Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mendengar nama Sekte Awan Biru, beberapa pemuda Keluarga Shen yang hadir mendadak berseri-seri. Sekte tersebut merupakan salah satu penguasa wilayah selatan. Bagi para kultivator muda, berkesempatan menjadi murid Sekte Awan Biru adalah pencapaian tertinggi.
Sayangnya, Yunche sama sekali tidak tertarik pada obrolan itu. Matanya justru terfokus pada meja jamuan di tengah ruangan. Di sana tersaji piring-piring berisi kue manis yang menggoda.
Tangannya perlahan diulurkan, merayap mendekati piring. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan kue...
"Shen Yunche!" tegur Penatua Ketiga dengan suara tertahan.
Jari Yunche membeku di udara. Ia menoleh perlahan. "Ya?"
"Jangan dimakan."
Yunche mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Itu dihidangkan untuk tamu!"
Yunche menunjuk Gu Qingli. "Dia tamu?"
"Ya."
Yunche mengangguk paham, lalu ganti menunjuk dadanya sendiri. "Kalau saya?"
"Kau anggota keluarga!"
"Oh," Yunche tampak berpikir keras. "Lalu kenapa anggota keluarga sendiri malah tidak boleh makan?"
Penatua Ketiga mendadak bungkam, kehilangan kata-kata.
Di tempat duduknya, Gu Qingli menundukkan kepala. Bahunya bergetar halus—ia sedang bersusah payah menahan tawa agar tidak meledak di tengah ruangan.
Yunche yang menyadarinya langsung menoleh. "Kau tertawa?"
"Tidak," sahut Gu Qingli cepat, kembali menetralkan ekspresinya.
"Jelas-jelas kau tertawa tadi."
"Aku tidak tertawa."
"Barusan bibirmu—"
"Shen Yunche," potong Patriark Shen dengan nada dalam. "Kalau kau masih mau makan kue itu nanti, diam sekarang."
Yunche seketika duduk tegak seperti prajurit. "Siap, Patriark."
Melihat respons kilat itu, Gu Qingli akhirnya gagal menahan diri. Sebuah senyuman kecil terukir di wajah cantiknya—sangat tipis dan hampir tak terlihat. Namun, Yunche sempat menangkapnya.
Yunche terpaku sejenak. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak gadis itu datang, Gu Qingli tak lagi terlihat seperti patung es yang dingin.
Yunche menggelengkan kepala pelan, mengusir isi kepalanya. Paling cuma kebetulan, batinnya seraya memalingkan pandangan.
Pertemuan itu berlangsung hampir satu jam. Begitu acara usai, Yunche langsung ngeluyur keluar menuju halaman belakang yang sepi.
Namun baru melangkah beberapa puluh meter...
"Shen Yunche."
Langkah Yunche terhenti. Ia mengenali suara dingin itu. Saat berbalik, Gu Qingli sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.
Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa lagi?"
Gu Qingli berjalan mendekat dengan anggun. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tanya saja."
"Kau..." Gu Qingli mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "...memang selalu bermulut sembarangan seperti itu?"
Yunche mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Berisik."
Yunche terdiam sejenak. "Ah... jadi kau mau bilang aku ini berisik?"
Gu Qingli mengangguk tanpa ragu. "Benar."
Yunche langsung berbalik membelakanginya. "Kalau begitu, tidak usah bicara denganku."
Gu Qingli tertegun. "Kenapa?"
"Katanya aku berisik. Nanti telingamu sakit."
"Bukan berarti aku melarangmu berbicara," sanggah Gu Qingli cepat.
Yunche menghentikan langkah lalu menoleh pelan. "Lalu?"
"Aku cuma penasaran. Kenapa kau dipanggil ke dalam pertemuan tadi?"
"Memangnya kenapa?"
"Kultivasimu sangat rendah."
"Oh," Yunche mengangguk santai. "Cuma Pengumpulan Qi tingkat dua."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Gu Qingli menatapnya lekat-lekat. "Kau tidak merasa kecewa atau malu?"
"Malu kenapa? Karena orang lemah sepertiku hadir di ruangan yang sama dengan para jenius?"
"Aku tidak bermaksud merendahkanmu."
"Tapi raut wajahmu bilang begitu."
Gu Qingli menyipitkan mata. "Kau benar-benar terlalu banyak bicara."
"Nah, kan!" Yunche menunjuknya. "Bilang berisik lagi."
Gu Qingli mendesah pelan, mulai menyesali keputusannya menghampiri pemuda ini. Namun sebelum berbalik pergi, rasa penasarannya menahan langkahnya. "Jawab saja. Kenapa kau masih mau berkultivasi kalau tahu bakatmu sangat buruk?"
Pertanyaan jujur dan menohok itu membuat Yunche bungkam. Untuk pertama kalinya, raut jahil di wajahnya menyurut.
Angin sore berembus pelan, membelai dedaunan di sekitar mereka. Yunche menatap ke arah halaman luas, lalu terkekeh tipis.
"Karena aku ingin menjadi kuat."
Gu Qingli menatap mata pemuda itu. "Untuk apa? Meraih kejayaan?"
Yunche mengangkat bahu. "Belum tahu."
"Belum tahu?"
"Ya," Yunche menatap kedua tangannya sendiri. "Aku cuma berpikir... kalau suatu hari nanti aku menemukan sesuatu atau seseorang yang ingin kulindungi, aku tidak mau jadi orang lemah yang hanya bisa berdiri dan menangis tanpa bisa berbuat apa-apa."
Gu Qingli terpaku. Jawaban yang begitu polos, tetapi terucap tanpa keraguan.
Namun sebelum atmosfer hangat itu bertahan lebih lama, Yunche mendadak menunjuk ke arah Balai Utama di belakang Gu Qingli. "Ngomong-ngomong..."
"Apa?"
"Kue di meja tadi..."
"Kenapa dengan kuenya?"
"Kau makan tidak?"
"Belum."
Yunche mendesah lega, matanya berbinar. "Baguslah!"
Gu Qingli mengerutkan kening. "Kenapa bagus?"
"Berarti sisanya masih banyak." Yunche tersenyum lebar. "Kalau kau tidak makan, berarti bagianmu bisa buat aku!"
Gu Qingli membatu seketika. Seluruh simpati dan rasa kagum yang baru saja tumbuh di benaknya sirna tak berbekas dalam sekejap.
"Dasar bodoh!" cetus Gu Qingli dingin, lalu berbalik dan melangkah pergi begitu saja.
Yunche menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Loh? Kenapa dia marah lagi?"
Dari balik bayangan pohon besar tak jauh dari sana, seorang pemuda berkimono putih bersih tampak mengamati seluruh interaksi itu sejak awal. Parasnya tampan dengan aura tenang nan elegan.
Ia adalah Xiao Hanzhou—jenius muda terpandang dari Sekte Awan Biru sekaligus sosok yang sangat dekat dengan Keluarga Gu.
Ketika Gu Qingli berjalan melewatinya, Xiao Hanzhou menyapa lembut. "Qingli."
Langkah gadis itu terhenti. "Kakak Xiao."
"Kau sedang berbicara dengan siapa tadi?"
Gu Qingli menoleh sebentar ke belakang, tempat Yunche yang kini sibuk berjalan menyelinap. "Hanya salah satu anggota Keluarga Shen."
"Shen Yunche?"
Gu Qingli sedikit terkejut. "Kakak Xiao mengenalnya?"
Xiao Hanzhou tersenyum tipis, menatap punggung Yunche dengan pandangan meremehkan. "Sedikit. Dia cukup terkenal di kota ini."
"Terkenal?"
"Terkenal sebagai sampah berkepala batu. Pemuda tanpa bakat yang memaksakan diri berkultivasi meski sudah jelas tidak ada harapan." Xiao Hanzhou melangkah mendekat, nada suaranya tetap terdengar ramah dan perhatian. "Saranku, sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya. Dia tidak punya masa depan, aku hanya tidak ingin kau membuang-buang waktumu."
Gu Qingli tidak langsung menjawab. Matanya kembali menatap ke arah Yunche yang kini sudah berhasil menerobos masuk ke area meja jamuan.
Dan benar saja... baru beberapa detik berlalu...
"HEI!"
Teriakan membahana Penatua Ketiga memecah ketenangan sore.
"SHEN YUNCHE!"
Seketika itu juga, Yunche melesat lari sekuat tenaga keluar dari balai sambil memeluk piring kue.
"Kembalikan kue itu!"
"Saya cuma mengambil satu, Penatua!"
"Kau mengambil satu piring, dasar bajingan kecil!"
"Ini fitnah! Tolong, ada penganiayaan!"
Keributan kocak itu berangsur-angsur menjauh ke balik benteng halaman.
Xiao Hanzhou ikut bungkam melihat tingkah konyol tersebut. Namun di sampingnya... Gu Qingli tanpa sadar tertawa kecil.
"Pfft..."
Xiao Hanzhou menoleh kaget. "Kau tertawa, Qingli?"
Gu Qingli seketika menarik kembali senyumnya, memasang kembali raut dinginnya yang biasa. "Tidak."
"Tadi jelas-jelas kau—"
"Aku tidak tertawa," potong Gu Qingli tegas.
Xiao Hanzhou tersenyum canggung. "Baiklah kalau begitu." Namun, tatapan matanya yang terarah ke jalur lari Yunche berubah sedikit lebih dingin.
Sementara itu, di balik keributan dan kejar-kejaran konyol sore itu, ada benih kecil yang mulai bertunas. Sebuah rasa penasaran sederhana dan ketertarikan unik antar dua jiwa yang amat berseberangan.
Sesuatu yang kelak akan menjadi pemantik dari takdir besar mereka.
apa gk syok tuh thor