Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Bab 13
Kamar kost nomor 17, Prawirotaman. Pukul 17.00.
Perjalanan Tawangmangu-Surabaya memakan waktu hampir delapan jam. Begitu tiba di kost, Lusi langsung merebahkan diri di kasur. Tubuhnya lelah. Tapi pikirannya tidak bisa berhenti.
Malam ini, ia harus memulai fase berikutnya: ritual di kamar kost.
Kitab Semar Mesem sudah terbuka di atas meja. Ia sudah membaca bagian "Mantra Pembuka" puluhan kali. Ia sudah hafal di luar kepala. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah keberanian.
Tok tok tok.
"Lus? Lo udah balik?"
Suara Dita, teman sekostnya yang kamarnya ada di sebelah. Lusi bangkit, membuka pintu.
Dita berdiri di depan pintu dengan piyama motif strawberry. Rambutnya yang pendek acak-acakan, matanya masih setengah terpejam jelas baru bangun tidur siang. "Gue kira lo jadi pulkam selamanya. Eh, udah balik aja."
"Cuma tiga hari, Dit."
"Tiga hari itu lama tau." Dita menguap lebar. "Eh, ngomong-ngomong... ada yang nyariin lo."
Jantung Lusi berdetak lebih cepat. "Siapa?"
"Nggak kenal. Cowok. Pake jaket jeans. Rambutnya gondrong. Ganteng sih. Dia ngetuk-ngetuk pintu lo malem-malem. Pas gue samperin, dia malah pergi."
Irawan.
Pasti Irawan.
"Dia bilang apa, Dit?"
"Nggak. Cuma diem aja. Mukanya pucet banget. Kayak orang kurang tidur." Dita memiringkan kepalanya. "Emang siapa? Mantan?"
Lusi terdiam sejenak. "Iya. Mantan."
"Oh, pantes. Mantan emang biasanya gitu. Begitu lo pergi, dia nyariin. Begitu lo balik, dia ilang lagi. Drama queen semua."
Lusi tersenyum tipis. Kalau Dita tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia mungkin tidak akan bisa setenang itu.
"Eh, Lus. Lo kenapa kurus banget sih? Muka lo juga pucet. Lo sakit?"
"Aku cuma lagi puasa, Dit."
"Puasa? Puasa apa?"
Lusi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi senyum yang membuat Dita sedikit merinding tanpa tahu kenapa.
"Ya udah deh. Lo aneh akhir-akhir ini. Tapi gue laper dulu ya. Mau beli nasi goreng. Lo mau?"
"Nggak usah, Dit. Makasih."
Dita mengangkat bahu, lalu berjalan pergi sambil menguap lagi.
Lusi menutup pintu. Ia menyenderkan punggungnya ke pintu, menghela napas panjang.
Irawan datang. Dia nyariin aku.
Ritualnya bekerja.
Bahkan sebelum Pati Geni dimulai.
Ia berjalan ke meja, membuka kitab, dan mulai menyiapkan semua yang ia butuhkan untuk malam ini.
Tujuh lilin merah.
Bokor tembaga berisi air.
Kembang tujuh rupa.
Dupa cendana.
Dan foto Irawan.
Malam harinya. Pukul 23.00. Awal ritual.
Lusi sudah duduk bersila di tengah kamar. Lilin-lilin sudah dinyalakan, membentuk setengah lingkaran di depannya. Asap dupa mulai memenuhi ruangan, menciptakan aroma manis yang menusuk hidung. Di tangannya, segenggam bunga kuburan yang ia bawa dari makam leluhur di desanya Nyai Ratminah masih basah oleh embun.
Ia menatap foto Irawan yang tergeletak di tengah lingkaran lilin.
"Sun amatek adjiku semar mesem..."
Suaranya bergetar saat membaca mantra pertama. Lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya kering. Tapi ia memaksakan diri. Ia harus kuat. Ia harus bisa.
“... Inten cahyane manjing pilinganku kiwo lan tengenku…”
Dan di luar, di kegelapan malam, angin berembus lebih kencang. Jendela kamar yang tertutup rapat bergetar pelan. Dari kejauhan, lolongan anjing terdengar panjang, melengking, seperti peringatan.
Ritual dimulai.
Tengah malam. Puncak ritual.
"....tumancep kumanthil ono ing sanubariku yoiku si jabang bayine Irawan."
“...SING SIRA ASIH, SIRA KADADEAN WONG ASIH…”
“...SING SIRA TRESNA, SIRA KADADEAN WONG TRESNA…”
Lilin-lilin berkedip serempak. Api mereka berubah warna dari merah menjadi biru. Suhu di dalam kamar mendadak turun drastis, membuat napas Lusi berubah jadi kabut putih.
Ia melanjutkan mantranya. Suaranya semakin mantap. Semakin dalam. Semakin berat. Seperti ada suara lain yang ikut berbicara melalui dirinya.
"Niat ingsun poso mutih, nyepi ing papan sepi, ngempet hawa napsu ingsun..."
Dan di suatu tempat di sudut kota yang sama, Irawan yang sedang duduk di kursi kamarnya sambil menatap layar ponsel kosong tiba-tiba memegangi dadanya.
"Anjir... gue kenapa..."
Wajah Lusi muncul di kepalanya. Begitu jelas. Begitu nyata. Seperti Lusi sedang berdiri di depannya, menatapnya dengan mata yang bukan miliknya.
"Lusi..." bisiknya tanpa sadar. "Lusi... Lusi..."
Ia bangkit dari kursi. Meraih kunci motor. Memakai jaket. Dan sebelum ia sadar, ia sudah di jalan, melaju ke arah Prawirotaman.
Ke arah kost Lusi.
Kost Lusi. Pukul 23.47.
Tok... tok... tok...
"Lus? Kamu di dalam? Ini aku... Irawan."
Ia menarik napas panjang. Udara di dalam kamar terasa berat, pekat oleh asap dupa dan energi yang tidak kasat mata. Tapi Lusi sudah terbiasa. Justru di dalam kepekatan ini, ia merasa tenang. Merasa kuat. Merasa...
Tok.
Suara itu.
Lusi menegang. Matanya langsung tertuju ke pintu.
Tok... tok... tok...
Ketukan. Pelan. Ragu-ragu. Tapi jelas. Jelas sekali di tengah keheningan malam.
"Lus?"
Suara itu.
Suara itu.
Jantung Lusi berhenti selama satu detik. Lalu berdetak kembali, dua kali lebih cepat. Darahnya berdesir. Bulu kuduknya berdiri. Tangannya yang tadinya tenang di atas lutut sekarang mengepal, kuku-kukunya menancap di telapak tangan.
Irawan.
Irawan di sini.
Di depan pintu kostku. Tengah malam. Setelah dua bulan menghilang.
"Lus? Kamu di dalam? Ini aku... Irawan."
Suaranya terdengar berbeda. Lebih pelan. Lebih... memohon? Tidak. Tidak mungkin. Irawan tidak pernah memohon. Irawan adalah laki-laki yang selalu tertawa, selalu percaya diri, selalu memegang kendali. Laki-laki yang duduk di kursi hotel sambil tersenyum, merekam tubuhnya tanpa izin, dan berkata, "Tenang, Lus... cuma sekali doang. Temen-temenku udah bayar mahal, lho..."
Laki-laki itu tidak mungkin memohon.
Tapi suara di balik pintu itu... suara itu bergetar. Suara itu penuh keraguan. Suara itu...
...ketakutan.
Lusi tidak bergerak. Tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu kamarnya yang terbuat dari kayu triplek tipis. Cuma tiga sentimeter. Begitu tipisnya, ia bisa mendengar napas Irawan di baliknya. Napas yang berat. Napas yang tidak teratur.
Kenapa dia di sini?
Kenapa sekarang?
Kenapa tepat di malam ketiga ritual?
Pukul 00.01. Malam.
Irawan sudah pergi.
Suara langkah kakinya menghilang ditelan suara jangkrik dan gemericik air selokan di depan kost. Tapi hawa yang ditinggalkannya masih terasa energi aneh yang menggantung di udara seperti kabut tipis. Energi ketakutan. Energi kebingungan. Energi seorang lelaki yang baru pertama kali dalam hidupnya merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Lusi masih duduk bersila di tengah kamar.
Lilin-lilin di depannya sudah padam, tapi asapnya masih mengepul tipis, meliuk-liuk seperti ular yang menari. Foto Irawan tergeletak di lantai, kini sudah kusut karena tadi diremas tanpa sadar. Di sekelilingnya, kelopak-kelopak bunga kuburan berserakan, berbau anyir bercampur wangi yang memabukkan.
Ia tidak bergerak selama lima menit penuh. Hanya duduk. Hanya bernapas. Hanya merasakan sisa-sisa energi yang baru saja ia panggil.
Ritualnya bekerja.
Irawan datang.
Ini nyata. Ini benar-benar nyata.
Lusi menatap tangannya sendiri. Jemarinya yang kurus, kuku-kukunya yang mulai panjang karena puasa, urat-urat biru yang terlihat samar di bawah kulitnya yang pucat. Tangan yang sama yang tadi menggenggam bunga kuburan. Tangan yang sama yang tadi memegang foto Irawan. Tangan yang sekarang bergetar bukan karena takut, tapi karena euforia.
"Aku bisa..." bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku beneran bisa..."
Ia bangkit perlahan. Kakinya kesemutan karena terlalu lama bersila. Ia berjalan ke meja, menuangkan air dari botol mineral ke gelas, lalu meneguknya pelan. Air itu terasa dingin mengalir di tenggorokannya yang kering.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Gerimis halus yang mengetuk-ngetuk atap seng dengan irama yang monoton.
Lusi duduk di tepi kasur, memeluk lututnya sendiri. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup gorden butut. Pikirannya melayang ke pertemuan tadi malam suara Irawan di balik pintu, getaran di suaranya, kata-katanya yang penuh kebingungan.
"Gue nggak bisa tidur. Tiga malem ini gue nggak bisa tidur."
"Setiap gue merem, gue ngeliat muka lo."
"Ada yang narik-narik gue ke sini."
Semar Mesem baru berjalan tiga hari, dan efeknya sudah sekuat ini.
Lusi tersenyum dalam gelap. Senyum yang dingin. Senyum yang penuh kemenangan.
"Tunggu aja, Wan. Ini baru permulaan. Nanti... nanti kamu bakal ngerasain puncaknya."
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥