NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Kemenangan yang Semu

Dapur yang biasanya mengepulkan aroma bumbu tradisional yang hangat kini mati, sedingin makam yang tak terurus. Tak ada lagi bunyi desis minyak di wajan, tak ada ketukan lembut pisau di atas talenan kayu, dan tak ada lagi sosok sunyi yang bergerak dengan keanggunan yang diredam.

Sebagai gantinya, ruang makan keluarga Adijaya malam itu dipenuhi oleh kotak-kotak makanan dari restoran bintang lima yang dipesan tergesa-gesa. Lilin-lilin aromaterapi dinyalakan di sudut ruangan, mencoba mengusir bau amis dari sup herbal yang tumpah pagi tadi—atau mungkin, mencoba menyamarkan bau busuk dari sebuah kejahatan moral yang baru saja mereka rayakan.

Ningsih duduk di kepala meja dengan punggung tegak, tampak bagai ratu yang baru saja memenangkan takhta dari musuh bebuyutannya. Ia menyesap teh kamomil impor dari cangkir porselen berlapis emas dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.

"Udara di rumah ini rasanya jauh lebih bersih sekarang," ujar Ningsih, suaranya mengalun ringan, membelah kesunyian malam dengan kepongahan yang tak ditutupi. "Sejak perempuan pembawa sial itu pergi, Ibu merasa energi negatif di rumah ini menguap sepenuhnya."

Reza, yang duduk di sisi kanan meja, tidak langsung menjawab. Pria itu memutar-mutar gelas berisi wiski di tangannya, membiarkan es batu di dalamnya berdenting beradu dengan kaca. Matanya menatap cairan amber itu dengan pandangan yang agak kosong. Ada sisa-sisa kegelisahan yang tertinggal di sudut hatinya. Bayangan Naya yang berdiri membeku di bawah temaram lampu jalan tol, dengan sandal jepit usang dan rambut yang acak-acakan ditiup angin kencang, sesekali melintas bagai hantu di benaknya.

"Kamu kenapa, Reza?" tanya Ningsih, nadanya berubah tajam, mendeteksi keraguan pada putranya. "Kamu menyesal? Menyesal telah membuang pencuri yang tidak tahu diri itu?"

"Tidak, Bu," jawab Reza cepat, buru-buru menegakkan punggungnya untuk menyembunyikan getar ragu di suaranya. Ia menenggak wiskinya dalam sekali teguk, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya dan membunuh rasa bersalah yang tidak ia inginkan. "Naya memang pantas mendapatkan itu. Dia terlalu lancang pada Ibu. Lagipula, jika dia memang tidak bersalah, dia tidak akan diam saja saat diturunkan. Sikap diamnya adalah pengakuan dosa."

Mendengar itu, seorang pemuda yang duduk di seberang Reza tersenyum sangat tipis—sejenis senyum yang langsung disembunyikan di balik kepalan tangan yang menutup mulutnya saat ia berpura-pura batuk kecil.

Dia adalah Andi.

Dengan kemeja koko putih bersih bergaya kasual dan wajah yang selalu tampak teduh tanpa dosa, Andi adalah definisi dari air tenang yang menghanyutkan. Di mata Ningsih, Andi adalah keponakan teladan yang saleh, santun, dan selalu mengutamakan keluarga. Namun di balik mata yang tampak tulus itu, tersimpan jiwa seorang parasit yang lihai membaca arah angin.

"Paman Reza, Bibi Ningsih..." Andi bersuara, nadanya begitu lembut dan sarat akan simpati buatan yang terdengar sangat meyakinkan. "Andi sebenarnya merasa sangat sedih melihat keadaan ini. Andi tidak menyangka Bibi Naya akan melakukan hal sekeji itu. Mencuri uang arisan Bibi Ningsih yang sudah dikumpulkan dengan susah payah... sungguh, Andi merasa sangat terpukul."

Ningsih menatap Andi dengan binar mata yang melunak seketika. "Oh, Andi sayang, kamu itu terlalu baik. Hatimu itu terlalu suci untuk memahami betapa kotornya mental orang miskin seperti Naya. Di dunia ini, ada orang-orang yang memang lahir dengan darah pencuri, tidak peduli seberapa baik kita memperlakukan mereka."

"Andi hanya berharap, Bibi Naya bisa segera menyadari kesalahannya dan bertobat," lanjut Andi dengan nada yang dibuat agak bergetar, seolah ia sedang menahan tangis karena prihatin. Tangannya diam-diam meraba saku celananya yang tebal di bawah meja. Di dalam saku itu, terlipat rapi amplop cokelat berisi uang lima puluh juta rupiah yang sebenarnya ia ambil dari laci meja rias Ningsih subuh tadi—uang yang ia butuhkan untuk membayar utang judi daring yang kian menumpuk dan mengancam nyawanya.

Andi tahu persis seberapa mudahnya memanipulasi bibinya yang angkuh dan pamannya yang egois. Cukup dengan melemparkan kesalahan pada Naya, si menantu miskin yang selalu menjadi sasaran empuk, maka posisinya sebagai keponakan emas akan tetap aman dan tak tersentuh.

"Bertobat?" Ningsih mendengus sinis. "Perempuan seperti dia tidak akan pernah bertobat sebelum merasakan kerasnya hidup di jalanan. Biarkan saja dia mengemis sekarang. Paling-paling dia akan pulang ke kampungnya dengan menanggung malu, menceritakan pada ibunya yang sakit-sakitan itu bahwa dia telah diusir karena tangannya yang panjang."

Reza tertawa pendek, mencoba menyelaraskan diri dengan kesombongan ibunya. "Benar, Bu. Tanpa fasilitas yang kuberikan, Naya tidak lebih dari sebutir debu. Kita lihat saja seberapa lama dia bisa bertahan di luar sana sebelum akhirnya memohon-mohon untuk kembali ke rumah ini."

"Jangan pernah berpikir untuk menerimanya kembali, Reza!" ancam Ningsih, menunjuk putranya dengan garpu perak. "Ibu akan mencarikanmu istri baru. Wanita dari kalangan kita, yang tahu cara membawa diri, yang ayahnya memiliki relasi bisnis kuat untuk membantumu naik jabatan menjadi Direktur Utama di Atmadja Group. Bukan wanita kampung yang hanya tahu cara memegang sapu!"

Atmadja Group. Mendengar nama raksasa bisnis itu disebut, mata Reza berbinar penuh ambisi. Selama ini, ia bekerja keras sebagai salah satu manajer menengah di anak perusahaan konglomerasi tersebut. Ia selalu memimpikan posisi puncak, memimpikan hari di mana ia bisa bersalaman langsung dengan jajaran direksi tertinggi Atmadja Group yang legendaris.

"Tentu saja, Bu," ujar Reza dengan senyum lebar yang pongah. "Besok pagi, aku akan fokus pada proyek besar di kantor. Kudengar, perwakilan dari keluarga Atmadja akan meninjau langsung cabang kita. Ini adalah kesempatanku untuk bersinar."

Andi mengangkat gelas jus jeruknya tinggi-tinggi. "Mari kita bersulang untuk masa depan Paman Reza yang cemerlang, dan untuk kedamaian rumah ini yang akhirnya kembali."

"Bersulang!" sahut Ningsih dengan tawa yang berderai.

Ketiga gelas itu berdenting di tengah ruangan, menciptakan bunyi nyaring yang terdengar seperti sebuah perayaan kemenangan. Mereka minum, tertawa, dan saling melempar sanjungan di atas penderitaan seorang wanita yang mereka buang di bahu jalan tol beberapa jam lalu.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, langit malam kian pekat dan angin bertiup kencang, membawa kabut hitam yang perlahan mulai mengepung rumah mewah mereka. Pesta itu begitu hangat, namun fondasi tempat mereka berpijak sebenarnya sudah mulai retak, bersiap untuk runtuh berantakan saat fajar menyingsing.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!