Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Setelah makan bersama, kini Kanza Arumi dan Hanan Arkan kembali ke rumah yang akan mereka huni, yang letaknya tak jauh dari kediaman Abah dan Umah.
Rumah dua lantai itu berdiri megah di ujung jalan kompleks elite kota tersebut.
Arsitekturnya elegan, dinding marmer berpadu aksen kayu hangat, dengan balkon besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang asri.
Kanza baru saja melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke sekeliling interior yang terasa terlalu mewah, bahkan mungkin terlalu "rapi" untuk ukuran dirinya yang biasanya berantakan.
"Ya Allah... ini rumah atau showroom IKEA versi tajir melintir?" gumamnya dengan ekspresi syok setengah sadar. Ia merasa seperti alien yang baru saja mendarat di istana kaca.
Hanan Arkan yang baru menurunkan koper hanya tersenyum lembut dari belakang. Aura tenangnya tetap terjaga meski sudah melalui hari yang sangat panjang.
"Alhamdulillah, semoga kamu nyaman di sini," ujarnya tenang sembari meletakkan kunci di atas meja konsol.
"Nyaman mata lo," celetuk Kanza spontan.
Ia menjatuhkan diri di atas sofa empuk di ruang tengah lantai dua, lalu berguling-guling seperti anak kucing yang sedang rewel, memperlihatkan ekspresi capek sambil mengedumel.
"Gue capek, Mas... eh salah, Paklek."
Hanan menaikkan sebelah alisnya.
"Paklek?"
"Gue baru sadar. Dari aura kaku lo yang terlihat sangat kental, usia lo tuh kayaknya sebentar lagi masuk kategori KTP senior," jawab Kanza dengan mimik penuh kesal namun kocak.
"Gue panggil lo Paklek saja deh. Pas, mantap, cocok."
Hanan tidak tersinggung sedikit pun. Senyum tipis tetap menghiasi wajahnya, bahkan ia masih sempat menaruh kemeja ke dalam lemari dengan gerakan yang sangat tertata, sebuah pemandangan yang membuat Kanza merasa semakin chaos.
"Kalau panggilan itu bikin kamu nyaman, ya tidak apa-apa," balasnya lembut, suaranya tetap sejuk.
Kanza menyipitkan mata, merasa rencananya untuk memancing emosi suaminya gagal total.
"Ih, lo kok malah menerima saja sih! Bikin malas menyindir kalau lawan bicaranya pasrah begini."
"Maaf," jawab Hanan.
"Tidak ada maksud untuk membuatmu kesal. Mas cuma ingin kamu merasa tenang di rumah ini."
"Lah, ini malah makin tidak tenang! Gue baru sadar, sekarang harus tinggal serumah sama pria kaku dan sabar, yang tata bahasanya lebih formal daripada dosen pembimbing skripsi!"
Hanan tertawa kecil, suara tawa yang rendah dan sangat maskulin.
Kanza berdiri dan berjalan ke arah koper yang terbuka setengah.
Saat melihat Hanan hendak mengambil baju miliknya, ia buru-buru menepis tangan suaminya itu dengan gerakan refleks.
"Eh! Jangan pegang baju gue!"
"Maaf... Mas cuma mau bantu merapikan," ucap Hanan, menarik kembali tangannya pelan dengan gestur yang sangat menghargai privasi.
"Bantu itu bukan berarti mengacak-ngacak zona pribadi istri! Tahu tidak? Gue baru nikah sehari. Hati gue belum bisa menerima kenyataan, eh tangan lo sudah mau mengobok-obok isi lemari gue?"
Hanan diam sejenak, lalu mengangguk kecil dengan sorot mata yang tetap teduh.
"Baik. Kalau kamu belum nyaman, Mas tidak akan menyentuh apa pun milikmu. Semua terserah padamu."
Kanza menggembungkan pipinya, merasa sedikit bersalah namun gengsinya jauh lebih tinggi.
Ia melipir ke sudut ranjang sambil membawa bantal kesayangannya. Ia mengambil selimut, lalu berpindah ke sofa panjang yang ada di sudut kamar.
"Gue tidur di sini. Jangan paksa gue tidur satu ranjang. Tidak nyaman. Gue belum cinta," tegasnya sambil memasang benteng pertahanan.
Hanan tetap di tempatnya, menatap Kanza yang sudah membelakanginya sambil menyelimutkan diri sampai ke ujung kepala.
Ia tersenyum kecil, memandangi gundukan selimut yang sedang merajuk itu.
"Kalau itu bisa membuatmu tenang, Mas tidak akan memaksa. Tapi Mas tetap di sini, ya. Kalau kamu butuh apa-apa tengah malam, tinggal panggil saja."
Kanza diam membisu. Namun, beberapa detik kemudian terdengar gumaman lirih yang sangat tipis dari balik selimut.
"Mas? Mas? dasar pria kaku, beneran deh... awas saja kalau sampai menular kakunya."
Hanan hanya terkekeh pelan mendengar igauan sadar istrinya. Ia bersandar di kepala ranjang sambil membuka sebuah kitab kecil dari rak di samping tempat tidur.
Dalam hatinya, ia menyadari: menghadapi istri seperti Kanza Arumi memang bukan perkara mudah, melainkan sebuah seni kesabaran tingkat tinggi.
Tapi ia bersiap menjadi rumah yang paling sabar dan hangat untuk Kanza, tak peduli seberapa tajam sindiran yang diterimanya malam ini.
Dan meski Kanza saat ini sekeras batu karang, Hanan percaya sepenuhnya: batu pun bisa melunak... asalkan dibasahi dengan air cinta dan doa setiap hari.
"Selamat istirahat, Kanza," bisiknya sebelum tenggelam dalam bacaannya.
Jarum jam dinding menunjuk pukul 00:37 WIB. Malam begitu sunyi, nyaris tanpa suara kecuali detak pendingin ruangan yang konsisten dan orkestra serangga dari taman belakang.
Di dalam kamar luas yang seharusnya menjadi tempat istirahat paling nyaman itu, justru ada satu makhluk mungil yang tergolek gelisah di sofa: Kanza Arumi.
Tangannya menjambak ujung selimut dengan gemas, wajahnya cemberut maksimal, dan matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang tidak menentu.
"Pakleeek…" panggilnya pelan, suaranya sengau karena menahan tangis.
"Gue pengen pulang ke rumah Umi…"
Hanan Arkan yang semula sedang duduk di pojok ranjang sembari menekuri kitabnya, mendongak. Ia meletakkan pembatas buku dengan tenang.
"Pulang? Ini rumah kamu sekarang, Kanza."
Kanza langsung terduduk tegak dan merengek, persis seperti anak TK yang sedang melakukan aksi mogok makan.
"Gak mau! Kanza gak betah! Rumahnya terlalu gede, gak ada suara tetangga berantem, gak ada suara abang tukang nasi goreng lewat! Ini rumah... kebesaran. Gue takut pintunya bisa bicara kalau gue sendirian!"
Hanan menutup bukunya perlahan, menunjukkan kesabaran yang seolah tak bertepi.
“Mas mengerti ini sulit. Tapi kamu sudah sangat capek, sebaiknya istirahat dulu ya...”
“Gak bisa tidur!” Kanza langsung bangkit berdiri sambil membentangkan tangan secara dramatis.
“Otak gue muter terus seperti baling-baling bambu! Gue belum rela hidup selamanya sama cowok kaku yang hobinya menyuruh gue makan sayur dan bersikeras menyebut dirinya ‘Mas’!”
Hanan menahan tawa agar tidak meledak, lalu menegakkan tubuhnya yang atletis.
“Mau Mas ajak keluar sebentar untuk mencari udara segar?”
Kanza terdiam. Ia menoleh dengan wajah polos namun tetap menyebalkan.
“Keluar? Tengah malam begini? Emang lo pangeran Arab yang mau mengajak istri naik Rolls Royce muter-muter kota cuma buat mencari susu UHT rasa stroberi?”
Hanan hanya tersenyum tipis.
“Gak pakai Rolls Royce. Tapi Mas punya mobil… dan niat baik buat menenangkan hati istri Mas yang sedang gundah ini.”
Kanza menatap Hanan sejenak, menimbang-nimbang antara gengsi dan rasa bosan, lalu akhirnya mengangguk meski masih cemberut.
"Lima belas menit saja ya. Gue gak mau menginap di mobil. Gue ini ratu, bukan kardus mie instan yang bisa ditaruh di bagasi!"
Udara dingin menyapu kaca jendela mobil saat Hanan melajukan kendaraannya perlahan menyusuri jalanan kota yang mulai lengang.
Lampu jalan menyinari samar-samar wajah Kanza yang masih manyun, bersandar dengan hoodie yang menutupi separuh mukanya.
"Kita mau ke mana?" tanyanya malas, meski matanya mulai memperhatikan kerlap-kerlip lampu kota.
"Nggak jauh. Cuma keliling kompleks dan jalan protokol sebentar. Biar pikiranmu lebih tenang."
Kanza mendengus pelan.
"Lo yakin ini bukan rencana terselubung lo buat membujuk gue supaya mau tidur seranjang?"
Hanan menggeleng sambil tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tenang di kabin mobil yang sunyi.
"Mas cuma ingin kamu bahagia malam ini, itu saja. Tanpa syarat."
Diam sesaat. Keheningan yang cukup lama menyelimuti mereka sebelum akhirnya…
"Paklek…" suara Kanza mendadak berubah menjadi sangat lirih.
"Hmm?"
"Gue takut… takut gak bisa menerima lo sepenuhnya. Gue belum cinta, beneran deh. Tapi lo terlalu baik… itu yang bikin gue makin takut kalau nanti malah menyakiti lo."
Hanan menoleh sekilas, menatap wajah istrinya yang tampak rapuh di balik tudung hoodie, lalu kembali fokus ke jalan. Ia menghela napas panjang sangat sabar, seperti biasanya.
“Kalau kamu takut, Mas siap berjalan pelan-pelan di sampingmu. Mas tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu belum siap. Sekarang pun, kamu minta pulang, Mas temani. Kamu gelisah, Mas ajak keluar. Karena bagiku, kamu itu penting.”
Kanza menunduk. Air matanya keluar tanpa aba-aba, membasahi pipinya yang bulat.
“Tapi gue nyebelin banget, kan…”
“Mas tahu.”
“Gue kasar kalau bicara.”
“Mas sudah hafal.”
“Gue suka nyebut lo Paklek terus-terusan.”
“Mas sudah mulai terbiasa, malah terdengar unik.”
Kanza mendengus sambil terisak, merasa kesal karena semua senjatanya tidak mempan.
“Kenapa lo gak marah sih?! Lo gak bosan apa jadi orang sabar mulu? Apa urat marah lo sudah putus?”
Hanan hanya menggeleng pelan saat mobil berhenti di lampu merah.
“Karena kamu adalah hadiah untukku, Kanza. Dan sebuah hadiah, seberantakan apa pun bungkusnya, tetap patut dijaga dengan sepenuh hati.”
Dan di tengah malam yang sunyi itu, tangis Kanza pelan-pelan berubah menjadi tawa kecil yang malu-malu. Ia mengusap air matanya dengan ujung lengan hoodie.
“Kalau lo gak berhenti bersikap terlalu baik begitu, gue sleding ya, awas saja!”
Hanan tersenyum lebar.
“Mas akan selalu menunggu saat di mana kamu mulai memanggil Mas… dengan panggilan yang kamu pilih karena rasa cinta, bukan lagi karena ingin menyindir.”
Lampu jalan mulai redup di kejauhan, suasana kota berangsur benar-benar hening. Mobil melaju perlahan kembali menuju rumah.
Kanza yang semula merengek, kini menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menikmati ritme kendaraan.
Hanan melirik sekilas. Bibir Kanza sedikit terbuka, napasnya mulai teratur dan tenang.
“Tidur rupanya.” Senyum Hanan mengembang dengan tulus.
Beberapa helai rambut Kanza menempel di pipinya karena sisa air mata tadi.
Gadis itu menggeliat pelan dalam tidurnya, lalu tanpa sadar menggumam, “…gue mau martabak telur setengah matang, jangan lupa acarnya yang banyak….”
Hanan tertawa sangat pelan agar tidak membangunkannya.
“Mimpinya saja tetap absurd…”
Sesampainya di rumah, Hanan mematikan mesin mobil perlahan. Ia berjalan memutar, membuka pintu penumpang dengan sangat hati-hati.
Melihat Kanza yang terlelap begitu nyenyak, ia membungkuk dan menggendong tubuh mungil itu dengan penuh rasa sayang.
“Beratnya… baru juga semalam jadi istri, beratnya sudah seperti nambah dua kilo karena kebanyakan menggerutu,” gumamnya pelan sambil tersenyum, walaupun sebenarnya berat badan Kanza sangatlah enteng untuk Hanan yang bisa mengangkat beban di tempat GIM.
Ia membawa Kanza masuk ke rumah, menyusuri lantai marmer yang dingin menuju kamar tidur utama di lantai dua.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia meletakkan istrinya di ranjang yang empuk.
Kanza masih terlelap. Sesekali bibirnya bergumam tidak jelas.
“…Paklek jangan goreng sosis jam dua pagi… lo bikin gue lapar tahu gak…”
Hanan mengusap lembut kening istrinya, merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
“Tidur yang nyenyak, Sayang.”
Beberapa menit kemudian, setelah memastikan Kanza tidur dengan posisi yang nyaman, Hanan mengambil air wudhu.
Ia berdiri di sudut ruang yang sudah ia siapkan sebagai tempat shalat malam. Sajadah terbentang, lampu redup menyala memberikan nuansa syahdu.
Dalam diam, Hanan menunduk dalam sujud yang sangat panjang.
Di tengah malam yang tenang itu, ia berdoa dalam hati, memohon agar diberi kekuatan ekstra untuk menjaga dan mencintai perempuan ajaib yang kini tidur di ranjang mereka, meski mulutnya tajam, walau sindirannya menusuk, tapi ia tahu hati Kanza begitu murni.
Selesai shalat, Hanan melipat sajadahnya, lalu kembali ke sisi ranjang.
Ia menatap Kanza yang kini membolak-balikkan badan, menggenggam bantal guling dengan gaya tidurnya yang sedikit berantakan.
“Lo…,” gumam Kanza setengah sadar saat merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
“…kalau gue lagi mimpi indah, jangan diinterupsi, Paklek…”
Hanan hanya tertawa pelan, lalu berbaring di sisi lain ranjang, tetap menjaga jarak seperti komitmennya.
Namun baru saja ia memejamkan mata, tangan Kanza menggapai-gapai ke arahnya dan...
Plak!
tangan mungil itu mendarat tepat di wajah Hanan.
“Astagah… mimpi makan burger kok malah menonjok pipi suami sendiri,” lirih Hanan sambil terkekeh menahan sakit yang sedikit terasa.
Kanza menggumam tidak jelas, lalu menarik kembali tangannya. Hanan tetap tersenyum, menatap langit-langit kamar mereka yang sejuk.
Di malam kedua mereka, tak ada yang lebih menenangkan bagi Hanan selain melihat istrinya bisa tidur dengan leluasa, walau penuh dengan mimpi aneh dan gaya tidur yang sedikit "barbar".
Hanan menutup mata dengan perasaan syukur, membiarkan malam membungkus mereka dalam damai yang indah.
Perjalanan panjang baru saja dimulai, dan ia siap untuk setiap kejutan yang akan dibawa oleh Kanza Arumi ke dalam hidupnya.
Salam Hangat Dari Penuliss....