NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Orang Yang Benar-Benar Pulang

Safira tidak pernah suka bercerita tentang masa kecilnya.

Bukan karena semuanya buruk.

Justru karena beberapa bagian terlalu baik, dan bagian baik itu sering membuat bagian buruk terasa lebih kejam.

Pagi setelah ciuman di dapur, ia bangun lebih siang dari biasanya. Arga sudah tidak di kamar, tetapi kali ini Safira tidak panik. Ia mendengar suara dari bawah, panci diletakkan, air mendidih, dan Bima tertawa terlalu keras.

Safira turun dengan rambut masih sedikit berantakan.

Bima sedang duduk di meja makan, memegang mangkuk bubur.

"Pagi, Mbak. Maaf mengganggu rumah tangga pengantin baru."

Safira berhenti di anak tangga. "Mas Bima datang sepagi ini untuk minta maaf atau cari sarapan?"

"Dua-duanya. Tapi sarapan lebih mendesak."

Arga menaruh mangkuk di meja. "Jangan layani dia. Dia akan makin sering datang."

"Fitnah," kata Bima. "Saya datang karena ada dokumen yang harus ditandatangani."

Safira melirik map di meja.

Arga menutupnya dengan tangan. "Pekerjaan."

"Aku tidak tanya."

"Wajahmu tanya."

Safira tersenyum tipis. "Wajahku juga terbatas."

Bima langsung tertawa. "Aduh, Mbak sudah mulai pakai kalimat Mas Arga. Berbahaya."

Arga menatapnya. Bima kembali makan bubur.

Setelah Bima pergi, rumah menjadi tenang. Safira dan Arga duduk di teras kecil dengan teh hangat. Hari itu ia memutuskan menunda ke ruko sampai siang, mengikuti saran Arga meski tidak mengakuinya.

Arga melihatnya menikmati udara pagi.

"Kamu tampak lebih ringan."

"Karena aku tidur hampir delapan jam."

"Prestasi besar."

"Jangan meledek."

"Saya memuji."

Safira memeluk lutut. "Dulu aku sering tidur di rumah Kakek dan Nenek di Garut."

Arga tidak menyela.

"Bukan Nenek kandung. Istri Kakek Hadi. Aku memanggilnya Nenek Sari. Dia yang mengajariku menjahit kancing pertama kali. Katanya perempuan harus bisa memperbaiki bajunya sendiri, bukan supaya melayani orang lain, tapi supaya tidak panik kalau hidup robek sedikit."

Arga menatapnya.

Safira tersenyum kecil. "Kalimatnya lucu, ya?"

"Bagus."

"Waktu Nenek Sari meninggal, aku seperti kehilangan rumah. Setelah itu aku lebih sering di Bandung. Mama... Mama tidak pernah benar-benar jahat seperti di sinetron. Dia tetap memberiku makan, menyekolahkan aku, membeli baju Lebaran. Tapi semuanya seperti ada tanda kurung."

"Tanda kurung?"

"Iya. Kamu boleh makan, asal tahu diri. Kamu boleh sekolah, asal tidak lebih mahal dari Rania. Kamu boleh punya mimpi, asal tidak mengganggu kebutuhan Kevin. Aku tidak dipukul. Tidak disiksa. Tapi setiap hari aku diingatkan bahwa aku harus bersyukur meski tidak dipilih."

Angin pagi bergerak pelan.

Arga tidak berkata apa pun cukup lama.

Safira menoleh. "Kamu bingung harus merespons?"

"Saya sedang menahan marah."

Safira tertawa lirih. "Jangan. Aku sudah tidak mau marah pagi-pagi."

"Baik."

"Kakek Hadi baik padaku. Nenek Sari juga. Karena itu aku tidak bisa benar-benar membenci rumah Santoso. Ada bagian dari rumah itu yang pernah menyelamatkanku."

"Dan bagian lain yang melukaimu."

"Iya."

Arga menatap cangkirnya. "Kamu boleh mencintai seseorang tanpa membiarkan keluarganya melukaimu."

Safira menyerap kalimat itu.

"Kedengarannya mudah."

"Tidak."

"Tapi perlu?"

"Sangat."

Safira menatap halaman kecil. Di pot dekat pagar, tanaman cabai yang ia beli dari pasar mulai berbunga.

"Aku ingin Kakek lihat ruko baruku setelah rapi."

"Kita bawa dia."

"Kita?"

"Tentu."

Safira menoleh. "Kamu mulai sering sekali memasukkan diri dalam rencanaku."

"Saya suamimu."

"Jawaban andalan."

"Karena benar."

Safira tersenyum, tetapi tidak membantah.

Siang itu mereka pergi ke ruko. Tukang cat sudah mulai bekerja. Warna dinding pilihan Safira adalah putih hangat dengan aksen hijau zaitun lembut. Arga sempat mengusulkan abu-abu, tetapi Safira menolak karena terlalu kantor.

"Ini atelier, bukan ruang rapat," katanya.

Arga menerima kekalahan itu dengan anggun.

Di tengah memeriksa cat, ponsel Safira berbunyi. Nomor baru.

"Halo?"

"Selamat siang, apa benar dengan Mbak Safira dari Safa Atelier?"

"Iya, benar."

"Saya Lintang, asisten pribadi Bu Laras Wicaksono. Bu Laras mendapat rekomendasi dari Bu Maya dan klien Grand Manggala. Beliau ingin memesan beberapa busana untuk acara amal di Jakarta."

Safira hampir menjatuhkan meteran.

Bu Laras Wicaksono adalah nama besar. Istri pengusaha media, sering muncul di acara sosial, dan terkenal hanya memakai desainer mapan.

"Acara kapan, Mbak?"

"Tiga minggu lagi. Kalau Mbak Safira bersedia, Bu Laras ingin bertemu besok di Jakarta. Atau kalau tidak bisa, beliau bisa mengatur pertemuan di Bandung."

Safira menatap Arga.

Arga melihat perubahan wajahnya. "Apa?"

Safira menutup mikrofon sebentar. "Bu Laras Wicaksono."

Alis Arga naik sedikit, tetapi ia cepat mengendalikan wajah.

"Ambil."

"Aku belum siap."

"Kamu siap."

"Dia klien besar."

"Maka datang dengan persiapan besar."

Safira menelan napas, lalu kembali ke telepon. "Saya bersedia bertemu di Bandung jika Bu Laras berkenan. Saya sedang menyiapkan atelier baru, tetapi ruang konsultasi sementara bisa saya siapkan."

Lintang terdengar senang. "Baik, nanti saya kirim detailnya."

Telepon berakhir.

Safira berdiri kaku.

Arga menatapnya. "Selamat."

"Jangan dulu. Belum jadi."

"Kesempatan juga layak dirayakan."

"Aku takut salah."

"Kamu akan belajar."

"Kamu selalu percaya diri soal hidupku."

"Karena kamu sering lupa melakukannya."

Safira tidak bisa membantah.

Sore itu, mereka bekerja bersama di ruko. Safira menyusun daftar sampel kain yang harus dibawa untuk Bu Laras. Arga membantu memindahkan meja kecil dan memasang rak sementara. Ketika tukang cat pulang, mereka duduk di lantai ruko yang masih berbau cat baru, makan nasi kotak dari warung sebelah.

"Romantis sekali," kata Safira sambil membuka plastik sambal.

"Makan di lantai ruko belum jadi?"

"Iya. Standar pengantin baru kita unik."

"Kamu ingin candle light dinner?"

"Dengan voucher hotel aneh itu?"

Arga terdiam.

Safira tertawa kecil. "Aku belum lupa, tapi malam ini aku tidak mau bertengkar."

"Terima kasih."

"Jangan terima kasih dulu. Suatu hari aku tetap akan menagih jawaban."

"Saya tahu."

Safira menyuap nasi, lalu berkata, "Mas Arga."

"Hm?"

"Kalau ruko ini jadi, aku ingin ada satu sudut kecil untuk foto Nenek Sari. Bukan besar. Cuma kecil."

"Kita buat."

Kita.

Kata itu sekarang tidak lagi membuatnya ingin mundur.

Safira melihat ruangan kosong yang mulai berubah. Di dinding putih, ia membayangkan cermin besar, kain-kain indah, pelanggan duduk dengan mata berbinar, Kakek Hadi tersenyum di kursi, dan Arga berdiri di dekat pintu dengan wajah datar seperti biasa.

Orang yang dulu ia kira hanya jalan keluar.

Sekarang mulai terlihat seperti orang yang benar-benar pulang bersamanya.

Malam itu, sebelum mereka menutup ruko, pesan dari Lintang masuk berisi jadwal pertemuan Bu Laras.

Besok pukul sepuluh.

Safira menggenggam ponsel erat.

Arga mengunci pintu ruko, lalu menoleh.

"Siap?"

Safira menarik napas.

Takut masih ada.

Tapi kali ini, takut tidak membuatnya mundur.

"Siap."

Arga mengulurkan tangan.

Safira melihatnya sebentar, lalu menggenggam.

Mereka berjalan ke mobil di bawah lampu jalan, meninggalkan ruko baru yang gelap namun penuh kemungkinan.

Di belakang mereka, papan kosong di atas pintu belum bertuliskan apa pun.

Besok, Safira akan memesan papan nama.

Safa Atelier.

Kali ini bukan di gang kecil.

Kali ini, mimpinya berdiri di depan jalan.

Di mobil, Safira masih memegang ponsel berisi jadwal Bu Laras. Arga tidak langsung menyalakan mesin. Ia membiarkan Safira menikmati beberapa detik kemenangan kecil itu.

"Besok aku harus terlihat profesional," kata Safira.

"Kamu memang profesional."

"Maksudku tempatnya. Ruko masih bau cat."

"Kita buka jendela pagi-pagi. Saya beli diffuser."

"Jangan yang mahal."

"Saya belum menyebut harga."

"Wajahmu menyebut."

Arga menatapnya, lalu menyerah. "Baik. Yang wajar."

Safira tersenyum. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Terima kasih sudah tidak bilang aku terlalu cepat mengambil kesempatan."

"Kenapa saya harus bilang begitu?"

"Di rumah, setiap aku ingin sesuatu, selalu ada yang bilang tunggu dulu, jangan mimpi terlalu tinggi, jangan bikin malu kalau gagal."

"Kalau gagal?"

Safira menatapnya.

Arga melanjutkan, "Kalau gagal, kita perbaiki. Kalau masih bisa, coba lagi. Kalau tidak bisa, cari jalan lain. Gagal bukan aib."

Safira menelan napas.

Mungkin itulah perbedaan terbesar antara rumah lama dan rumah barunya.

Di rumah lama, gagal berarti bahan ejekan.

Di samping Arga, gagal terdengar seperti bagian dari perjalanan.

"Besok," katanya pelan, "aku ingin kamu ada di ruko."

Arga menoleh.

"Bukan untuk bicara. Bukan untuk mengambil alih. Cuma... ada."

Arga mengangguk.

"Saya ada."

Dan untuk malam itu, jawaban itu cukup.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!