Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Perihal Bulan Madu
"Aku baru tinggal di sini tiga bulan yang lalu," jawab Prabu jujur.
Entah kenapa jawaban Prabu barusan membuat hati Alea sedikit bernafas lega. Padahal ia merasa belum mencintai Prabu. Namun, sepertinya insting yang biasa dimiliki oleh setiap wanita di dunia ini yang sudah punya pasangan yakni rasa pencemburu sudah melekat pada hatinya sejak dinikahi oleh sang komandan batalyon tersebut.
Hati kecil Alea berharap bahwa mahligai yang akan mereka bangun bersama di masa depan jauh dan lepas dari bayang masa lalu keduanya.
"Apa kamu keberatan bila kita tinggal di sini selama aku bertugas di Yonif ini?"
"Aku sama sekali gak keberatan, Mas."
"Apa rumah dinas ini kurang bagus untukmu?"
"Tidak. Semua sudah oke, malah ini terlalu berlebih untuk jabatan Mas saat ini. Apa tidak masalah?"
"Hal itu tak perlu kamu risaukan. Yang terpenting kamu nyaman di sini dan betah,"
"Apa aku boleh ikut menata rumah ini dengan hal-hal yang ku sukai?" pinta Alea tersirat meminta izin pada sang suami.
"Tentu saja boleh. Ini rumahmu juga. Kamu punya hak yang sama sepertiku di sini," jawab Prabu.
"Makasih Mas,"
"Hem,"
Malam ini keduanya kembali tidur di satu ranjang yang sama. Masih ada kecanggungan antara mereka berdua walau tak sebanyak di malam pengantin kemarin.
Tipe pakaian tidur keduanya pun tak berubah, tetap model yang sama hanya warna yang berbeda. Pukul dua belas malam keduanya dalam kondisi berbaring telentang di atas ranjang, namun belum memejamkan mata. Seakan rasa kantuk belum menghampiri keduanya di malam kedua.
"Besok jam enam pagi aku harus pergi ke Senayan. Ada tugas menjaga kondisi di sana karena ada demo besar,"
"Biasanya itu tugas polisi kayak papaku dulu. Kenapa tentara juga ikut bertugas saat demo?" ungkap Alea yang terlihat khawatir untuk pertama kalinya pada pria bergelar suaminya itu.
Jujur, Prabu mendengar untaian kalimat yang keluar dari bibir Alea untuknya, ia merasa tersanjung sekaligus terharu. Berbeda dengan pernikahan bersama Kinan yang lalu. Mantan istrinya itu langsung marah-marah jika Prabu mendapat tugas berat atau harus dinas luar kota dalam tempo yang cukup lama.
"Kita saling bantu. Kalau ngandelin personil polisi saja pasti kurang. Begitu pun sebaliknya saat nanti kami-TNI membutuhkan bantuan dari kawan kepolisian, ya mereka ikut membantu," jelas Prabu. "Kamu tak perlu khawatir berlebihan. Doakan saja aku berangkat dan pulang dengan selamat dalam kondisi yang sama," imbuhnya.
"Aamiin yaa rabbal alamiin..." sahut Alea dengan cepat mengaminkan doa terbaik untuk keselamatan sang suami yang besok hendak bertugas cukup berat dan resiko tinggi.
Sebagai istri tentara, Alea sudah paham atas pakem-pakemnya. Namun, ia tetaplah seorang wanita pada umumnya yang sudah menikah. Ia ingin sang suami pulang dalam kondisi sehat dan utuh seperti sedia kala tanpa kurang suatu apapun.
Lagi-lagi sebelum tidur, Prabu meminta maaf pada Alea perihal kebutuhan ragawi di atas ranjang yang belum ditunaikan hingga detik ini. Alea pun tak mempermasalahkan hal itu.
Sejujurnya, Alea pun menyimpan kegundahan hatinya karena dirinya sebenarnya juga belum siap. Hanya saja bibir Alea tak mampu berkata jujur saat ini. Ada sesuatu yang mencegahnya untuk berbicara lebih jauh dan dalam dengan Prabu.
"Maaf kalau nanti sebulan ke depan jadwalku cukup sibuk. Kita belum bisa bulan madu ke tempat yang bagus tapi agak jauh dari Jakarta,"
"Memangnya Mas Prabu mau ngajak aku bulan madu ke mana?"
"Ke Bali atau Lombok. Bukankah di sana biasanya destinasi yang cocok buat pasangan yang baru menikah dan memutuskan bulan madu,"
"Apa dulu Mas Prabu dan Mbak Kinan bulan madu ke sana?"
"Iya," jawab Prabu.
Faktanya, Kinan ingin berbulan madu di Eropa. Namun kala itu Prabu tak mendapat izin dari pihak atasan untuk bepergian ke luar negeri.
Bahkan dengan arogan, Kinan menggunakan kuasanya sebagai pewaris tunggal keluarga Salim untuk menekan atasan Prabu secara diam-diam. Hal ini akhirnya diketahui oleh Prabu dan membuat pria itu pun marah besar pada Kinan.
Akhirnya Prabu memutuskan untuk menghabiskan bulan madu di Bali dan Lombok. Kinan menuruti kemauan Prabu tersebut, namun dengan satu syarat.
Setelah acara bulan madu mereka selesai, Kinan bebas berlibur ke Eropa dengan teman-temannya selama tiga minggu. Prabu yang tak ingin menambah pertengkaran dalam rumah tangga mereka yang masih baru kala itu, akhirnya mengiyakan permintaan Kinan tersebut.
☘️☘️
Hening tercipta beberapa saat antar sepasang pengantin baru tersebut di atas ranjang.
Alea sedang berusaha mengolah kata dengan baik agar Prabu tak tersinggung. Sebenarnya Alea tak ingin pergi bulan madu ke tempat yang sama seperti Kinan. Ia ingin menciptakan momen bersama suaminya itu di tempat yang baru dan berbeda.
Prabu sendiri tipikal pria yang kurang romantis dan dikenal dingin alias datar. Sejak dahulu dirinya sibuk belajar dan hidup di lingkungan militer ketat didikan dari sang ayah sehingga pergaulannya pada wanita cukup minim ilmu.
Prabu menikah dengan Kinan karena mereka dahulu sekolah di SMA yang sama di Jakarta. Keduanya pacaran cukup lama yakni sejak duduk di bangku putih abu-abu. Sebelum akhirnya Prabu masuk Akademi Militer (Akmil) di Magelang dan Kinan melanjutkan studi di UGM-Jogja.
Hubungan keduanya pasang-surut namun tetap berakhir di jenjang pernikahan. Akan tetapi, garis takdir tidak ada yang tau. Pernikahan mereka harus kandas pada sidang perceraian.
"Kalau Mas Prabu masih sibuk, kita tak perlu jauh-jauh bulan madu ke Bali atau Lombok. Kita kan bisa bulan madu dekat Jakarta sini saja," tawar Alea yang akhirnya memberanikan diri mengutarakan pendapatnya.
"Boleh, ide yang bagus. Apa kamu punya usul tempatnya di mana?"
"Aku kurang tau, Mas. Aku ngikut mau Mas Prabu saja tempatnya di mana,"
"Kalau ke Pulau Seribu, apa kamu pernah ke sana?" tanya Prabu memberi ide.
"Belum, Mas. Kedengarannya bagus namanya," jawab Alea.
"Aku pernah ke sana sama ayah dan bunda," ungkap Prabu.
"Boleh, Mas. Nanti saat jadwal Mas Prabu udah senggang, kita bisa ke sana." Alea terdengar begitu antusias perihal usulan dari sang suami.
"Hem,"
Sedangkan di sebuah apartemen mewah di Singapura, Kinan baru saja pulang dari kantor.
Bo_kongnya mendarat di atas sofa empuknya, lalu jari-jemarinya didera penasaran untuk membuka sebuah grup WA yang cukup ramai di mana banyak pesan belum sempat dibacanya seharian ini.
Kedua matanya melebar seketika kala membaca obrolan kedua sahabatnya di grup tersebut tentang kabar mantan suaminya-Prabu.
Bersambung...
🍁🍁🍁