NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Luka di Balik Tahhta

Aurora tidak bisa melupakan pemandangan semalam.

Di balik sosok Raven Alvaro yang terkenal kejam, ia melihat seorang pria berdiri sendirian di depan sebuah makam dengan tatapan kosong. Kesedihan yang terpancar dari matanya terasa begitu nyata hingga membuat Aurora bertanya-tanya.

Siapa yang dimakamkan di sana?

Dan mengapa seorang Don mafia yang ditakuti semua orang tampak begitu rapuh di depan nisan itu?

Pagi harinya, Aurora kembali membantu merawat para korban yang terluka akibat penyerangan semalam.

Mansion masih dipenuhi aroma obat dan suara langkah kaki para penjaga yang berjaga lebih ketat dari biasanya.

Saat sedang mengganti perban salah satu anak buah Raven, seorang pelayan datang menghampirinya.

"Nona Aurora."

"Ada apa?"

"Tuan Raven meminta Anda ke ruang makan."

Aurora mengernyit.

"Untuk apa?"

"Saya tidak tahu."

Beberapa menit kemudian, Aurora memasuki ruang makan yang sangat luas. Meja panjang itu hanya ditempati oleh satu orang.

Raven.

Pria itu sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca laporan.

Tanpa mengangkat kepala, ia berkata, "Duduk."

"Aku lebih suka berdiri."

"Itu pilihanmu."

Aurora tetap berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Apa maumu?"

Raven akhirnya menatapnya.

"Kau belum sarapan."

"Aku tidak lapar."

"Kau berbohong."

Aurora mendecak pelan.

"Kenapa kau peduli?"

"Aku tidak peduli."

"Lalu?"

"Kau berguna."

Jawaban itu membuat Aurora memutar bola mata.

"Jadi aku hanya alat bagimu?"

"Untuk saat ini."

Aurora menarik kursi lalu duduk dengan kesal.

"Aku mulai membencimu."

Raven hanya menyunggingkan senyum tipis.

Pelayan segera menghidangkan berbagai makanan hangat.

Aurora yang memang belum makan sejak malam akhirnya mulai menyantap sarapannya.

Sesekali ia melirik Raven yang kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Suasana hening cukup lama hingga Aurora memberanikan diri bertanya.

"Semalam..."

Raven tidak menjawab.

"Makam itu milik siapa?"

Tangan Raven berhenti bergerak.

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

"Itu bukan urusanmu."

Aurora menyesal telah bertanya.

Namun sebelum ia mengalihkan pembicaraan, Raven justru berdiri.

"Ikut denganku."

Mereka berjalan menuju taman belakang.

Di sana terdapat sebuah makam sederhana yang dipenuhi bunga putih.

Raven berdiri beberapa langkah di depannya.

"Ini makam ayah angkatku."

Aurora terdiam.

"Beliau menemukan aku saat masih kecil."

Tatapan Raven kosong.

"Aku bahkan tidak ingat wajah orang tua kandungku."

Aurora tidak menyela.

"Semua yang kumiliki berasal darinya."

"Tapi..."

"Dia dibunuh."

Suara Raven terdengar datar, tetapi Aurora dapat merasakan amarah yang dipendam begitu lama.

"Di depan mataku."

Aurora perlahan menatap Raven.

Untuk pertama kalinya, ia memahami mengapa pria itu berubah menjadi sosok yang begitu dingin.

"Sejak hari itu aku bersumpah."

Raven mengepalkan tangan.

"Aku akan membunuh siapa pun yang terlibat."

Aurora menghela napas pelan.

"Dendam tidak akan mengembalikan orang yang kau cintai."

Raven tersenyum hambar.

"Benar."

"Kalau begitu kenapa masih mempertahankannya?"

"Karena hanya dendam yang membuatku tetap hidup."

Aurora tidak mampu menjawab.

Ucapan itu terdengar menyedihkan sekaligus menakutkan.

Belum sempat percakapan berlanjut, Leo datang tergesa-gesa.

"Tuan."

"Ada apa?"

"Kami berhasil menangkap salah satu penyerang semalam."

"Di mana dia?"

"Ruang interogasi."

Raven langsung berjalan menuju ruang bawah tanah.

Aurora sempat ragu.

Namun rasa penasarannya membuat ia mengikuti dari belakang.

Pria yang ditangkap itu tampak babak belur.

Tangannya dirantai pada kursi besi.

Begitu melihat Raven, tubuhnya langsung gemetar.

"Aku akan bicara! Jangan bunuh aku!"

Raven duduk di depan pria itu.

"Siapa yang memerintahkanmu?"

"Vittorio De Luca."

"Apa tujuannya?"

Pria itu menggeleng.

"Aku hanya disuruh menyerang mansion."

Raven mengambil pistol dari meja.

Pria itu langsung menangis.

"Aku berkata jujur!"

Raven menatapnya beberapa detik.

"Lepaskan dia."

Semua orang terkejut.

"Tuan?"

"Aku bilang lepaskan."

Leo membuka rantai itu.

Pria tersebut langsung berlutut.

"Terima kasih... terima kasih..."

Raven menunjuk pintu.

"Pergilah."

Tanpa berpikir panjang pria itu berlari keluar ruangan.

Aurora memandang Raven dengan heran.

"Ternyata kau masih punya belas kasihan."

Raven tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian...

Dor!

Suara tembakan terdengar dari luar.

Aurora tersentak.

Ia berlari ke lorong.

Pria yang baru saja dilepaskan tergeletak di lantai dengan peluru menembus kepalanya.

Aurora memandang Raven dengan mata membelalak.

"Kau... kau sengaja?"

Raven memasukkan pistolnya ke balik jas.

"Pengkhianat tetap pengkhianat."

"Tapi kau baru saja membebaskannya!"

"Aku hanya ingin melihat apakah dia akan langsung berlari kepada tuannya."

Aurora menggigit bibir menahan marah.

"Caramu benar-benar kejam."

Raven melangkah mendekatinya.

"Selamat datang di duniaku, Dokter."

Aurora menatap pria itu dengan campuran marah dan bingung.

Semakin lama ia mengenal Raven Alvaro, semakin sulit baginya menentukan apakah pria itu benar-benar monster... atau hanya seseorang yang kehilangan kemanusiaannya karena terlalu lama hidup di dalam kegelapan.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!