Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Ibu Tiri Lo Jatuh Cinta Sama Lo!
Suasana kantin sekolah yang biasanya bising dengan denting sendok dan gelak tawa siswa seolah meredup di sudut meja tempat Lucian duduk. Remaja itu memaku pandangannya pada sebuah objek yang kontras dengan seragam sekolahnya yang gelap, sebuah kotak makan siang berwarna pink cerah.
Jari-jarinya mengetuk meja dengan irama lambat. Kotak itu masih utuh, tersegel rapat, seolah ada rahasia besar di dalamnya yang membuat Lucian enggan atau mungkin takut untuk membukanya.
“Kalau kamu nggak mau makan di rumah, setidaknya makanlah di sekolah. Aku yang masak sendiri, lho!”
Suara melengking Jeje pagi tadi masih terngiang jelas di telinganya. Lucian menghela napas, napas yang terasa berat. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang salah, tapi ia tidak bisa menunjuk bagian mana yang aneh.
"Woi, bengong aja lo! Kesambet penghuni gudang sekolah, hah?"
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Lucian. Lucian mendongak, mendapati Daniel teman akrabnya yang selalu tampak ceroboh namun punya perhatian berlebih sedang berdiri di sampingnya dengan cengiran khas.
Daniel menyipitkan mata, tatapannya langsung terkunci pada benda berwarna pink mencolok di depan Lucian.
"Gila, mata gue nggak salah lihat, kan? Itu kotak makan pink? Punya lo?"
Tanpa aba-aba, Daniel menjulurkan tangan, ingin merebut kotak itu. "Boleh lah, bagi dikit! Gue penasaran, bekal siapa yang warnanya lebih norak daripada baju badut?"
Sret!
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Lucian menahan tangan Daniel. Cengkeramannya kuat dan matanya menatap tajam, membuat Daniel langsung menarik tangannya dengan ngeri.
"Jangan sentuh," suara Lucian dingin, seolah es yang baru saja membeku.
Daniel mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Oke, oke! Galak banget, sih. Sensitif amat lo sama barang itu. Bekal dari siapa sih sampai dijagain kayak harta karun?"
Lucian terdiam. Ia membuang muka, menatap ke arah lapangan basket yang ramai. "Dan... menurut lo, apa alasan seseorang bisa berubah secara drastis?"
Daniel mengerjapkan mata, bingung. "Maksud lo? Berubah? Kayak orang diet yang tadinya gendut terus jadi kurus?"
"Bukan. Sifat. Sikap," potong Lucian.
"Oh..." Daniel menarik kursi dan duduk di depan Lucian, wajahnya berubah serius.
"Ya, orang berubah itu biasanya karena beberapa hal, Lucian. Bisa jadi karena mereka ngerasa menyesal sama kesalahan masa lalunya, mungkin pengen tebus dosa, atau bisa juga karena ada sesuatu yang mereka incar."
Lucian tertegun. Menyesal? Incar sesuatu?
"Memangnya siapa yang berubah? Ada orang yang bikin lo pusing sampai segitunya?" tanya Daniel antusias, matanya berbinar ingin tahu.
Lucian menarik napas dalam-dalam. "Ibu tiri gue."
Daniel hampir tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Si wanita ular itu? Si pelakor yang hobinya menghabiskan uang bokap lo?"
"Dia... dia beda," gumam Lucian, hampir tidak terdengar.
"Sejak kemarin, dia perhatian, dia masak, dia bicara lembut. Seolah orang yang biasanya cuma peduli sama dirinya sendiri itu hilang ditelan bumi."
Daniel terdiam sejenak. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, otaknya yang terkadang ceroboh mulai bekerja keras. Ia menatap Lucian dari atas ke bawah, lalu menatap kotak bekal pink itu lagi.
"Gini, Lucian," Daniel memulai dengan nada sok bijak.
"Kalau dia tiba-tiba perhatian, lembut, dan masak buat lo, ada dua kemungkinan besar. Satu, dia punya rencana busuk buat manfaatin lo demi mendekati bokap lo lagi. Atau dua..."
"Atau apa?"
Daniel mendekatkan wajahnya, suaranya mengecil. "Mungkin... dia jatuh cinta sama lo."
Lucian membeku. Detik berikutnya, ia merasakan sensasi aneh yang menjalar dari tengkuknya ke seluruh tubuh. Ia bergidik ngeri.
"Jangan bodoh, Daniel. Dia itu istri kedua Daddy gue!"
"Ya gue tahu!" sahut Daniel defensif.
"Tapi lo lihat dong, lo ganteng, tinggi, badan lo atletis. Siapa sih yang nggak melirik? Mungkin dia bosan sama bokap lo yang kaku, terus dia mulai lihat potensi di diri lo. Lo kan tahu sendiri, di film-film drama banyak banget yang kayak gitu!"
"Tutup mulut lo!" desis Lucian, wajahnya kini terlihat sangat tidak nyaman.
"Gue cuma analisa, Lucian! Coba pikir, kenapa dia harus masak? Kenapa harus pakai kotak pink? Kenapa harus pakai stiker norak itu? Itu jelas-jelas usaha dia buat narik perhatian lo!" Daniel terus melantur, tidak sadar kalau temannya itu sedang menahan amarah.
Lucian bangkit dari duduknya dengan kasar, tangannya mencengkeram kotak makan itu sampai buku jarinya memutih.
"Itu menjijikkan!"
"Ya emang menjijikkan kalau itu beneran terjadi!" Daniel berdiri, masih mencoba menjelaskan.
"Tapi ya, kalau dipikir-pikir, emang ada ya orang yang berubah 180 derajat tanpa motif tertentu? Kalau bukan nyesel, ya pasti ada sesuatu yang dia mau dari lo."
Lucian mendengus, dadanya naik turun. Membayangkan Jeslyn wanita yang pagi tadi berteriak "Anak Mami" dengan wajah ceria jatuh cinta padanya? membuat perutnya mual. Bukan mual karena masakan, tapi mual karena skenario aneh yang Daniel sebutkan.
"Kalau dia sampai berani melakukan itu," suara Lucian merendah, sarat dengan ancaman.
"Gue bakal pastiin dia menyesal pernah menginjakkan kaki di rumah itu."
"Oke, oke, tenang!" Daniel mengangkat tangan.
"Tapi ya, kalau gue jadi lo, gue bakal waspada. Jangan dimakan dulu tuh bekal. Siapa tahu dia naruh ramuan pelet di dalamnya, kan?"
Lucian menatap kotak pink itu dengan pandangan yang kini penuh curiga, bukan lagi kebingungan. Skenario Daniel mungkin terdengar konyol dan menjijikkan, tapi di mansion yang sunyi dan penuh rahasia itu, segala kemungkinan memang bisa terjadi.
"Lupain soal ini," ujar Lucian datar. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin.
"Woi! Mau ke mana? Belum masuk kelas!" teriak Daniel.
Lucian tidak menjawab. Ia terus melangkah, matanya yang biru tajam menatap kotak bekal di tangannya. Jatuh cinta? pikirnya sinis. Kalau benar itu motifnya, Lucian akan buat dia sadar kalau dia salah besar memilih target.
Lucian tahu, permainan baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan wanita gila bernama Jeslyn itu mengacaukan dunianya lebih jauh lagi.
Bersambung...
Serem juga ya pikiran Daniel😁 Tapi tidak salah juga sih. Wkwkwkwk
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.