Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penyusupan dan Aroma Cahaya
Malam berikutnya, badai angin menderu lebih kencang di sekitar wilayah Kota Angin Hijau, pusat kekuasaan dari Klan Badai Angin. Kota ini dibangun di atas dataran tinggi yang dikelilingi oleh tembok badai rahasia. Menggunakan pakaian zirah perwira hijau yang mereka jarah dari Celah Badai, Kala dan Zian melangkah melewati gerbang barikade sekte dengan kepala tertunduk.
Batu spiritual kualitas tinggi yang dijarah Zian telah habis dilebur malam tadi. Kini, kultivasi Zian telah melompat ke Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Menengah. Dengan kemampuan barunya, dia berhasil menutupi fluktuasi energi Kala menggunakan ilusi Qi angin, membuat mereka berdua lolos dari pemeriksaan ketat para penjaga gerbang dalam.
"Senior, sesuai cetak biru, menara pengawas ketiga di sektor barat adalah titik buta dari Formasi Badai Sembilan Langit. Nanti tepat tengah malam, aliran energi formasi akan berotasi. Di situlah kita bisa masuk ke Altar Inti tanpa memicu deteksi Tetua Agung," bisik Zian melalui transmisi suara rahasia sambil menuntun Kala melewati koridor paviliun batu yang megah.
Kala berjalan dalam keheningan jubah hijaunya. Kain kasa hitam masih mengunci netra Black Hole miliknya. Namun, saat mereka berbelok di koridor taman bambu suci klan, melintasi jembatan batu yang menghubungkan paviliun tamu agung, langkah Kala mendadak membeku.
Jantung naga di dada Kala berdenyut kencang. Deg... Deg... Deg!
Aroma yang sangat murni—aroma harum bunga teratai salju yang bercampur dengan fluktuasi energi suci yang hangat—merayap masuk ke dalam penciumannya. Itu adalah aroma energi yang pernah dia rasakan di Kota Batu Pasir.
"Aroma ini..." Kala bergumam sangat pelan.
Di ujung jembatan batu, di bawah sinar rembulan malam yang keperakan, sesosok gadis remaja sedang berdiri sendirian, menatap kolam teratai yang membeku di bawahnya. Rambut emasnya berkilau lembut diterpa angin malam, dan jubah sutra putih sucinya melambai anggun layaknya sayap malaikat fana.
Putri Liana.
Ternyata, sebagai Putri Suci dari Klan Cahaya Abadi, Liana datang ke Klan Badai Angin sebagai tamu kehormatan untuk menghadiri Upacara Penguatan Formasi Dewa yang akan diadakan besok pagi.
Mendengar suara langkah kaki yang terhenti, Liana perlahan memutar tubuhnya. Mata biru jernihnya yang dipenuhi kehampaan menatap lurus ke arah dua "pengawal perwira" yang baru saja tiba. Begitu pandangannya berbenturan dengan sosok Kala, jimat suci matahari di leher Liana kembali bergetar hebat, memancarkan panas yang membakar kulit pualamnya.
Liana tertegun. Meskipun Kala mengenakan zirah hijau klan lain dan matanya ditutup kain kasa, getaran jiwa hampa udara yang masif dari pemuda itu tidak bisa disembunyikan dari persepsi suci Liana.
"Kalian..." Liana melangkah maju satu langkah, suaranya terdengar selembut dentingan kecapi perak, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Kalian bukan pengawal asli dari klan ini. Siapa sebenarnya dirimu?"
Para pengawal pribadi Liana berbaju zirah perak dari Ranah Raja Bumi yang berjaga di balik bayangan bambu langsung waspada, mencabut pedang mereka dan mengepung koridor dalam sekejap. "Putri, ada apa?!"
Zian seketika menegang, keringat dingin membasahi punggungnya. Jika mereka bertarung di sini sekarang, seluruh rencana infiltrasi mereka akan hancur berantakan sebelum tengah malam tiba.
Namun, Kala tetap tenang. Di dalam kepalanya, suara wanita misterius dari sarung pedang Yggdrasil berbisik dengan cepat. “Kala, takdir gadis ini terlalu dekat dengan takdirmu. Dia bisa merasakan hampa udara di matamu. Gunakan Hukum Sepuluh Senti dalam skala mikro hanya untuk berbicara dengannya tanpa diketahui pengawalnya!”
Kala mengangguk samar dalam batinnya. Tangan kanannya bergerak ke pinggang kiri, menyentuh gagang pedang Jian tipis hitam di balik zirah hijaunya.
CHIIING!
Dentingan yang amat sangat tipis bergema di udara malam. Kala menarik bilah pedangnya keluar sepanjang tepat sepuluh sentimeter.
DENG!
Hukum Sepuluh Senti aktif dalam radius kecil khusus lima meter di sekitar jembatan batu. Semesta kehilangan warnanya menjadi abu-abu monokrom.
Belasan pengawal zirah perak Klan Cahaya yang sedang berlari menuju mereka mendadak membeku kaku di udara, kaki mereka terangkat setinggi satu jengkal dari lantai batu dengan pedang yang membatu. Daun-daun bambu yang berguguran ditiup angin terhenti melayang di atmosfer laksana duri-duri kristal yang mati. Zian pun ikut mematung di samping Kala dengan ekspresi wajah yang tegang.
Namun, di dalam radius hampa waktu ini, Putri Liana tidak membeku sepenuhnya.
Karena jimat suci di leher Liana membawa perlindungan murni dari Dewa Cahaya (Maha Dewa Atas), tubuh Liana hanya melambat drastis. Liana membelalakkan matanya yang biru jernih, merasakan aliran waktu semesta di sekitarnya telah dirampas secara absolut. Dia menatap Kala yang kini berjalan santai mendekatinya melintasi waktu yang dijeda.
Kala berhenti tepat dua langkah di depan Liana. Dia mengulurkan tangannya, membuka kain kasa hitam yang menutupi matanya, memperlihatkan pusaran galaksi dan rasi bintang Black Hole yang megah dan mengerikan di dalam kelopak matanya.
"Aku adalah orang yang takdirnya dihancurkan oleh para Dewa yang kau sembah, Putri Liana," ucap Kala, suaranya sedingin angin malam yang membeku. "Aku datang ke Benua Tengah bukan untuk menyakiti manusia fana rendahan. Aku datang untuk meruntuhkan klan-klan suci yang menjadi budak langit."
Liana menatap netra Black Hole Kala. Alih-alih merasa takut, kehampaan di dalam matanya sendiri seolah menemukan pantulan yang sempurna. Di dalam pusaran hitam mata Kala, Liana bisa merasakan penderitaan, kesendirian, dan kemurnian jiwa yang sangat mirip dengan penderitaan batinnya sendiri yang dipaksa menjadi boneka ritual dewa.
"Takdir... juga merantai hidupku..." Liana berbisik dengan sangat lambat di dalam ruang waktu yang melambat, air mata jernih samar-samar tergenang di sudut matanya. "Jika kau ingin menghancurkan tirani langit... pergilah ke Altar Inti malam ini. Tetua Agung Klan Badai sedang menunggumu di sana bersama jebakan yang tak kau ketahui."
Kala tertegun sejenak mendengar peringatan dari mulut putri suci musuhnya sendiri. Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, batas waktu satu detik mikro miliknya telah mencapai ambang batas. Dada Kala bergemuruh, dan dia segera memasukkan kembali bilah pedangnya ke dalam sarung kayu Yggdrasil.
KLIK.
Waktu kembali berputar normal. Warna dunia kembali dalam sekejap.
Belasan pengawal zirah perak mendaratkan kaki mereka di lantai batu, langsung mengacungkan pedang ke arah Kala dan Zian. Namun, Putri Liana tiba-tiba mengangkat tangan kanannya, menghentikan pergerakan pengawalnya.
"Mundur," perintah Liana dengan tenang, wajahnya kembali dingin dan datar seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Mereka hanya perwira biasa yang sedang berpatroli. Aku hanya salah lihat karena mengantuk. Biarkan mereka pergi."
Kapten pengawal perak mengernyit bingung, namun mereka tidak berani membantah perintah Putri Suci. "Baik, Putri!" Mereka menurunkan senjata mereka dan kembali mundur ke balik bayangan bambu.
Zian menghela napas lega yang sangat panjang, sementara Kala kembali memasang kain kasa hitamnya. Kala memberikan penghormatan pendek dengan tangannya ke arah Liana, sebuah isyarat rahasia bahwa dia menerima informasi tersebut, sebelum akhirnya melangkah pergi bersama Zian menuju kegelapan sektor barat.
Liana kembali menatap kolam teratai yang membeku, sebuah senyuman tipis yang penuh misteri muncul di bibirnya yang indah. Pertemuan kedua di malam yang sunyi itu telah mengubah Liana dari sekadar wadah suci menjadi kunci rahasia yang akan membantu Sang Dewa Waktu membalikkan jarum jam takdir semesta.