NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUIL GERBANG LANGIT

Langit berubah semakin gelap meski waktu belum sepenuhnya malam.

Motor yang ditumpangi Atlas, Oliver, dan Raka melaju di jalan yang kini tidak lagi stabil. Asap tipis seperti kabut hitam mulai muncul di sisi-sisi jalan, seolah dunia sedang menutup dirinya sendiri dari sesuatu yang sedang mereka dekati.

Oliver memegang erat pinggang motor.

“Gue mulai nggak yakin ini masih jalan biasa…”

Raka yang berada di depan hanya menjawab singkat.

“Ini bukan jalan lagi.”

Atlas yang duduk di tengah langsung menoleh.

“Maksudmu?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia justru mempercepat laju motor.

Di depan mereka, udara mulai terlihat berbeda.

Seperti lapisan kaca yang retak halus.

“Karena kita sudah melewati batas dunia manusia.”

Retakan Besar di Langit

Tiba-tiba motor berhenti.

Oliver hampir terjatuh.

“Kenapa lagi?!”

Raka menunjuk ke depan.

“Lihat.”

Atlas dan Oliver menatap ke arah yang ditunjuk.

Dan untuk pertama kalinya, mereka melihatnya dengan jelas.

Sebuah retakan raksasa di langit.

Bukan awan.

Bukan badai.

Tapi seperti langit itu sendiri sedang “terbelah”.

Di balik retakan itu, terlihat sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia manusia:

pulau-pulau mengambang,

menara cahaya yang menjulang tanpa dasar,

dan jembatan-jembatan energi yang bergerak seperti makhluk hidup.

Oliver terdiam.

“Itu… Alam Dewa?”

Raka mengangguk pelan.

“Bagian luarnya.”

Atlas mengepalkan tangan.

“Jadi Kuil Gerbang Langit ada di sana?”

Raka menatapnya.

“Bukan di sana.”

“Di antara keduanya.”

Kuil yang Muncul dari Celah Dunia

Angin tiba-tiba berhenti.

Semua suara menghilang.

Bahkan napas mereka sendiri terasa terlalu keras.

Retakan di langit mulai melebar perlahan.

Dan dari dalamnya…

sesuatu turun.

Awalnya hanya siluet.

Lalu bentuknya semakin jelas.

Sebuah bangunan raksasa.

Kuil.

Namun bukan kuil biasa.

Strukturnya tidak menyentuh tanah. Ia melayang beberapa meter di atas permukaan bumi, seolah menolak gravitasi dunia manusia.

Pilar-pilar besar dari batu hitam dan emas berdiri tanpa dasar.

Simbol kuno mengitari seluruh bangunan, menyala perlahan seperti detak jantung.

Oliver menelan ludah.

“Itu… turun dari langit?”

Raka mengangguk.

“Setiap kali segel darah pewaris bangkit…”

“Kuil ini akan mencari mereka.”

Atlas menatap kuil itu dengan tajam.

“Apa maksudnya mencari?”

Raka menjawab pelan.

“Karena kalian adalah kuncinya.”

Gerbang Pertama

Mereka berjalan mendekat.

Tanah di sekitar kuil tidak lagi normal.

Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas permukaan yang hidup.

Di depan mereka, terdapat gerbang besar.

Tidak ada pintu kayu atau besi.

Hanya sebuah lingkaran energi gelap yang berputar pelan.

Di tengahnya, simbol yang sama dengan yang ada di surat ibu Atlas terlihat terukir jelas.

Oliver menunjuk.

“Itu simbol yang sama…”

Atlas mengangguk.

Raka berdiri di depan gerbang.

“Masuk ke dalam berarti kalian tidak bisa kembali seperti manusia biasa.”

Oliver langsung menatapnya.

“Maksudnya?”

Raka menoleh.

“Begitu kalian masuk, dunia akan mengenali kalian sepenuhnya sebagai Pewaris.”

“Dan semua yang tersembunyi akan mulai memburu kalian tanpa henti.”

Sunyi.

Atlas tidak ragu.

“Kalau kami tidak masuk?”

Raka tersenyum tipis.

“Mereka tetap akan memburu kalian.”

“Bedanya… kalian mati tanpa tahu kenapa.”

Pilihan Pertama

Oliver menarik napas panjang.

“Ini gila…”

Ia menatap Atlas.

“Mas, kita bisa kabur sekarang. Kita masih bisa…”

Atlas tidak langsung menjawab.

Ia menatap kuil itu lama.

Lalu mengingat wajah ibunya.

Surat itu.

Makhluk yang datang malam itu.

Dan dunia yang mulai retak.

Akhirnya ia berkata pelan.

“Tidak ada tempat untuk kabur.”

Oliver terdiam.

Atlas melangkah maju.

“Aku mau tahu kebenaran.”

Ia menoleh ke Oliver.

“Kamu ikut atau tidak, itu keputusanmu.”

Oliver menggigit bibir.

Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang.

“Kalau gue tinggal, lo bakal mati sendirian.”

Ia berdiri di samping Atlas.

“Jadi ya… gue ikut.”

Raka mengangguk pelan.

“Keputusan yang buruk… tapi benar.”

Gerbang Terbuka

Raka melangkah ke lingkaran energi terlebih dahulu.

Begitu ia masuk…

energi di gerbang bergetar.

Simbol-simbol kuno menyala terang.

Atlas dan Oliver mengikuti.

Saat kaki Atlas menyentuh batas gerbang—

DUAARRR!!

Cahaya hitam dan emas meledak ke segala arah.

Dunia di sekitar mereka menghilang.

Suara menghilang.

Gravitasi menghilang.

Semua terasa seperti ditarik ke dalam ruang kosong.

Oliver berteriak.

“MAS!!”

Atlas mencoba meraih tangannya—

Namun keduanya terpisah dalam cahaya.

Dan kemudian…

gelap.

Kegelapan tidak terasa seperti tidak ada apa-apa.

Tapi seperti berada di dalam sesuatu yang hidup.

Atlas merasakan tubuhnya melayang tanpa arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Tidak ada suara, tidak ada angin. Hanya kesadaran yang menggantung di ruang kosong yang tak punya batas.

Lalu…

THUD!

Ia jatuh.

Bukan jatuh ke tanah, tapi seperti “diturunkan” ke permukaan yang tidak terlihat sebelumnya.

Atlas mengerang pelan sambil bangkit.

Di sekelilingnya… cahaya mulai muncul perlahan.

Oliver terdengar batuk di kejauhan.

“Mas… gue di mana ini?”

Atlas langsung menoleh.

“Oliver!”

Di kejauhan, sosok Oliver terlihat berdiri beberapa meter darinya. Raka juga ada di tempat berbeda, berdiri diam seperti sudah tahu ini akan terjadi.

Namun sekarang…

mereka tidak berada di tempat yang sama.

Ruang Ujian Kuil

Langit di atas mereka bukan lagi langit.

Melainkan kubah raksasa yang dipenuhi simbol kuno berputar perlahan seperti roda takdir.

Di bawah kaki mereka, lantai terbentuk dari batu hitam yang mengambang di atas kehampaan.

Setiap batu saling terpisah beberapa meter.

Raka berbicara dari kejauhan.

“Selamat datang di Ruang Ujian.”

Oliver langsung menoleh.

“Ujian? Ujian apa?!”

Raka menjawab datar.

“Ujian untuk menentukan apakah darah kalian benar-benar layak menjadi Pewaris.”

Atlas mengamati sekeliling.

Di kejauhan, ia melihat bayangan besar bergerak di antara platform-platform batu.

Sesuatu sedang mengawasi mereka.

“Kalau gagal?” tanya Atlas.

Raka tidak langsung menjawab.

Lalu akhirnya berkata pelan.

“Tidak ada yang pernah keluar sebagai manusia biasa setelah gagal.”

Oliver langsung menegang.

“Jadi ini hidup atau mati?”

Raka mengangguk.

“Sejak kalian masuk, itu sudah tidak berubah.”

Kemunculan Penjaga Kuil

Udara berubah.

Simbol di langit berhenti berputar.

Lalu…

suara berat terdengar dari segala arah.

“PEWARIS YANG TERPISAH…”

Suara itu tidak datang dari satu tempat.

Tapi dari seluruh kuil sekaligus.

Atlas langsung menggenggam pedangnya.

“Siapa itu?”

Oliver mundur sedikit.

“Gue nggak suka suara ini…”

Di tengah ruang kosong itu, cahaya mulai berkumpul.

Membentuk sosok raksasa.

Bukan manusia.

Bukan makhluk hidup biasa.

Ia seperti patung dewa yang hidup—tubuhnya terbentuk dari batu hitam, emas, dan cahaya yang mengalir seperti darah.

Matanya kosong, tapi terasa melihat segalanya.

Penjaga Kuil.

Ia mengangkat satu tangan.

Dan seluruh platform batu mulai bergerak.

“UJIAN PERTAMA: KESADARAN DARAH.”

Ujian Dimulai

Platform di bawah Oliver mulai runtuh perlahan.

“WOI?! MAS!! INI NGAPAIN?!” teriak Oliver panik.

Atlas mencoba bergerak ke arah adiknya.

Namun platformnya sendiri bergeser menjauh.

Raka berteriak.

“Kalian harus bertahan di platform masing-masing!”

“Jangan jatuh ke kehampaan!”

Oliver melihat ke bawah.

Di bawah platform… tidak ada apa-apa.

Hanya ruang hitam yang seperti bisa menelan apa pun.

“Gue nggak bisa loncat ke mana-mana!”

Tiba-tiba, bayangan muncul dari bawah platform Oliver.

Makhluk kecil, cepat, seperti serpihan kegelapan yang hidup.

Ia melompat ke arah Oliver.

Oliver langsung panik.

“ANJIR APA LAGI INI?!”

Kalung giok di lehernya menyala otomatis.

Waktu di sekitar bayangan itu melambat.

Oliver menghindar dengan tergesa-gesa.

“Mas! Gue diserang!”

Atlas menggertakkan gigi.

Namun ia juga tidak bebas.

Di platformnya sendiri, muncul bayangan serupa—lebih besar.

Dan kali ini…

bergerak ke arah jantungnya.

Kebangkitan Insting Darah

Atlas mengangkat pedangnya.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Pedangnya tidak langsung bereaksi seperti sebelumnya.

Seolah kuil ini menekan kekuatannya.

Bayangan itu menyerang.

Atlas menahan dengan pedang.

CLANG!

Benturan keras membuat lengannya bergetar.

“Berat…” gumamnya.

Suara Raka terdengar.

“Di dalam Kuil, kekuatan kalian tidak sepenuhnya bisa digunakan.”

“Yang diuji bukan kekuatan…”

“…tapi kendali darah.”

Atlas mengerutkan kening.

“Kendali darah?”

Bayangan itu menyerang lagi.

Lebih cepat.

Lebih liar.

Atlas terdesak.

Namun kemudian…

ia teringat sesuatu.

Suara yang pernah ia dengar saat pertama kali bangkit.

"Ikuti aliran darahmu."

Atlas menutup mata sesaat.

Mengabaikan serangan di depannya.

Dan saat ia membuka matanya kembali—

ia melihatnya.

Aliran energi.

Bukan hanya musuh.

Tapi juga dirinya sendiri.

Darahnya sendiri seperti sungai merah yang mengalir di tubuhnya.

Ia mengangkat pedang.

Bukan dengan tenaga.

Tapi dengan “aliran”.

Dan saat pedang itu jatuh—

CRASH!

Bayangan itu pecah.

Oliver dan Waktu yang Retak

Di platform lain, Oliver semakin kewalahan.

Bayangan yang menyerangnya semakin banyak.

“Gue nggak kuat ini!!”

Kalung gioknya menyala lebih terang.

Lingkaran biru muncul di bawah kakinya.

Waktu melambat lebih ekstrem.

Namun efeknya mulai menyakitkan.

“Argh… kepalaku…”

Raka berteriak dari kejauhan.

“Kalau kamu memaksa, tubuhmu akan runtuh!”

Oliver menggertakkan gigi.

“Tapi kalau gue berhenti, gue mati!”

Dalam kepanikan itu…

ia mulai melihat sesuatu.

Bukan hanya musuh.

Tapi jalur pergerakan mereka.

Seperti dunia berhenti menjadi acak.

Semua menjadi pola.

“Jadi ini… maksudnya kendali?”

Oliver mulai bergerak lebih stabil.

Tidak lagi panik.

Tapi mengikuti pola waktu.

Satu demi satu bayangan berhasil ia hindari.

Penjaga Kuil Bangkit

Penjaga Kuil di tengah ruang itu mulai bergerak lagi.

“Dua pewaris… mulai memahami.”

Suaranya menggema.

“Tapi ini baru permulaan.”

Tiba-tiba platform Atlas dan Oliver mulai bergerak mendekat.

Untuk pertama kalinya, mereka bisa saling melihat jelas.

Namun di antara mereka…

muncul satu retakan besar.

Dari dalam retakan itu, tangan hitam muncul.

Bukan bayangan biasa.

Tapi sesuatu yang jauh lebih tua.

Raka langsung menegang.

“Itu… tidak mungkin…”

Atlas menatap.

“Apa itu?!”

Raka menjawab pelan.

“Itu bukan bagian dari ujian.”

“ITU PENYUSUP.”

Tangan hitam itu merambat keluar dari retakan.

Dan dari dalam kehampaan…

sepasang mata terbuka.

Bukan mata manusia.

Bukan mata makhluk biasa.

Tapi sesuatu yang pernah disegel bahkan oleh Alam Dewa sendiri.

Penjaga Kuil mundur setengah langkah untuk pertama kalinya.

“Nama itu…”

“…seharusnya sudah tidak ada lagi.”

Atlas menggenggam pedangnya lebih erat.

Oliver berhenti bergerak.

Dan Raka berbisik pelan.

“Kita tidak sedang menjalani ujian lagi…”

“…kita baru saja mengganggu sesuatu yang seharusnya tidak pernah bangun.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!