnya sendiri.
Hari ini rasanya lebih berat.
Di serambi masjid, Bapak Hendra bicara pelan dengan Ustaz Faisal. Wajah ayahnya tetap serius. Sejak pagi, Bapak Hendra hanya memberi satu kalimat.
"Hari ini kamu jangan gagah-gagahan. Dengarkan, jawab jelas, dan ingat Allah."
Arya mengangguk saat itu.
Sekarang kalimat itu seperti menekan punggungnya agar tetap tegak.
Mobil Sari berhenti di depan pagar masjid.
Pintu belakang terbuka.
Kirana turun dengan baju kurung putih dan hijab sederhana. Riasannya tipis. Wajahnya masih pucat, namun matanya tenang.
Sari berdiri di sampingnya, memegang tas kecil. "Awas tangga."
Kirana mengangguk.
Arya berjalan mendekat.
Mereka berhenti berhadapan di bawah kanopi kecil masjid.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arya.
Kirana menarik napas. "Aku takut."
"Aku juga."
Jawaban itu membuat Kirana menatapnya.
Arya menggenggam tangannya sebentar. "Jadi kita takut bersama."
Bibir Kirana bergerak ingin tersenyum. Air matanya sudah menggantung.
Ibu Sri datang dan langsung memeluk Kirana.
"Nak, hari ini pelan-pelan saja. Jangan berdiri terlalu lama."
"Iya, Bu."
Om Agus muncul dari pintu samping masjid. Batiknya hitam, wajahnya masih keras. Saat melihat Arya, matanya berhenti sejenak di pipi yang bekas tamparannya sudah hilang.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Siap, Om."
"Jawabanmu nanti harus jelas. Jangan gemetar seperti anak sekolah."
"Iya, Om."
Om Agus menatap Kirana. Suaranya turun sedikit.
"Kirana, kalau kamu pusing, bilang."
Kirana mengangguk. "Iya, Om."
Ustaz Faisal memanggil mereka masuk ke ruang kecil di sisi masjid. Ruangan itu sederhana. Karpet hijau, meja rendah, kipas angin dinding, beberapa gelas air mineral. Tidak ada pelaminan, tidak ada musik, tidak ada ratusan tamu.
Hanya keluarga yang perlu hadir.
Arya duduk berhadapan dengan Om Agus. Ustaz Faisal di tengah. Bapak Hendra dan dua saksi duduk di sisi kanan. Ibu Sri, Kirana, Sari, Dimas, Rizky, dan Bayu menunggu di belakang.
Ustaz Faisal membuka dengan doa singkat.
Setelah itu ia menatap Arya dan Kirana bergantian.
"Saya sudah mendengar kondisi kalian dari Pak Agus dan Pak Hendra. Nikah siri ini dilakukan untuk menjaga tanggung jawab agama dan keluarga. Setelah ini, kalian tetap wajib mengurus pencatatan resmi di KUA secepat mungkin. Jangan jadikan hari ini alasan untuk menunda kewajiban hukum."
"Iya, Ustaz," jawab Arya.
Kirana menjawab pelan, "Iya, Ustaz."
Ustaz Faisal melanjutkan, "Dan satu hal lagi. Ibu kandung Kirana harus diberi tahu. Jangan biarkan seorang ibu mendengar kabar dari orang asing."
Dada Kirana naik turun.
Arya menoleh sebentar. "Saya yang akan bicara dengan Ibu Ratna, Ustaz. Saya akan datang ke Malang."
Om Agus menatapnya tajam. "Hari ini selesai, urusan itu jangan hilang."
"Tidak akan hilang, Om."
Akad dimulai.
Om Agus mengulurkan tangan.
Arya menyambutnya.
Telapak tangan Om Agus keras. Genggamannya kuat. Pria itu menatap langsung ke mata Arya, seolah ingin memastikan tidak ada jalan mundur di sana.
Ustaz Faisal membacakan kalimatnya dengan tertib.
Ruangan hening.
Kipas angin berputar pelan.
Ibu Sri sudah menangis tanpa suara. Dimas menunduk sambil mengusap sudut mata. Rizky pura-pura melihat lantai. Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri.
Kirana duduk kaku. Jemarinya meremas ujung rok putihnya.
Saat giliran Arya tiba, ia menelan ludah.
Satu detik.
Dua detik.
Ia melihat Kirana.
Gadis itu mengangkat wajah.
Arya melihat rasa takut, rasa malu, dan kepercayaan yang ia serahkan tanpa cadangan.
Ia menggenggam tangan Om Agus lebih kuat.
Dengan suara rendah dan jelas, ia mengucapkan ijab kabul.
Tidak ada bagian yang terputus.
Tidak ada kata yang salah.
Ustaz Faisal menatap saksi.
"Sah?"
"Sah."
"Sah."
Ibu Sri menangis keras.
Bapak Hendra menunduk lama. Saat mengangkat wajah, matanya merah.
Sari langsung memeluk Kirana dari samping. "Kamu sudah jadi istri orang, Ran."
Kirana tertawa kecil di antara air mata.
Arya belum bergerak.
Tangannya masih digenggam Om Agus.
Om Agus melepas pelan.
"Mulai hari ini, kalau dia menangis karena kamu, saya datang lagi."
"Saya mengerti."
"Kalau dia lapar, sakit, takut, atau sendirian, itu dosa kamu dulu sebelum dosa orang lain."
Arya mengangguk. "Saya terima."
Om Agus diam. Untuk pertama kalinya sejak datang ke apartemen, suaranya melemah.
"Jaga anak kakak saya."
"Akan saya jaga."
Kalimat itu selesai tepat saat layar sistem muncul di depan mata Arya.
【Terdeteksi: host menyelesaikan tonggak komitmen pernikahan.】
【Hadiah dasar: Rp 400.000.000.】
【Pemicu tanggung jawab aktif terkonfirmasi.】
【Multiplier: 5x.】
【Total hadiah: Rp 2.000.000.000 telah dikirim ke rekening Bank Nusantara host.】
Arya hampir kehilangan napas.
Dua miliar.
Ia menunduk, berpura-pura mengusap wajah.
Ponselnya bergetar.
Notifikasi masuk dari Bank Nusantara.
Saldo bertambah dengan angka yang membuat telapak tangannya basah.
Panel sistem muncul lagi.
【Analisis inti: semakin besar tanggung jawab yang host ambil secara aktif, semakin tinggi kualitas hadiah.】
【Catatan: hadiah mengikuti keberanian host untuk hadir.】
Arya menutup mata sebentar.
Ia akhirnya paham.
Sistem ini tidak bergerak saat ia ingin kaya.
Sistem bergerak saat ia maju untuk keluarga.
Setelah doa penutup, mereka makan nasi kotak sederhana di serambi masjid. Dimas mencoba melucu, lalu gagal karena Ibu Sri masih menangis setiap kali melihat Kirana. Rizky menghitung jadwal KUA di ponsel. Bayu mencatat daftar dokumen yang perlu disiapkan.
Bapak Hendra duduk di samping Arya.
"Ada uang masuk?" tanyanya pelan.
Arya terkejut. "Bapak lihat?"
"Wajahmu berubah."
Arya tidak menjawab langsung.
Bapak Hendra menghela napas. "Simpan. Pakai untuk urusan resmi, kesehatan Kirana, dan biaya menghadapi keluarganya. Jangan belanja macam-macam."
"Iya, Pak."
"Hari ini kamu sudah jadi suami secara agama. Secara hidup, kamu baru mulai."
Kalimat itu menancap.
Malamnya, setelah semua orang pulang, Arya dan Kirana berdiri di balkon Apartemen Grand Surya Residence, Tower A Lt.16.
Lampu kota menyala jauh di bawah. Angin malam membuat hijab Kirana bergerak pelan.
Kirana menyandarkan kepala ke bahu Arya.
"Rasanya aneh," katanya.
"Aneh bagaimana?"
"Pagi tadi aku masih takut Om Agus marah. Sekarang aku istrimu."
Arya menggenggam tangannya.
"Aku juga masih menyesuaikan."
Kirana tersenyum kecil. "Suamiku."
Satu kata itu membuat dada Arya hangat.
Ia ingin mengatakan banyak hal. Tentang sistem. Tentang uang dua miliar. Tentang rasa takut yang belum selesai. Tentang hidup yang bergerak terlalu cepat.
Kirana mendadak mengangkat wajah.
"Arya."
"Hm?"
"Kita belum bilang Mama, kan?"
Senyum Arya berhenti.
Angin balkon terasa lebih dingin.
Di bawah sana, Surabaya tetap terang. Di dada Arya, satu badai baru mulai menyala.