NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Beberapa meter di depannya, Ibrahim Rabbani Mahendra berdiri di samping mobilnya.

Tatapan mereka bertemu.

"Loh... Kenapa Pak Ibra tahu rumah aku?" batin Azel.

Belum sempat ia bertanya, Uma Azzura menghampiri putrinya sambil tersenyum. "Azel."

"Iya, Uma?"

"Tadi Pak Ibra sama Arjun datang ke sini. Mereka murid lama Abi."

Ucapan itu membuat Azel membeku sesaat. "Murid... Abi?"

Ia menoleh bergantian ke arah Ibra, lalu kepada kedua orang tuanya.

Sementara Ibra hanya mengangguk pelan. "Saya juga baru tau kalau rumah ini adalah rumah Kiai dan Uma."

Azel masih memproses semua informasi itu. "Jadi Bapak kenal Abi dan Uma saya?"

Sebelum Ibra sempat menjawab, Arshaf yang baru keluar dari dalam rumah langsung menyahut sambil tersenyum jahil.

"Bukan cuma kenal. Dulu dia itu hampir tiap hari main ke sini."

Kalimat itu sukses membuat Azel menoleh cepat ke arah Ibra dengan mata membulat. "Hah? Serius, Pak?"

Ibra mengangguk pelan. "Iya." Jawabannya singkat.

Namun cukup membuat Azel membelalakkan mata. "Hah? Beneran, Pak?"

Arshaf menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum geli. "Bener. Dulu waktu kamu masih bayi, dia hampir tiap minggu main ke ndalem."

Azel langsung menoleh kepada ibunya. "Uma, kok Azel nggak pernah tau?"

Uma Azzura tersenyum lembut. "Karena waktu itu kamu masih bayi. Ibra pindah ke Jakarta saat usiamu baru sekitar tiga tahun."

Azel masih tampak tidak percaya. "Loh ternyata saling mengenal."

Kali ini Ibra yang menjawab. "Saya juga baru tahu kalau kamu Acel."

"Acel?" Azel mengernyit. "Itu siapa?"

Uma Azzura terkekeh kecil. "Itu nama panggilan kamu waktu kecil. Dulu yang ngasih nama itu ya Ibra."

Mata Azel semakin membulat. "Pak Ibra?"

Ibra mengangguk tipis. "Dulu... Saya memanggilmu Acel."

Arjun yang sejak tadi berdiri di samping Azel ikut mendongak. "Jadi Ayah kenal Kak Azel dari kecil?"

"Iya. Dulu Kak Azel masih bayi."

"Wah..." Arjun menatap Azel penuh takjub. "Berarti Ayah kenal Kak Azel duluan daripada Arjun."

Ucapan polos itu membuat semua orang tertawa kecil. Sementara Fariz, Sekar, Bella, dan Ihsan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari sana saling berpandangan.

Bella menepuk pelan lengan Sekar. "Eh... Kok dunia sempit banget ya?"

Sekar mengangguk pelan. "Kirain cuma dosen sama mahasiswa. Eh ternyata kenal dari dulu."

Fariz sendiri hanya diam memperhatikan. Tatapannya sempat beralih kepada Ibra yang berdiri tidak jauh dari Azel.

Entah kenapa, ia merasa hubungan keduanya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia kira.

Di sisi lain. Azel masih belum bisa mencerna semuanya.

"Pantesan..." gumamnya pelan. "Pantesan Arjun gampang banget deket sama aku."

Uma Azzura tersenyum. "Mungkin memang Allah yang mempertemukan kalian kembali."

Kiai Abidzar mengangguk pelan. "Tidak ada pertemuan yang sia-sia. Kalau Allah menghendaki dua orang bertemu kembali setelah bertahun-tahun pasti ada hikmah yang sedang Dia siapkan."

Suasana mendadak hening. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.

Tiba-tiba Arjun kembali menarik tangan Azel. "Kak."

"Iya?"

"Besok Arjun boleh main lagi kan?"

Azel tersenyum sambil mengusap kepala bocah itu. "Boleh. Asal Ayah kamu mengizinkan."

Arjun langsung menoleh kepada Ibra dengan mata berbinar. "Ayah... Boleh ya?"

Semua mata kini tertuju kepada Ibra. Laki-laki itu memandang putranya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya kepada Kiai Abidzar dan Uma Azzura.

Setelah itu tatapannya tanpa sengaja bertemu lagi dengan mata Azel.

"Iya boleh. Asalkan tidak mengganggu keluarga Kiai."

Kiai Abidzar langsung tersenyum hangat. "Jangan bilang mengganggu. Kehadiran Arjun justru membuat rumah ini lebih ramai."

"Betul," sahut Uma Azzura. "Azel juga senang ada teman bermain."

Azel mengangguk sambil tersenyum kepada Arjun. "Iya, besok kita kasih makan ikan lagi."

"Horeee!" Arjun melompat kegirangan.

Melihat tawa lepas putranya, Ibra tanpa sadar kembali tersenyum tipis.

Sudah lama sekali ia tidak melihat Arjun sebahagia ini. Dan semua kebahagiaan itu selalu hadir ketika ada Azel di dekat putranya.

***

Malam pun tiba. Suasana ndalem mulai tenang. Seusai salat Isya, masing-masing penghuni rumah sibuk dengan kegiatannya. Namun tidak dengan Azel.

Gadis itu justru mondar-mandir di ruang keluarga sambil memegang bantal sofa. Otaknya masih terus memutar kejadian sore tadi.

Pertama, Arjun yang sangat dekat dengannya ternyata anak dari dosen perpajakannya yang terkenal kaku. Lalu Pak Ibra ternyata murid Abi dan almarhum Jaddunnya.

Bahkan laki-laki itu pula yang memberi nama panggilan "Acel" untuknya saat masih bayi.

Semakin dipikirkan semakin terasa seperti sinetron.

"Huwaaa!!" Teriakan Azel mendadak memecah keheningan rumah.

"Ya Allah!" Arshaf yang sedang santai menonton televisi langsung terkesiap sampai remot di tangannya hampir terjatuh.

"Apaan sih, Zel? Berisik tau!"

Azel yang baru sadar dirinya berteriak spontan meringis. "Hehe... Maaf, Kak."

Arshaf memicingkan mata. "Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

"Nggak."

"Pasti ada yang dipikirin."

Azel mengembuskan napas panjang. "Ya... Bukan mikirin orangnya. Tapi kok ya plot twist banget hidup aku."

Arshaf tertawa pelan. "Yang mana?"

"Ya itu. Arjun anak Pak Ibra. Pak Ibra ternyata murid Abi. Terus dulu malah sering main ke sini. Terus yang ngasih nama Acel ternyata beliau. Ya Allah..."

Azel menutup wajahnya dengan bantal. "Kenapa hidup aku begini banget, sih?"

Arshaf justru tertawa semakin keras. "Itu aja udah bikin kamu syok?"

"Iya lah. Kalau Kakak jadi aku juga syok."

Arshaf menggeleng geli. "Kalau kamu tau lebih banyak lagi malah bakal tambah syok."

Azel langsung menurunkan bantal dari wajahnya. "Maksudnya?"

Arshaf menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Dulu waktu kamu masih bayi Ibra sering banget gendong kamu."

Azel langsung membelalak. "Hah?"

"Iya. Kalau kamu nangis anehnya malah diam waktu dia yang gendong. Padahal Kakak sama Aryan sampai gantian gendong. Tetap aja kamu nangis."

Azel menganga. "Hah? Masa sih? Kakak bohong ya?"

Arshaf langsung mendelik. "Buat apa Kakak bohong? Demi Allah. Dulu Uma sama Bu Zulfa aja sampai ketawa. Soalnya tiap Ibra datang kamu malah maunya sama dia."

Azel benar-benar tidak percaya. "Serius?"

"Iya. Bahkan dulu kamu pernah tidur di gendongan dia hampir sejam. Terus pas dia mau pulang, kamu bangun dan nangis lagi."

Azel memegang kepalanya sendiri. "Ya Allah... Memalukan banget."

Arshaf terkekeh. "Memalukan apanya? Namanya juga bayi."

Azel masih menggeleng-geleng. "Memangnya kalian dulu deket banget?"

Arshaf mengangguk. "Banget. Ibra itu sahabat Kakak sama Aryan. Hampir tiap hari main ke pesantren. Belajar bareng. Ngaji bareng. Main bola bareng. Pokoknya ke mana-mana bertiga. Meski umurnya di atas Kakak 3 tahun tapi ya nyambung aja kalau ngobrol."

Azel mengangguk pelan. "Pantes..."

"Pantes apa?"

"Pantes Pak Ibra kelihatan nyaman ngobrol sama Abi dan Uma."

"Iya lah. Soalnya beliau bukan orang asing."

Arshaf tersenyum tipis, lalu menatap adiknya dengan wajah jahil. "Makanya jangan galak-galak sama dosen sendiri."

Azel langsung menyikut lengan kakaknya. "Ih! Yang mulai debat itu Pak Ibra kali! Bukan aku."

Arshaf tertawa. "Iya, iya. Tapi Kakak lihat dia juga nggak pernah benar-benar marah sama kamu."

Azel mendengus pelan. "Mana ada. Orangnya dingin kayak kulkas. Kamu kaya robot. Bahkan Arjun aja manggil beliau Pak Kutub Utara."

Mendengar itu, Arshaf tertawa sampai memegang perutnya. "Pak Kutub Utara? Astaghfirullah... Itu kamu yang ngajarin, kan?"

Azel langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Hehe... Keceplosan terus Arjun malah ngikutin."

Arshaf menggeleng sambil masih tertawa. "Kasihan Ibra punya mahasiswa kayak kamu."

Azel langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah sang kakak. "Dasar Kak Arshaf!"

Bantal itu tepat mengenai bahu Arshaf. Bukannya kesal, ia justru tertawa semakin keras. Suara tawa kakak beradik itu memenuhi ruang keluarga, membuat rumah yang sempat sunyi kembali terasa hangat.

***

Malam itu rumah kembali sunyi. Arjun sudah tertidur lelap setelah seharian bermain di ndalem. Wajah kecilnya tampak damai sambil memeluk boneka mobil kesayangannya.

Ibra menutup pintu kamar putranya perlahan. Lalu berjalan menuju ruang kerja kecil di samping ruang keluarga.

Di atas meja masih tergeletak laptop dan beberapa berkas perkuliahan yang harus diperiksa. Namun tak satu pun menarik perhatiannya. Pikirannya justru kembali pada kejadian sore tadi.

"Azel..." gumamnya pelan.

Ia menyandarkan tubuh di kursi, memejamkan mata beberapa saat.

Masih sulit dipercaya. Mahasiswi yang hampir setiap pertemuan selalu berdebat dengannya. Mahasiswi yang sering membuatnya menghela napas karena tingkahnya.

Ternyata... Adalah Acel kecil. Bayi mungil yang dulu sering ia gendong.

Senyum tipis terukir di bibirnya ketika kenangan lama kembali bermunculan.

Dulu setiap kali almarhum mamanya berkunjung ke ndalem, ia selalu ikut. Saat itulah seorang bayi perempuan lahir.

Pipinya bulat. Matanya bening. Kalau menangis suaranya bisa membuat satu rumah panik.

Aryan dan Arshaf yang masih kecil bahkan sering berebut ingin menggendong adik mereka.

Namun anehnya... Bayi itu justru semakin keras menangis. Sampai akhirnya, Ibra mencoba menggendongnya.

"Acel..."

Begitu ia memanggil bayi itu dengan nama yang muncul begitu saja di kepalanya. Tangisan itu perlahan berhenti.

Sejak saat itu, ia selalu memanggilnya Acel.

Bahkan Bu Zulfa sering menggoda. "Sepertinya Acel lebih kenal sama kamu daripada sama kakak-kakaknya."

Ibra hanya tersenyum saat mengingatnya. Siapa sangka belasan tahun berlalu, Acel kecil kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.

Dan... Malah menjadi mahasiswinya.

Ia menggeleng pelan. "Allah memang punya cara sendiri mempertemukan manusia."

Namun senyum itu perlahan memudar. Kenangan berikutnya tidak lagi seindah tadi. Hari ketika ayahnya dipindahkan ke Jakarta. Hari ketika ia berpamitan kepada semua orang di ndalem. Termasuk kepada bayi kecil yang saat itu baru berusia sekitar tiga tahun.

Ia masih ingat. Acel kecil hanya menatapnya bingung. Belum mengerti arti perpisahan.

Sementara dirinya tidak pernah menyangka bahwa kepergian itu menjadi awal dari begitu banyak ujian dalam hidupnya.

Ayah dipenjara. Keluarganya jatuh. Ibunya berjuang seorang diri.

Lalu pernikahan yang berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya ia kembali ke Bandung.

Kembali ke pesantren. Kembali bertemu orang-orang yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Dan... Bertemu lagi dengan Acel. Kini sebagai Azel.

Ibra mengembuskan napas panjang. "Subhanallah, takdir memang aneh."

Lalu tanpa sadar, bayangan Azel sore tadi kembali muncul. Gadis itu turun dari mobil Fariz sambil tertawa bersama teman-temannya.

Entah kenapa pemandangan itu sempat membuat dadanya terasa sesak. Ia mengernyit.

"Kenapa saya sampai memikirkan hal itu?"

Ia menggeleng. "Tidak seharusnya."

Fariz hanyalah seniornya di BEM. Mereka bekerja dalam organisasi yang sama. Tidak ada yang aneh.

Lagipula, Azel adalah mahasiswinya. Dan dirinya seorang dosen. Hubungan mereka seharusnya berhenti sampai di situ.

"Tidak boleh lebih dari itu." Gumamnya pelan, seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri.

Namun... Kalimat itu justru terasa semakin berat ketika wajah polos Arjun terlintas dalam pikirannya.

"Aku suka kalau Kak Azel jadi mama aku."

Ibra memijat pelipisnya. "Anak itu..."

Benar-benar mengatakan apa saja yang ada di kepalanya. Kalau saja Azel tidak memahami kepolosan Arjun, mungkin ia sudah salah paham.

Ia mengembuskan napas panjang lagi. Meski begitu ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri.

Sejak Azel hadir, rumah yang selama ini terasa sepi perlahan mulai dipenuhi tawa Arjun lagi. Dan melihat putranya kembali ceria ada rasa syukur yang begitu besar memenuhi hatinya.

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!