"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 Gaun Merah
Kotak putih sepanjang meja itu tiba di kamar Angie pada sore sebelum pesta.
Lina membukanya dengan mata berbinar. Di bawah lembaran kertas tipis terbentang gaun merah gelap dengan potongan sederhana, pinggang ramping, dan rok panjang yang jatuh lembut. Tidak ada payet berlebihan. Hanya kilau halus pada kain yang berubah setiap terkena cahaya.
"Ini pasti salah kamar," kata Angie.
"Nama Nyonya tertulis di kartu."
"Jangan panggil saya Nyonya."
Lina menyerahkan kartu kecil. Tulisan tangan Hansen hanya terdiri dari empat kata: Untuk pesta. Coba sekarang.
Angie membawa kartu itu ke ruang kerja.
"Saya tidak bisa memakai ini," katanya begitu pintu terbuka.
Hansen sedang membaca dokumen. Ia mengangkat kepala. "Ukurannya salah?"
"Saya bahkan belum mencobanya."
"Lalu bagaimana kau tahu tidak bisa?"
"Karena harganya pasti lebih besar daripada gaji saya sebelum bekerja di sini."
"Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya."
Angie meletakkan kartu di meja. "Saya datang sebagai pengasuh Guai. Seragam saya cukup."
"Kau tidak datang sebagai pelayan."
"Lalu sebagai apa?"
Hansen menutup dokumen. "Sebagai orang yang paling dipercaya Guai. Sebagai tamu yang diundang Ibu saya."
"Celine akan ada di sana. Semua orang akan menatap saya."
"Biarkan mereka menatap."
"Mudah bagi Anda mengatakan itu. Nama keluarga Anda membuat orang menyingkir sebelum Anda lewat. Saya hanya Angie Thio."
Hansen berdiri dan berjalan mengitari meja. Ia berhenti dengan jarak yang cukup agar Angie tidak merasa terdesak.
"Jangan pernah mengatakan 'hanya Angie Thio' di depan saya lagi."
Nada suaranya tidak keras, tetapi membuat Angie diam.
"Anda tidak mengerti," katanya. "Baju semahal itu tidak pantas untuk saya."
"Ngie, dengarkan." Tatapan Hansen tidak berpindah. "Jangan pernah mengatakan kau tidak pantas. Kau pantas memakai sesuatu yang indah tanpa harus membayar dengan utang, rasa bersalah, atau apa pun."
"Mengapa ukurannya bisa tepat?"
"Desainer memakai ukuran seragam yang tersimpan di bagian rumah tangga. Tidak ada yang mengukurmu diam-diam."
Penjelasan itu mengendurkan satu kekhawatirannya. "Kalau tidak cocok, saya boleh memakai yang lain?"
"Boleh. Keputusan terakhir tetap milikmu."
Di kamar, Lina membantu Angie mengenakan gaun itu. Kancing tersembunyi di sisi depan dirancang agar mudah dibuka jika Guai perlu menyusu. Detail itu membuat Angie menyadari bahwa pakaian tersebut bukan sekadar hiasan mahal. Seseorang memikirkan kebutuhannya.
Gaun itu pas seolah dibuat langsung pada tubuhnya. Garis lehernya sopan, lengannya menutupi bekas luka kecil, dan roknya tidak menghambat langkah.
Lina memasukkan beberapa perlengkapan ke tas kecil berwarna senada: kain penutup, bantalan payudara cadangan, tisu, dan botol air. "Pak Hansen berpesan tidak ada parfum kuat karena Guai sensitif terhadap bau."
"Dia memikirkan semuanya," kata Angie tanpa sadar.
"Termasuk sepatu. Haknya tinggi, tapi ada sandal datar di mobil. Kalau kaki Bu Angie sakit, langsung ganti."
Angie menyentuh jahitan bukaan depan. "Saya kira dia hanya memilih gaun mahal agar saya tidak terlihat memalukan."
"Pak Hansen menolak tiga gaun karena tidak bisa dipakai menyusui dengan nyaman."
Informasi itu membuat Angie menatap bayangannya lagi. Untuk pertama kali, kemewahan di tubuhnya tidak terasa seperti kostum. Gaun itu dibuat untuk dirinya yang nyata, lengkap dengan pekerjaan, kebutuhan, dan rahasia yang kini tak lagi harus disembunyikan.
"Cantik sekali," bisik Lina.
Angie menatap pantulan sendiri. "Seperti orang lain."
"Bukan. Seperti Bu Angie yang selama ini tidak sempat melihat dirinya sendiri."
Setelah mandi, Angie mencoba gaun itu sekali lagi untuk memastikan pengaitnya mudah dibuka. Rambutnya masih basah dan kakinya telanjang ketika ia keluar mencari Lina yang membawa sepatu.
Di ujung lorong, Hansen baru keluar dari ruang kerja bersama William.
Langkahnya berhenti.
Angie refleks memegang rok. "Ada yang salah?"
"Tidak."
"Terlalu merah?"
"Tidak."
"Terlalu sempit?"
"Ngie," kata Hansen, kali ini lebih pelan, "gaun itu sempurna."
William berdeham dan memalingkan wajah. "Saya akan memeriksa kendaraan untuk besok, Pak."
Ia berjalan pergi, tetapi Angie sempat melihat sudut mulutnya bergerak menahan senyum. Telinga Hansen memerah.
"Anda demam?" tanya Angie.
"Kembali ke kamar sebelum masuk angin. Rambutmu masih basah."
"Itu bukan jawaban."
"Besok kau boleh menanyai saya lagi."
Malamnya, rasa percaya diri yang muncul di depan cermin menghilang ketika Angie memikirkan ballroom penuh orang kaya. Ia duduk di samping ranjang bayi sambil memandang gaun yang tergantung di lemari terbuka.
Guai sudah hampir tidur. Jemarinya mencari-cari di atas selimut hingga menemukan telunjuk Angie, lalu menggenggamnya erat.
"Bagaimana kalau besok Mama mempermalukanmu?" bisik Angie.
"Ma..."
"Mereka semua akan bertanya siapa Mama. Mama sendiri tidak tahu jawabannya."
Pintu diketuk dua kali. Hansen berdiri di luar tanpa masuk.
"Boleh saya bicara?"
Angie mengangguk.
Ia tetap di ambang pintu. "Kau tidak harus datang jika benar-benar tidak mau."
"Tapi kalau saya tidak datang, mereka akan mengira saya takut."
"Kau memang takut. Berani bukan berarti rasa takut itu hilang."
Angie memandang Guai. "Kalau saya datang, Anda menjamin Celine tidak akan membawanya pergi?"
"Guai berada dalam pengawasan kita sepanjang malam. Dua petugas keamanan ditempatkan di luar ballroom. Perlengkapan makan dan susunya dibawa dari rumah."
"Dan kalau mereka menyerang saya dengan kata-kata?"
"Aku berdiri di sampingmu."
"Kalau ibu Anda marah lagi?"
"Aku tetap berdiri di sampingmu."
Jawaban yang sama membuat dada Angie terasa hangat.
"Baik," katanya. "Saya akan datang."
Hansen mengangguk. Sebelum pergi, ia melihat Guai yang masih menggenggam jari Angie.
"Tidurlah. Besok saya akan melindungi kalian berdua."
Setelah pintu tertutup, Angie kembali berdiri di depan cermin. Gaun merah itu menunggu di belakang bayangannya.
Untuk pertama kali, ia membayangkan memasuki dunia Hansen bukan sebagai pelayan yang berjalan beberapa langkah di belakang, melainkan sebagai perempuan yang berhak berdiri di sisinya.