Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
Tantangan psikologis yang dilemparkan Adrian sebelum berangkat mengajar meninggalkan gaung yang cukup panjang di kepala Gisella.
Setelah membereskan meja makan bersama Bibi Martha, Gisella memutuskan bahwa mengurung diri di dalam kamar hanya akan membuat pikirannya semakin semrawut.
Tubuh ini butuh udara segar, dan yang lebih penting, jiwanya yang terbiasa aktif di dunia modern menolak untuk sekadar berdiam diri meratapi nasib sebagai karakter figuran.
Mengingat perkataan Valerie tentang olahraga pagi, sebuah ide melintas di benak Gisella.
Tubuh Gisella asli ini sebenarnya sangat rapuh karena jarang bergerak, terlalu sering begadang untuk memikirkan Julian, dan hanya mengandalkan diet ekstrem yang tidak sehat demi mempertahankan bentuk tubuh.
"Jika aku ingin bertahan hidup, modal utamaku adalah fisik yang kuat,"
gumam Gisella seraya mengganti pakaiannya dengan setelan olahraga kasual—celana legging hitam nyaman dan jaket hoodie longgar berwarna putih gading.
Rambut cokelat bergelombangnya kembali diikat kuda tinggi, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya yang mulai tampak lebih segar.
Gisella melangkah turun dan berpapasan dengan Tuan dan Nyonya Arthur—orang tua Adrian—yang baru saja keluar dari paviliun samping.
"Gisella? Kau mau ke mana, Sayang?"
tanya Nyonya Arthur, seorang wanita paruh baya yang sangat anggun dengan tutur kata yang selalu lembut.
Di sampingnya, Tuan Arthur yang bertubuh tegap namun memiliki guratan pucat di wajahnya menatap sang menantu dengan pandangan hangat.
Sejak transmigrasi, ini adalah pertama kalinya Gisella berinteraksi langsung dengan kedua mertuanya.
Rasa bersalah yang mendalam dari sisa memori tubuh asli membuat dada Gisella sedikit sesak.
Orang tua ini begitu tulus menyayanginya demi membalas budi sang kakek, namun Gisella asli justru membalasnya dengan pemberontakan dan sikap tidak sopan.
Gisella segera mendekat, membungkuk sedikit dengan penuh rasa hormat—sebuah tindakan yang membuat Tuan dan Nyonya Arthur saling pandang dengan keterkejutan yang jelas di mata mereka.
"Ayah, Ibu... selamat pagi,"
sapa Gisella lembut.
"Aku berniat pergi ke Taman Kota Aethelgard sebentar untuk berjalan santai dan menghirup udara segar. Tubuhku terasa agak kaku setelah beberapa hari ini kurang bergerak."
Nyonya Arthur memegang tangan Gisella dengan lembut, matanya berkaca-kaca.
"Baguslah, Sayang. Ibu sangat cemas setelah insiden kemarin. Adrian bilang kau sudah jauh lebih tenang, dan melihatmu ingin keluar untuk berolahraga membuat Ibu sangat lega. Apakah kau pergi bersama Valerie? Dia baru saja pergi ke arah taman beberapa menit lalu."
"Ah, benarkah?
Mungkin aku akan berpapasan dengannya di sana,"
jawab Gisella dengan senyuman tulus.
Tuan Arthur terbatuk kecil, lalu tersenyum.
"Pergilah, Nak. Jaga kesehatanmu. Akhir-akhir ini udara pagi sangat baik untuk paru-paru."
Gisella mengangguk patuh.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, Ayah, Ibu."
Taman Kota Aethelgard adalah hamparan hijau yang luar biasa luas di tengah metropolitan fiktif ini.
Pohon-pohon mapel dan ek berjajar rapi di sepanjang jalur pejalan kaki, sementara sebuah danau buatan dengan air yang jernih memantulkan langit pagi yang biru bersih.
Udara di sini terasa sangat murni, kontras dengan polusi kota dunia asal Gisella yang menyesakkan.
Gisella mulai menyelaraskan langkah kakinya.
Dia tidak berlari, melainkan melakukan jalan cepat (brisk walking) untuk membangun stamina tubuhnya yang payah secara bertahap.
Detak jantungnya mulai meningkat, mengirimkan aliran darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuhnya, membuat kepalanya terasa jauh lebih ringan.
Setelah sekitar dua puluh menit berjalan mengitari danau, langkah kaki Gisella melambat saat matanya menangkap siluet yang sangat dia kenali di bawah pohon ek besar.
Itu Valerie. Gadis itu sedang duduk di atas bangku taman, memegangi pergelangan kaki kirinya dengan wajah meringis kesakitan. Sepatu lari neonnya dilepas, tergeletak di atas rumput.
Tampaknya adik iparnya itu baru saja mengalami kram otot atau terkilir saat sedang berlari terlalu kencang.
Gisella menghentikan langkahnya sejenak.
"Apakah aku harus mendekat?"
Mengingat betapa Valerie membencinya, kehadirannya mungkin justru akan memicu kemarahan baru.
Namun, melihat Valerie yang tampak benar-benar kesakitan dan jalur taman di sekitar situ kebetulan sedang sepi, insting kemanusiaan Gisella menanggapinya dengan cepat.
Gisella melangkah mendekati bangku taman tersebut dengan langkah kaki yang sengaja dibuat terdengar agar tidak mengejutkan Valerie.
"Butuh bantuan?"
tanya Gisella tenang.
Valerie mendongak dengan cepat. Begitu melihat wajah Gisella, ekspresi kesakitannya langsung digantikan oleh kerutan ketat penuh pertahanan.
"Kau? Sedang apa kau di sini? Menguntitku?"
"Taman ini fasilitas umum, Valerie. Dan aku ke sini untuk berjalan pagi, bukan untuk menguntitmu,"
jawab Gisella santai. Dia berlutut di atas rumput di hadapan Valerie, mengabaikan fakta bahwa legging hitamnya akan kotor terkena tanah.
"Mana yang sakit? Pergelangan kaki kirimu?"
"Jangan sentuh aku!" bentak Valerie, mencoba menarik kakinya menjauh. Namun, gerakan mendadak itu justru memicu rasa sakit yang lebih hebat, membuatnya refleks
memekik, "Awh!"
"Jangan keras kepala jika sedang cedera,"
tegur Gisella dengan nada tegas namun tidak membentak—nada suara yang biasa digunakan oleh seorang kakak dewasa.
"Aku tidak akan memotong kakimu. Aku hanya ingin memeriksa apakah ini kram otot biasa atau keseleo ringan."
Tanpa menunggu izin dari Valerie yang masih mendelik kesal, tangan Gisella yang hangat dan lembut perlahan memegang pergelangan kaki Valerie.
Di dunia aslinya, Gisella sering mengikuti kelas yoga dan fisiologi dasar untuk pekerja kantoran yang sering mengalami cedera otot, sehingga dia tahu persis bagaimana cara menangani kram atau salah urat ringan.
Gisella menekan titik tertentu di bawah otot betis Valerie dengan ibu jarinya, lalu melakukan pijatan memutar yang lembut namun bertenaga secara perlahan.
"A-aduh! Sakit, Gisella! Lepaskan!"
protes Valerie, wajahnya memerah. Namun, hanya dalam hitungan detik, rasa sakit yang tadinya menusuk tajam di pergelangan kakinya perlahan mulai mereda, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar dari pijatan tangan Gisella.
Ototnya yang semula tegang dan kaku seperti batu perlahan-lahan mulai rileks.
Valerie terdiam.
Protes yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja.
Dia menatap puncak kepala Gisella yang sedang fokus memijat kakinya dengan dahi sedikit berkerut.
Rambut cokelatnya yang diikat kuda bergoyang pelan tertiup angin pagi.
"Kenapa dia... bisa selembut ini?"
batin Valerie bingung.
Di dalam memorinya, Gisella adalah wanita egois yang hanya peduli pada kuku cantiknya dan tidak akan sudi mengotori tangannya untuk menyentuh kaki orang lain, apalagi kaki adik ipar yang selalu mencaci-makinya.
"Ini hanya kram otot ringan karena kau tidak melakukan pemanasan dengan benar sebelum berlari,"
ucap Gisella setelah beberapa menit, melepaskan pegangannya perlahan. Dia berdiri, menepuk-nepuk debu di lututnya, lalu menatap Valerie.
"Gerakkan pergelangan kakimu perlahan. Bagaimana rasanya?"
Valerie memutar pergelangan kakinya dengan ragu. Matanya membelalak.
"Eh? Sudah tidak terlalu sakit..."
"Bagus. Tapi jangan langsung dipakai berlari lagi hari ini. Jalan santai saja sampai rumah," saran Gisella.
Dia mengambil botol air mineral yang dia bawa dari saku jaketnya, lalu menyodorkannya pada Valerie.
"Minum ini. Hidrasi yang buruk juga bisa memicu kram otot."
Valerie menerima botol air itu dengan kaku. Kebencian dan prasangka yang dia bangun selama enam bulan terakhir seolah mendadak runtuh oleh kebaikan sederhana yang tak terbantahkan ini.
"Terima kasih..."
gumam Valerie sangat pelan, hampir tidak terdengar jika suasana taman tidak sepi.
Gisella tersenyum tipis.
"Sama-sama. Oh ya, pancake pisang tadi pagi... apakah rasanya benar-benar seburuk itu sampai kau harus memakannya dengan penuh emosi?"
tanya Gisella dengan nada menggoda.
Pipi Valerie mendadak merona merah karena malu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah danau, berpura-pura batuk.
"R-rasanya biasa saja! Sedikit terlalu sehat untuk seleraku!"
Gisella tertawa renyah, sebuah suara tawa yang entah mengapa terdengar sangat menyenangkan di telinga Valerie.
"Baiklah, aku akan melanjutkan jalan pagiku. Kau kembalilah ke rumah perlahan-lahan, Ayah dan Ibu mencemaskanmu,"
kata Gisella seraya berbalik untuk melanjutkan jalurnya.
Valerie menatap punggung Gisella yang perlahan menjauh menyusuri jalan setapak di bawah rindangnya pohon mapel.
Langkah kaki wanita itu tampak begitu ringan, anggun, dan penuh dengan aura percaya diri yang baru.
Valerie memegang botol air mineral di tangannya, lalu bergumam pada diri sendiri,
"Dia... benar-benar berubah. Apakah benturan di kepala kemarin benar-benar bisa mengubah jiwa seseorang?"
Kecurigaan Valerie tidak sepenuhnya hilang, namun kali ini, fokus kecurigaannya telah bergeser.
Dia tidak lagi mencurigai Gisella sebagai lintah darat yang jahat, melainkan mulai bertanya-tanya:
"Siapa sebenarnya wanita yang sekarang sedang mendiami tubuh kakak iparku ini?"
Langkah kaki di taman kota pagi itu telah menorehkan jejak baru dalam hubungan mereka, meretakkan dinding permusuhan yang selama ini dianggap mustahil untuk ditembus.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...