"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Air Mata Terakhir
"Keluar kamu dari sini, Kirana! Keluar! Kamu tidak diundang di rumah ini!" teriak Sarah histeris.
"Benar. Lagipula udaranya mendadak terasa bau busuk, aku juga tidak berniat berlama-lama di ruangan penuh pengkhianat ini."
Dengan elegan, Kirana membuka ritsleting tasnya. Ia mengeluarkan sebuah buku nikah berwarna cokelat gelap, lalu melemparnya ke atas meja akad.
"Tapi sebelum aku kembali ke kamarku, aku hanya ingin memastikan semua mata yang ada di sini tahu fakta ini. Bahwa laki-laki pengecut yang hampir melangsungkan pernikahan ini, secara hukum dan agama masih sah menjadi milikku."
Tak ada satu pun yang berani protes. Ardy menatap buku nikah yang tergeletak di meja dengan napas memburu. Lalu, mendongak menatap Kirana sekilas. Tatapan istrinya itu terasa sangat asing. Wanita penurut yang dulu selalu bisa ia injak-injak, kini telah mati.
"Ah, permisi ya. Aku mau kembali ke kamarku di atas. Rasanya seluruh badanku pegal-pegal sekali setelah koma berhari-hari," pamit Kirana dengan sangat tenang dan santai. Ia melangkah menuju tangga, lalu berhenti sejenak dan menoleh tanpa melihat ke arah Ardy.
"Oh ya, Mas Ardy. Tolong suruh tamu-tamunya pulang, ya? Aku butuh ketenangan untuk istirahat. Suara tangisan selingkuhanmu itu juga berisik sekali."
Setelah menjatuhkan bom terakhirnya, Kirana melangkah menaiki tangga dengan kepala tegak, meninggalkan Ardy, Siska, dan seluruh keluarga itu dalam pusaran rasa malu luar biasa.
"Wanita kurang ajar!" geram Sarah.
*
*
Pintu kamar berderit pelan lalu tertutup rapat.
Kirana segera memutar kunci, lalu menyandarkan punggung bergetarnya di balik pintu. Napasnya memburu cepat. Untuk pertama kalinya sejak kembali menginjakkan kaki di rumah ini, topeng ketenangan yang ia kenakan dengan susah payah di lantai bawah tadi, perlahan retak.
Tiba-tiba pintu digedor keras dari luar.
"Buka pintunya, Kirana! Berani-beraninya kamu mempermalukan keluargaku di bawah! Buka!" teriak Sarah.
Kirana menelan ludah sembari menahan sesak di dadanya.
"Jangan ganggu aku, Ma! Atau Mama mau aku panggilkan polisi karena mencoba mendobrak pintu kamar istri sah di rumah suaminya sendiri?" sahut Kirana.
"Dasar perempuan tidak tahu diuntung! Kamu pikir Ardy mau menerimamu lagi?! Jangan mimpi!" maki Sarah. Sedetik kemudian, langkah kaki wanita paruh baya itu terdengar menjauh.
Kini, hanya keheningan yang tersisa di dalam ruangan. Dadanya sesak. Sangat sesak hingga rasanya ia lupa cara menarik oksigen.
Pandangannya menyapu setiap sudut kamar. Lemari putih besar di sudut, foto pernikahan yang masih terpajang angkuh di atas meja rias dan ranjang yang dulu begitu sering ia rapikan seorang diri.
Semuanya masih sama. Tak ada yang berubah. Namun bagi Kirana, kamar itu bukan lagi tempat beristirahat layaknya sepasang suami istri.
Melainkan penjara.
"Di sini aku selalu menangis hampir setiap malam dan disini juga kamu selalu tidur memunggungiku, Mas. Bahkan beralasan lembur dan memilih tidur di kamar tamu."
Ingatan saat Kirana membukakan pintu untuk Ardy di tengah malam kembali berkelebat di benaknya.
"Mas, kamu baru pulang? Mau aku buatkan teh hangat?"
"Tidak usah. Aku capek. Jangan ganggu aku," jawab Ardy dingin kala itu, melewati Kirana begitu saja dengan aroma parfum perempuan lain yang menyengat kuat dari pakaian kerjanya.
Kirana memejamkan mata rapat-rapat.
"Tarik napas, Rana... hembuskan," gumamnya berulang kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Semakin ia berusaha, semakin kuat kenangan-kenangan itu menghantamnya. Tubuhnya perlahan melorot hingga akhirnya ia terduduk di lantai yang dingin.
"Maafkan Mama, Sayang...." isak Kirana.
Air mata yang selama berhari-hari ia tahan, air mata yang ia simpan rapat-rapat selama terbaring koma, akhirnya mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Ia menekuk lututnya dan memeluknya erat-erat.
"Mama gagal melindungi kamu," rintihnya perih.
Sesaat kemudian, kepalanya kembali berdenyut hebat. Sakit luar biasa menghampiri. Jauh lebih sakit daripada efek benturan kecelakaan beberapa hari lalu.
"Akh!" Kirana memegang pelipisnya kuat-kuat lalu meremas rambutnya sendiri.
Potongan-potongan ingatan cacian perlahan menyeruak tanpa ampun, berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Kamu itu mandul, Kirana! Sudah tiga tahun menikah, perutmu masih saja kosong! Mau sampai kapan keluarga kami menanggung malu?!" bentakan Sarah terngiang tajam di telinganya.
Lalu disusul suara Siska yang merendahkannya di dapur.
"Kamu pikir mas Ardy sungguh-sungguh mencintaimu, Mbak? Sadar diri! Dia itu terpaksa menikahimu karena kakekmu yang memintanya! Di mata mas Ardy, kamu cuma beban!"
"Astaga! Istri macam apa kamu?! Lantainya masih kotor! Pel saja lagi sampai bersih! Jangan bertingkah seperti nyonya rumah di sini!"
Ingatan demi ingatan itu datang tanpa jeda.
"Aaaahhh! Cukup!"
Kirana menjerit histeris sambil memegangi kepalanya. Semua rasa sakit yang sengaja ia kubur dalam-dalam kembali menguar ke permukaan. Bukan hanya luka fisik akibat tabrakan itu. Tetapi luka batin yang jauh lebih dalam, luka yang tak terlihat, ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Perlahan, tangannya yang gemetar turun, menyentuh perutnya yang datar. Ia mengusapnya dengan sangat lembut.
"Kalau saja Mama tidak bodoh mengejar cinta laki-laki itu dan memaksakan diri malam itu, mungkin kamu masih ada di sini."
Dadanya terasa diremas hancur. Ia tak mampu menghitung sudah berapa lama dirinya menangis meraung di lantai kamar itu. Wajah bayi yang bahkan belum sempat ia lihat, belum sempat ia sentuh apalagi ia peluk, namun sudah direnggut darinya, terus membayanginya.
"Mama gagal. Mama benar-benar ibu yang gagal," rutuknya.
Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih dan menancap di telapak tangannya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana sangat membenci dirinya sendiri. Kirana yang terlalu lemah. Terlalu penurut. Terlalu naif dan takut kehilangan seorang laki-laki yang bahkan tak pernah menganggap keberadaannya berharga.
Andaikan waktu bisa diputar kembali, ia ingin merengkuh tubuh Kirana yang dulu. Menamparnya agar sadar, lalu berbisik tegas padanya,
"Berhentilah mengejar orang yang bahkan tidak pernah menoleh sedikit pun kepadamu, Rana. Kamu pantas dicintai! Kamu pantas dihargai! Dan anakmu dia pantas lahir di tengah keluarga yang sangat mencintainya."
Perlahan, napas Kirana mulai teratur. Isak tangisnya mereda. Ia mengangkat wajahnya, lalu menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar.
Tatapannya yang semula rapuh kini menajam, jatuh tepat pada bingkai foto pernikahan yang berdiri angkuh di atas meja rias. Di foto itu, ia mengenakan kebaya putih, tersenyum begitu lebar dan bahagia. Sementara Ardy yang berdiri di sebelahnya hanya memasang wajah datar dan kaku.
Dulu, Kirana selalu menipu dirinya sendiri, mengira ekspresi itu hanyalah bagian dari sifat suaminya yang dingin. Kini, ia sadar sepenuhnya. Sejak hari pertama pernikahan itu disahkan, Ardy memang tak pernah menginginkannya.
Kirana bangkit perlahan. Masih dengan mata sembap, ia berjalan menghampiri meja rias dan mengambil bingkai foto tersebut.
Ia menatap wajah Ardy di dalam foto itu selama beberapa detik.
"Ini air mata terakhirku untukmu, Mas. Karen stelah hari ini aku tidak akan pernah menangis lagi." bisik Kirana meletakkan foto itu dengan posisi tertelungkup.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy