Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 C-12 HIDUP
Jam 13.15, Parkiran Makodam matahari baru nongol. Tapi suasana mendadak sedingin es, layar ponsel Galen masih nyala menampilkan foto gudang kosong yang yang bertuliskan cat merah: ‘C-12 HIDUP’ membuat suasana menjadi hening.
1 menit kemudian …
"Turun! Semua masuk ke dalam!" Teriak Danrem.
4 prajurit langsung membentuk perisai manusia di depan Wijaya, Galen, Nabila, dan Anggita.Wijaya menarik Galen ke belakang insting, tangannya reflek ke pinggang, padahal pistol dinasnya udah disita.
"Mereka ngawasin kita" Bisik Wijaya, dengan rahang yang mengeras.
Di dalam, Nabila langsung menarik Anggita ke pelukannya.
"Bila... tanganku dingin" Suara Anggita kecil tapi jelas
Nabila menggenggam tangan Anggita erat
"Ada aku, nggak akan ada yang nyentuh kamu" Ujar Nabila menenangkan Anggita
Danrem menatap ponsel Galen, wajahnya waspada.
"Kode garuda putih belum 2 jam jalan, mereka udah berani tantang balik" Ucap Danrem
Danrem menekan HT
"Tim Cyber, lacak nomor ini. SEKARANG. Tim Gegana, siaga penuh"
Galen menatap foto itu lagi, matanya menyipit.
"Yah... gudang ini, gudang Cikutra" Ucap Galen
"Gudang tua milik C-12 yang 15 tahun lalu kebakaran, nggak ada di data bukti kita" Lanjut Galen
Wijaya terdiam, 15 tahun luka lama menganga lagi.
"Jebakan" Ucap Wijaya pelan.
"Tapi kalau kita nggak datang, mereka akan bilang kita penakut" Ujar Danrem menepuk bahu Wijaya. Keras.
"Kolonel, prajurit nggak kenal kata takut. Kita berangkat 10 menit lagi" Lanjut Dandrem
*****
Jam 13.40 dalam perjalanan, 2 mobil TNI melaju kencang dengan sirine meraung. Di dalam mobil, suasananya begitu tegang hanya suara radio HT. Adrian duduk depan, laptop di pangkuan sementara jarinya menari diatas keyboard.
"Nomornya nomor kosong, Pak. Dibuang setelah dipakai. Tapi... IP terakhir mengarah ke daerah Cikutra" Papar Adrian
Anggita meringkuk di pelukan Nabila, dia memejamkan mata.
"Bila, aku mimpi buruk lagi" Bisik Anggita
"Ada orang pake topeng, dia bilang... dia bilang aku harus gantiin Kak Dinda" Lanjut Anggita, Nabila mengecup kening Anggita yang air matanya hampir jatuh.
"Sst... itu cuma mimpi, aku janji" Jawab Nabila
Galen menatap keluar jendela, perbannya terasa sakit.
"Kalau mereka mau Anggita... mereka harus bunuh aku dulu" Gumam Galen, Wijaya menoleh ke anaknya.
15 tahun dia gagal jadi ayah, hari ini tidak akan.
"Nggak, mereka harus lewatin mayat aku dulu" Timpal Wijaya tegas
Jam 14.00 sampai di gudang Cikutra, namun suasana sepi. Terlihat umput tinggi, cat dinding mengelupas, bau bensin dan debu.
"Formasi! Masuk!" Perintah Danrem.
Tim Gegana masuk duluan, detektor bom, anjing pelacak tapi ruangan itu kosong. Tapi di tengah ruangan, ada 1 meja kayu yang di atasnya ada laptop terbuka, dan 1 amplop coklat besar bertuliskan: UNTUK KELUARGA WIJAYA SEMUA BERHENTI.
"Jangan sentuh" Kata Anggota Gegana.
Lalu dia scan
"Negatif bahan peledak" Ucapnya
Galen melangkah maju
"Galen!" Cegah Wijaya.
"Tapi itu buat kita, Yah" Jawab Galen
Tangannya gemetar saat membuka amplop, saat membukanya membuat Galen terkejut karena itu kumpulan foto-foto Nabila dan Anggita yang masih kelas 12 SMA. Foto Anggita umur 18 tahun, lagi tiup lilin. Foto Wijaya di makam ibunya, 15 tahun lalu yang lalu hujan-hujanan. Foto Galen di rumah sakit, saat koma setelah ditusuk. Di belakang setiap foto ada tanggal.dan 1 kalimat : kami selalu ada, Nabila menutup mulutnya tidak percaya bagaimana bisa ada orang yang mengetahuinya dari zaman SMA.
"Mereka... mereka ngikutin kita dari dulu" Bisiknya Nabila
Di paling bawah, ada 1 flashdisk dan surat. Galen langsung memasukkan flashdisk ke laptop, tak lama layar menayangkan video. Ruangan gelap. 1 orang pakai topeng tengkorak duduk di kursi. Suara diubah jadi robot.
"Selamat siang, Kolonel Wijaya. Selamat atas kebebasanmu."
"Sayang sekali... kebebasan itu ada harganya"
Layar ganti. Menampilkan CCTV, di rumah Wijaya 5 menit yang lalu. Seseorang bertopeng berdiri di depan pagar, menatap ke arah kamera.
"Nah… itu teman kami, dia bilang halo"
Video ganti lagi, kali ini Anggita. Lagi tidur di pelukan Nabila di mobil tadi.
"Kamu lihat ? Kami sedekat ini"
"Jadi gini, Kolonel. Kembalikan 200 halaman bukti itu dan bubarkan Operasi Garuda Putih."
"Kalau tidak... 24 jam dari sekarang, anak ini akan jadi Dinda jilid 2"
Layar mati.
BUM!
Laptop meledak kecil mengeluarkan asap putih, anggota Gegana langsung menyemprot. Semua terdiam, Anggita menjerit.
"Bila!!" Jerit Anggita
Nabila langsung memeluknya, menutup telinganya.
"Nggak denger apa-apa ya... nggak denger..." Ucap Nabila menenagkan sahabatnya
Wijaya berlutut, bukan lemah tapi marah. 15 tahun dia dipaksa diam, 15 tahun dia nonton anaknya hancur dan sekarang mereka berani mengancam Anggita. Wijaya berdiri perlahan, matanya merah.
"Danrem," Ucap Wijaya dengan suaranya rendah, tapi seluruh ruangan dengar.
"Saya tarik kata saya tadi, ini bukan lagi kasus. Ini perang" Lanjut Wijaya
Danrem mengangguk dengan ekspresi sama …
"Setuju, kolonel" Jawab Danrem
Galen maju, berdiri di samping ayahnya. Bahunya yang sakit tetap tegak.
"Aku ikut, ayah. Ini keluarga kita, ini perang kita" Kata Galen
Nabila berdiri, masih memeluk Anggita.
"Kalau mereka mau Anggita... langkahi mayat aku dulu" kata Nabila, ir matanya jatuh, tapi suaranya menggelegar.
Anggita mengusap air mata Nabila, tangannya gemetar tapi kuat.
"Aku nggak takut, Bila. Kak Dinda berani, aku juga harus berani" Ucap Anggita
"Tolong... jangan ada Anggita lain" Lanjut Anggita
Danrem menarik napas panjang. Lalu berteriak:
"PERHATIAN! OPERASI GARUDA PUTIH FASE 2: PERBURUAN!"
"Target C-12, status: musuh Negara, aturan: Tembak di tempat jika melawan!"
"Prioritas 1: Lindungi Nyawa Anggita Larasati dengan nyawa kalian!"
"SIAP 86!!" Jawab 20 prajurit serentak.
Di luar, 3 helikopter tempur melintas. Di dalam ada 4 orang, Wijaya berbisik ke telinga Galen.
"15 tahun aku diam, Nak. Hari ini... kita habisi sampai ke akar-akarnya"
Galen mengangguk lalu dia mengeluarkan ponselnya, ada 1 pesan baru masuk lagi dari nomor yang sama. Isinya:
… {Kalau berani datang sendiri}
Wijaya tersenyum, senyuman pertama dalam 15 tahun. Senyum prajurit mau perang.
"Bagus, mereka mau perang ? Kita kasih perang" Ucap Wijaya
Wijaya menatap Nabila dan Anggita.
"Kalian tetap di kodam, dengan pengamanan maksimal" Lanjut Wijaya
Nabila menggeleng
"Nggak, kita keluarga om. Kita akan hadapi bersama-sama" Jawab Nabila
Danrem menatap mereka lama, lalu menghela napas.
"Baik, tapi kalian tetap dalam perlindungan" Ujar Denram
*****
Jam 14.30 mobil melaju lagi, kali ini ke arah koordinat itu. Di dashboard, foto Dinda terselip lalu
Wijaya menyentuhnya.
"Tunggu ya, Nak. Aku janji" Ucap Wijaya
Galen menggenggam tangan Nabila …
"Setelah ini selesai... kita hidup tenang ya?" Ucap Galen pelan, Nabila mengangguk lalu menyandarkan kepala di bahu Galen
"Iya, kita akan hidup tenang untuk Dinda dan ntuk Anggita" Jawab Nabila
Di kejauhan, suara sirine makin dekat dan perang babak 2 baru saja dimulai.